Dahulu kala di daerah Seolbi, terdapat sebuah sekolah sihir yang bernama Yeol-Woo, Akademi Para Penyihir. Sekolah ini telah menjadi salah satu sekolah terkuat di antara sekolah sihir lainnya.
TAEHYUNG'S POV
"Wah, sekolah ini keren sekali! Hyung, apakah kau benar-benar alumni dari akademi ini?" tanyaku pada kakakku, Kim Jaeyoung, yang telah lulus dari Yeol-Woo sebagai penyihir waktu.
"Tentu saja. Ayo, aku antar ke ruang administrasi."
Aku mengikuti kakakku karena ialah yang mengetahui seluk beluk sekolah ini. Aku sendiri ditransfer oleh ayah dari daerah Gangbo ke Seolbi.
Tetapi jujur saja, pertama kali aku menginjakkan kakikku ke sekolah ini, impresi pertamaku untuk sekolah ini benar-benar keren. Ini berbeda dari sekolah lamaku. Di sekolah lamaku tidak ada penyihir-penyihir yang berterbangan di langit-langit dengan menggunakan sapu ijuknya, bermain-main dengan salju yang mereka ciptakan oleh tangan mereka sendiri, menciptakan hujan dengan skill mereka sendiri, dan lain-lain.
Daebak.
"Siapa namamu, Nak?" tanya seorang petugas administrasi.
"Nama saya Kim Taehyung."
"Apa kekuatanmu?"
"Kekuatan api."
Wanita itu menuliskan sesuatu di kertas administrasinya, lalu pergi untuk beberapa saat dan kembali dengan membawa beberapa benda di tangannya.
"Ini seragammu, identitas siswamu, dan buku manteramu. Good luck, ya," katanya sambil memberikan semua barang itu kepadaku, "dan jika kau butuh sesuatu, Mr. Song akan membantumu. Beliau adalah kepala konseling di Gedung 4 Elemen dan beliau bertugas di asrama laki-laki."
Aku pun berterima kasih padanya sambil membungkukkan tubuhku. Kemudian, Jaeyoung membawaku ke asrama laki-laki, di mana kami bertemu Mr. Song yang tadi wanita itu sebutkan.
"Selamat datang, Mr. Kim! Sudah lama sekali kita tidak bertemu," kata seorang pria bertubuh lebih tinggi dariku dan kakakku sambil menepuk pundak Jaeyoung.
"Yo, Mr. Song! Kau masih mengenaliku?"
"Tentu saja, kau adalah salah satu murid favoritku sampai sekarang," jawabnya.
Kemudian, Mr. Song melihat ke arahku. "Apakah ini adikmu?"
Jaeyoung dengan ceria merangkulku, lalu berkata, "Mr. Song, kenalkan. Dia adalah Kim Taehyung, adikku. Dia akan menjadi penyihir api baru di sekolah ini."
"Annyeonghaseyo," sambutku sambil menunduk.
"Taehyung ah, sekarang kau sudah bertemu dengan Mr. Song. Aku pulang ya."
Aku cemberut. "Ah, hyung. Aku akan kangen sekali denganmu."
Jaeyoung tertawa. "Yah, kau sudah besar, Taehyung, masa aku harus menemanimu terus-terusan?"
Lalu, ia berkata pada Mr. Song, "Tuan, tolong jaga adikku yang manja ini ya."
"Tentu, Mr. Kim. Kau bisa percaya padaku."
"Baiklah. Aku pulang ya, Taehyung," katanya sambil mengacak-acakkan rambutku.
"Hati-hati, hyung."
Lalu, kakakku menghilang begitu saja. Tentu, dia adalah seorang penjelajah waktu.
"Mari, Mr. Kim, saya antar ke kamarmu," kata Mr. Song.
Setelah sampai di kamar asramaku, Mr. Song memberiku kertas berisikan jadwal kelas untuk selama aku berada di sekolah ini. Aku pun berterima kasih padanya, kemudian melemparkan tubuhku di atas kasur empuk ini. Heol, jinjja, kasur ini benar-benar nyaman. Aku melihat-lihat isi kamarku, sepertinya aku mempunyai roommate. Kasur di seberangku terlihat berantakan dengan barang-barang orang itu.
"Oh astaga," kata seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar, "kau mengagetkanku."
Aku tersenyum ceria. Laki-laki ini sepertinya baik. "Kau pasti roommateku!"
Dia duduk di pinggir kasur sambil menaruh buku manteranya di meja belajarnya. "Aku dengar kau murid baru. Siapa namamu?"
Aku tidak tahu apakah laki-laki ini seniorku atau bukan, tetapi aku tetap membungkukkan tubuhku. "Annyeonghaseyo. Namaku Kim Taehyung, aku penyihir api."
"Aku Jeon Jungkook, dan aku penyihir alam," katanya sambil tersenyum, "dan aku bukan seniormu, jadi tidak perlu membungkuk."
"Ngomong-ngomong, karena kita adalah roommates, bolehkah aku memanggilmu hyung?" tanyanya dengan malu-malu.
"Oh, tentu saja. Kenapa tidak?"
"Oh, apakah kau mau melihat-lihat sekitar sekolah ini? Aku bisa menemanimu, aku ketua mahasiswa di akademi ini," tawarnya.
"Kau lebih muda dariku, tetapi kau adalah ketua mahasiswa? Daebak," kataku, "dan aku dengan senang hati ingin berkeliling."
"Baiklah."
Aku dan Jungkook pun keluar dari asrama dan mulai berjalan-jalan. Di sebelah gedung asrama kami, terdapat sebuah gedung di mana banyak sekali awan-awan yang berkumpul di atasnya. Tebaklah, gedung apa itu?
"Oke, kita mulai dari gedung yang terletak di sebelah asrama kita. Gedung ini adalah Gedung Cuaca, yang terdiri dari penyihir cahaya, penyihir petir, dan seperti nama gedungnya, penyihir cuaca," jelasnya, "lalu di sebelahnya adalah Gedung 4 Elemen, yang terdiri dari penyihir api, penyihir air, penyihir air, dan penyihir tanah. Kau akan melaksanakan kelasmu di gedung ini."
Heol, daebak. Ini jauh lebih keren dari sekolah lamaku. Maksudku, lihatlah, aku akan mengikuti kelas di gedung ini, gedung khusus untuk penyihir berkekuatan sepertiku. Sekolah lamaku terlihat sangat tua dari luar dan semua penyihir dicampur menjadi satu. Kau bisa bayangkan betapa hancurnya sekolah itu.
"Selanjutnya adalah Gedung Kesehatan, yang terdiri dari penyihir penyembuhan (healing), penyihir racun (poison), dan penyihir kehidupan," jelasnya kembali, "lalu di sebelahnya adalah Gedung Waktu, yang terdiri dari penyihir waktu dan penyihir ramalan."
"Oh, kakakku dulu belajar di gedung ini. Dia adalah penyihir waktu."
"Benarkah? Wah, keren sekali," katanya sambil tersenyum gigi kelinci. Ah, anak ini menggemaskan sekali.
"Kemudian, kita juga ada Gedung Roh, yang terdiri dari penyihir roh dan penyihir energi/aura."
Hanya dengan melihat penampakan gedungnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Gedung itu terlihat gelap dan menyeramkan. Maksudku, jika gedungnya terlihat seperti itu, bagaimana dengan para penyihirnya?
"Apakah para penyihirnya juga terlihat menyeramkan seperti gedung ini?" tanyaku.
"Tidak juga. Mereka memang terdengar menyeramkan karena mereka bisa mengambil rohmu dan bahkan menukar rohmu dengan mereka. Tetapi jangan khawatir, mereka sebenarnya baik dan ramah," jawabnya, "selama kau tidak berbuat yang macam-macam terhadap mereka."
Kemudian, Jungkook lanjut berjalan dan aku masih menatap gedung itu dengan tatapan ngeri. Ah sudahlah, setidaknya mereka ramah... menurut Jungkook.
"Selanjutnya adalah Gedung Alam, yang hanya terdiri dari penyihir alam sepertiku," katanya, "dan kita juga ada Gedung Cupid, yang juga hanya terdiri dari penyihir cinta atau cupids."
"Cupids? Ah lucu sekali!"
"Kau ingin mencobanya?" tanyanya.
"Mencoba apa?" tanyaku kembali.
"Cupids benar-benar bisa membuat seseorang jatuh cinta kepada mereka yang terpilih oleh para cupids. Kau ingin mencoba meminta mereka agar dijodohkan dengan gadis cantik?" tanyanya sambil smirking.
Aku hanya tertawa. "Tidak, tidak perlu. Aku bisa membuat para gadis jatuh hati padaku dengan caraku sendiri."
Jungkook juga ikut tertawa. "Haha, baiklah," katanya, "kita juga ada Gedung Pikiran, yang terdiri dari penyihir pengontrol pikiran, penyihir emosi mental, dan penyihir telekinesis."
"Apakah mereka-"
Sebelum aku selesai bicara, terdengar suara gadis cempereng yang memanggil nama Jungkook. "YAH, JEON JUNGKOOK."
Gadis berambut pendek dan bertubuh kurus itu menghampiri kami—lebih tepatnya Jungkook—dengan mata yang melotot. Ups, sepertinya kau dapat masalah, Jungkook.
"Ada apa sih?"
"Kenapa kau meninggalkanku dengan semua dokumen-dokumen itu? Aku adalah wakilmu, seharusnya kaulah yang bertanggung jawab dengan-"
Gadis itu tiba-tiba menoleh ke arahku dan berhenti berbicara. Ekspresi emosi di mukanya berubah menjadi berbunga-bunga. "Hai, ganteng."
Aku tersenyum dengan canggung. "Eh... hai?"
"Jihyo, lanjutkan."
"Siapa laki-laki ganteng ini? Murid baru?"
Jungkook menghela napas. "Dia adalah Kim Taehyung, penyihir api baru di sekolah ini," katanya, "dan hyung, dia adalah Jung Jihyo, seorang pengontrol pikiran."
Kemudian, Jungkook berbisik, "Berhati-hatilah, kau bisa dikontrol pikirannya oleh Jihyo." Lalu ia tertawa kecil, aku pun juga.
"Yah, Jeon Jungkook, aku bisa mendengarmu," kata gadis itu. "Gantengku, jangan dengarkan Jungkook. Dia selalu membicarakan hal buruk tentangku."
"Itu karena tidak ada hal baik tentang dirimu."
"Yah!!" Jihyo memukul lengan Jungkook berkali-kali dan tampaknya... itu menyakitkan.
Aku tertawa kecil melihat keakraban mereka berdua. "Kalian terlihat sangat dekat."
"Kau pasti bercanda," ucap mereka berdua bersamaan. Mereka saling melihat untuk beberapa saat sambil mengangkat alis, kemudian memutarkan mata.
"Tentang dokumen itu, aku juga masih punya banyak dokumen yang harus aku kerjakan. Sudahlah, kembali ke asramamu dan selesaikan dokumen-dokumen itu," kata Jungkook kepada Jihyo.
"Ugh, terserah," katanya sambil memutarkan mata.
Kemudian, Jihyo menoleh ke arahku dengan tatapan lembut. "Sampai bertemu kembali, gantengku."
Setelah gadis itu pergi, Jungkook berkata, "Jangan pikirkan dia. Jihyo memang selalu genit pada laki-laki."
Aku tertawa, tetapi memang kelihatan kalau gadis itu suka menggodai laki-laki.
"Kita lanjut saja. Gedung terakhir yang belum aku tunjukkan adalah Gedung Es, yang hanya terdiri dari penyihir es," katanya sambil menunjuk ke arah sebuah gedung berwarna biru dengan salju-salju yang turun dari awan di atasnya, "gedung itu terletak di sebelah asrama putri."
"Gedung itu terlihat-"
Lagi-lagi aku belum selesai berbicara, Jihyo berteriak dari jarak yang cukup jauh, "JEON JUNGKOOK, INI DOKUMENMU!!"
Jungkook mengacak-acakkan rambut dengan frustrasi. "Apakah tidak apa-apa jika kau tunggu sebentar di sini? Aku harus mengecek Jihyo."
"Tentu saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana kok."
Kemudian, Jungkook lari ke arah asrama putri. Aku sendiri berjalan-jalan di sekitar asrama putri dan Gedung Es untuk menghindari rasa bosan.
Ketika aku sedang bersiul-siul, aku mendengar suara merdu dari seorang gadis yang sedang bernyanyi. Sudah pasti bukan suara Jihyo. Aku pun mencoba mencari pemilik suara itu, yang berujung melihat seorang gadis berambut putih-biru yang sedang membuat kepingan-kepingan salju sambil bernyanyi. Dia terlihat sangat cantik dengan matanya yang cukup besar dan bibirnya yang mungil.
Aku perlu tahu namanya.
