Largos tiempos de espera
Disclaimer : Masashi Kishimoto yang nyiptain Naruto
Rated : T
Genre : Fantasy
Pairing : SasuHina
Warning : Tak ada
Happy reading
Hari ini begitu mengejutkan bagiku, takku sangka senpai yang selama ini aku kagumi menyatakan cintanya padaku. Sungguh tak terduga dia akan melakukan itu. Jadi mimpi-mimpiku yang selama ini aku anggap sebagai mimpi semu akhirnya menjadi kenyataan juga. Aku dan Gaara-senpai sekarang resmi menjadi sepasang kekasih. Sungguh membahagiakan saat membayangkan hal ini benar-benar terjadi dikehidupanku.
Akan tetapi entah kenapa dilubuk hatiku yang terdalam aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang mengatakan bahwa hubunganku dengan Gaara-senpai ini salah, sesuatu yang mengatakan bahwa tidak sepantasnya aku berhubungan dengan Gaara-senpai.
Apakah yang terjadi dengan hatiku ini, apakah keputusanku ini salah. Apakah salah jika aku menjalin hubungan dengan pria baik seperti Gaara-senpai. Terlebih lagi apakah hatiku yang mengganjal ini berhubungan dengan sehelai bulu sayap hitam yang aku temukan disamping ranjangku dulu...
Entahlah aku tidak mengerti, sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan hatiku ini.
...
"Selamat pagi Hinata-chan"
"Pagi Ino-chan, tumben kau berangkat lebih dulu dariku. Apa ada alasan khusus kenapa kau berangkat pagi seperti ini ?"
"Hihihi" dia menunjukkan senyum lebarnya. Tapi tak lama kemudian "Tolong pinjamkan aku buku PR-mu. Izinkan aku menyalinnya karena aku benar-benar lupa mengenai PR itu tadi malam" dia memohon didepanku sambil menundukkan kepalanya kemeja untuk menunjukkan betapa membutuhkannya dia buku PR-ku sekarang meskipun ini bukanlah yang pertama kali dia melakukan ini.
"Tentu saja kau lupa, pasti kau keasikan pacarankan dengan Naruto sehingga lupa waktukan ?"
"Kau ini tau saja dengan apa yang aku lakukan Hinata-chan hihihihi"
Dialah sahabatku Yamanaka Ino. Sahabatku sejak aku duduk dibangku smp. Sahabat yang tidak pernah meninggalkanku meski aku berada disituasi apapun. Meski aku tidak terlalu tau tentang hidup maupun keluarganya.
Ya... aku tidak terlalu tau tentang sahabatku itu meskipun aku telah lama mengenalnya. Dia terlalu tertutup terhadapku, hidupnya sungguh bagaikan misteri bagiku. Yang kutahu hanyalah selain Ino anak yang baik, dia juga memiliki seorang kekasih sejak aku mengenalnya bernama Uzumaki Naruto. Pria baik hati dan murah senyum yang bersekolah disini juga.
"Ini" aku lantas menyerahkan buku PR-ku kepadanya. Dengan senang hati tentu saja dia langsung mengambil buku itu dari tanganku dan duduk dimejanya yang ada disebelaku.
"Tanks ya Hinata-chan"
"Ya ya ya terserahlah"
...
Jam istirahat yang telah berlangsung beberapa menit yang lalu membuat beberapa penghuni kelas ini melenggang pergi entah kemana untuk menghabiskan waktu. Tapi itu tidak berlaku untukku dan Ino karena dibanding menghabiskan waktu diluarsanatidak berguna, kami lebih memilih menghabiskan waktu istirahat dengan makan bento bawaan kami masing-masing disini.
"Kau sudah siapkan besok kita kamping, aku tidak mau kau tidak ikut lagi tahun ini" Ino membuka pembicaraan kami dengan membahas acara kamping yang diadakan sekolah ini setiap tahunnya. Memang tahun lalu aku tidak mengikuti kegiatan itu dikarenakan urusan mendadak sehingga Ino juga memutuskan untuk tidak ikut sepertiku. Jadi tahun ini aku bertekat mengikuti acara ini untuk membalas perasaan Ino yang rela tidak ikut tahun lalu hanya untuk menemaniku agar aku bukanlah satu-satunya orang dikelas ini yang tidak ikut.
"Tentu saja aku sudah siap, aku sudah menyiapkan semuanya dengan teliti. Kau sendiri bagaimana, jangan sampai kau kelabakan nantinya karena kau belum menyiapkan apa-apa akibat terlalu asik pacaran dengan Naruto-kun" inilah Ino, dia selalu saja menomor satukan Naruto dibanding apapun. Terbukti dari beberapa- ralat semua tugas sekolah yang terlupa akibat dimalam hari dia terlalu asik berpacaran dengan Naruto.
"Hihihihi kau ini bisa saja Hinata, akukan tidak akan melupakan hal sepenting ini hanya karena dia" dia tertawa sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahnya.
"Oh ya ?" aku menanyakannya dengan nada ragu.
"Hihihihi Hinata-chan kau ini tidak percayaan ya hihihihi..."
...
...
"Tapi Hinata-chan, aku dengar kau sudah berpacaran dengan senpai merah itu. Apakah itu benar ?" entah kenapa tiba-tiba saja raut wajah Ino berubah menjadi serius saat menanyakan hal itu. Padahal tadi dia masih asik tertawa, namun saat menanyakan hal itu dia tiba-tiba saja menjadi serius. Apakah Ino tidak menyetujui hubungan ini, tapi kenapa, apa yang salah ?
"I-itu Ino-chan, a-aku -"
"Kau tergagap Hinata. Jadi itu benar. Kau dan senpai merah itu sekarang telah resmi berpacara"
Kebiasaan tergagapku inilah yang membuat Ino bisa menebak akan jawabanku. Dia telah lama mengenalku jadi dia sudah hafal betul jika aku tergagap seperti ini maka jawabannya benar, karena aku masih malu ataupun gugup untuk mengakuinya.
"Aku sebenarnya tidak suka dengannya didirinya yang membuatku tidak suka. Tapi aku tidak tau apa itu"
"T-tapi Ino-chan, Gaara-senpai itu baik, jadi jangan berprasangka buruk dulu dengannya sebelum kau mengenalnya dengan baik" mendengar ucapanku dia menjadi tersenyum kepadaku. Dia mengusap puncak kepalaku sebelum mengutarakan perasaannya.
"Dasar, orang yang sedang jatuh cinta pasti membela kekasih barunya"
"Jadi kau tidak keberatan ?" tanyaku antusias.
"Ya aku menyetujuinya. Tapi aku masih belum percaya sepenuhnya dengannya loh"
.
...
.
Perjalanan dari sekolah ke tempat kamping membutukan waktu yang tidak sebentar. Hampir 6 jam habis didalam perjalanan ini membuat beberapa orang-orang didalam bus yang aku tumpangi melakukan pekerjaan yang menurut mereka menyenangkan dan dapat menghabiskan waktu. Diantaranya ada yang main kartu ditengah bus, karaoke didepan dengan tidak tau malunya, dan hal-hal ngak masuk akal lainnya. Itulah yang dilakukan teman-temanku yang memalukan yang didominasi oleh para pria.
Tapi beda denganku, aku yang duduk bersama dengan Ino hanya saling berdiam diri saja. Alasannya simpel saja kenapa kami diam yaitu karena dia sekarang sedang tidur menempelkan kepalanya dipundakku.
Gadis ini benar-benar aneh, dari awal perjalanan tak henti-hentinya dia berceloteh membuat aku pusing, tapi sekarang dia malah tertidur dengan sangat lelap.
...
"Sampai !"
Kututup kedua telingaku saat aku turun dari atas bus dan mendengar teriakan Ino yang terlalu dibuat berlebihan itu.
"Ino-chan jangan teriak-teriak seperti itu, ini sangat memalukan" aku mencoba memperingatkannya tapi malah hanya dibalas dengan cengiran khasnya.
"Kau ini tidak tau ya, yang aku lakukan ini tidak lebih memalukan dibanding aku ini yang menurutku tidak memalukan"
"Hah... sipa ?"
"Tuh lihat" dia menunjuk kearah bus kelas lain yang telah sampai ditempat ini. Kulihat ada seorang anak laki-laki yang bertelanjang dada naik diatas bus sambil memutar-mutar bajunya, menari tidak jelas sambil berteriak-teriak tidak jelas pula.
"Memalukan bukan ?"
"Iya dia sangat memalukan... Tapi Ino-chan jika dilihat-lihat laki-laki itu tidak asing" aku melihat laki-laki itu baik-baik. Karena dia menghadap kebelakang maka aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi rambutnya itu loh.
"Iya Hinata-chan aku juga merasa tidak asing dengan dia"
Dan seketika itu pula kami terkejut saat laki-laki itu berbalik kearah kami. Wajahnya benar-benar tak asing bagi kami. Bahkan Ino sangat mengenal orang itu karena dia adalah Uzumaki Naruto, kekasih dari Yamanaka Ino.
"Ayo Hinata-chan kita pergi"
"Iya" kamipun pura-pura tidak melihat kejadian itu dan pergi begitu saja menuju tempat membagun tenda. Tapi...
"Ino-chan, Hinata-chan aku disini, lihat aku !"
Dia memanggil namaku.
"Pura-pura tidak dengar Hinata. Pura-pura tidak dengar"
"Iya Ino-chan" kamipun tidak pernah membalikkan badan kami untuk menanggapi Naruto.
"Ino-chan, Hinta-chan aku disini, lihat aku. Ino-chan kekasihku cintaku !" benar-benar memalukan sekali.
-Skip time-
Malam hari diacara kampingpun datang. Rencana permainan adu keberanianpun akan segera -siswi kelas satu, dua, maupun kelas tiga dikumpulkan menjadi satu disebuah lapangan. Tak terkecuali aku, Ino, serta Naruto yang tiba-tiba saja muncul dikeramaian ini.
"Baiklah mohon perhatiannya !" salah satu panitia acara ini memecah keramaian dengan suaranya untuk meminta semua orang memperhatikannya.
"Malam ini akan diadakan permainan. Kalian akan dipasangkan dalam acara ini. Kelas satu dirute A, kelas dua dirute B, dan kelas tiga dirute C, sehingga tidak akan memakan waktu lama. Diujung rute itu akan disediakan buku absen untuk masing-masing kelas. Kalian isi dahulu sebelum kembali. Baiklah hanya itu peraturan dari permainan ini. Aku harap kalian semua menikmatinya"
Dengan begitu permainan ini dimulai. Banyak pasangan telah melakukan permainan ini dan kembali dengan selamat. Aku dan Ino yang mendapat giliran berikutnyapun dengan semangat melangkan kaki menuju dalam hutan. Meskipun tidak rimbun serimbun hutan yang ada diIndonesia, tapi hutan ini bisa dibilang cukup rimbun dan menakutkan bagiku. Hanya dibantu dengan penerangan bulan purnama menambah seramnya hutan ini.
.
...
.
"Ino-chan dimana kau ! Ino-chan ! Ino-chan ! Halo siapa saja !"
Aneh sungguh aneh kenapa bisa aku tersesat seperti ini padahal jalan yang aku lalu bersama Ino tadi hanya ada satu jalur, tapi kenapa aku bisa tersesat seperti ini. Terlebih lagi dimana keberadaan Ino sekarang. Padahal dia menyuruhku berjalan terlebih dahulu tapi kenapa dia tidak datang-datang juga.
"Ino-chan !"
Srek srek
Aku yang masih ketakutan dengan keadaanku ini tiba-tiba saja mendengar ada suara dari semak-semak. Aku sangat khawatir jika itu adalah suara hewan buas seperti serigala ataupun harimau. Aku begitu khawatir, apalagi aku disini sendirian pasti aku tidak sanggup untuk menghadapinya sendirian serigala ataupun Harimau itu karena aku seorang gadis yang lemah.
Srek srek
Suara itu mendekat, semakin mendekat dan mendekat. Jantungku semakin berdetak sangat kencang menanti apa yang akan keluar dari semak-semak itu.
Tak mampu berlari, tak mampu bergerak, aku hanya bisa menutup mata menerima nasib tragisku ini. Meninggal akibat dimangsa hewan buas.
...
...
Lama menutup mata tapi tak ada yang terjadi membuat aku bingung. Seharusnya jika mahluk buas itu melihatku pasti aku langsung diterkamnya. Tapi kenapa ini tidak terjadi apa-apa. Apa yang sebenarnya terjadi ?
Kuputuskan untuk membuka mataku perlahan-lahan. Takut-takut jika mahluk buas itu ada didepanku.
Tapi nihil hasilnya. Aku tak melihat apapun didepanku. Tak ada dikanan maupun dikiriku mahluk buas itu membuatku tambah bingung. "Jika bukan mahluk buas lalu ?"
Akupun mengarahkan pandanganku pada semak-semak yang menjadi masalahnya. Terlihatlah seekor kelinci yang sedang makan rumput dengan lahapnya disana membuat aku tersenyum geli sendiri.
"Jadi seekor kelinci. Bodohnya kamu Hinata" aku memukul-mukul kepalaku sendiri beberapa kali untuk menunjukkan betapa bodohnya diriku ini.
Kulangkahkan kakiku mendekati kelinci putih bertotol hitam itu. Kucoba meraihnya agar aku tidak sendirian lagi dihutan ini. Namun bukannya menurut, kelinci itu malah berlari menjauhiku.
Keputusan mengejarnya aku ambil langsung agar jarak kami tidak terlampau jauh darinya. Hingga akhirnya aku dapat menangkapnya meski bersusah payah.
Disaat menangkap kelinci itu aku baru sadar bahwa aku telah masuk semakin dalam hutan ini. Perasaan takut semakin menyeruak didiriku. Hingga pada akhirnya aku melihat seklebat bayangan hitam seseorang. Mungkin itu adalah seseorang yang mencoba menolongku, jadi aku mengikuti arah bayangan itu berada.
Namun anehnya kenapa bayangan itu semakin menjauh dan semakin dalam memasuki hutan. Apa yang sebenarnya terjadi ?
Lariku semakin kencang, kencang dan bertambah kencang untuk menggapai bayangan itu hingga akhirnya aku berhasil mendekatinya.
Kali ini aku benar-benar terkejut dengan apa yang aku lihat sekarang. Aku jatuh terduduk, melepaskan kelinci yang aku peluk sehingga kelinci itu lari dariku. Aku tidak peduli dengan kelinci itu sekarang karena sekarang mataku masih terfokus dengan apa yang ada didepanku. Memastikan kalau hal ini nyata.
Meskipun gelap aku masih dapat melihatnya. Mahluk berambut panjang sepunggung bertelanjang dada sedang membelakangiku. Dengan mata merahnya dia melirik arah tempatku terduduk.
Tapi bukan itu yang membuatku terkejut melihatnya. Bukan dia yang bertelanjang dada dimalam hari maupun mata merahnya, tapi melainkan aku terkejut karena benda yang menempel dipunggungnya. Sebuah sayap asli yang menurutku tidak mungkin dimiliki oleh manusia. Belum pernah aku melihat mahluk seperti itu didunia nyata. Terlebih lagi keterkejutanku ini bertambah saat aku melihat darah segar menetes dari jari-jari tangan kanannya. Pasti itu bukanlah darah yang keluar dari tangannya sendiri.
Lalu darah siapa itu ? Apa itu darah manusia ? Kalau
itu benar, apa mahluk itu seorang pembunuh ? Dan apa yang akan terjadi denganku, apa aku juga akan dibunuhnya ?
Tubuhku bergetar melihat mahluk itu. Aku tak mampu bergerak apalagi berlari seperti halnya tadi. Aku hanya bisa menatapnya dalam diam melihat reaksi yang akan ditunjukkan mahluk itu. Membunuhku ataukah melepaskanku begitu saja... Aku sungguh tidak tau.
.
.
.
tbc
A/N : Akhirnya aku memutuskan untuk membuat sequel 'waiting for you' dibanding yang canon. Karena yang di canon idenya sudah hilang tak berbekas. Sungguh sulit untuk menggalinya kembali. Tapi itu tidak membuatku menyerah untuk melanjutkan yang canon.
Tapi tidak saat ini...
Oke aku harap fic ini dapat diterima para reader.
Akhir kata REVIEW pliz...
