Chiko: "Sambil nungguin di angkot, akhirnya otak Chiko menghasilkan sebuah fanfic geje!"
Niku: "Sebenernya, entah ini qualified buat di-publish atau ga. Sudahlah, yang penting Chiko seneng ajah -_-."
Chiko: "Inilah di saat Niku sudah menyerah menangani kinerja Chiko!" /plak
Niku: "Jadi, kali ini kita ngambil dari pairing yang rada jarang kita angkat."
Chiko: "Hikabu! Dengan Hikka sebagai seme dan Yabu sebagai uke."
Niku: "Biarpun mungkin ini agak pendek -_-"
Chiko: "Sudahlah -_- Ini kita malah menuh-menuhin page-nya -_-"
.
Disclaimer: SEKALI LAGI SAYA TEKANKAN YAMADA DAN DAIKI PUNYANYA SAYA! *dikemplang* bukan punya saya, kok -_-
.
Namanya Yabu Kota.
Ia anak yang pintar, tapi juga sangat pendiam. Tubuhnya tinggi dan kurus. Wajahnya memang agak feminin, tapi dia sangat imut.
Ia mendapat nilai sempurna hampir di semua pelajaran, tapi ia juga orang yang rendah hati.
Saat melihatnya tersenyum, aku pun tersenyum.
Saat melihatnya menangis, aku pun ikut merasa sedih.
Ya, aku menyukainya.
Namun, mendekatinya bukanlah hal yang mudah.
Ia memiliki aura yang membuatku segan mendekatinya. Atau lebih ekstrim lagi, aku tahu bahwa aku bukanlah seseorang yang layak berada di sampingnya.
Bayangkan.
Ia mendekati definisi sempurna, sedangkan aku? Rambutku dicat pirang dan ada beberapa tindikan di telingaku. Penampilanku awut-awutan dan nilaiku kebakaran.
Iya, kami bagai langit dan bumi.
Namun ternyata, perasaanku padanya terlihat jelas oleh teman-temanku.
Pertanyaan "Jadi, kau menyukainya?" mulai dijejalkan padaku.
Aku tidak menjawab, meskipun sebenarnya hanya perlu satu kata untuk menjawabnya: "Ya."
Aku menyukainya. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku menyukainya. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menyukainya.
Tapi, sekali lagi kukatakan, aku bukanlah seseorang yang layak berada di sisinya.
.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan
.
Duniaku serasa berputar, jantungku serasa berhenti.
Hari itu, di ruang musik, ketika hanya ada kami berdua.
"Yaotome-kun?" takut-takut, ia berjalan mendekatiku, menyerahkan dua lembar tiket masuk taman hiburan. "Umm.. Sabtu ini.. b-bisa?"
Ya Tuhan, apa ini mimpi?
"Ah, k-kalau tidak—"
"Bisa," jawabku cepat. Ia mengangkat kepalanya, setengah tidak percaya.
"Eh?"
"Sabtu ini, kan? Bisa. Jam berapa?"
Ia tersenyum. Tersenyum lebar, membuat matanya kembali menjadi segaris.
Imut. Imut sekali.
Ingin rasanya aku memeluknya erat-erat, mengungkapkan rasa ini.
Tapi tubuhku tak mau kompromi.
"Baiklah," suaranya melembut, tidak setegang tadi. "Sampai ketemu besok."
.
Semuanya bagai mimpi.
Hari itu adalah hari yang luar biasa. Hari di mana akhirnya ia mau memperlihatkan berbagai sisi lain dirinya.
Ia takut naik wahana yang berputar terbalik, roller coaster misalnya.
Tapi, ia tidak takut naik wahana yang memiliki kecepatan tinggi. "Asalkan tidak berputar terbalik, tidak apa-apa," katanya sambil tertawa.
Selain itu, ia juga merasa tenang saat menaiki merry-go-round, dan anehnya sama sekali tidak takut saat kami memasuki rumah hantu.
Ia berjalan di depanku, menyapa para hantu dengan ramah.
Tanpa sadar, tangan kami bertaut.
Ia tertawa lepas saat kami berbincang di cafe, dan wajahnya berubah sendu saat ia menceritakan tentang mantan kekasihnya.
"Tapi," ia kembali tersenyum. "Bukankah cinta pertama memang ditakdirkan untuk gagal? Bukankah itu adalah sebuah cetakan yang membentuk kita saat kita jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?"
.
Ia sangat cantik. Ia juga baik hati.
Perlukah alasan lain untuk menyukainya?
.
Rasa bahagiaku tak juga meredup meski aku tahu bahwa hari ini akan segera berakhir.
Kami berpisah di pintu keluar, dan senyum terulas di wajah imutnya.
"Terima kasih," katanya lembut.
Aku membalasnya dengan senyum.
Ia membalikkan badannya, hendak pergi.
"Hikka!" tiba-tiba ia berbalik.
Melompat dan memelukku erat-erat.
"Y-Yabu?"
Namun ia tak juga melepaskan pelukannya, malah mempereratnya.
Jantungku serasa akan meledak.
Ia melepaskan pelukannya dan menatapku. "Aku.. ingin mendengarnya."
"Eh? Mendengar apa?"
"Aku ingin mendengarnya langsung darimu, bukan dari mulut orang lain."
Sebentar. Mungkinkah ia memikirkan apa yang kupikirkan?
Sekali lagi, oksigen serasa dicabut dariku.
Bahagia yang terlalu berlebih.
.
Bagiku, aku tidak layak berada di sampingnya.
Tapi, baginya...
Baginya, aku tidak seperti itu
Dan itu adalah alasan yang lebih dari cukup
Untukku menyukainya
.
Aku menarik tangannya, sementara tanganku yang satu lagi kuletakkan di belakang kepalanya, menariknya mendekat.
Dan dua bibir yang saling menekan sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
.
Aku menyukainya
Ya, ada banyak hal yang membuatku menyukainya
Tapi..
.
Namanya Yabu Kota.
Ia anak yang pintar, tapi juga sangat pendiam. Tubuhnya tinggi dan kurus. Wajahnya memang agak feminin, tapi dia sangat imut.
Ia mendapat nilai sempurna hampir di semua pelajaran, tapi ia juga orang yang rendah hati.
Saat melihatnya tersenyum, aku pun tersenyum.
Saat melihatnya menangis, aku pun ikut merasa sedih.
Kenalkan, dia adalah kekasihku.
.
Dia menyukaiku
Perlukah alasan lain?
.
.
.
.
Niku: "A-A-A-APA INIIII?!"
Chiko: "Ide dadakan Chiko. Jangan protes ah."
Niku: "Namanya juga dibikin sambil setengah tidur di angkot -_-"
Chiko: "Ga setengah tidur, tau! Tapi SETENGAH MIMPI!" /plak
Niku: "Udah, udah, makin ga mutu aja ini -_-"
Chiko: "Sip. Dan seperti biasa, review is love~"
