Simpangan Pertama: Kenyataan Kedua
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~
Waduh, lama, beneran lama ya… Dulu janjinya paling lama dua minggu bakal buat fict lagi, tapi ternyata ospek yang tugasnya selalu keluar giri-giri dan kuliah yang ka-boom ternyata menghambat saya buat bisa ngetik lagi T^T
Jangankan ngetik, mau buka laptop aja pasti ingetnya tugas, maklum masih mahasiswa baru. Niatnya mau hiatus dulu sampai inagurasi ospek selesai, tapi ternyata keinginan untuk kembali membuat fict tidak dapat terbendung lagi dan mumpung lagi libur abis UTS, jadi ya sempatin ngetik lagi deh~
Apa kabarnya nih? Masih baik-baik aja? Atau sudah ketahan parah sampe bikin mumet sama urusan dunia nyata juga kaya saya? Haha… Btw, fict ini mengusung tema survival game dan sci-fi, tapi nggak seberat Phantasm yang banyak istilahnya, ini cuma akan jadi fict biasa dimana para karakter akan bertarung demi mewujudkan impiannya, nggak lebih #PLAK #Masa
Tokoh utamanya adalah Yuuma, dan Miku! Yay! Saya terjangkit pair ini semenjak Kisah Sebuah Senja dan setelah pertimbangan yang banyak, akhirnya saya lebih memilih YuumaMiku ketimbang LenRin untuk fict kali ini. Saya juga mau ngasih info nih, pernah denger istilah Deutragonis? Tokoh penting setelah Protagonis tapi bukan Antagonis dan perannya berbeda jauh dengan Tritagonis, nah, saya akan mengangkat tema itu dalam fict ini. Tokoh utamanya Yuuma, tapi Yuuma nggak akan mendapat PoV sendiri sampai fict ini tamat, semua sudut pandang akan digambarkan melalui orang ketiga dan Miku. Lalu, hubungan perannya akan sedikit timpang, dimana Yuuma sebagai karakter utama malah akan mendapat lebih sedikit pengembangan ketimbang Miku.
Udah daripada banyak lalalala lagi, mending langsung dimulai aja ya~ Enjoy~
~Tarrasque: The Serenity Game~
Main Character: VY2 Yuuma, Hatsune Miku
Main Pair: YuumaMiku
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
(Cover pic is not mine)
Summary :
"Ketika aku menodongkan senjata di tangan ku, dia bertanya 'Apakah membunuh itu membuat mu tenang?!' Lalu aku sadar, aku telah membunuh dan terbunuh berkali-kali. 'Apapun yang kau lakukan, jangan pernah menarik senjatamu lagi!' Tapi aku menggunakannya lagi demi dendam yang sebenarnya tidak ada, schródinger."
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing (termasuk dari eksistensi asing), atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
Sebuah hari yang tidak lagi dikenali, 12 Desember 2014, Nagoya.
Dua orang tergelatakn, dan satu lagi yang mengambang. Mereka yang tergeletak sudah dalam keadaan sekarat, sedangkan makhluk aneh yang mengambang di depan dua orang yang sekarat ini tidak memberikan sedikitpun perhatian pada mereka yang meringkuk lemah.
"Dengan begini, aku yang menang." Ucap salah satu dari yang sekarat, perempuan dengan rambut hitam dan juga lengan yang berlubang karena peluru. Dia menahan darah keluar dari sana, hanya dengan sehelai kain yang berasal dari robekan bajunya.
Keinginan adalah kunci, keinginan adalah pemicu. Tidak ada satupun yang tahu kalau kedua orang yang sudah seperti saudara ini harus hancur karena mimpi mereka masing-masing, oleh harapan yang mereka tanam.
"Apa kau yakin, prajurit? Ini menyalahi peraturan, kau tahu? Shishishi…" Balas makhluk yang melayang itu. Wujudnya yang seperti laki-laki, atau lebih tepatnya— bisa dibilang sebagai anak laki-laki itu memasang senyuman yang sangat lebar, atribut dengan cahaya hijau serta matanya yang berwarna hijau menyala juga berkedip dengan cepat. Bibirnya tidak berhenti tersenyum, semakin lebar dan lebar, kau katakan kalau bibirnya terlihat sudah sobek.
"Aturan? Jangan bodoh Gachapoid, kau dan penciptamu tahu kalau aku adalah kepalsuan yang tidak mengenal peraturan." Balas si wanita.
Laki-laki lain yang tergeletak melihat percakapan itu dengan pandangan buram, rambut merah jambunya berkibaran karena tiupan angin dingin yang menyelimuti gelapnya pemandangan.
"Kode Nama VY1, kau mengerti kalau harapan yang akan terkabul adalah milikmu, bukan milik orang lain. Apa yang akan dikabulkan adalah representasi dari keinginan dan juga kekuatanmu, bukankah kau sadar bahwa yang kau minta ini adalah mustahil? Shishishi…"
"Bicara lagi dan akan ku musnahkan kau." Balas si wanita.
"Melukai administrator adalah tindakan illegal, kau bisa mati dalam sekejap, bukannya kau tahu? Shishishi…"
"Tidak masalah asalkan kau juga mati." Jawab si wanita itu.
Makhluk yang mengakui dirinya sebagai administrator itu tertawa kecil, dengan nada yang sarkastik dan juga intonasi yang menyebalkan. Dia melayang kesana-kemari, dengan kepala ada di bawah, aura hijau yang menyala pada tubuhnya makin berkedip dengan kencang.
"Bukankah ini menarik? Shishishi…" Ucapnya.
Dengan tawanya, dia mengangguk-angguk dengan puas. Apa yang diinginkan makhluk bernama administrator ini sepertinya bukanlah hal yang sulit.
"Jadi, kesepakatan terbentuk, sampah?" Tanya si wanita berambut hitam.
"Shishishishishishi…~"
Sebuah lubang tiba-tiba muncul di belakangnya, si administrator ini mengeluarkan tawa yang semakin terdengar mengesalkan. Walau tidak kencang, tapi cukup untuk membuat siapapun yang mendengarnya ingin untuk membungkamnya saat itu juga.
"Walaupun kau tertarik, tidak ada efeknya untuk ku. Kau, dan juga penciptamu tidak akan luput dari rasa benciku." Balas si wanita.
Dia melihat laki-laki lain yang berambut merah jambu dengan tatapan tajam, menghampirinya dan berdiri tepat di depannya.
"Yuuma, berjanjilah satu hal padaku." Ucap si wanita pada lelaki berambut merah jambu.
Dia, yang dipanggil Yuuma oleh wanita berambut hitam ini, melihat wanita tersebut dengan mata benci, seolah-olah seluruh kejahatan yang ada di dunia sedang berkumpul di depannya.
Tidak ada keraguan, tatapannya penuh dengan kebencian
Tidak ada keraguan, semuanya hanyalah tersirat dendam.
Tapi, tidak ada keraguan pula… Tatapan tidak tega tercampur di dalam garis mata laki-laki ini.
Benci… Benci… Benci…
Kebencian karena tidak bisa melakukan apapun…
"Dasar wanita sialan, apa lagi yang kau inginkan!"
HOEK!
Lalu, disela teriakan itu, darah keluar dari mulut Yuuma, bersamaan dengan liur yang mengikuti setelahnya.
"Aku adalah pembunuh, tugasku adalah membunuh. Bencilah aku, ingatlah bahwa dendam mu adalah milikku seorang. Tapi ingatlah satu hal…"
Wanita berambut hitam ini membungkuk dan mengangkat lengan Yuuma, kemudian mengangkat Yuuma ke kedua lengannya, membawa Yuuma menuju lubang besar di belakang Administrator Gachapoid.
"Shishishi…~ Hukuman sudah dimulai~ Keinginan sudah terkabul~ Saatnya hukuman, hukuman~" Suara tawa itu kembali terdengar disertai lagu yang tidak jelas.
Suara makhluk hijau itu makin lama kiat menggema, terdengar menakutkan. Akan tetapi, si wanita hanya terus membawa laki-laki berambut merah jambu di atas tangannya, langkah demi langkah, menyeret kakinya yang sudah bergetar tanpa tenaga.
"Yuuma, jika kau ingin mengutuk seseorang, kutuklah aku. Jika kau ingin mengutuk sesuatu, kutuklah permainan laknat ini dengan semua kebencianmu." Ucap si wanita kepada Yuuma di dalam langkahnya.
Yuuma, dengan pandangan buram yang bersimbah darah terus dan terus bertahan dengan kesadarannya, suara yang dia dengar tidak lagi jelas, warna yang tertangkap matanya tidak lagi cerah. Tapi, dia tetap teguh dengan kesadarannya, atas dasar benci… Dan juga penghormatan untuk wanita yang berbicara dengannya itu.
Matanya yang buram itu tidak akan tertutup, dia tidak akan menutup matanya walau hanya untuk sejenak.
"Hiduplah, hidup dan ingatlah apa yang aku katakan." Ucap wanita tersebut.
"Kehidupanmu adalah pengorbanan, lalu hidupmu setelah ini adalah penyesalan, penyesalan yang mendalam. Bawalah perkataanku sebagai kutukan, yang mengikatmu hingga nafas terakhir terhembus dari bibirmu." Lanjut wanita tersebut.
Ketika langkah demi langkah, mendekat bagai gemuruh, gerbang hitam itu sudah ada di hadapan mereka berdua.
Yuuma meronta dan terus meronta, hanya saja tidak ada suara yang keluar dari sana, walau dia merasa meronta-ronta tidak terima, tidak ada gerakan yang berarti keluar dari tubuhnya. Matanya terbuka lebar saat dia meronta, memperlihatkan guratan merah yang mengerikan.
"Apa yang telah kau perjuangkan selama ini adalah mimpi, dan akulah alasan mu kenapa kau bisa bermimpi dalam hal yang tidak memiliki arti." Ucap si wanita ini.
Ketika tangannya sudah siap melepas Yuuma, satu kalimat terakhir terlontar dari bibirnya.
"Ingatlah, semua ini adalah mimpi, semua termasuk hubunganku denganmu. Tapi yakinlah, ucapanku akan membuatmu sadar, betapa buruknya kembali mengangkat senjata untuk membunuh… Walau demi melindungi orang yang kau sayangi kelak…"
Hingga saat terakhir, teriakan tanpa suara Yuuma masih berlanjut… Hingga semuanya gelap gulita, tidak ada lagi yang bisa Yuuma lihat walau pupilnya memenuhi seluruh permukaan rongga matanya.
Itu adalah akhir dari kehidupan pertamanya, apa yang bisa Yuuma ingat adalah wajah wanita itu, wanita yang akan selalu mengikatnya selama dia hidup.
Dengan eksistensinya… Dan juga perkataannya…
XOXOX
Di sebuah senin yang cerah, 8 maret 2016, Aragawa, Tokyo.
Hari ini aku memulai kehidupan sekolahku sekali lagi, tapi sebagai murid kelas 2 SMA. Pengalaman baru dan juga teman baru yang sudah lama kutunggu akhirnya datang juga!
Namaku Hatsune Miku, 17 tahun, perempuan.
Ini adalah kisah ku— Kehidupan sekolah ku yang aku harap akan penuh dengan kenangan berharga lainnya…
Ya, kenangan yang berharga…
"Aku berangkat."
Tidak ada jawaban, sama seperti biasanya.
Jalan yang ku lewati juga sama seperti biasanya, sepi dan tanpa—
"Miku!"
Aku menoleh ke belakang ketika merasa namaku dipanggil, seorang laki-laki ada di sana, berlari menghampiriku dengan senyuman di wajahnya. Rambutnya yang berwarna merah jambu langsung membuatku sadar siapa dia, sifatnya yang kalem dan menyenangkan juga membuatku nyaman ketika bersamanya. Dia sangat bersahabat dengan siapa saja, berbeda denganku yang tidak populer, dia sangat populer di kalangan para siswa dan juga guru.
Aku selalu senang jika bersamanya, dia membuatku tersenyum dengan cara yang aku sendiri tidak ketahui jelasnya… Hal yang bisa aku ingat setelahnya hanyalah… Kenyataan bahwa aku selalu tersenyum tanpa menyembunyikan apapun ketika di sampingnya.
Dia adalah sosok malaikat bagiku, dan namanya adalah Kiriyama Yuuma, seorang laki-laki sempurna yang tidak akan pernah bisa aku gapai keberadaannya. Terlalu sempurna, hingga aku berpikir bahwa alasan dia ada di dekatku hanyalah rasa iba dari sifatnya yang memang tidak bisa meninggalkan orang yang terlihat menyedihkan, sepertiku.
"Pagi, Yuuma."
"Pagi! Kau tahu? Aku sangat menunggu hari ini hingga aku sendiri tidak bisa tidur semalam!"
"Kau pikir kita masih anak SD yang terlalu senang pada malam sebelum karya wisata?"
"Haha, oke, ini tidak lagi lucu."
Aku menahan tawaku ketika dia mengubah ekspresinya dari tertawa ke wajah bosan yang terhiasi rasa kesal.
"Apa kau ada acara siang ini? Hari ini kita selesai lebih cepat bukan? Bagaimana jika kita pergi ke toko kue di distrik pertokoan? Aku sedang ingin makan yang manis-manis~"
Yuuma mengajakku pergi, tapi aku melihat ke arah lain saat dia mencoba menatap ku.
"Maafkan aku."
Satu jawaban dari ku langsung dengan cepat mengubah suasana. Yuuma menghela nafas dan kembali tersenyum padaku.
"Tidak apa-apa, maaf kalau aku terlihat egois."
"Ti—tidak! Tidak kok! Aku senang kau mengajak ku! Tapi, tidak untuk hari ini, aku ada urusan lain. Mungkin lusa atau minggu depan, aku— Aku punya waktu senggang…"
"Oke! Janji!"
Dia langsung menarik tanganku dan menggenggamnya dengan erat sambil mengayunkannya naik dan turun, wajahnya yang seakan tidak pernah menampakkan kesedihan membuatku melupakan apa itu kesedihan walau hanya sejenak. Ketika Yuuma ada di sampingku, itulah saat yang paling indah yang pernah ku alami, setelah sekian lama aku menutup diri dari orang lain.
Dia mendekatiku yang dijauhi siswa lain di kelas karena aura ku yang gelap dan seakan berkata 'jangan dekati aku!' dengan jelas, Yuuma tidak peduli dan tetap mengajakku berbicara. Dia masuk ke sekolah swasta tempatku menempuh pendidikan di tingkat menengah atas saat paruh kedua kelas 1, semester genap baru dimulai.
Dengan kehadirannya saja, suasana kelas sudah berubah, tidak ada lagi yang menjauhiku dan aku bisa bergaul dengan normal berkatnya. Masa-masa indah itu adalah bukti bahwa dia telah menyinari diriku yang tidak tahu apa-apa tentang warna dari dunia.
Mimpi buruk yang pernah ku alami seakan pudar, menghilang. Seperti dreamcatcher yang menemaniku tidurku dalam sunyi yang tidak pernah menggangguku tapi selalu menghilangkan rasa gelisah dalam lelapku. Yuuma tahu kapan harus memulai percakapan dengan orang, apa yang harus diperbincangkan, serta segala yang dia ucapkan tidak pernah menyinggung orang lain.
Ketika dia merasakan suasana canggung walaupun sedikit, dia akan meminta maaf walau itu bukan salahnya. Dia mencairkan segala suasana kaku dan membawanya kembali ke dalam kehangatan. Dia adalah Kiriyama Yuuma, laki-laki paling sempurna yang pernah aku kenali dalam hidupku.
"Miku? Kok bengong?"
Tanpa aku sadari, kami berdua sudah ada di depan kelas.
"Ayo masuk, kenapa kau diam di depan pintu seperti itu?"
Aku mengangguk dengan senyuman dan berjalan menghampirinya.
Tapi, langkah ini kembali terhenti. Sebuah suara yang sangat aku kenal, tapi tidak ingin aku dengarkan tertangkap oleh kedua telingaku. Udara tiba-tiba terasa berat dan jantungku berdegup sangat kencang. Tanpa aku sadari, keringat dingin mulai menetes perlahan dari dahiku.
Langkahku berhenti di sana.
Seakan menyadari keberadaanku juga, orang yang aku kenali suaranya ini menghentikan dialognya dengan orang di sampingnya dan berjalan lurus melewatiku. Saat kami berpapasan, walau tidak saling menatap, aku bisa merasakannya—
— Sosok tersebut menatapku dengan tatapan jijik.
Rasa tegar yang aku bangun untuk menghadapi saat seperti ini seketika runtuh dan hancur berantakan, aku bisa mendengar dan merasakan suaranya bagai jenga yang ambruk di atas meja kaca.
Saat momen dalam waktu yang berjalan lambat itu berhenti, aku langsung bersandar di daun pintu, napasku tersengal tidak karuan, dan tubuhku tidak mau berhenti gemetaran.
Beberapa siswa di kelas memperhatikan ku sejenak, lalu aku hanya tersenyum hambar ketika mereka perhatikan.
"Sepertinya kau tidak enak badan."
Yuuma menghampiriku dengan wajah khawatir, tapi aku tahu, ini hanya kedok. Apa yang dia khawatirkan bukanlah keadaan fisikku, tapi keadaan mentalku. Para siswa lain langsung menghampiriku juga, beberapa menawarkan untuk mengantarkan pergi ke UKS, tapi aku hanya menggeleng lemah dengan senyuman lainnya di wajahku.
"Aku tidak apa-apa, maaf sudah membuat kalian khawatir."
Dengan kaki yang gemetar, aku mencoba duduk di kursi ku, tapi karena getaran ini tidak mau berhenti, kursi tersebut sempat terjatuh ketika aku belum sampai mendudukinya.
Yuuma dengan sigap mengangkat kursi ku kembali ke posisi awalnya, aku hanya bisa tersenyum dan kembali mencoba duduk.
Seluruh anggota tubuhku gemetaran, tidak bisa hilang.
Semuanya terjadi saat aku berpapasan dengannya, walau aku memunggunginya, tetap saja… Kebenciannya bisa kurasakan.
Aku mencoba mengambil sapu tangan di saku ku, tapi karena tanganku tidak mau berhenti gemetar, sapu tangan itu sempat terselip dari jari jemariku ke arah lantai.
Aku mengambilnya dengan cepat, ketika mata para siswa kembali menuju padaku, aku membenamkan wajahku di dalam kedua tanganku yang ada di atas meja. Aku berlagak terlihat tidak enak badan sungguhan, tapi sebenarnya aku hanya ingin mereka berhenti menatapku.
.
.
.
"Bagaimana dengan kegiatanmu setelah ini? Apa ada perubahan?"
Sekarang waktunya pulang, hari ini, sebagian besar waktu kami dihabiskan di dalam aula sekolah mendengarkan pidato dari kepala sekolah, beberapa sambutan lainnya dan sedikit aktraksi penghibur sebelum apel pembukaan semester baru selesai. Sisanya dilakukan oleh guru homeroom di dalam ruang kelas...
"Tidak ada, aku akan tetap pada seperti yang aku katakan." Jawabku atas pertanyaan Yuuma.
Dia langsung berbalik dan melambaikan tangan kepadaku, beberapa temannya yang lain sudah mulai merangkulnya dan mengajaknya pergi.
"Mungkin aku harus ke tempat Kaito dulu, katanya dia akan menunjukan hal bagus." Gumamku.
Ruangan Klub Peneliti Hal Gaib tidaklah jauh, aku cukup berjalan beberapa koridor saja dari kelas. Aku tidak ada hubungan apapun di klub tersebut, tapi salah satu kenalanku, Shion Kaito adalah ketuanya. Katanya ada berita bagus yang akan dia sampaikan siang ini, sepertinya dia menemukan hal menarik lainnya untuk diteliti.
"Permisi…"
Aku membuka pintu ruangan Klub Peneliti Hal Gaib perlahan, suara deret dari geseran pintu terdengar sangat kencang karena lorong tempat ruangan ini berada sangat sepi. Ruangan ini sangat gelap, seperti biasanya… Entah kenapa perasaanku buruk.
"MIKUUUUUUU!"
Teriakannya dengan sukses mengagetkan, Kaito berlari ke arah pintu sambil membawa benda aneh berbentuk limas dengan mata di tengahnya, wajahnya terlihat sangat bersemangat… Dan begitu menggebu.
"A—Apa?! Jangan mengagetkan ku seperti itu!"
"Siaran! Lihat siaran di PC klub! Sekarang!"
Kaito menarik lenganku dengan cepat, aku hanya bisa menurut. Saat aku melihat layar monitor PC, ada sebuah stream langsung yang sedang berjalan, komentar yang sangat banyak berlalu-lalang bagaikan koloni semut yang berjalan dengan barisan panjang.
"Apa sih?" Ucapku penasaran.
"Ini hal bagus yang ingin ku perlihatkan padamu! Kau tahu Ultima Enterprise? Perusahaan besar yang bergerak di bidang penelitian teknologi ilmiah dan konjungsi dimensional?!"
Aku melihat lagi ke arah monitor, memang benar sih wajah orang yang ada di siaran tersebut tidaklah asing, sepertinya dia memang terkenal.
"Sepertinya tidak asing…" Jawab ku.
"Perusahaan ini berhasil menemukan teori dari simpang dimensi atas proyek yang dikerjakan oleh salah satu peneliti mereka, dr. Farlo Bruno! Kau pasti tidak akan percaya! Mereka akan mengungkap hasil penelitian mereka malam ini! Pasti akan ada hal gaib yang terjadi! Okultisme besar!" Kaito berteriak dengan penuh antusias, tapi aku hanya memiringkan kepala.
"Bukannya ini adalah hal yang murni ilmiah? Kenapa kau bisa menganggap akan ada hal gaib yang terjadi?"
"Jawabannya adalah PERASAAN SEORANG OKULTIS!"
Oke, dan aku tambahkan satu lagi pandangan hidup yang aku jalani…
Selain berteman dengan laki-laki paling sempurna yang aku tahu, aku juga berteman dengan laki-laki paling absurd, Shion Kaito.
XOXOX
Yuuma melihat smartphone nya di dalam sebuah toko kue, dia melihat siaran langsung di sebuah situs tentang penemuan alat yang bisa membuktikan teori konsepsi tentang konjungsi dimensional.
"Kau nonton apa?"
"Hanya sebuah tayangan biasa, tidak terlalu penting sih."
"Oh."
Temannya menanyakan apa yang Yuuma tonton, tapi Yuuma hanya memberikan jawaban seakan itu tidak penting untuk dibahas.
Hari beranjak gelap, dan Yuuma telah sampai di stasiun yang biasa dia datangi untuk menaiki kereta pulang. Di saat yang bersamaan saat dia akan mulai memasuki peron setelah menuruni tangga, matanya menangkap sosok yang pada saat pagi tadi sempat membuat suasana mencekam di depan kelasnya.
Mereka berdiri sejajar walau jaraknya agak jauh, karena sekarang adalah jam padat penumpang, Yuuma tidak lagi melihat orang tersebut ketika kereta sudah berhenti tepat di depan mereka.
"Hmmm…"
Dia bergumam.
Sepertinya Yuuma sedang banyak pikiran.
Saat dia memasuki gerbong kereta, suara dari alur piston yang memompa mulai terdengar, membuat kereta bergerak meninggalkan tempatnya. Sesaat kemudian, suara itu menjadi lebih halus dan tidak lagi terdengar ketika kereta sudah ada dalam kecepatan 150-200 km perjam.
Dia kembali melihat smartphone nya, tangannya mengetik dua kata kunci dalam mesin pencari otomatis di internet.
'Konjungsi dimensional'
Klik.
Sekitar 42.800 entri telah berhasil ditemukan oleh mesin pencari yang Yuuma gunakan, saat Yuuma melihat entri pertama, entah kenapa dia langsung mematikan layar smartphone nya dan memasukkan benda portable itu ke dalam sakunya kembali.
Yuuma sempat bereaksi, walau hanya sejenak, ketika melihat nama dr. Farlo Bruno. Doktor yang berkebangsaan Italia ini sedang menjadi sorotan dunia sekarang atas teori yang telah dia kemukakann, dan ketika teori itu berhasil diimplementasikan, dia dengan cepat menjadi orang penting dalam jajaran fisikawan di dunia internasional.
Representatif sebuah ilmu tidaklah selalu ilmiah, hal supranatural pasti akan selalu hadir untuk menjelaskan segala sesuatu yang tidak bisa dikemukakan penjelasannya oleh hukum konvensional. Tapi bagi seorang ilmuwan yang mengesampingkan pandangan teologis, pernyataan seperti itu tidak akan bisa sampai kepada akal sehat mereka.
Wajah Yuuma menampilkan kegelisahan, sebuah hal yang jarang pada wajahnya yang selalu terhiasi senyuman.
"Mungkin tidak ada salahnya untuk memakainya lagi setelah sekian lama."
Ada sebuah hal yang membuat Yuuma tidak bisa tenang, dia memejamkan matanya perlahan, kemudian membukanya lagi.
Pada saat itulah, keterkejutan menghinggapi wajah Yuuma yang dikenal tidak pernah berhenti tersenyum.
"Tidak… Tidak mungkin…"
Keringat dingin menetes dari lehernya… Seakan sadar dari sebuah lamunan, Yuuma langsung berjalan menerobos dalam gerbong yang sesak akan penumpang.
"Tidak hanya Mikuo, Miku juga ada di dalam kereta yang sama?! Aku harus bisa membawa mereka pergi dari kereta ini!"
Dengan geraman, Yuuma menabrak orang-orang yang ada di jalannya dengan kasar. Dentingan jarum detik dalam jam tangan analog seakan mengiringi langkahnya yang berpacu dengan waktu. Suara ramai tertutup oleh suara dentingan jarum detik dengan sempurna.
Thrill, sebuah perasaan tidak enak mulai mengisi hati Yuuma.
Waktu terasa berjalan lambat tetapi tetesan keringat dingin menjadi lebih cepat.
Wajah Yuuma sekarang menyiratkan ketakutan yang luar biasa, sebuah hal yang mustahil ketika melihat bagaimana seorang Yuuma bersikap selama ini.
Dia tidak hanya lagi sekedar takut…
Rasa tertekan dan depresi tidak hanya menghinggapinya…
Semua itu sudah memakan setiap akal sehat Yuuma yang kini masih menerobos keramaian dengan kasarnya…
Tik…
Tik…
Tik…
...
Lalu, akhirnya suara itu berhenti… Waktu benar-benar berhenti…
Orang-orang menghilang, lampu di dalam gerbong mati satu persatu.
Kereta tersebut seakan berhenti bergerak, tidak ada getaran yang menandakan kereta ini bergerak… Tapi, rasa dingin akan udara yang menusuk sudah membuat kulitnya mati rasa.
"Argh…"
Untuk pertama kalinya, Yuuma membuka mulutnya lebar, membiarkan matanya berakomodasi di titik terendah…
Lalu semuanya menjadi gelap gulita.
.
.
.
"Shishishishi…"
Suara tawa terdengar menggema di sebuah ruangan yang luas.
15 orang yang tergeletak di sana bangun satu persatu ketika suara mengerikan itu terus dan terus menggema, membawa perasaan aneh yang jauh lebih dalam daripada sekedar rasa takut akan teror.
"Apa kalian sudah sadar? Bukannya ini waktu yang tepat? Shishishi…"
Miku mengangkat kepalanya pertama kali, dia menggeleng pelan dan melihat sekitarnya.
Gelap…
Dia butuh beberapa waktu untuk membiasakan matanya di dalam ruangan ini.
Suara-suara lain terdengar silih berganti, mereka yang terjebak ada di dalam tempat yang sama dengan Miku mulai sadar satu persatu.
Saat itulah, sebuah cahaya tiba-tiba menyinari ruangan tersebut.
"Miku?! Kau tidak apa-apa?!"
Yuuma menghampiri Miku dengan smartphone yang ia gunakan sebagai senter. Mengetahui bahwa cahaya tersebut berasal dari smartphone, ke 15 orang yang lain termasuk Miku ikut mengeluarkan smartphone mereka untuk menerangi tempat tersebut.
Lalu, disebuah sudut, terlihat sosok anak kecil dengan atribut serba hijau yang menyala di dalam kegelapan.
"Selamat datang! Selamat dat—"
Tapi perkataan itu hanya sampai di tengah jalannya.
DORR!
DORR! DORR! DORR!
Sebelum sosok itu selesai bicara, tiba-tiba saja ada 4 buah peluru yang ditembakkan ke arah anak kecil tersebut.
Orang-orang dengan kaget dan sedikit panik mencoba mencari siapa yang telah menarik pelatuk yang membuat 4 peluru itu bersarang di tubuh seorang anak kecil.
Saat itulah, semua cahaya menyinari Yuuma.
Tangannya memegang sebuah senjata api, pistol ukuran kecil.
Wajahnya yang terlihat sangat takut, tapi dipenuhi amarah menjadi sebuah pemandangan yang sangat tidak mungkin bisa dilihat oleh Miku sebelumnya.
"Yuu—Yuuma?"
Miku mencoba menghampiri Yuuma perlahan, tapi sebuah suara menghentikan mereka.
"Bukankah itu tidak sopan jika tahu-tahu kau menembak orang lain tanpa peringatan sama sekali? Shishishi~ Setelah ini, segala bentuk kekerasan kepada administrator akan dianggap sebagai pelanggaran keras dan akan diberikan hukuman, shishishi~"
Saat itulah, sosok anak kecil itu kembali berdiri, dengan lubang luka yang tertutup dan peluru yang mencuat keluar dari dalam luka tersebut.
Semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, tapi di antara mereka, Yuuma adalah orang yang memberikan ekspresi yang paling sulit dijelaskan.
"KAAAAAAAAAAAAAUUUUUUUU!"
DORR! DORR! DORR! DORR!
Suara tembakan demi tembakan terdengar lagi setelahnya, cahaya sepintas yang datang bergantian mulai mengisi kegelapan di dalam ruangan. Bau mesiu yang terbakar mulai bisa tercium dengan jelas.
"AAAAAAAAAAAAAAARGH!"
Dengan teriakan yang terdengar penuh kebencian, tembakan itu tidak juga berhenti.
Tapi sosok anak kecil itu kembali berdiri ketika Yuuma sudah kehabisan peluru di daalm senjatanya.
"Sepertinya kau terlalu bersemangat, jadi akan ku buat peristiwa kali ini sebagai pengecualian… Kode Nama VY2, Kiriyama Yuuma, shishishi…"
Saat nama Yuuma dipanggil, Miku menjadi orang yang pertama kali terkejut.
"Sekarang, apa kita bisa mulai permainannya? Shishishi…"
Yuuma menjatuhkan senjatanya, dan suara dentingan antara senjata dengan lantai seakan menjadi gong dimulainya permainan.
XOXOX
"Apa kau percaya bahwa penciptaan alam semesta mendapatkan campur tangan hal supranatural di dalamnya?
"Mungkin iya, mungkin juga tidak."
XOXOX
Simpang Pertama, selesai~
Oh iya, mulai dari sekarang, saya akan rutin aktif kembali sebagai author, jadi akun ini akan lebih sering dibuka. Silahkan kalau ada yang mau sapa atau kenalan lagi #PLAK #KayaAdaYangMauAja
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
