Another baka story, from Ashoudan Zimer—who changed his pen name id as for temporary time.
TITLE: NATSU REPLACE LUFFY'S BIG BROTHER POSITION
Fanfic type: Crossover/NOT AU. My first Crossover fanfiction…
Fandom: Fairy Tail and One Piece.
Chapter amount: Three or may be less than five.
Genre: Humor/parody
Spesific Pairing: Not a romance fanfic. So, wash out from your day-dreaming about pairing(s) in this fanfic. Wait, kalo gitu kagak seru dong yah… ah, sudahlah, liat aja dulu storynya. Sapa tau ada… ;p
Story's set: Cerita Fairy Tail saia ambil setting setelah episode anime 19, sedangkan One Piece saia ambil setting setelah perang melawan pemerintahan dunia di Navy HQ, dan setelah Ace meninggal.
Author's Note: Saia penggemar baru Fairy Tail, dan baru nonton animenya sampe episode 19, dan baca komiknya baru sampe chapter 69. Jadi saia masih agak pemula dalam bidang Fairy Tail, mohon bimbingannya. *bend down kepala ngejedug lantai*
__THE FIRST DAY CHAPTER__
Their Early Meeting
—PROLOGUE—
SUATU HARI DI GUILD FAIRY TAIL…
"AAAAPPPAAAAAAAAAAAAAA~???!!!" pekik seorang cewek dari dalam gedung Guild Fairy Tail, hingga membuat penduduk sekitar yang lewat gonjang-ganjing cari perlindungan.
"Aduuuuhh… berisik Lucy!" keluh Natsu sambil menutup telinganya, begitu juga dengan Happy.
"Natsssuuu!!" pekik cewek itu lagi melambai-lambai lebay sambil menangis dramatis berlarian selaw mosien ke arah Natsu. "Ada misi aneeeehhh bangeeettt~!" teriaknya pada Natsu. Natsu dan happy yang es-we-te, memutuskan untuk gak menggubrisnya karena takut disangka mereka yang ngajarin Lucy alay kayak gitu (padahal emang iya).
"Ada apa sih, Lucy?" tanya Kana sambil meneguk gentong sakenya lagi.
"Liat ini," sahutnya sambil menyodorkan—atau lebih tepatnya menemplokkan kertas itu ke jidad Kana—sebuah kertas yang ia sobek dari papan misi. Kana terheran-heran melihat kertas itu. Ia henyak membaca tulisan yang ada di kertas misi tersebut.
"Ini…" desisnya sebentar, "…AAAAAAAAPPPAAAAAAAAAAAA???!!!" pekiknya ala Lucy tadi. Sementara itu, orang-orang yang berada di luar Guild mulai gonjang-ganjing lagi.
"Huwaa… kertas itu menyebabkan orang jadi lebay! Buang kertasnya!!" seru Elfman merebut kertas tersebut. Ketika hendak membuangnya, ia juga rupanya ikut terhenyak membaca tulisan itu, "…AAAAAAAAPPPAAAAAAAAAAAA???!!!" teriaknya ikutan lebay, dan malah ditambah marah-marah stylish gorila kebun binatang ngamuk, mengacak-ngacak barang yang ada. Sangking shock-nya ia bahkan hampir memakan Happy. Orang-orang yang berada di luar Guild mulai ketakutan dan resah, hingga sempat memutuskan untuk pindah menjauh dari gedung tersebut.
"Ih! Ada apa sih kalian?! Lebay tauk!" protes Gray kemudian merebut kertas itu dari tangan Elfman yang sudah disuntik obat penenang. Para penghuni Guild was-was menunggu reaksi Gray yang takut-takutnya sama seperti ketiga orang korban sebelumnya.
Gray cengo, penghuni Guild siap-siap menghadapi ke-lebay-an selanjutnya dari orang keempat. Ada yang siap-siap berlindung di bawah panci (Mirajane), ada yang siap-siap nimpukin Gray pake kursi (Natsu), ada yang tenang-tenang aja (Erza dan Luxus), dan ada yang malah sibuk ngitungin jumlah ikan (Happy).
Gray membuka mulutnya, penghuni guild siaga empat. Dan… kreekk!! Gray membekukan diri di tempat.
"HEEE??!" cengo penghuni Guild melihat reaksi Gray yang sangat di luar dugaan—yakni membeku di tempat dengan tampang blo'on.
Natsu masang muka males. "Dasar bego…" komennya dengan baik dan benar. "Coba liat kertasnya!" tawar Natsu dan merebut kertas itu dari Gray yang masih membekukan diri di tempat dan tidak bergerak sama sekali. Loki mengusulkan agar Gray dimuseumkan supaya Fairy Tail dapat uang tambahan. Mendengar itu, Gray cair lagi dan langsung ngambil golok ngejar Loki.
Natsu membaca pengumuman itu. "EH?!" reaksinya. Manusia yang terkenal paling stress di Fairy Tail ini ternyata malah bereaksi cukup normal. Penghuni Guild terpesona dan hendak memuji, tak lama, Natsu berteriak histeris dan menyemburkan api dari mulutnya hampir membakar seluruh guild, "SATU KOMA DUA MILYAR JEWELRY???!!!!"
"Udah cukup! Banyak orang stress disini! Gue pindah!!" ambek Mira-chan ngepak barang takut ketularan stress. Master Makarov kalang kabut bujuk Mira-chan.
Natsu pun dengan semangat '45 langsung nyeret Lucy dan Happy dengan sadisme keluar sambil berteriak geje, "GUE AMBIL MISI INIIII~!!" kemudian berlari keluar guild dan menghilang entah kemana. Ia juga tak mempedulikan Lucy yang sudah pingsan karena tak kuat menghadapi kenyataan.
Erza melirik tingkah Natsu dari balik pilar kayu Guild. Tak lama, ia angkat bicara, "…kenapa misi sepenting itu dipasang di papan pengumuman lantai satu?" tanyanya setengah bergumam.
Master Makarov yang mendengarnya, mengangkat alis, "Ini permintaan kliennya sendiri. Erza, aku khawatir dengan ketiga anak itu, tolong kau awasi mereka," senyum terukir usai ia menyelesaikan kalimatnya.
Erza membalas senyuman itu. "Well, if it's your desire…" ia pun melenggang pergi meninggalkan Guild.
STASIUN KERETA API…
"Masa' naek kereta api…? Kita jalan aja yuk, Lucy…" rengek Natsu pada Lucy.
"HEH!! Gak mungkin lah kita jalan kaki! Alamat kliennya kan jauh!" jelas Lucy sambil marah-marah.
"Kejaaam!!" protes Natsu.
"Ayee!!" protes Happy mendukung Natsu. Mereka berdua pun tos dengan tampang lesu.
"Natsu," panggil seseorang dari belakang, dimana suara seseorang itu sangat Natsu kenal. Natsu menengok sambil menangis berharap bukan sosok itu yang memanggilnya. "…kau lupa barang-barangmu," lanjut orang itu. Ketika sudah melihat dengan mata kepala sendiri dan penglihatan tak sesuai dengan yang diharapkan, ia pun pingsan dengan mulut berbusa.
"Lho? Natsu ngeliat gue kok langsung pingsan?" tanya Erza dengan innocent sambil menggerek sebuah gerobak lebar yang berisi koper-koper miliknya, termasuk beberapa diantaranya tas ransel milik Natsu yang ketinggalan di Guild karena Natsu sudah terlalu semangat ingin cepat-cepat menyelesaikan misi tersebut. Lucy pun cengengesan sambil sweatdrop menanggapi pertanyaan Erza.
"Eh? Gray juga ikut?" tengok Lucy pada seseorang di belakang Erza yang menggeliat hebat di atas tumpukan koper karena tubuhnya terlilit kuat dengan tali rapia dan mulutnya disumpel apel merah besar. "Kenapa lo ngiket diri sendiri segala?" tanyanya lagi.
"NYEEE!! NYAPA NYANG NGIBHET KHIRI SENKHIRI?!! NYENYEK SHIFIR HI HAMPING HLO HITU HYANG BHILLLAAAA!!!" oke, karena bahasa yang digunakan Gray adalah bahasa 'lagi-disumpel-lo-nanya-nanya-lagi', jadi saya translate. Kurang lebih, Gray berkata: "Yeee! Sapa yang ngiket diri sendiri?!! Nenek sihir di samping elo itu yang gilllaaaa!!!"
"Ngomong apa sih? Kalo ngomong yang jelas dong!!" protes Erza.
'Mulutnya disumpel sama elo mbak… mana bisa ngomong jelas??' batin Lucy sweatdrop gede. Kegiatan menggeliat Gray pun makin melemah tanda mulai menyerah dan pasrah.
"O ya, gue udah liat tadi misinya dari daftar buku pencatat misi punya Mira," ujar Erza tiba-tiba beberapa menit kemudian. "Gue, udah pesen balon terbang magic dari toko sebelah rumah lo," lanjutnya.
"Hee?! Balon terbang magic??!" sontak Lucy yang agaknya kagum mendengar kata-kata Erza.
Erza mengangguk, "Balon terbang ini menyerap tenaga magis yang mengendarainya. Kita ini berlima, gue rasa tenaganya cukup untuk sampai ke Logue Town," lanjutnya lagi dengan cool.
"Okelah kalo begitu," joged Lucy karena semangat menanggapi tawaran Erza, "Let's go, kalo gitu!!"
Mereka bertiga (Natsu masih pingsan, Gray ketiduran) pun pergi ke toko yang dijelaskan Erza tadi. Kemudian berangkat detik itu juga dengan balon terbang itu.
SESAMPAINYA DI LOGUE TOWN, RUMAH KLIEN…
Gadis berambut hitam kebiruan itu melepas kacamatanya kemudian mulai menangis. Lucy yang iba hati mendengar kisahnya, menyodorkan selembar tisu padanya. Gadis itu pun menumpahkan semua air mata (tak terkecuali kotoran hidung) pada sang tisu tak berdosa. Setelah puas, ia pun menyerahkan tisu itu balik pada Lucy dan melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi.
"Jadi, begitulah… aku mohon, kau cari orang itu… aku akan membayarmu seharga dengan kepalanya, yakni 120 juta berry yang nanti akan aku konversikan ke mata uang jewel sebesar 1,2 milyar…"
"Hiks… okeh! Serahkan saja pada kami!!" seru Lucy sambil menangis karena terharu mendengar ceritanya.
"Tunggu, tapi… di kertas misi ini tulisannya kami harus membunuh orang bernama Rorona Zoro ini…?" tanya Natsu sambil memperhatikan kertas misi yang tadi sempat menggemparkan orang-orang di Guild.
"Iya, itu sebenarnya hanya kedok, agar Marine atau para rekan kerjaku tidak mencurigaiku…" jelasnya sambil memasang kacamatanya lagi dengan lesu. "Zoro adalah seorang buronan yang sangat dicari oleh Marine. Maka dari itu, aku minta kalo bisa, kalian tangkap orang itu hidup-hidup dan jangan sampai ketahuan Marine…"
"Hem, begitu?" desis Erza, "baik, kami mengerti. Akan kami usahakan untuk membawa orang itu kembali hidup-hidup."
"Oh ya, apa… kamu punya informasi dimana orang ini berada?" tanya Gray sambil sendakep dan tidak mengenakan baju kecuali celana boxer hitamnya.
'Pake baju lo, setidaknya di depan klien…!' batin Lucy nahan stress.
"Oh ya, benar! Aku hampir lupa! Aku punya informasi dimana kemungkinan Pirate Hunter ini berada!" ujar cewek itu. Ia pun berjalan menghampiri sebuah meja kerja tak jauh darinya. Ia buka laci ketiga dari atas, dan menunjukkan sebuah peta kepada mereka. "Kemungkinan besar orang ini ada di Pulau Shabondy," tunjuknya pada sebuah pulau yang berada di sekitar sebuah garis panjang yang membelah dunia.
"Howaaa… jauhnya…" keluh Natsu yang belum apa-apa sudah membayangkan perjalanan gak enak nan eneg dari Logue Town menuju pulau tersebut.
"Tenang aja Natsu," elus Erza pada kepala Natsu, "nanti lo gue kasih treatment sepanjang perjalanan…" seringainya.
Natsu shock berat, karena di kepalanya udah terbayang sosok Erza yang memukul lehernya lagi supaya dia pingsan dan tak sadarkan diri selama perjalanan. Ampuh memang, tapi menderita menahan sakit akibat pukulan Erza itulah yang tak sanggup Natsu bayangkan.
"Yah, jauh emang… tapi tolonglah…" mohon gadis itu dengan puppy eyes mode. Erza dan kawan-kawan menyanggupi karena iba.
DI PULAU SHABONDY…
"Waah!! Gak gue sangka! Ada pulau seunik ini!!" kagum Lucy memperhatikan gelembung-gelembung yang keluar dari dalam tanah.
Natsu yang habis muntah setelah turun dari balon terbang (karena menolak treatment ala Erza) juga menyutujui komen Lucy.
"Hey, Natsuuu! Liat aku! Keren kan??" teriak Happy dari dalam gelembung yang sekarang melayang terus menuju ke atas.
"Keren sih, keren… tapi ngebayangin gue ada di situ…" Natsu menutup mulutnya menahan sesuatu keluar dari mulutnya, "rasanya ingin muntah…" lanjutnya dengan wajah pucat.
"Lo ini bener-bener payah soal kendaraan ya…" sweatdrop Lucy sambil nyengir.
Erza melihat sekeliling, "Eh, kita mendarat di Groove 36. Bener banget seperti yang dibilang klien kita, Pulau Sabunmandi ini terdiri dari banyak pohon bakau yang dinomorin."
"Pulau Shabondy, Erza… Bukan Pulau Sabunmandi," swt Lucy.
"HOWWAAAA!! Ada toko baju zirah!!" pekik Erza, "Pulau Sabunmandi ini memang hebat!"
"Happy~ dia ga ngedengerin gue~!!" curhat Lucy menangis di pelukan Happy yang baru turun dari gelembung. Happy hanya men-cup-cup Lucy dengan wajah datar.
"Okeh, minna! Hari ini kita jalan-jalan aja dulu! Gue akan cari tempat penginapan buat kita! Kalian jalan-jalan aja dulu, dadah!!" teriak Erza sambil berlari ke arah toko baju zirah, "Jangan lupa kita ketemu lagi di Groove 36!!!!"
"Cari tempat penginapan? Bo'ong banget tuh anak…" swt Gray sambil sendakep, mandangin Erza yang pergi menjauh.
"Anyway, kita jalan-jalan dulu aja, yuk, Happy!" seru Natsu yang sembuh dengan cepat.
"Ayeee!!" nurut Happy dan langsung terbang mengikuti Natsu. Mereka pun menghilang dari sudut pandang Gray dan Lucy.
Gray menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, "Well, kayaknya gue juga mau jalan-jalan dulu… dah, Lucy…" ujarnya sambil melambaikan tangannya ke arah Lucy dan berlalu pergi.
"Kalian jahaaaatt~! Meninggalkan daku sendiri…!" keluh Lucy dengan tampang dramatis terduduk di tanah. Tapi kemudian ia melihat sebuah taman ria, ia pun memutuskan untuk pergi ke sana.
—REAL STORY BEGINS—
"Chopper!! Ada Toko Yakiniku Bakar noh!" sontak Luffy mengagetkan Chopper yang sedang makan permen gulali sampe tersedak.
"Ohok! Ohok!! Sewot deh lo! Ohok…!" protesnya pada Luffy. Yang diprotes hanya nyengir kuda.
"Sorry, kita kesana yuk?" ajaknya, Chopper pun tersenyum menyetujuinya.
Luffy dan Chopper menghampiri Toko Yakiniku Bakar yang rupa-rupanya sedang banyak pelanggan itu. Orang-orang memadati toko tersebut dan tampak beberapa diantaranya berebut posisi antrian karena ingin mendapatkan pelayanan secepat mungkin. Luffy membuka topi jeraminya kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Chopper mandangin toko tersebut dengan tampang males.
"Lo yakin mau ngantri?" tanya Chopper nunjuk toko yang padat penduduk itu. Luffy pun mengangguk sambil nyengir lebar.
"So pasti! Apapun demi daging!!!" semangatnya. Tanpa diaba-aba, ia pun langsung berlari menyeruak diantara kerumunan padat penduduk, hingga beberapa orang berterbangan ke luar dari kerumunan. Luffy sempet diamuk para warga yang sedang ngantri dan hampir digorok masal, namun setelah mengetahui bahwa orang yang menyeruak di antara mereka itu adalah orang terkenal (hidung Luffy ngapung sangking bangganya), mereka membiarkannya begitu saja.
"Pak, Yakiniku bakarnya lima bakul ya pak!" pesen Luffy asal.
"Hueh? Sebanyak itu??" bingung sang penjual. Chopper menghampiri sang penjual.
"Jangan kaget, om, pasrah aja jualannya diborong Luffy," ujar Chopper menepuk-nepuk bahu sang penjual.
"HIIYY~!! ADA MUSANG BISA NGOMONG!!!" sewot sang penjual.
Chopper langsung berubah jadi wujud besar, dan menyambet kerah baju sang penjual, "GUE RUSAAA!!! Ngajak berantem lo?!"
"Aha! Lucu! Ada Rusa bisa ngomong, kayak lo, py!!"
Luffy menengokkan kepalanya ke belakang. Ada suara yang membuatnya penasaran, baginya suara itu nyaring dan berkesan. Tapi, dilihatnya tak ada siapapun yang nampak membuka mulut di antara kerumunan orang-orang yang ngantri itu. Aneh, pikirnya. Ia sangat yakin ada seseorang yang mengomentari Chopper tadi.
"Mang, mana pesenan saya??" rengek Luffy megangin perut, "Laper nih! Chopper! Lepasin tuh si mang! Entar dia gak masak-masak lagi!"
"Eh? Iya, sorry… Maaf ya, mang… mang bikin nafsu sih," komen Chopper sambil meminta maaf.
"Ah, iya, sama-sama," sahut si mang sambil tersenyum dan langsung membakar daging-daging yakiniku di atas pembakar. Dengan lihai si mang, membulak-balikan yakiniku-yakiniku itu dan mengolesinya dengan kecap. Bibir Luffy udah banjir air liur, kasian Chopper yang ada di bawah Luffy, dia ikut terbanjiri.
Werr… bwuuush…
"Eh?" Luffy menengokkan kepalanya kiri dan kanan. Entah bagaimana, ia merasakan kehadiran almarhum kakaknya, Ace. Sejenak, ia merasakan kehangatan api sang kakak dan bau tubuh kakaknya yang khas. Ya, bau api yang khas. Ia sangat mengenal bau, bahkan hawa keberadaan kakaknya. Kakaknya yang sangat ia cinta.
"Luffy, doushita no?" tanya Chopper yang khawatir sama Luffy, karena takut-takut autisnya kumat.
"Aneh," sahutnya lirih. Chopper makin was-was.
"Ada apa sih?"
"Ga tau, gue ngerasain hawa nii-chan di sekitar sini…"
"Nii-chan? Maksud lo Portgaz D. Ace?"
"Ya," sahut Luffy dengan tidak memandang lawan bicaranya dan hanya terus mencari, sesuatu yang sudah tidak ada di dunia ini.
"Tapi kan kakak lo udah meninggal, Luf," ujar Chopper mengingatkan. Rasa was-wasnya makin menjadi, dan naik jadi rasa was-was stadium empat.
"Enggak! Gue yakin banget nii-chan masih hidup!" Luffy mengernyit yakin. Chopper mendesah, ia menyesal kenapa dia gak mempelajari ilmu kejiwaan untuk menghadapi masalah kayak gini.
"Oke, oke, jangan marah dong…" nyerah Chopper. Untuk sekedar menyenangkan hati Luffy, ia pun ikut mencari.
Chopper mundur beberapa langkah ke belakang, dan tanpa sengaja ia menginjak sesuatu.
"AAAAYYYYEEEEEE~!!!!!!!!!!!!!" pekik pemilik sesuatu itu.
Chopper yang gempar, takut, dan pengen pipis, tanpa dikomando langsung ngacir ke kepala Luffy.
"Sialan, lo! Kalo jalan liat-liat… buntut gue maen injek!" keluh seekor kucing berbulu biru yang menenteng tas samping, dan sambil mengibas-ngibaskan ekornya yang mengalami pembangkakan.
"ADA KUCING BISA NGOMONG!!!" kagum Chopper dan Luffy bersamaan.
"Emang kenapa kalo ada kucing bisa ngomong…" sahut kucing biru itu ogah-ogahan, ia pun menengokkan kepalanya ke atas dan memandang Chopper, "HUEH??! ADA RUSA YANG TADI!!"
"…uwaaahh… unik…" Luffy yang terpesona, matanya berubah jadi bintang. "Chopper! Keluarin jaring!" perintahnya. Chopper pun dengan tanggap mengeluarkan jaring dari tas birunya. Luffy dan Chopper dengan tampang horor melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit ke arah kucing biru aneh itu.
"Ka… kalian mau apa…?" tanyanya gugup dan berkeringat dingin.
"Sini… pus… ayo sini…" Luffy dan Chopper makin mendekat, dan… HUPPP!! Mereka menjatuhkan jaring itu ke kepala kucing itu. Sayangnya, kucing itu sangat gesit dan lihai. Ia pun kabur dan mengepakkan sayapnya.
"HOWWAAA~ SUUGGEEEEE!!!"
Luffy dan Chopper pun semakin semangat melihat kehebatan kucing itu. Akhirnya, bagai Ade Rai minum obat kuat, mereka ngejar kucing biru itu secepat kilat. Walopun ternyata rasa takut kucing biru itu juga merupakan bahan bakar agar ia dapat terbang secepat kilat.
Maka terjadilah kejar-kejaran gak penting mengelilingi Pulau Sabunmandi—eh—Pulau Shabondy antara trio makhluk dungu ini.
SEMENTARA ITU… NATSU…
Natsu dengan riang melahap batu bara yang baru saja ia beli di Toko Yakiniku Bakar (orang lain beli yakinikunya, nih anak malah beli batu baranya…) bersama Happy tadi.
"Haaa~ batu bara ini sedap juga… gak percuma kita ngantri lama sampe diserobot sama rusa aneh yang bisa ngomong tadi, ya Happy?" tengoknya pada sesuatu yang sudah tak ada di sampingnya.
DOOONG~
"GYAAAA!! HAPPY DICULIK ORANG!!!" paniknya dan spontan langsung membuang batu bara itu kemana saja dan akhirnya membakar rumah, membakar jemuran, dan bahkan membakar rambut seorang cewek hingga botak. Tapi dasar Natsu, dia gak peduli orang mau kebakar kek, mau botak kek, ia pun lantas langsung berlari ke arah acak dan entah mau kemana ia mencari. Ia hanya terus berlari dan sampailah ia di sebuah kafe samping taman ria Shabondy.
"HAAAPPPPYY!!!" panggilnya berulang kali dengan panik. Ia takut Happy dibuang orang karena disangka sampah berwarna biru, ato mungkin aja di masak rame-rame di kuali besar. Ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri ketika membayangkan hal mengerikan (yang tentu saja rasanya impossible untuk terjadi).
"Hey~! Natsu~!!" lambai-lambai seorang gadis berambut pirang manis, memanggil namanya. Sebetulnya enggan karena nampaknya Natsu sedang stress, tapi apa boleh buat, Lucy tak pernah melupakan kebaikan si kepala obor ini.
Natsu berlari dalam sekejap kehadapan Lucy dengan tampang mengkerut dan banjir air mata serta ingus. "LUCCCCCYYYY~!!!" pekiknya depresi. Lucy benar-benar menyesal sekarang karena telah memanggilnya tadi.
"Natsu, kenalin, ini temen gue… dia bajak laut…" Lucy memperkenalkan seorang gadis yang duduk di sampingnya, gadis itu tersenyum manis dibalik cahaya matahari yang menerpa rambut oranye-nya. "Namanya—"
"HAAAAPPPY ILAAAAAAANG!!!!" sela Natsu tanpa mempedulikan perkenalan yang disuguhkan Lucy. Guratan nadi sebesar jempol kaki gajah pun muncul di dahi Lucy.
"DENGERIN OMONGAN ORANG, BAKAA!!" ambeknya menjitak Natsu. Natsu pun klenger dan bersumpah dalam dirinya gak akan menyela omongan seekor beruang buas lagi.
Gadis di samping Lucy itu tertawa, "Ya… ya… tenanglah… gak usah sewot gitu…" katanya membawa suasana santai, karena sebenarnya ia lebih tertarik dengan pemuda berambut pink ini. Entah bagaimana, kepribadian (dan kebodohan) yang ditunjukkannya sangat mirip dengan seseorang. "Betewe, lo nyari apa? Kok kusut gitu?" ramahnya pada Natsu.
Natsu masih meringis meratapi kepalanya yang imam benjol itu. "Gue nyari temen gue, kira-kira lo liat gak?"
"Ciri-cirinya?" tanyanya yang bersamaan dengan ngebatin, 'Mana gue tau kalo lo belom nyebutin ciri-cirinya…'
"Dia seekor kucing berbulu biru yang bisa ngomong… dia juga punya sayap yang tersembunyi di belakangnya…" jelas Natsu masih giat mengipasi kepalanya.
"Kucing biru… punya sayap…?" sebuah memori singkat tersusun kembali di kepalanya, "Ah! Gue liat!! Tadi kayaknya lagi kejar-kejaran sama temen gue di tengah kota!!" sontaknya kemudian berdiri dan tanpa sadar setengah menggeplak meja kafe.
"Temen lo? Maksud lo sesama bajak laut?" tanya Lucy menaikkan alis kirinya. Gadis bermata coklat kemerahan itu pun mengangguk serius.
"Wah, temen lo ngajak perang, ya?! Berani ngeganggu nakama gue, gue jabanin deh!!" ancam Natsu dengan posisi menantangnya. Lucy nyiapin kepalan lagi kalo-kalo Natsu berbuat yang aneh-aneh sama temen barunya itu.
Gadis itu kembali duduk dengan santai, Lucy melongo heran melihat respon seorang gadis yang tak begitu ambil pusing sama kata-kata Natsu. Ia malah tersenyum manis. "Gue gak peduli, okey? Kalo lo mau nyari dia buat diajak duel… Coba lo cari ke tengah kota. Orang itu rambut item, pake topi jerami dengan pita merah melingkar di topi jerami itu, dan ada jahitan di bawah matanya. Tingginya kira-kira gak jauh dari tinggi lo. Tingkah dan kelakuan(bego)nya gak jauh beda sama lo."
Lucy berdecak kagum melihat ekspresi tanggapan dari gadis manis itu. Entah kenapa, ia merasa sosok gadis itu cenderung kuat dan hebat. Ia mirip dengan sosok… Erza mungkin?
Natsu langsung membakar dirinya sendiri tanda dalam keadaan marah besar. "GUUUUWWWOOOO~!! AWAS LO MANUSIA BERTOPI NELAYAAAANN!!!"
Gadis berambut oranye itu es-we-te. "Rasanya gue ga bilang topi nelayan…"
Natsu pun berlari sekencang-kencangnya niru atlit yang obsesi jadi pemenang di lomba atletik antar RT.
Lucy memperhatikan kawan barunya yang sedang menikmati jus jeruk dengan pandangan khawatir. "Lo gak khawatir sama kawan lo itu? Natsu bukan tipe orang yang gampang nyerah lho…"
Yang dipandang malah tersenyum—yang mana dalam sudut pandang Lucy itu adalah seringai. "Luffy juga bukan tipe orang yang gampang nyerah kok," ia pun mengedipkan mata kanannya dan menjulurkan lidah dengan ekspresi nakal.
Lucy hanya menggeleng pelan tanda nyerah.
SEMENTARA ITU, DI TEMPAT LAIN…
"Eloknyeee~!!" rayu Sanji ala Upil dan Ipil yang ditayangkan salah satu tipi swasta di suatu negara. Sanji memperhatikan gadis yang baru saja memborong barang dari tokoh baju zirah itu dengan tampang mesum. Ia pun menghampirinya, kemudian bertekuk sebelah kaki di hadapannya sambil menyerahkan sebuah bunga yang ia ambil dari atas pohon. "Oh, Miss beautiful, would you like to tell me your name?" rajuknya.
Gadis itu awalnya agak kaget (sapa yang gak kaget ada orang yang sehabis menari lebay, tiba-tiba bertekuk lutut dan nanya nama), ia memperhatikan orang tersebut dengan seksama. Barulah selang beberapa menit, ia tersenyum. "Halo, senang bertemu denganmu. Namaku Erza Scarlett," sahutnya dengan suara manis sambil menyodorkan tangannya. Sanji mencium tangan itu dengan lembut bagai pangeran mencium tangan putri di negeri dongeng.
"Ah… Erza… betapa indah nama tuan putri~" rayunya sekali lagi. Gadis bernama Erza itu tersenyum lagi.
"Bolehkah, hamba yang kurang sopan ini sekiranya mengajak anda untuk berkunjung ke kapalku?" rajuk Sanji lagi dengan pembendaharaan kata yang dibuat-buat, dan wajah yang dikeren-kerenin. Ayo minna, yang ingin muntah, siapin keresek.
"Oh, kapal?" tanya Erza sambil berpikir dan cukup lama terdiam.
"Ya, nona, saia seorang koki handal di sebuah kapal bajak laut," sahutnya sopan.
"Wah, pasti menyenangkan. Apa temanmu tak keberatan kalau aku datang ke sana?"
"Mereka?" tanya Sanji sambil sekilas membayangkan Luffy, Zoro, Ussop, Chopper, Franky, dan Brook dengan wajah dungu, "Oh, tidak mungkin… mereka orang-orang yang baik…" sahutnya meyakinkan kemudian mempersilahkan sebuah jalan pada gadis berbaju zirah itu. Erza mengangguk dan berjalan bersama-sama Sanji menuju kapal.
DI TEMPAT LAIN LAGI…
Seperti biasa, Gray berjalan-jalan mengelilingi kota dan lupa memakai baju. Yang tinggal hanya celana boxer dan tasnya saja.
"GYAAA!! DASAR MAKHLUK HENTAI!! PAKAI BAJUMU!!" pekik seorang gadis.
Gray yang punya penyakit ge-er—yang mana sudah divonis tak bisa diobati lagi—kalang kabut mendengar pekikan beberapa wanita itu. Ia pun spontan berteriak minta maaf, "AH!! Maaf nona! Saia lupa pakai baju!!"
Nona penduduk sekitar yang ada di sampingnya itu melohok. "Tuan, yang kami maksud bukan tuan! Tapi," ia menunjuk kepada seorang pria bertubuh besar yang sedang berjalan santai di tengah jalan kota, "…orang itu!"
Gray mendelik, menyembunyikan rasa malunya. Ia dengan telaten memperhatikan makhluk yang ditunjuk gadis itu. Tampak beberapa gadis di sekitarnya menunduk malu, ato bahkan ada yang melemparinya dengan sembarang barang. Bila diperhatikan, memang penampilan pria (menurutnya) bertubuh invalid ini, sangat mencolok. Pria berambut biru setengah punk mirip gaya Ace Ventura itu hanya memakai celana dalam berwarna biru dan baju kemeja hawaii yang tak dikancingkan saja. Gray mengangguk pelan dan merasa tak heran bila orang-orang di sekitarnya menyebut pria invalid itu hentai.
"Ternyata… ada yang lebih hentai daripada gu—"
"FRANKY!! Lo pasti gak percaya sama apa yang baru gue beli!!" seorang pria bertubuh kecil dengan hidungnya yang panjang, tiba-tiba saja memotong jalur jalan Gray dan membuatnya kehilangan keseimbangan,
"AHHH!!"
"Eh, maaf… maaf…" respon pemuda itu sambil spontan menolong Gray. Gray menyambut pertolongannya dengan hangat.
"Gak papa… Sorry, ngerepotin," sahut Gray cool. Sekilas ia memperhatikan orang tersebut, kemudian bertanya dengan hati-hati. "Lo… kenal sama orang inval—maksud gue… orang berambut biru nyentrik di sebelah sana?"
Orang berambut ikal itu menengok ke arah yang ditunjuk Gray, "Ah, ya! Dia temen gue! Kita sama-sama bajak laut! Kenapa emangnya?" bersamaan dengan itu, orang tersebut membatin dengan waspada, 'jangan-jangan lo naksir ya…'
"Enggak," tampik Gray cepat takut dituduh yang gak-gak, "…gue cuman tertarik aja sama kepribadiannya." Sahutnya asal.
"Eh, kita belom kenalan," sergah orang tersebut dengan senyum ramah menyodorkan tangannya, "Gue Wakil Kapten, Ussop! Ksatria paling berani sekaligus penembak jitu paling hebat di lautan dunia ini!" sombongnya yang op kors hanya bualan doang, orang tolol mana yang bakal percaya gitu aja?
"Eh? Beneran?? Keren dong!!" Puji Gray sambil mengangkat kedua jempolnya. Nah, pemirsa, ternyata orang tolol gak sedikit di dunia ini.
"Ayo, gue kenalin sama temen gue!" ajak Ussop. Mereka berdua pun menghampiri lelaki yang akrab disapa Franky itu di depan sebuah toko peralatan kapal. Ketika bertemu dengannya, Gray dengan sigap memperkenalkan dirinya.
"Kenalin, nama gue Gray Fullbuster. Lo boleh panggil gue Gray," jabat Gray hangat. Franky tersenyum sambil mengangkat kacamata hitamnya, seolah menyombongkan hidungnya yang terbuat dari besi itu.
"Yo! Gue Franky. Ahli kapal di kelompok bajak laut Mugiwara," sambutnya kemudian menari dan menyanyi dengan gaya noraknya yang biasa. "Yo~ gue Franky~ Aw! Goyang pinggulmu, aw!" nyanyinya geje yang luar biasa mampu membuat seorang admiral hebat memilih bunuh diri sangking gak percayanya liat tingkah Franky.
"Wow, gaya lo ngenalin diri keren punya, noh!" puji Gray sekali lagi. Saia gak ngerti, kebentur apa Gray hari ini…
"Hehe…" cengenges Franky membanggakan diri.
"Ajarin gue dong!" pinta Gray dengan sumringahnya (sound effect Gray's FC: NOOOOO~!! Gray! Sadar diri!!!). Ussop berusaha sekuat hati menahan amukan, ingin sekali Ussop teriak sekenceng-kencengnya: 'LO GAK NORMAL!!'. Apa boleh buat, ini di depan umum.
Franky mengibaskan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan di depan hidung Gray, "No… no… my friend! I'd love to, but, this dancing is limited edition. I'm the only person in this world who perform it!" jelasnya dengan tampang cool bin nyebelin (menurut Ussop).
"Ah~ Sial…" kecewa Gray menjentikkan jarinya ke bawah. Melihat reaksi ini, Ussop langsung ngebatin lagi, 'Kenapa lo kecewa banget??'
Sekitar satu jam hingga dua jam rupanya telah berlalu. Dalam waktu yang singkat inilah, mereka mengobrol akrab. Membincangkan masalah masa lalu, membicarakan laut, kapal dan sejenisnya, membicarakan kekuatan magis, heboh ngomongin soal makanan, de-es-beh. Mereka mengobrol sambil berkeliling kota. Keakraban ini begitu menyenangkan, hingga tak beberapa lama kemudian…
"HEH, MANUSIA TOPI NELAYAN!! BALIKIN HAPPY-GUE!!!" pekik seseorang berambut pink sambil berlarian mengacau tengah kota.
Gray, Franky, dan Ussop dengan muka culun gak ngerti apa-apa, memperhatikan keempat makhluk yang sedang asyik kejar-kejaran di tengah jalan utama kota ini. Untung gak ada Clan Tenryuubito saat itu.
"Natsu? Happy?" desis Gray pelan.
"Oy, Luffy! Chopper!" panggil Franky dan Ussop bebarengan. Tak berapa lama, mereka saling berpandangan saling mempelajari satu sama lain dengan heran.
"Lo kenal mereka?" tanya mereka bertiga berbarengan. Karena takut menyandang julukan 'teman-si-idiot-pengacau-kota', mereka pun secara tak sengaja melontarkan kalimat yang sama lagi,
"Enggak, gak kenal…" cengenges mereka bersamaan pura-pura gak kenal dengan kenalan masing-masing yang jelas-jelas baru lewat di depan mereka itu. Mereka pun sepakat untuk berupura-pura tidak melihat empat makhluk gak waras yang berkeliaran di kota ini.
…TO BE CONTINUED…
Akankah Luffy mengembalikan Happy pada Natsu?
Next Chapter:
My Warm Hug for You, Nii-chan
A/N: NYHEHEHEHE!! Karena Fic Grand Line High School bentar lagi udah mau selese… akhirnya saia ingin cepat-cepat menyambung fic baru. Ini fic Crossover pertama saia. Yah, walopun sebenarnya saia yakin takkan mendapat review sebanyak fandom lainnya, tapi saia tetap OPTIMIS!!! YEAAAAHH!! *nendang Perona jauh-jauh*
MOHON TANGGEPANNYA… *bend down*
V
V
V
