.

.

.

.

.

THAT MY FAULT

Cast :

Seventeen Yoon Junghan/Jeonghan (women) - (Seungcheol wife)

Seventeen Choi Seung Cheol/SCoups (man) - (Junhui & Jeonghan husband)

Seventeen Wen Junhui/Jun (women) - (Seungcheol wife)

Seventeen Lee Chan/Dino (man) - (Seungcheol & Junhui son)

Nb : untuk Lee Chan/Dino namanya berubah menjadi Choi Chan Hui

Seventeen Jeon Won Woo/Wonwoo (man) - (Jeonghan angel)


Chapter 1

Seoul 13 maret 2015, 22:15

Malam memberikan keheningan yang luar biasa untuk seorang Yoon Jeonghan, ia merasa sendirian di dunia ini. Semua terasa hampa dan tak bernyawa untuknya. Meski lampu taman bersinar terang, bulan terlihat indah dan langit terlihat penuh dengan bintang. Hidupnya tak lebih dari sebuah kekosongan. Setidaknya itulah yang ada di benak seorang Yoon Jeonghan. Hingga sebuah suara menyadarkannya…

"eomma…"

"eomma tidak tidur?"

"ayo eomma tidurlah disamping Channie, jangan hanya terus mengelus rambutku.."

Channie berusaha membuyarkan lamunan ibunya, ia tau ada banyak hal yang tidak pernah ibunya ungkapkan, ibunya seperti menyimpan banyak rahasia darinya. Ibunya sangat cantik jika diperhatikan, ia punya wajah yang lembut, rambut yang sangat indah dan Chan selalu suka melihat ibunya tersenyum. Jujur Chan lebih mengenal ibunya dari pada ayahnya, karena Jeonghan adalah satu-satunya orang yang selalu menghabiskan waktu bersamanya…

.

.

"Arraseo, eomma mengerti, ayo kita tidur Chan…"

"Kau ingin dengar suatu cerita, jika kau mau eomma bisa menceritakannya.."

"Kau ingin dengar cerita apa?" Tanya Jeonghan pada anaknya

"Baiklah, aku mau aku mau.." Chan terlihat sangat antusias dengan tawaran ibunya

"Hmppp.." Ia terlihat sedikit befikir

"Kenapa tidak ceritakan saja tentang appa dan eomma"

"Bagaimana eomma bisa menikah dengan appa?"

"ketika aku lahir apakah appa senang?"

"Apa kado pertama yang diberikan appa untuk eomma?"

"Apakah appa sayang eomma?"

"Kenapa aku jarang melihat appa dan eomma bersama-sama?"

Chan bertanya dengan penuh semangat..

.

.

"Ayolah eomma ceritakan padaku.." Chan berusaha menyamakan posisinya dalam dekapan ibunya.

Jeonghan terlihat kaget dengan apa yang ditanyakan anaknya, bagaimana bisa anaknya justru bertanya seperti itu. Ia menghela nafasnya berat, pertanyaan sederhana yang berhasil menusuk tepat ke jantungnya. Kenapa kau harus menanyakan hal seperti itu Chan, Jeonghan memandang anaknya dengan sedih. Matamu, tawamu...Kau mirip sekali dengannya. Aku harus menjawab apa Chan, tidak bisakah kau tidak membawa pria itu disetiap pertanyaanmu...

.

.

"Ehemmm.."

Jeonghan tersadar dari lamunanya, sebuah suara menginterupsi kebersamaan mereka..

"Apppaaaaaaaaaaaa!"

"Akhirnya appa pulang juga"

Chan langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari kearah appa nya

.

.

"Appa, aku sedang bercerita dengan eomma, appa ingin dengar juga?"

Seungcheol melirik sedikit kearah Jeonghan, sementara Jeonghan hanya tertunduk,

"Apa yang kau bicarakan Chan, anak kecil seharusnya tidur.."

"Sudah malam Chan, jagoan appa bukan anak yang akan membantah bukan.."

"Kau harus segera tidur"

"Sini, kemarilah.. Appa akan memelukmu, appa akan tidur bersamamu.."

Seungcheol naik ketempat tidur dan berbaring disamping Channie..

"Katakan selamat malam pada eomma Chan…"

"Eomma selamat malam, jaljayooo.." Chan tersenyum pada ibunya

.

.

Jeonghan membalas senyum tersebut dan akan beranjak pergi dari kamar itu..

Ia ingin membiarkan ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama, tapi kemudian sebuah tangan kecil menarik lengan bajunya..

"Eomma mau kemana?"

"Ayo sini, tidur disebelah sini", Chan menepuk tempat tidur disebelahnya,

Seungcheol melihat Jeonghan sesaat dan memberikan anggukan kecil..

"Tidurlah",

Hanya itu, Jeonghan dan Seungcheol jarang berkomunikasi, jika mereka akan berbicara itu hanya akan menjadi percakapan singkat dan hanya menyangkut perkembangan Channie..

.

.

Hening…

.

.

Ruangan ini semakin terlihat kosong bagi Jeonghan,

Hanya tangan Channie yang memegang bajunya yang ia rasakan..

Sementara Seungcheol ia terlihat sudah tertidur masih dengan pakaian kerjanya..

Dengan perlahan Jeonghan melepaskan pegangan itu dan beranjak pergi.

Seungcheol yang ternyata belum tertidur membuka mata tepat setelah Jeonghan mematikan lampu dan menutup pintu.

'Junhui...'

'aku merindukanmu...'

'Channie sudah besar sekarang, seharusnya kita bisa hidup bahagia Jun'

'Bertiga, bersama Channie..'

'Aku sungguh membutuhkanmu..'

.

.

Seungcheol menggenggam tangan anaknya erat, memikirkan banyak hal yang sudah dilaluinya selama ini, hidup menjadi tidak adil baginya sejak kematian Junhui 4 tahun yang lalu..

Setiap dia melihat wajah putranya, dia hanya melihat wajah mendiang istrinya disana tidak ada yang lain..

Lalu bagaimana dengan Jeonghan?

Bukankan Chan memanggilnya eomma?

.

.

Jeonghan membuka pintu rumahnya dan pergi kehalaman belakang. Ini adalah tempat dimana dia akan merenungkan hidupnya, pernikahannya dan semua hal yang mengganggunya. Biasanya dia akan mencurahkan segala kesedihannya ditempat ini. Tanpa ada seorangpun yang tau, atau mereka saja yang tidak ingin tahu apa yang dilakukan Jeonghan. Atau mungkin bagi Seungcheol ia hanya seorang pengasuh anak bukan sebagai pendamping hidupnya.

.

.

Seungcheol tak pernah memperhatikan wajahnya, Seungcheol juga tak pernah menanyakan keadaannya, dia tidak perduli dan tak pernah bertanya kemanapun Jeonghan pergi. Jika dia akan berbicara, itu hanya mengenai Chan, selanjutnya mereka hidup dalam dunia mereka masing-masing.

Mereka tidur dikamar yang sama, mereka makan dimeja yang sama, mereka berkendara dengan mobil yang sama, mereka menjadi ayah dan ibu untuk anak yang sama, tapi seperti mereka berada ditempat yang berbeda. Jeonghan tidak ingin hidup seperti ini, ia lelah, sangat lelah menjalaninya..

Sering kali Jeonghan akan menyerah dan ingin pergi, tapi ia tidak bisa meninggalkan Channie. Ia memang bukan orang yang melahirkan Channie, tapi dia ibunya. Ibu yang selalu bersama Channie bahkan sejak pertama kali Channie dilahirkan kedunia ini. Channie adalah hidupnya, ia tak bisa kehilangan anak itu. Tapi setiap kali Chan bertanya mengenai dia dan ayahnya tak ada yang bisa Jeonghan jawab, ini terlalu menyakitkan untuknya..

.

.

Jeonghan menagis dalam diam, air matanya terus saja menetes keluar, tanpa suara sama sekali. Menagis tanpa suara seperti ini jelas sangat menyakitkan. Ia menggenggam tangannya kuat, berusaha menyakinkan bahwa ia masih bisa bertahan. Ia bisa bertahan demi Chan dan juga…

(ada jeda yang cukup lama didalam kalimat yang diucapkan Jeonghan didalam hatinya), Seungcheol.

Pria yang sejak bertahun-tahun lalu berhasil mengambil hati dan juga hidupnya, Pria yang menjadi alasan ia menagis saat ini, pria yang membuatnya kecewa, pria yang membuatnya memimpikan kebahagiaan bersamanya, pria yang pertama kali mengulurkan kedua tangannya padanya, dan juga pria yang kini tak pernah menganggapnya ada..

.

.

Sepasang mata memperhatikan Jeonghan sedari tadi melalui jendela tingkat dua rumahnya,

Jeon Won Woo..

Seseorang yang selalu melihat Jeonghan dari kejauhan tanpa pernah berani mendekatinya. Mereka bertetangga sekarang. Wonwoo tinggal tepat disebelah rumah Jeonghan dan Seungcheol. Wonwoo dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Jeonghan dihalaman belakang rumahnya..

Uljima, jangan menagis Jeonghan..

Kenapa kau selalu menagis setiap malam ditempat itu..

Apa yang kau rasakan Jeonghan, jika itu menyakitkan mengapa tidak berteriak atau bersuara..

Kenapa kau mengis dengan menutup mulutmu seperti itu..

Wonwoo memperhatikan Jeonghan dengan penuh rasa iba,

.

.

Rasanya ia ingin turun dari lantai dua rumahnya dan berlari menuju halaman belakang rumah Jeonghan dan memeluknya erat..

Ia ingin melihat Jeonghannya tersenyum lagi setidaknya seperti 10 tahun yang lalu, ketika mereka masih bersekolah di smp yang sama.

Wonwoo ingat saat itu Jeonghan adalah anak yang ceria,

dia selalu tersenyum dan terlihat bersemangat,

kemanapun Jeonghan pergi dia akan selalu bersama Wen Junhui..

Ya Junhui.. Sahabat baik Jeonghan

Wonwoo kembali mengulang nama itu dalam fikirannya..

Kau wanita yang mengerikan Jun, mata Wonwoo menyiratkan kemarahan dan kesedihan disaat yang bersamaan.

Kuharap kau sudah di neraka sekarang..

Wonwoo menutup tirai jendelanya dan pergi begitu saja..

Meninggalkan Jeonghan yang masih berkelut dengan kesedihan dan fikirannya yang teramat sangat kacau saat ini..

.

.

.

.

.

RIVIEW JUSEYOO ^^