Tidak ada yang namanya cinta sejati...
Yang ada hanya cinta palsu yang diselubungi oleh tirai manis...
Tidak ada yang namanya bahagia selama-lamanya...
Yang ada hanya bahagia hingga kematian menemui kita...
.
.
.
It's not an Ordinary Fairy Tail. - Bukan sebuah dongeng biasa.
.
.
.
"Masih kurang, tahu!" seru seorang pemuda dengan rambut perak pendek. Dia mengayunkan pedangnya dengan cepat. Matanya yang merah menatap tajam ke arah musuh di depannya.
Musuhnya sendiri juga memiliki rambut keperakan. Yang berbeda hanyalah kedua bola matanya yang berwarna sama seperti rambutnya. Dia juga mengayunkan pedangnya dengan serius dan sama sekali tidak memberi celah bagi lawannya untuk melawannya.
"Serang aku, bodoh! Kau lemah sekali! Lemah!" teriak yang berbola mata merah.
Pemuda satunya akhirnya mengangkat pedangnya dan menghunuskannya tepat ke lawannya. Akan tetapi, pemuda berbola mata merah itu jauh lebih cepat. Dia seakan menari dalam langkah angin dan tiba-tiba sudah berada di belakang lawannya. Mata pedangnya dia letakkan tepat di lehernya. Sambil memasang senyum penuh kemenangan, dia berkata pelan, "Kau masih lemah seperti biasanya, ya."
"Diam kau!" Pemuda berbola mata keperakkan segera berputar dan menendang perut lawannya. "Aku tidak lemah!"
Pemuda berbola mata merah itu masih tersenyum. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit akibat tendangan barusan. "Tidak sakit sama sekali tahu! Kau masih lemah seperti biasanya, Piko! Kalau kau begini terus, tentu saja tahta kerajaan akan jatuh padaku! Kau cuma akan jadi tokoh luar yang sama sekali tidak penting!"
Piko, pemuda dengan bola mata keperakkan itu, membuang muka dengan wajah cemberut. Dia membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan aula marmer dengan pilar-pilar besar itu.
"Mau kemana? Menangis di ruangan seraya meratapi Lily yang kau cintai?" ejeknya.
Piko melirik pemuda yang tertawa puas di belakangnya. Kalau saja orang itu bukan kakak kandungnya, dia pasti sudah melemparkan pedang itu agar bisa menusuk tenggorokan pemuda itu. Dia tidak perlu meladeni ucapan sinis kakaknya. Itu kata-kata yang sudah biasa dia dengar selama sepuluh tahun ini.
Kemudian, seakan tidak terjadi apa-apa, Piko keluar dari tempat itu dan berlari menuju kamarnya.
Pemuda itu melompat ke atas ranjang beludrunya dan menatap langit-langit kamarnya yang berhiaskan lukisan sebuah taman dimana seorang pangeran berambut perak dan putri berambut emas sedang duduk di taman itu sambil tersenyum. Piko memejamkan matanya dan memori itu seketika keluar dari otaknya.
"Dahulu kala, di sebuah kerajaan yang indah, lahirlah seorang putri berambut emas yang sudah ditunggu-tunggu oleh siapa saja. Putri memiliki banyak berkah yang terhingga. Rambutnya berwarna kuning emas bagaikan sinar matahari. Matanya biru indah layaknya langit cerah. Bibirnya merah semerah darah. Suaranya ketika bernyanyi mampu menenangkan bayi yang menangis. Senyumnya seperti sebuah mentari pagi, mampu menghangatkan siapapun yang melihatnya."
Piko membuka matanya lagi dan dia melihat lukisan itu lagi. Sesuai ceritanya, putri di lukisan itu digambarkan persis seperti yang diceritakan olehnya. Dan tentu saja, pangeran yang duduk di sebelah putri itu adalah seorang pemuda yang memiliki ciri-ciri fisik seperti Piko.
"Akan tetapi, Penyihir Jahat yang benci kepada Raja dan Ratu, kemudian menculik Sang Putri dan mengurungnya di menara tinggi dimana Sang Putri tidak akan bisa kabur dan tidak akan ada satu orang pun yang mampu menyelamatkannya."
"Kasihan sekali Sang Putri! Padahal yang dibenci oleh Si Penyihir Jahat kan orang tuanya! Kenapa sang putri yang harus menanggungnya?" seru Piko kecil saat itu. "Aku pasti akan menyelamatkan Sang Putri! Aku akan mengalahkan Penyihir Jahat dan menyelamatkan Putri Berambut Emas itu!"
"Hmm... kalau begitu, Putri pasti akan bahagia. Dia akan sangat bahagia karena Pangeran Piko akan menyelamatkannya dari menara itu."
Piko masih ingat senyumannya saat itu. Senyuman di wajah cantiknya yang selalu dapat membuat Piko merasa tenang dan senang.
Piko mengenal wanita cantik itu. Pengasuhnya yang selalu menyampaikan cerita tentang sihir yang tidak pernah ada, tokoh jahat menyeramkan, Putri cantik nan jelita, serta Pangeran tampan pemberani. Dia ingat jelas sosok wanita itu. Matanya biru seindah langit. Rambutnya kuning keemasan panjang yang selalui diurainya. Piko bahkan ingat wangi shampoo yang digunakannya.
Tidak ada yang tahu identitas asli wanita itu. Piko hanya tahu bahwa wanita itu biasa dipanggil Lily. Lily selalu menjaganya kapan pun, memeluk Piko saat dia ketakutan, tersenyum saat Piko merasa senang, dan menangis saat Piko merasa sedih.
Sebagai Pangeran Kedua Kerajaan Salju, Piko selalu dianggap tidak pernah ada. Berbeda dengan Pangeran Pertama kerajaan Salju, Dell, Piko adalah seorang yang lemah dan sakit-sakitan. Dia tidak bisa mengayunkan pedang secepat kakaknya. Dia tidak mampu berkuda dan berburu sehebat kakaknya. Keberadaannya selalu ditutupi oleh bayangan kakaknya yang tidak pernah mampu dia kejar.
Karena itulah, semasa kecil, Piko selalu menghabiskan waktunya di taman, membaca buku seraya menatap iri kepada kakaknya yang berada di bawah kilauan cahaya kekaguman. Kemudian, di saat salju turun di siang hari, Piko bertemu dengan Lily yang merupakan pelayan baru di kerajaannya.
Kehangatan Lily mampu mencairkan semua kebekuan hatinya. Membuatnya mengenal perasaan yang dinamakan cinta. Piko ingat, Lily setiap malam selalu menyampaikan sebuah cerita mengenai cinta sejati. Cinta yang hanya ditakdirkan untukmu saja. Cinta yang tidak akan pernah tergantikan. Cinta yang mampu membuat susunan kalimat klise berupa bahagia untuk selama-lamanya.
Piko lebih senang menghabiskan waktunya bersama Lily. Dia tidak menyukai kakaknya. Dia tidak menyukai Raja dan Ratu Kerajaan Salju yang merupakan orang tuanya. Dia tidak menyukai semua rakyatnya. Dia hanya mempercayai Lily dan hanya Lily saja.
"Lalu... Sang Putri Berambut Emas mulai memanjangkan rambutnya di dalam menara. Setiap bulan muncul dengan penuhnya, Sang Putri Berambut Emas akan menggelung rambut emasnya dan menjulurkannya ke bawah menara. Berharap suatu saat Sang Pangeran Pemberani akan naik ke menara itu menggunakan rambutnya dan menyelamatkannya dari sana."
"Kenapa dia hanya mengeluarkannya saat bulan sedang penuh? Kenapa tidak siang hari saja? Kalau malam hari, Pangeran Pemberani bisa saja tidur sepertiku."
Lily saat itu memencet hidung Piko pelan seraya tersenyum lebar. "Karena saat bulan penuh, kutukan Sang Penyihir Jahat menghilang untuk sejenak. Menara itu akan terlihat dari jauh dan Pangeran Pemberani bisa menyelamatkannya."
"Hee... kalau begitu, Pangeran Pemberani tidak boleh tidur saat malam hari? Karena, nanti Sang Putri Berambut Emas akan kesepian menunggunya! Aku... aku sebagai Pangeran Pemberani memutuskan untuk tidak tidur!"
Lily mengecup kening Piko pelan. "Tidak boleh. Karena Sang Pangeran pemberani masih dalam masa pertumbuhan."
"Hee... Lily curang! Lily curang!"
"Tidak. Lily sama sekali tidak curang. Pangeran Piko-lah yang curang!"
Piko mengembungkan pipinya. "Lily curang! Piko tidak curang!"
Lily hanya tertawa kecil. "Kalau begitu, maukah Pangeran Piko berjanji satu hal pada Lily?"
"Eh? Apa?"
"Saat Pangeran Piko besar nanti, maukah Pangeran Piko menjadi Pangeran Pemberani yang akan menyelamatkan Sang Putri Berambut Emas?"
"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan Putri secantik dia terkurung di menara! Dia... dia pasti amat-amat kesepian."
"Terima kasih, Pangeran Piko." Lily menarik selimut hingga menyelimuti pangeran berambut keperakkan itu. "Terima kasih."
Dan keesokkan paginya, wanita berambut emas dan bermata biru langit itu menghilang begitu saja dari Kerajaan Salju layaknya setiap cerita yang selalu disampaikannya setiap malam. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Dia menghilang bagaikan debu ditiup angin. Tanpa jejak. Tanpa pertanda. Tanpa ada seorang pun yang tahu.
Meninggalkan seorang pangeran perak sendirian lagi di tengah dinginnya dunia. Hingga membuat hatinya yang dulu sempat mencair, mulai membeku lagi.
Berkali-kali Piko mencoba mencari Lily.
Berkali-kali juga Piko merasa kecewa karena tidak pernah bertemu lagi dengan Lily.
Wanita itu seakan-akan hanya peri dalam ceritanya pada Piko. Datang dan hilang begitu saja tanpa menyisakan bekas selain kepahitan kepada orang-orang yang mengenalnya.
Sekarang, di tengah kamarnya yang hangat namun terasa dingin bagi Piko, pemuda berambut perak itu menatap lukisannya. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak pertama kali dia mengenal Lily, tapi kenangan terhadap wanita itu belum pudar juga. Apa ini yang dinamakan cinta? Apa Lily adalah cinta yang mampu membuat Piko merasa bahaga... cinta sejatinya?
Semua terasa bodoh dan Piko sendiri tahu akan hal itu.
Akan tetapi, obsesinya pada Lily... pada semua ceritanya... pada Sang Putri Berambut Emas... sama sekali tidak akan pernah hilang.
Mendadak, Piko tersadar akan sesuatu dan dia segera berdiri. Matanya yang keperakkan melihat ke luar jendela dimana butiran putih lembut sedang berjatuhan dari atas langit, membuat kumpulan benda putih dingin di tanah bebatuan Kerajaan Salju.
Entah kenapa, Piko merasa dia harus keluar dari kamar itu sekarang dan berlari menuju hutan perbatasan Kerajaan Salju. Bahkan, sebelum dia sempat menyadarinya, dia sudah berlari di antara timbunan salju yang serasa membekukan kakinya.
Kepulan asap berupa refleksi panas tubuhnya kelur cepat dari mulutnya. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia harus cepat kesana. Seakan-akan... seakan-akan ada sesuatu yang memanggilnya disana.
Hutan itu gelap dan bahkan rakyat Kerajaan Salju jarang ada yang berani memasukinya. Sinar matahari jarang jatuh ke tanahnya karena tertutupi rimbunan salju di antara dahan-dahan pepohonannya yang besar. Saat Piko berada di bawah naungan pohon-pohon itu, udara dingin terasa lebih menusuknya, meninggalkan sebuah perasaan tidak nyaman di hatinya.
Rasa takut mulai menyergapnya. Akal pikirannya yang mulai berjalan lagi membisikkan sebuah pertanyaan kecil, apa yang dilakukannya disini?
Bola mata keperakkan itu mulai menangkap setiap gambaran di sekitarnya. Tidak ada lagi yang mampu dia lihat kecuali warna putih yang mampu membutakan mata. Dia sama sekali tidak mengerti. Ada sesuatu yang jelas salah disini.
Rasa panik mendesak paru-parunya, membuat kepulan asap hangat keluar lebih sedikit dari mulutnya. Piko sama sekali tidak membawa pedang panjang miliknya. Dia bahkan lupa menyadari bahwa dia sendiri adalah Pangeran Kedua Kerajaan Salju. Seharusnya dia sadar, dia tidak boleh keluar sembarangan. Tentu saja kerajaan lain tidak sedikit yang mengharapkan kehancuran Kerajaan Salju.
Akan tetapi, dorongan aneh itu mulai membisikkannya lagi. Mengarahkannya ke dalam pelosok hutan lebih dalam lagi, menunjukkan sebuah tempat asing yang baru pertama kali dilihat Piko.
Semua terlihat sama bagi Piko. Salju yang putih. Batang pohon yang kecoklatan. Semua tampak sama dan semu bagi Piko. Tapi, semua warna semu itu seakan menghipnotis Piko, membuatnya semakin berada di alam bawah sadarnya hingga sebuah cahaya membius matanya.
Berdiri tidak jauh darinya, seorang wanita dengan rambut keemasan panjang yang tertiup angin dingin. Mata biru langitnya bertemu dengan mata keperakkan Piko, membuatnya membisu dan membeku.
Sekujur tubuh Piko serasa mati rasa. Dia tidak sanggup merasakan gerakkan jemarinya. Dia tidak sanggup merasakan saat otot tangannya menegang, saat dia mengangkat kedua tangannya, mencoba meraih sosok wanita yang amat disayanginya, mantan pengasuhnya yang mungkin juga jadi wanita yang pertama kali dicintainya.
Lily sama sekali tidak berubah. Bertahun-tahun yang berlalu sama sekali tidak memakan umurnya. Dia masih cantik seperti yang terakhir kali diingat Piko. Masih sama. Tidak ada yang berubah.
Akal pikiran Piko serasa mati. Dia tidak sanggup berpikir. Dia hanya ingin berlari ke arah wanita itu dan memeluknya erat-erat. Dia tidak akan melepaskannya. Dia tidak akan pernah melepaskannya lagi untuk selama-lamanya.
"Lily..." bibirnya bahkan bergetar menahan rasa dinginnya udara, tapi Piko tidak peduli. Kakinya melangkah mendekati sosok wanita yang penuh cahaya matahari itu. Akhirnya... setelah sekian lama... dia bisa melihat sosok matahari di tengah biru langit... akhirnya... akhirnya...
"Pangeran Piko sudah berjanji untuk menjadi Pangeran Pemberani kan?"
Tubuh Piko membeku. Langkahnya terhenti ketika dia melihat sosok Lily yang tersenyum sedih padanya. Janji itu... janji di malam terakhir Lily berada di sisinya serasa membuatnya terguncang.
Sebuah pertanyaan bodoh menghalau semua akal sehatnya. Apakah Lily pergi karena Piko tidak menepati janjinya?
"Lily..."
"Pangeran Piko, Sang Putri Berambut Emas sudah menunggu Anda."
"Apa yang kau bicarakan, Lily?" teriak Piko penuh emosi. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu, Lily hanya peduli pada janji itu? Yang benar saja! Piko bahkan sudah tidak pernah lagi peduli pada Sang Putri Berambut Emas itu! Tidak ada yang namanya Penyihir Jahat yang mengurungnya! Tidak ada! Itu semua hanya sebuah cerita yang dikarang Lily sebelum Piko tidur!
Mata biru itu memancarkan sorot penuh kesedihan. Hati Piko terasa tersayat ketika dia melihat ittu. Sebelumnya, mata biru indah itu selalu memancarkan sorot penuh kelembutan. Penuh kasih sayang. Penuh cinta.
"Dibandingkan itu, Lily... kenapa... kau pergi... dari sisiku?"
"Karena..." Lily balas berbisik. Suaranya hampir ditelan oleh deru angin yang muncul tiba-tiba. "Karena..."
"Kau harus kembali ke Kerajaan Salju bersamaku!" teriak Piko. Dia sudah tidak peduli lagi pada alasan Lily meninggalkannya. Yang hanya dia pedulikan adalah keberadaan Lily di dekatnya.
"Tidak bisa, Pangeran Piko. Lily tidak bisa."
"Kenapa?" Suara Piko semakin lantang. "Aku... aku mencintaimu, Lily! Kau adalah satu-satunya wanita yang sanggup mengerti aku! Aku... aku mencintaimu! Kumohon..." Piko mengenggam tangannya sendiri dengan kuat. Air matanya serasa akan menetes. "Kumohon... jangan tinggalkan aku sendirian lagi... Kumohon..."
Lily hanya diam membisu. Dia sama sekali tidak terlihat bergerak. Dia sama sekali tidak terlihat bernapas.
"Jangan kembali ke Kerajaan Salju sekarang."
Hanya itu yang dikatakannya? Hanya itu yang dikatakannya atas semua perasaan cinta Piko padanya? Hanya itu tanggapannya?
Hati Piko menjerit marah. Kesedihan yang selama ini dia mendam mulai merobek sisi penjaga hatinya, memaksa keluar, memaksa Piko menyampaikan semuanya.
"Kenapa kau bicara begitu, Lily? Apa kau... apa kau sudah tidak peduli lagi padaku?"
"Tidak, Pangeran Piko." Suara Lily yang lembut seketika mampu meredam semua kesedihan Piko dan menghapus semua amarah Piko. "Lily sangat peduli pada Pangeran Piko. Karena itulah, Lily memanggil Pangeran Piko kemari."
"Apa... yang sedang kau bicarakan?" Semua mulai terdengar tidak masuk akal. Piko tahu, dia memang datang kesini tanpa sebuah alasan yang jelas, tapi Lily jelas tidak mungkin mampu memanggilnya kemari? Dengan apa? Kekuatan supernatural? Sihir?
"Kerajaan Salju sedang diserang sekarang. Lily tidak bisa membiarkan Pangeran Piko terluka disana. Tidak bisa."
"Apa..." Gambaran Dell serta kedua orang tuanya mulai bermunculan di pikiran Piko. Selama ini dia memang tidak peduli pada mereka, tapi dia jelas tahu, dia setidaknya masih sayang pada keluarganya. Kemudian, rakyatnya... walaupun mereka selalu lebih menghargai Dell, tetap saja, Piko masih seorang Pangeran yang memiliki kedudukan dan tanggung jawab kepada mereka semua. "Apa... maksud... mu... aku... aku..."
Lily berjalan mendekati Piko. Langkahnya sama sekali tidak menyisakan jejak di antara rimbunan salju. Wajahnya mulai melembut dengan senyum serta sorot mata yang masih mampu menyayat hati Piko.
"Lily..."
Ketika Lily tepat berada di hadapan Piko, pemuda berambut perak itu benar-benar menyadari bahwa wanita itu memang masih cantik seperti dulu. Sama sekali tidak berubah. Sama sekali tidak bertambah tua.
Tangan wanita itu terangkat dan dia mengusap lembut rambut Piko. Tidak terasa apapun walaupun rambut Piko memang bergerak seakan-akan memang tangan Lily berhasil menyentuhnya. Semuanya seakan-akan layaknya sebuah kehampaan semu yang tidak mampu dilihat.
Jantung Piko berdebar keras. Matanya tidak sanggup lepas dari mata Lily. Dia seakan-akan terbius oleh sinar mata itu.
Semuanya mirip seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu.
Butiran putih sama sekali tidak menyentuh tubuh Lily. Seakan-akan keberadaan Lily disana memang tidak ada. Tidak bisa disentuh. Tidak bisa dipegang. Tidak nyata sama sekali.
Napas Piko mendadak menjadi semakin cepat, seirama dengan detak jantungnya. Rasa panik dan takut mulai mendesak paru-parunya.
"Kerajaan Salju sedang diserang sekarang. Lily tidak bisa membiarkan Pangeran Pemberani terluka sebelum bertemu dengan Sang Putri Berambut Emas."
"Kenapa... kenapa kau membawaku kesini? Aku... aku masih Pangeran Kedua Kerajaan Salju... aku... aku seharusnya tidak berada disini sekarang..."
Lily menarik kembali tangannya lalu menggeleng pelan. "Tidak... Pangeran Piko memang harus ada disini. Pangeran Piko tidak bisa tetap berada disana dan terbunuh sia-sia."
Terbunuh? Apa itu artinya semua orang di Kerajaan Salju akan terbunuh hari ini? Apa itu artinya...
Piko melangkah mundur. "Aku... sama... sekali... tidak... mengerti... Kenapa... kenapa kau bisa tahu ini semua? Kenapa hanya aku sendirian yang kau beri tahu? Kenapa..."
"Karena Pangeran Piko adalah Pangeran Pemberani yang akan menyelamatkan Sang Putri Berambut Emas."
Kenapa Lily mengatakan hal yang sama berulang kali? Kenapa? Bukankah Sang Putri Berambut Emas hanyalah sebuah cerita yang dikarangnya? Tidak nyata! Sama sekali tidak nyata!
Lily mengangkat tangannya sekali lagi dan mengusap lembut pipi Piko. Walaupun Piko sama sekali tidak merasakan sentuhannya, dia merasakan rasa hangat mulai mengaliri seluruh tubuhnya. Mampu membuatnya melupakan bahwa dia sekarang tengah berada di tengah hutan asing, di bawah hujan salju, dan di hadapan wanita yang dia cintai tanpa sosok yang nyata.
"Pangeran Piko harus berada di tempat yang aman," bisik Lily.
Suara lembutnya mampu menghisap semua energi di tubuh Piko, membuatnya limbung tanpa kekuatan di atas salju yang lembut.
Dia jatuh dalam posisi terduduk dengan pandangan hampir berbayang. Dia sama sekali tidak bisa membedakan berapa banyak sosok Lily yang ada di hadapannya. Matanya terasa berat. Rasa kantuk yang demikian berat menyerang otaknya.
"Lily..." bisik Piko lemah. Matanya masih bisa melihat sosok wanita dengan gaun putih panjang itu di hadapannya. Piko masih bisa melihat senyuman lembut serta sorot matanya yang sedih.
"Pangeran Pemberani akan menyelamatkan Putri Berambut Emas."
"Aku..." Piko sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. ...sama sekali tidak mengerti, Lily.
.
.
.bersambung.
[FFC] A Classical Fairytale; Make your classical and fairytale stories.
yap. cerita ini dibuat untuk memenuhi salah satu challenge di infantrum.
Disclaimer
vocaloid dan utauloid milik Yamaha, Zero-G, Crypton Future Media, PowerFX, INTERNET Co.,Ltd, AH Software, Ecapsule, Sony Music Entertainment, Bplats, dan karakter fisik yang muncul dalam cerita ini berdasarkan gambar-gambar chara vocaloid yang dapat dilihat di vocaloid wiki.
cerita dari ReiyKa sebagai pemilik asli plot cerita
ini pertama kalinya saya buat cerita dengan tema kerajaan, pangeran, putri. settingnya tentu saja Alternatife Universe, dunia yang dibuat berdasarkan imajenasi saya. kalau ada kemiripan dengan salah satu setting dunia di anime, manga, novel yang para pembaca pernah baca, berarti mungkin saya terinspirasi dari sana.
yah, saya minta maaf kalau misalnya terdapat kemiripan standar khas cerita kerajaan. kreatifitas saya masih sangat terbatas. masih dalam proses tumbuh dan berkembang. belum dewasa.
proses pembuatannya sendiri jauh lebih sulit dari semua cerita tema kehidupan biasa. ampun lah. saya mesti ngayal selama perjalanan Bogor-Bandung dan bayangin bukit-bukit disana tertutup rimbunan salju dengan dipenuhi oleh hutan gelap yang... ah, saya nggak tahu lagi.
soal genre, saya bingung setengah mati. yah, untuk sementara begini dulu saja.
sama halnya dengan rating, saya juga bingung setengah mati. yah, untuk sementara begini dulu saja. naik turunnya lihat nanti.
buat para pembaca
yap. sudah pasti bukan permintaan saya?
read
review
please
(◕‿-)/
sampai bertemu lagi di bab selanjutnya.
.(semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini tepat sebelum waktunya).
