Ameru : Yosh! Konichiwa, minna-san! Ameru dan Genjirou hadir lagi dng fic baru, desu, ne! fic ini muncul ketika Ameru dan 2 teman Ameru di sekolah tengah curhat! Saking semangatnya cerita ttg ide laknat ini, teman Ameru (yg menjadi inspirasi Ameru) hampir pingsan saat mendengar ide gila ini! ahahahaha *ktawa jahat*
Genji : bikin orang hampir pingsan aja bangga
Ameru : =3= muu, sudahlah! selamat membaca, minna-san!
Genji : don't forget to RnR!
Ameru : sok inggris, lo! *dilempar linggis*
Tittle : D I E
Genre : Romance-Tragedy (Tragedy-nya gagal)
Rate : T...?
Pair : DxOC-18OC-27OC
Warning : Typo(s) , bahasa nggak jelas, tragedy yang gagal. Ingat, sudah saya ingatkan!
.
.
.
.
.
.
.
.
D I E
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
FanFiction © Ameru-Genjirou-Sawada
"Tampannya—"
Kata itu tidak sengaja Hikari keluarkan ketika ia melihat seseorang lewat didepannya. Iris coklatnya yang hangat, rambut pirangnya yang melambai ringan setiap kali ia melangkah, dan jangan lupa senyumannya yang sanggup membuat setiap wanita menjerit tak karuan.
Itulah Dino Cavalonne—murid kelas 3 SMA Namimori.
Selain ramah, ia juga pintar—baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Kemampuannya dalam olahraga atletik dan berkuda tidak dapat dipungkiri. Prestasinya dalam belajar juga tidak bisa dibandingkan dengan anak pada umumnya. Selain itu, Dino juga merupakan anak dari pengusaha keluarga Cavalonne yang terkenal kaya, sungguh sosok yang sangat diidamkan banyak wanita.
Termasuk juga Hikari.
"Haah, tapi aku tidak mungkin bisa sejajar dengannya—" Hikari menghela napas kecewa, lalu berjalan melewati lorong lantai dua.
Ya, Hikari Takanari bukanlah anak yang termasuk golongan anak pintar. Prestasinya biasa saja—tidak kurang, tidak lebih. Dalam olahraga dan seni ia juga termasuk golongan tidak terlalu pintar. Hikari juga hanya anak seorang pegawai swasta yang sangat berbeda dengan Dino.
Ah, bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh.
Sebenarnya Hikari sudah menyukai Dino sejak mereka duduk dibangku SMP. Ketika masa orientasi siswa, Dino menjaga kelas orientasi Hikari. Memang kebetulan yang beruntung Hikari bisa mengenal Dino.
Walaupun ia tak yakin Dino masih mengingatnya.
"Hn, herbivore, jalan yang benar." Tegur sebuah suara yang sukses mengagetkan Hikari.
Seorang lelaki kelas 2 SMA berdiri tak jauh dari posisi Hikari. Rambut raven-nya yang hitam terlihat lembut, mata onxy-nya yang tajam dan waspada, juga tatapan yang mematikan. Hibari Kyoya—sang ketua komite kedisiplinan SMA Namimori.
"Ah, maaf, Hibari—"
"Kalau kau bengong saat berjalan, kamikorosu." Ujarnya sambil mengeluarkan tonfanya.
"Ah, ma—maaf, aku permisi dulu—" Hikari lalu berlari kecil melewati Hibari. Asal tahu saja, sejak SMP Hikari dan Hibari saling kenal, walaupun kalau mengobrol lebih banyak Hikari. Namun Hibari selalu nyaman jika ada didekat Hikari dan jika Hikari butuh pertolongan, Hibari pasti selalu membantu.
Kanivora yang baik.
"Tapi…, apa perasaanku bisa terbalaskan?" Gumam Hibari sambil menatap langit siang dari balik jendela.
Hikari berjalan melewati lorong lab fisika ketika pintu lab itu terbuka dan—
BRUK!
"I—itte…" Hikari mengusap kepalanya yang sakit sambil meringis, "Eh?"
"Go—gomen! Ah—" Sosok itu meminta maaf pada Hikari, lalu terdiam. Mereka terdiam sebentar.
"Tsuna-kun!"
"Hi—Hikari-san!" Teriak mereka bersamaan.
"Maaf, aku menabrakmu.." Hikari berdiri lalu memungut buku milik Tsuna yang terjatuh gara-gara tabrakan tadi. Tsuna ikut berdiri dan memungut kertas-kertas yang berserakan.
"Aku juga minta maaf karena tidak melihatmu, Hikari-san.." Tsuna tertawa kecil sembari mengambil file folder.
"Nah, sudah. Biar kubawakan, Tsuna-kun.." Hikari menawarkan diri. Tsuna jadi agak salah tingkah.
"Ti—tidak usah, Hikari-san! Na—nanti keberatan, a—aku saja!" Ujarnya dengan agak gelagapan. Hikari terkekeh.
"Tidak. Nanti kamu nggak tambah tinggi.., sayang kamu sudah setinggi ini.." Ucap Hikari. Memang benar, saat SMA ini, Tsuna sudah bertambah tinggi melebihi tinggi Hikari. Padahal dulu saat SMP, Hikari masih lebih tinggi sedikit.
"A—ah, kamu terlalu memuji, Hikari-san.." Tsuna sukses dibuat blushing dan Hikari tertawa terbahak-bahak, "Hi—Hikari-san!"
"Maaf, habis kamu lucu banget, sih.." Ujar Hikari disela tertawaannya. Tsuna terdiam sebentar lalu terkesiap.
"Ah, sudah, sampai sini saja, Hikari-san. Aku ingat ada urusan penting dengan Toaru-sensei.." Kata Tsuna sambil mengambil tumpukan buku yang dibawakan Hikari tadi sembari tersenyum. Hikari membalas senyuman Tsuna, "Yah. Aku mau ke kelas dulu, ya. Jaa, ne,Tsuna-kun!" Lalu Hikari berlari hingga hilang dari pandangan Tsuna.
Tsuna memegangi dada sebelah kirinya yang sendari tadi terasa sesak.
"Kh—sakit sekali…"
"Kau tahu tidak, sejak SMP, Hibari-san menyukaimu!" Kalimat itu lancer terlontar dari mulut Miura Haru saat mereka berjalan melewati ruang guru. Hikari terdiam.
"Tidak mungkin—"
"Jangan bilang begitu! Hibari-san selalu saja membantumu saat kau susah, itu tanda kalau dia menyukaimu!" Sergah Haru sengit. Matanya sangat berbinar dan tajam, membuat Hikari agak kaget.
"Tapi, Haru-chan, sudah kewajiban teman untuk saling membantu, kan?" Elak Hikari lagi. Haru mengigit bibir bawahnya karena sahabatnya ini tidak percaya omongannya.
"Tapi setiap kali kau melihat Dino-san, Hibari-san pasti menatap dengan tidak suka! Aku tahu itu!" Ucap Haru lagi, sukses membuat HIkari terkesiap.
Apakah Hibari memperhatikan kalau ia selalu memandangi Dino?
"Ap—apa maksudmu, Haru-chan…?" Hikari mulai tergagap. Haru tersenyum licik.
"Aku selalu melihat, setiap kali kau memandangi Dino-san, Hibari-san pasti akan menatap dengan tidak suka. Ia cemburu kau mengejar Dino-san, Hikari.."
"Haru-chan.."
"Aku juga berpikir Tsuna-san juga menyukaimu.." Ucap Haru lagi.
"Ah, tidak…, aku dan Tsuna-kun hanya teman.." Elak Hikari untuk yang kesekian kalinya.
"Bohong."
"Tidak.."
"Bohong."
"Sudahlah, Haru-chan!" Hikari mulai kesal. Haru tekekeh.
"Hehehe.."
"Tapi—"
"Ada apa, Hikari?"
"Apakah Dino-senpai….menyadari keberadaanku..?" Hikari menatap langit sore yang terlukis dibalik jendela lorong itu. Haru terdiam.
"Tidak mungkin. Dino-san sangat popular, tidak mungkin dia melihatmu. Sudahlah, tinggalkan Dino-san, kejarlah Hibari-san!" Air muka Haru langsung cerah.
"Haru-chan, aku dan Hibari hanya teman.."
"Hum, tapi kejar saja, siapa tahu kalian jadian!" Kata Haru sembari menepuk pundak Hikari, "Dasar.., aku akan tetap mengejar Dino-senpai—"
"Huuh, dasar Hikari.."
Mereka tertawa, lalu berjalan untuk keluar gedung sekolah. Sembari mereka berjalan melewati lapangan dan bercakap-cakap, mereka tidak tahu ada seseorang yang mengawasi mereka dari atas atap sekolah. Seseorang dengan rambut raven yang melambai tertiup angin serta gakuran yang dengan gagah tergantung dipundak sang empunya.
Mata onxy itu menatap tajam wanita itu. Wanita dengan rambut coklat panjang sebahu yang sedari tadi tertawa dengan temannya.
"Hikari…bisakah…kau berpaling darinya..?"
...:::TBC!:::...
Sekian untuk chapter 1!
Mind to RnR, minna ;) ?
