Kita sudah mengorbankan segalanya agar kita dapat selalu bersama. Impian dan waktu kita. Namun, semuanya tidak akan selalu bisa berjalan dengan semestinya. Kau tiba-tiba ingin memutuskan hubungan kita dan pergi, maka aku akan hancur.
Suho terus memandangi suaminya yang masih terlelap. Mereka baru menikah sekitar 3 bulan yang lalu, mereka sudah melakukan malam pertama dan berbulan madu seperti pengantin baru pada umumnya. Tapi ada yang salah dengan perasaan Kris sekarang, dia jenuh dan bosan.
Mengingat hal itu, cairan bening yang biasa disebut dengan air mata mulai menggenang di pelupuk mata Suho. Dia bergegas berbalik memunggungi Kris, meskipun suaminya itu belum bangun—atau sudah.
Beberapa saat kemudian, Suho berjengit kaget saat ada sebuah lengan melingkar erat di perutnya. Suho sangat tahu kalau Kris masih sangat mencintainya, tapi apakah hati dapat dipaksakan?
"Maaf."
Hubungan mereka sudah terjalin selama hampir 7 tahun. Semuanya akan menjadi sia-sia jika Kris benar-benar mengakhirinya. Kris ingin bebas dan pergi ke tempat-tempat yang ingin dia datangi sewaktu dia masih dulu. Lalu, bagaimana dengan Suho? Apa dia akan bahagia? Jelas tidak! Kris adalah hidupnya, Suho tidak mungkin bisa menjalani hidupnya tanpa belahan jiwanya itu.
"Aku akan tetap tinggal di Korea, tapi aku tidak bisa tinggal bersamamu di sini."
Suho langsung menutup matanya dalam-dalam, mencoba menekan rasa perih yang sedang mendera hatinya saat ini. Sungguh kejam, kenapa takdir harus mempermainkannya seperti ini?
"Maaf."
Ini sudah kedua kalinya, Suho mendengar kata itu dari mulut manis Kris dan dia muak dengan hubungan mereka yang kaku selama satu minggu belakangan ini. Kris berubah dan begitu jauh dari Suho, hatinya bukan untuk Suho lagi. Kris menginginkan kebebasan layaknya seekor burung yang ingin bebas dari sangkar emas. Suho tidak berdaya, dia harus ikhlas dengan kepergiaan Kris demi kebahagiaan cintanya itu. Tapi apa Suho sanggup menjalani kesendiriannya tanpa kehadiran Kris di dekatnya?
"Jeongmal neomu apayo."
Kris perlahan membalikkan tubuh Suho agar kembali menghadapnya. Suho refleks memeluk Kris dengan erat, dia masih ingin Kris tetap tinggal bersamanya. Suho sangat membenci Kris yang sekarang, tapi dia masih sangat mencintainya.
"Suho."
Dekapan Suho pada Kris mulai mengendor. Suho akan menjadi lemah saat mendengar suara Kris yang lembut. Manis, tapi beracun.
"Maafkan aku."
Kris perlahan melumat bibir Suho dengan penuh perasaan. Hatinya masih terasa hangat seperti dulu, memang tidak ada yang berubah untuk hal itu. Namun, perasaannya hampa dan Kris tidak tahu kenapa hal itu terjadi padanya saat ini.
Belum berselang satu menit, Kris terpaksa melepaskan pagutannya dari bibir istrinya. Suho tiba-tiba memukul dada Kris dengan keras, karena dia merasa mual dan dan perutnya terasa bergejolak aneh.
"Ada apa, yeobo?" tanya Kris cemas.
Bukannya menjawab, Suho malah melesat masuk ke dalam kamar mandi dan dia langsung memuntahkan isi perutnya yang belum terisi.
"Wajahmu terlihat sangat pucat, yeobo. Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang."
"Tapi—"
"Tapi ada tapi-tapian."
Kris langsung menyeret istrinya keluar dari apartemen mereka, tidak lupa dia mengambil kunci mobilnya dari meja nakas. Saking paniknya, Kris tidak memperdulikan penampilan mereka yang masih memakai piyama tidur. Kris hanya ingin memastikan apakah Suho baik-baik saja atau tidak. Dan sejujurnya, hati kecil Kris masih ingin tinggal bersama gadis pujaannya itu.
"Selamat, Kris! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah," kata Luhan sambil melemparkan tatapan iri pada Kris.
"Apa?" tanya Kris bingung, otaknya masih lambat menafsirkan penjelasan dari sepupunya itu.
Bibir Suho refleks mengerucutkan bibirnya dengan sebal dan Luhan menepuk pelan keningnya. Mungkin karena belum sarapan, Kris menjadi kesulitan dalam berpikir.
"Apa ucapanku tadi kurang jelas? Istrimu hamil, anak yang dikandung Suho itu adalah anakmu," ulang Luhan dengan lebih terperinci.
Kris bergegas melirik istrinya yang duduk di sebelahnya dan Suho langsung merasa risih karena ditatap seperti itu oleh suaminya.
"Anak yang dia kandung memang anakku, itu artinya aku akan tetap tinggal bersamanya."
"Apa maksudmu itu, Kris?" tanya Luhan spontan curiga.
"Yaa! Apa kalian berdua sempat bertengkar? Jawab aku!" teriak Luhan.
Kris sama sekali tidak mengiraukan pertanyaan yang dilontarkan oleh Luhan tersebut, dia malah membawa Suho keluar dari ruangan sepupunya itu dan pulang kembali ke apartemen mereka.
"Oppa," panggil Suho agak takut-takut.
"Hmm." Kris menyahut dengan hanya deheman saja karena dia sedang menyantap sarapannya.
"Apa kau akan tetap menceraikanku setelah ini?"
Sebelah alis Kris perlahan terangkat, dia langsung menghentikan kegiatan makannya dan menarik Suho untuk duduk di atas pangkuannya.
"Apa kau tidak dengar jawaban yang aku berikan pada Luhan saat di rumah sakit tadi? Aku akan tetap tinggal bersamamu," ujar Kris sambil mencubit pelan pipi Suho.
"Ada banyak alasan yang bisa membuatku untuk tetap ada di sini. Kau hamil dan aku masih ingin terus dimandikan olehmu setiap pagi."
Wajah Suho seketika memerah, bahkan menjalar sampai ke telinga. Kris memang paling bisa membuatnya malu, tapi Suho sangat menyukai hal itu.
"Aku sudah banyak membuat janji manis padamu dan aku harus menepatinya. Kau adalah hal yang paling indah di hidupku, aku pasti akan menyesal jika aku melepaskanmu begitu saja."
"Dan aku tidak mungkin sanggup hidup tanpamu, Oppa."
"Mulai saat ini, aku berjanji tidak akan membuatmu menjadi sedih lagi. Aku akan memikirkan semua kenangan indah yang sudah kita buat selama ini, saat aku mulai merasa jenuh dan bosan. Mari kita jalani hidup yang baru bersama calon anak kita nanti."
"Oppa, gomawo." Suho bergegas memeluk suaminya itu dengan erat, dia perlahan menangis—karena terharu.
"Yeobo."
"Ne, Oppa?"
"Aku ingin susu."
"Susu?" tanya Suho langsung melepaskan pelukannya dari Kris.
"Ya," jawab Kris sambil memasang senyuman yang ambigo.
"Susu apa?" Suho memang sangat polos, tapi dia tahu apa yang sedang Kris inginkan sekarang.
"ASI milikmu."
Persis seperti dugaan Suho, Kris tidak akan meminta hal yang normal ketika otak mesumnya mulai bekerja. Suho mencoba memberontak, tapi kukungan Kris pada tubuhnya terlalu kuat. Suho tidak berdaya, dia terpaksa harus pasrah terhadap apa yang akan dilakukan Kris pada tubuhnya nanti. Pagi ini akan menjadi pagi yang panas untuk pasangan pengantin baru itu.
"Habiskan dulu sarapanmu, Oppa."
"Aku haus, aku butuh susu."
"Dasar mesum!"
"Payudaramu ini semakin bulat dan berisi saja, yeobo."
"ANDWAE!"
Selama ada cinta di antara kita berdua, semua tidak akan berubah dengan cepat dan waktu tidak akan bisa membuat kita merasa jauh. Aku sangat mencintaimu. Kau sangat mencintaiku. Kita harus mengingat semua kenangan indah yang telah kita ukir dalam takdir. Kita akan tetap tinggal bersama di sini, selalu. Jangan pernah ada kata berpisah yang terucap dari mulutmu lagi.
Kita buat keluarga kecil kita ini menjadi lebih bahagia daripada kehidupan kita sebelumnya.
THE END
