Konoha hari ini cerah seperti biasanya, desa yang selalu damai ini pun tidak kalah dengan hati seorang guru akademi yang sedang melambung tinggi. Bukannya apa, akhirnya bel akademi pun berbunyi, Itu mengartikan ia bebas dari hari yang panjang dan melelahkan tentu juga. Anak-anak yang nantinya menjadi calon genin pun memberi salam kepada pria berambut kuncir satu itu dan lekas keluar dengan keadaan ramai. Yang di salami hanya memperlihatkan senyuman di wajah manis nya. Setelah kelas kosong, Chuunin yang sering di panggil "Iruka-sensei" ini membereskan dokumen serta materi yang telah di pelajari hari ini. Ia bersenandung dalam hati tidak sabar untuk melepaskan rompi dan perabotan shinobinya di rumah lalu mandi dengan air hangat. Ia tersenyum tulus seperti biasanya.

"Tok, Tok, Tok"

Tangan Iruka berhenti membereskan meja kerjanya dan menoleh ke arah sumber suara, seketika pipinya sedikit merona melihat sosok yang sudah berdiri di ambang pintu kelas.

"Kakashi..-sensei? .. Ah maaf, silahkan masuk"

Tap..tap..tap..

Setiap langkah yang menggema di seluruh pelosok kelas, semakin cepat degup hati Iruka, wajah lama yang sebenarnya sering di perhatikan pada saat makan ramen bersaama a\Naruto, suara berat yang tidak pernah di lupakan, dan sesosok orang tinggi ini pula yang sering namanya di sebut Iruka ketika berdo'a. Iruka hanya bisa meremas kertas dokumen di tangannya, alih-alih mengurangi rasa salah tingkahnya di hadapan Kakashi.

"Apa kau sudah selesai mengajar? Jika ya, aku ingin berbicara sebentar. Tidak usah kemana-mana, disini saja" Tanya pemuda berambut jabrik silver yang melawan gravitasi dan memakai penutup dari leher sampai batang hidungnya.

"E-eh?.. Ya, aku sudah selesai mengajar kok, sensei… Kakashi-sensei bisa tunggu aku selesai membereskan ini dan kita akan mengobrol " Kata Iruka sambil melanjutkan kegiatannya membereskan dokumen di atas meja kerjanya. Kakashi mengambil sebuah kursi dan menggesernya ke sebelah Iruka, lalu ia duduk dengan posisi kursi yang terbalik lalu menatap Iruka dengan mata sayunya, sangat.. sangat detail.

"Manis sekali rupanya jika di perhatikan dari dekat.. Kulitnya coklat, hidungnya mancung, sorot matanya cukup tajam, bibirnya tipis, tapi tidak terlalu tebal.. sayang jika tidak dinikmati sedekat ini. Semakin unik dengan goresan luka lama di wajahnya, Manis." Komentar Kakashi dalam hati, tanpa di sadar otot di wajahnya menunjukkan senyuman di balik masker yang ia pakai.

Merasa di perhatikan, Iruka menahan malu dan mempercepat gerakan tangannya. Tiba-tiba saat akan memindahkan tangan, tangan Kakashi menangkap dan menghentikan pergerakan Iruka.

"Iruka-sensei, daijobou desu ka? Sepertinya buru-buru sekali, kenapa?"

Kakashi kebetulan memegang perbatasan lengan dengan telapak tangan Iruka dan menatapnya. Betapa cepat degup jantung Iruka, bisa terasa dari pembuluh darahnya. Lalu Kakashi mengalihkan pandangan dari lengan Iruka, ke wajahnya. Entah wajah si dolphin ini sudah menjadi tomat matang atau apa, tapi wajahnya merona dan sangat terlihat tangan yang satu lagi mengeratkan remasan pada kertas dokumen. Kakashi menyeringai di balik maskernya dan segera berdiri di hadapan Iruka.

"Tatap aku, apa ada yang salah?" Tanya Kakashi. Tetapi yang ditanya hanya memalingkan wajah dan diam, ia menatap tangan Kakashi yang masih menggandeng tangannya. Kakashi langsung melepaskan genggamannya dan menatap Iruka dengan tatapan "maaf-aku-lupa" miliknya.

"Tidak..apa-apa, Kakash-sensei.." Jawab pemuda itu terbata-bata sambil tertunduk. Hening.

.

.

.

.

"Oh iya, sensei ingin menyampaikan apa?" Lanjut Iruka dengan senyuman manis dan tatapan hangat miliknya, dengan cepat ia dapat memecahkan keheningan di kelas. Kakashi sempat terpana dengan wajah hangat Iruka, sesegera mungkin ia sadar dan tertawa kecil.

"Begini, Iruka-sensei.. Besok kan hari sabtu, lagipula besok malam juga ada festival kan? Bagaimana jika kau ikut bersama aku dan Naruto? Kau akan menanyakan kemana Sakura? Ia pergi bersama teman-temannya. Kasian kan Naruto sendirian, lagi pula kebetulan aku juga tidak ada teman untuk pergi ke festival. Bagaimana, sensei? Apa kau akan gabung dengan kami? Pasti Naruto juga akan senang kalau ada Iruka-sensei" Jelas Kakashi dengan wajah semenarik mungkin untuk meyakinkan Iruka bahwa alasan dirinya mengajak Iruka karena Naruto, bukan karena dirinya sendiri ingin menyempatkan waktu bersama Iruka. Iruka sendiri tampak berpikir cukup keras apakah ia akan ikut dengan Kakashi&Naruto atau bersantai dirumah sendirian. Ia cukup lelah, tetapi kapan lagi ia akan berjalan-jalan dengan Naruto—terutama Kakashi—yang sering sibuk dengan misi-misi nya?

"Hmmm….. Oke, aku akan ikut denganmu. Kapan?"

Kakashi tersenyum senang di balik maskernya, ia tidak menyangka kalau Iruka benar-benar ikut. Ia mendekatkan wajahnya ke Iruka dan ketika wajahnya sudah 2cm di depan Iruka, ia bisa mendengar nafas memburu Iruka, wajahnya yang manis merona merah. Si Lumba-lumba kaget dan ingin lekas mendorong Kakashi, tetapi badannya seketika lemas, semakin dekat wajah Kakashi semakin kacau badan dan pikirannya. Kakashi tiba-tiba menurunkan masker miliknya, untuk pertama kali ia menurunkan masker di depan orang, tapi orang ini khusus. Ya, ia hanya ingin memperlihatkan wajah tampannnya keorang yang di cintainya. Iruka semakin kaget dan terpesona dengan wajah yang berada di depannya kini. Ia tidak pernah melihat Kakashi tanpa masker yang selalu di tutupi di wajahnya. Ia pun sedikit melotot memandangi Kakashi dan sedikit membuka mulutnya, tidak bisa di ungkapkan lewat kata-kata.

"Kakasi-sens—" Sebelum menyelesaikan kalimatnya, bibir Iruka sudah tersapu dengan bibir tipis Kakashi. Bukan main kaget Iruka, tadi ia melihat Kakashi tanpa mengenakan maskernya, sekarang ia harus di hadapkan dengan ciuman dari sang Copy Nin ini!

Kakashi menjilat dan semakin menekankan bibirnya kepada Iruka. Iruka pun mengeri dan membuka mulutnya, Daging tak bertulang milik Kakashi mengabsen tiap anggota yang ada di dalam rongga mulut Iruka. Iruka ingin mendorong Kakashi dan menyudahi semua ini, tetapi ia terlanjur terbuai oleh ciuman panas yang kakashi berikan. Lalu lidah Iruka pun membalas semua yang sudah di lakukan Kakashi. Lidah mereka saling bertautan dan saling menikmati satu sama lain, sampai-sampai saliva mengalir dari salah satu sudut bibir Iruka karena tidak mampu bertahan lagi. 5 menit pun berlalu, Kakashi menarik bibir serta lidahnya kembali, kalau tidak karena kehabisan pasokan oksigen mungkin Kakashi tidak akan menyelesaikan ini. Iruka masih ter-engah-engah dan mengatur nafas, ia pun menyeka saliva yang tadi mengalir dari sudur bibirnya. Ketika ingin mengatakan sesuatu, Kakashi sudah terlebih dahulu mencium pipi Iruka, tepatnya mencium daerah rona Iruka dan tersenyum sebelum menarik maskernya kembali ke atas.

"Terima kasih Iruka-sensei. Jam 7 malam aku akan berada tepat di pintu flatmu. Berpakaian rapi, ya!"

Kakashi berpamitan dengan di iringi kebulan asap. Iruka masih terdiam di tempat dan belum bisa mencerna kejadian yang barusan terjadi. Ia segera mengambil dokumen yang berada di atas meja kerjanya dan berjalan keluar akademi ke arah flatnya, pikirannya kosong, masih terus terulang-ulang mengingat kejadian tadi. Sampai pada akhirnya ia berdiri di depan pintu flat, lalu mengambil kunci dari kantong rompinya dan membuka pintu tersebut. Begitu masuk, ia langsung melepas rompi, hitai-ate, dan sepatu dinasnya, tidak lupa juga ia melepaskan kunciran yang bertengger di rambutnya. Iruka berjalan ke arah kamar mandi lalu membuka keran berlabelkan warna merah, yang berarti mengeluarkan air panas, dan mengarahkan keran ke arah yang berlabelkan warna biru, kebalikan dari yang warna merah tadi. Sambil menunggu bak mandi penuh, lumba-lumba mengambil handuk yang di gantung di kamar tidur. Tidak menunggu beberapa waktu akhirnya bak mandi pun penuh dan ia lekas mandi, membersihkan badan, dan melepaskan lelah di hari ini, terutama yang terjadi tadi sore sebelum ia pulang.

"Haaahh… Maksudmu tadi itu apa, Kakashi-sensei?" Tanyanya dalam hati sambil memainkan air di bak mandi.

"Sudahlah, bisa di tanyakan besok ketika aku bertemu dengannya" Lanjut Iruka sambil mengeringkan badan dan memakai baju tidur favoritnya. Dan ia pun menghempaskan tubuhnya di futon tempat ia biasa tidur. Setelah memasang jam waker dan memakai selimut, ia memejamkan mata. 1 menit…. 2 menit… 5 menit..! Apa-apaan ini? Biasanya ia langsung terlelap, tetapi kenapa malam ini tidak bisa? Padahal besok ada acara!

Iruka menatap lurus ke atas langit-langit kamarnya, memikirkan seseorang yang tadi dengan secara tidak sengaja mencuri ciuman pertama milik Iruka. Sambil memegang bibirnya, Iruka mengingat-ingat kejadian tadi." Begitu lembut dan panas.." Batinnya.

Iruka mencoba berdo'a agar ia bisa terlelap, tidak lupa juga ia berdo'a untuk Kakashi. Dan mencoba memejamkan matanya sekali lagi… Akhirnya tidak lama kemudian Iruka terlelap dan terbawa ke alam bawah sadarnya.