KALEIDOSCOPE

a Kyou Kara Maoh Multichap Drabble

disclaimer: Kyou Kara Maoh © Tomo Takabayashi.

1st Kaleidoscope.

"Uhh, capek," ujar Yuuri. Pria berambut hitam itu terlihat kehabisan nafas setelah berlari-lari kecil mengelilingi Istana Covenant, sekedar olahraga pagi. Ternyata ikut di klub baseball tidak menjamin bahwa ia cukup atletis untuk tidak kelelahan saat berlari.

"Henna-choko," kata Wolfram, memandang Yuuri sambil tersenyum. Senyumannya melecehkan, namun terselip kepedulian sang pemuda berambut pirang itu kepada tunangannya. "Masa segitu aja udah kecapean, sih? Dasar henna-choko"

"Uhh, aku kan bukan kamu, Wolfram," ujarnya sambil terengah-engah. Sambil mengatur nafasnya , ia lalu berkata, "Dan jangan panggil aku 'henna-choko', tahu!"

Wolfram lalu memandang Yuuri dengan muka merengut kesalnya. Seperberapa detik kemudian, ia pun tertawa. Betul-betul tertawa lepas, seakan-akan tak ada beban sebagai salah satu keturunan keluarga bangsawan Von Bielefeld.

Semakin Wolfram tertawa, Yuuri pun semakin ngambek sehingga Yuuri pun semakin merengut. "Memang kenapa sih, kok ketawa?"

"Tidak apa-apa, henna-choko. Aku hanya suka melihat tampang merengutmu."

Kata-kata itu bagaikan mantra saja. Rasanya Yuuri merasa jauuh, jauuuh lebih baik. Begitu juga Wolfram. Mereka berdua tersenyum kecil bersamaan, tidak seperti biasanya yang sering kali bertengkar macam kucing dan tikus hendak kawin.

"Oh ya," tanya Yuuri, merasa jarang mendengar tawa Wolfram. Setahunya anak bungsu dari keluarga Von Bielefeld , biasanya ia cenderung jaim dan tidak tertawa selepas ini. ".. aku tahu ini mungkin privasi... tapi.. apakah kamu merasa tertekan karena kebangsawananmu?"

Pemuda itu diam sejenak. Hendak memilih kata-kata, tapi ia tahu bahwa ia seharusnya tak perlu menutupi dirinya dengan topeng kebangsawanannya lagi kepada Yuuri. Tunangannya.

Ia lalu mengangguk satu ketukan. Dilanjutkannya dengan berkata, "Aku rasa, iya. Keluarga bangsawan itu selalu disorot oleh orang banyak. Harus tampil sempurna, harus menjadi panutan bangsa, bla bla bla." Wolfram lalu menarik nafas lagi, merasa agak berat untuk membaginya. Dirinya memang sejatinya seorang introvert, lebih suka menyimpan keluh-kesahnya di dalam kotak pandoranya sendiri.

Dan herannya, setahu Wolfram, setiap ia bercerita pada orang lain, biasanya ada saja komentar-komentar macam "kasihannya", atau "yah, itu memang nasib, terima saja", dan sejenisnya. Tapi, kali ini, ia tak mendengar komentar apapun. Yuuri hanya menatapnya lembut, sebuah tatapan yang (sebenarnya) Wolfram sukai. Dan tatapan itu sudah cukup berbicara, bahwa ia tidak sendiri.

Lalu terdengar bunyi bel, memberi tahu semua pasukan Shinmakoku untuk berkumpul. Wolfram pun bergegas menuju lapangan. Ia lalu melambaikan tangan ke arah Yuuri dan berkata, "Sampai nanti, henna-choko."

Yuuri sebenarnya ingin langsung menyumpal mulut Wolfram, tapi karena pria itu sudah keburu berlari tak bisa dikejar lagi, Yuuri pun melambaikan tangannya saja. Sesekali berdamai. Cukup sesekali. Yah, namanya tunangan, sebaiknya mereka harus mencoba untuk sesekali menjadi pasangan harmonis, kan?

.

.

"Eh, kenapa sekarang Wolfram jadi terlihat lebih 'cerah', ya?" kata seorang prajurit, memperhatikan pimpinan mereka yang biasanya cenderung galak.

"Iya juga, sihh..."

Sementara Wolfram yang diam-diam mendengarnya hanya tersenyum kecil. Yuuri-nya lah yang telah mengubahnya.

not to be continued but not to be ended *LOL*

Author's note:

Thanks to Hyuu yang telah mendorong saya untuk ngebikin fic YuuRam ini. Meski abal, tolong diterima dengan senang (?) hati. Fic ini nantinya akan jadi kumpulan drabble yang (nyaris) tidak berhubungan supaya saya gak terlalu puyeng kalau harus update. Jadi mungkin gak rajin update, sih :-P.

Maaf akan kegajeannya, dan juga mungkin ketidakjelasan cerita ini karena sangat pendek.