Yakh.. newbie here... try to challenge my suck writing skill.. but oh well...

this is for fun n releasing the idea that conquer my mind all of the time

Enjoy..~

Disclaimer: not mine not mine not minee... It's Masashi Kishimoto-san's

Well, except Karashi.. He is mine :P

[-_-] [-_-] [-_-]

"Kuuh..." Erang seorang pemuda yang tergeletak di tanah. Dengan susah payah ia membuka matanya namun, penglihatannya belum bisa terfokus dengan baik. Tangannya dengan berat bergerak ke arah kepalanya sambil berusaha memfokuskan pandangan matanya. Sesaat setelah ia berhasil memperjelas pemandangan yang terpantul di bola matanya, Ia langsung berlari ke arah pemuda lain yang berada di ujung ruangan. Sayangnya, baru setengah ruangan ia capai, tiba-tiba saja tubuhnya terhalang suatu tembok listrik transparan. Tanpa dapat dicegah, pemuda berambut silver itu jatuh dan merasakan seluruh tubuhnya yang semakin ngilu.

"Sial...!"umpatnya begitu menyadari bahwa yang menghalangi dirinya adalah sebuah kekkai* yang memang sengaja dibuat untuk menghalangi dirinya menggapai pria di seberang sana.

"IRUKA!" teriaknya berjuang untuk memanggil pria berambut coklat yang terikat pada tembok di ujung sana. Pemuda yang dipanggil itu, mendengarnya. Ia bersusah payah membuka matanya untuk mendapati dirinya terikat tidak bisa bergerak. "...!"

Dahi si pemuda yang berambut silver itu berkerut mendapati mulut Iruka bergerak, namun tidak terdengar suara apapun yang terdengar. "apa-apaan ini?!" batinnya lagi. Sekali lagi ia berjuang menerobos kekkai pelindung itu namun, tubuhnya yang sudah kepayahan malah semakin terasa ngilu.

"Ada baiknya kau menjadi anak baik dan tidak berusaha melewati kekkai itu... Bagaimanapun, kekkai yang dibuat oleh temanku adalah kekkai yang terkuat di Iwagakure ini." Tiba-tiba saja suara itu terdengar. Pemuda yang seumuran dengan Iruka tersebut langsung menoleh ke sumber suara. Beberapa orang ninja berusia pertengahan. Yang seorang berambut coklat seleher dengan janggut seperti kambing. Seorang lagi berambut hitam diikat asal. Yang terakhir berambut hitam pendek klimis dengan wajah culas berhias kumis dan janggut kasar menatapnya dengan tatapan dan senyum merendahkan – kalau dilihat sepertinya si klimis merupakan pemimpinnya. Si pemuda berkulit pucat yang ditatap itu langsung membalas tatapan si ninja culas dengan tatapan dingin dan tajam.

"Hmm… Lihat apa yang kita punya disini… Seorang bocah pemberani." Ejek shinobi Iwa tersebut begitu mendapat tatapan tajam dari shinobi yang dilihat dari umur merupakan juniornya. 2 orang lainnya tertawa mendengar sarkastik yang dilontarkan si Klimis , ejekan mereka tidak digubris oleh shinobi muda dari Konoha tersebut.

"Oooh ooh… bocah satu ini boleh juga. Kau tidak mudah dibakar yah..? atau karena memang sudah terbiasa?" ejek yang berambut coklat ikut memanasi-manasi. Yang diejek malah tersenyum menyeringai. "Entahlah… menurutku, para geninpun tidak akan terpancing ejekan macam itu…" sahutnya berbalik memanas-manasi ketiga shinobi Iwa tersebut. Entah karena shinobi-shinobi Iwa itu temperamental atau karena pengalaman yang dimiliki oleh shinobi ber-hitai ate Konoha itu, kedua shinobi Iwa tersebut langsung berusaha menghajar shinobi Konoha berwajah tampan itu.

"HEY KALIAN!" hardik si rambut klimis. Kedua shinobi itu menghentikan gerakan mereka, "Tahanlah sedikit emosi kalian… masa kalian yang sudah jauh lebih berpengalaman begini dikalahkan bocah macam ini?" mendengar ejekan tersebut, si buntut kuda dan janggut kambing langsung mendengus dan menatap si klimis dengan mata berkilat. Shinobi muda yang berhasil memanasi mereka tidak begitu memperdulikan pertengkaran yang timbul atas hasutan dirinya. Ia sibuk memperhatikan Iruka yang masih terikat di seberang sana. Ditambah lagi ada seorang shinobi Iwa lain berada di samping Iruka yang membuat si rambut silver semakin khawatir. Oke.. ia tahu kode etik para shinobi lebih mengutamakan misi, namun bagaimanapun juga ia tidak sampai hati meninggalkan Chuunin yang sedang bertugas bersamanya. Chuunin berkulit coklat dengan luka gores memanjang di batang hidungnya di seberang sana adalah orang yang amat dicintai oleh kakaknya, si ninja terkenal dengan berbagai macam sebutan, diantaranya Sharingan no Kakashi.


Pemuda berambut silver tersebut adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Kakashi, Hatake Karashi. Dengan rambut berwarna silver yang dibiarkan acak-acakan, ia selalu disangka penyamaran Kakashi. Maklum, keduanya baru-baru ini sadar mereka adalah saudara kandung. Entah apa yang menyebabkan keduanya berpisah namun, dengan genetik yang nyaris persis itu – entah apa yang menyebabkan Tsunade menyadarinya - keduanya tidak dapat menyangkal kenyataan yang mengejutkan tersebut. Kebiasaan keduanya agak bertentangan…. Kakashi yang stoic dan posesif, Karashi yang selalu tersenyum namun penuh dengan ucapan sarkastik. Kakashi yang selalu menyembunyikan wajahnya dibalik kain hitam, Karashi tidak perduli akan keadaan wajahnya yang selalu membuat dirinya dikerubungi para Kunoichi Konoha. Kakashi yang selalu meng-kawarimi dirinya dengan henohenomoheji, di lain pihak Karashi menggunakan mata dan paruh gagak. Kakashi yang nyaris tidak pernah tepat waktu, Karashi yang nyaris tidak pernah terlambat. Kakashi yang selalu memberantaki rumah, Karashi yang membereskannya. Well, genetik memang tidak dapat dibantah… Keduanya berwajah menarik, tinggi badan mereka tidak terlalu jauh (oke, Kakashi menang karena rambutnya yang secara tidak alami menentang hukum Newton), bakat alami yang dimiliki keduanyapun sama-sama kebanggaan Konoha. Sifat keduanya nyaris menyerupai. Keras kepala, dingin namun disaat yang bersamaan sangat menghangatkan, penuh keadilan, rela berkorban - terlebih terhadap mereka yang sangat disayangi, dan sangat suka menghancurkan diri sendiri (baca: kelewat batas menggunakan chakra dan pulang dengan luka parah). Kakashi dan Karashi berbeda 4 tahun, hal ini menyebabkan Karashi seumur dengan kekasih si pervert scarecrow yang sering membuat si gagak sakit kepala gara-gara sifat tidak rapinya itu. Namun begitu, Karashi adalah seorang ANBU. Kakashi tahu akan hal ini, karena seorang Kakashi walaupun berstatus Jounin, ia sering dipanggil untuk membantu para ANBU, sering keduanya misi bersama-sama – ketika status mereka adalah senior dan junior.

Ketika mengetahui bahwa kakaknya berada dalam suatu hubungan romansa dengan seorang guru di Konoha Gakuen, ia agak khawatir. Begitu mengetahui pasangan kakaknya, si gagak tidak terlalu ambil pusing ataupun khawatir, bahkan ia sempat berpikir 'dengan begini erokashi itu akan membatasi diri dalam mengemban misi, toh tidak ada ruginya…' namun, tidak begitu halnya dengan si Lumba-lumba ramah. Dengan adanya Kakashi ditambah Karashi, 'peliharaan' dan kesibukan Iruka bertambah. Keduanya sering membuat Iruka khawatir - walau sebenarnya bukan itu yang mereka inginkan – dan panik. Inilah rumus hidup Iruka ' misi (Kakashi + Karashi) = BENCANA!' memang mereka tidak selalu pulang dalam keadaan mengenaskan, tapi begitu keadaan itu terjadi, keduanya TIDAK pernah mau dibawa ke Rumah sakit dan itu membuat Iruka nyaris gila untuk merawat keduanya dalam satu malam. Kelembutan dan kehangatan yang diberikan Iruka kepada keduanya, membuat mereka yang tidak mendapat kasih sayang seorang ibu, bermanja-manja pada Lumba-lumba manis tersebut. Namun, malam-malam gila yang harus dilewati oleh Iruka agak berkurang sejak kehadiran Shizune dalam hidup Karashi (entah cara apa yang dipakai Shizune menaklukan si gagak sarkastik), dan Iruka sangat berterimakasih pada Shizune yang mampu mencairkan hati dingin gagak itu. Walau begitu, hal ini tidak merubah ke TIDAK-INGINAN si gagak untuk mengunjungi Rumah sakit. Kalau sudah begini, Shizune-lah yang harus mati-matian menyeret kekasihnya untuk mendapat perawatan yang layak (baca: Shizune bangun malam-malam dan lari terburu-buru ke rumah kekasihnya yang tinggal serumah dengan Kakashi).


"Si bodooh ituuu….." pikir Iruka gemas. Shinobi Iwa yang berada di sampingnya menatapnya dingin namun waspada, tidak senang atas apa yang terjadi di seberang sana. Yeah, walau Karashi tidak bisa mendengar teriakan Iruka, Iruka mendengar semua percakapan di seberang sana. Iruka melirik kepada shinobi disampingnya yang berbadan kecil dengan perban menutupi seluruh wajahnya kecuali mata dan rongga hidungnya. Hitai-ate yang berlambang Negara Iwa itu, dilingkarkan pada lehernya. Iruka berusaha melepaskan belenggu yang membatasi gerakan tangan dan kakinya namun, terlalu kuat… belenggu besi tersebut dialiri chakra yang menghalangi Iruka untuk bergerak terlalu liar.

"Sudahlaaah… aku kan hanya memperingati kalian, kalian sendiri yang bodoh. Bisa-bisanya termakan hasutan bocah Konoha itu. Lagipula, nanti saja kalian lampiaskan kemarahan kalian, mereka ada di genggaman kita bukan?" suara itu terdengar lagi dari ruangan seberang. Iruka mengernyitkan dahinya, apa maksud dari perkataan si klimis tadi. Well, dari seberangpun, tidak sulit mengetahui siapa yang berbicara, siapa yang lebih berkuasa. Iruka bukan seorang bocah bodoh,kan?

"Kalian… apa yang sebenarnya kalian rencakan?!" hardik Iruka menuntut penjelasan dari shinobi disampingnya. Dari balik perban yang membalut seluruh wajah shinobi di samping itu, Iruka tahu shinobi Iwa ini tersenyum licik. "Kau akan tahu… Lihatlah sendiri. Kurasa kau akan menyukainya" sahutnya. Suaranya Kontra-alto, sulit menentukan shinobi ini perempuan atau lelaki.


"Separah inikah chakra yang kuhabiskan 3 hari yang lalu?" batin Karashi tak percaya. Akibat misi yang ia jalankan beberapa hari yang lalu, saat ini tubuhnya tidak mau diajak kompromi. Seberapapun usahanya memfokuskan chakra dalam tubuhnya, chakra itu terasa menguap begitu saja.

"Harus kuakui... Pancinganmu memang hebat bocah... Bahkan dua orang Jounin macam merekapun jatuh ke dalam jebakanmu..." lagi-lagi si klimis angkat suara. "Aku memang sehebat itu." sahut Karashi dingin tanpa mengalihkan fokusnya dari mengumpulkan chakra. Sekali lagi, Karashi berhasil membakar amarah ketiga Jounin Iwa itu. "Kaauu..." geram si rambut coklat namun, janggut kambing berhasil menahannya dengan berkata, "Kau akan merasakan akibat atas mulutmu yang sombong itu.." ia terdiam sebentar, "nanti..." lanjutnya sambil menyeringai licik.

Ketika mendegar percakapan tersebut dari seberang sana, tiba-tiba saja rasa dingin yang pekat dan tak nyaman, menyusup masuk ke dalam seluruh bagian tubuh Iruka. Tubuhnya terkesiap. Instingnya mengatakan, hal yang terjadi selanjutnya akan menghancurkan akal sehatnya, baik Iruka maupun pemuda yang ia anggap sebagai adik sekaligus anaknya sendiri.

[-_-] [-_-] [-_-]


*Kekkai : Tirai pelindung

Huff.. Well, will be posted a new chapter after finishing some sh*t...

soo... pls RnR~

Ur Review will be my pleasure..~ [^o^]/