Author: "Yeei!! Met dateng lagi di fic ane!!" *nari lebay*

Quinsi: "Lho? Kok bos ada di sini?" *nongol tiba tiba*

Author: "Yee... Kan gue author-nya. Masa nggak boleh?"

Quinsi: "Bukannya nggak boleh, bos... Tapi kan–"

Author: "Lha trus, kenapa lo di sini?"

Quinsi: *swt* "Kan bos sendiri yang nyuruh gue jadi jubir-nya bos. Tugas gue kan jadi host ngegantiin bos! Makanya gue sering nongol di fic-nya bos ngegantiin bos"

Author: "Oh iya ya... OC yang baik..."

Quinsi: *swt*"Bos, nggak apa apa bos nongol di sini sekarang?"

Author: "Mang napa?"

Quinsi: "Besok kan mid Biologi... Nggak apa apa nggak belajar?"

Author: "..."

10 menit kemudian...

Author: "IYA!! Gue belum belajar!!" *kalang kabut*

Quinsi: "Ya udah, tugas saya ambil alih... Nah, RnR please!! Kami sangat membutuhkan feedback dari Anda sekalian berupa review agar si author stress ini bisa meningkatkan kualitas fic-nya..."

Dear, Diary

(Rukia with her diary named Shirayuki)

Disclaimer: "Siapa yang bilang Bleach punya gue??"

A/n. Fufufu... Fic ini saiia buat semata mata hanya untuk bernostalgi(l)a dan hepi hepi-an. So, kalau situ tidak hepi, jangan salahkan saiia! *kabur* (Quinsi: "Kok gaya bahasa bos gue jadi kayak gini?")

***

6 September 2005

Dear, Shirayuki...

Gimana kabarmu? Masih tidak bosan kan, dengar ceritaku? Aku harap tidak, karena aku punya satu lagi cerita yang ingin kuperdengarkan kepadamu.

Hari ini, aku bangun seperti biasa, pakai seragam putih-merah lengkap dengan dasi merah seperti hari Selasa pada umumnya, dan sekolah seperti biasa -kecuali bedanya, sekolahku tadi memulangkan murid murid lebih cepat karena akan ada rapat guru. Aku tidak akan membuatmu bosan dengan menceritakan tiap kejadian di sekolah. Karena itu, aku akan langsung cerita ke intinya.

Tadi, saat pulang sekolah, aku pulang bareng Orihime dan Tatsuki seperti biasa.

---

"Eh, ada pe-er apa aja sih?" tanya Orihime padaku dan Tatsuki. Kami bertiga -aku, Tatsuki, dan Orihime- sedang berada di dalam angkot Bx (a/n. Nomor angkot dirahasiakan). Penumpang yang ada di dalam angkot yang kami naiki ini hanya ada 4 orang termasuk kami bertiga. Jumlah penumpang yang sedikit ini mungkin dikarenakan belum saatnya jam pulang sekolah, kecuali sekolahku yang khusus untuk hari ini jam pulangnya dipercepat menjadi pukul 11.30. Biasanya, kalau kami pulang seperti biasa pada pukul 12.30, angkot Bx -seperti yang aku naiki saat ini- pasti hampir selalu tidak menyisakan tempat duduk untuk aku, Orihime, dan Tatsuki tempati. Bahkan, kami bertiga pernah sampai harus menunggu angkot yang "ramah" untuk kami naiki selama hampir 30 menit! Sebelumnya, kami harus berjalan sejauh kira-kira 800 meter dari sekolah ke jalur trayek angkot Bx. Memang sih, ada juga angkot yang jalur trayeknya melewati jalan di depan sekolah. Tapi, angkotnya jarang lewat dan selalu penuh.

"Kamu ini gimana, sih?" kata Tatsuki. "Kebiasaan. Tidak pernah mencatat tugas yang diberikan."

"Kebiasaan?" kataku bingung. Maklum, aku baru dua bulan sekelas dengan mereka berdua. Sedangkan mereka berdua sudah sekelas sejak kelas 1 SD sampai kelas 6 ini. "Memangnya Orihime selalu begitu?"

Tatsuki mengangguk. "Iya. Setiap pulang sekolah, dia selalu menanyakan pe-er padaku -tentu saja setelah kau turun. Makanya kau tidak tahu. Tapi kemudian malamnya, ia meneleponku lagi untuk menanyakannya kembali. Bagaimana tidak jengkel?"

Aku menggeleng gelengkan kepala prihatin. "Tatsuki, saranku, lebih baik kau abaikan saja pertanyaan dia. Kupikir, dia akan berubah."

"Eeh?? Jangan begitu..." seru Orihime. "Iya, deh... Mulai besok aku akan mencatat..."

Aku dan Tatsuki bertatapan dan tersenyum hampir secara bersamaan, lalu tersenyum pada Orihime. "Nah, begitu dong!"

"Lalu? Apa pe-er-nya?"

"Matematika paket halaman 33," kataku. Orihime langsung mengeluarkan buku Matematika paketnya dan melipat halaman 33.

Angkot yang aku naiki tiba tiba berhenti untuk menaikkan seorang penumpang. Penumpang yang baru naik ini, seorang bapak bapak berumur sekitar 30 tahunan berkacamata persegi panjang. Rambutnya sedikit bergelombang dan agak panjang. Ia duduk di dekat pintu. Waktu kulihat, kukira ia mengalami gangguan kejiwaan karena sejak tadi ia terus senyum senyum sendiri. Memang sih, senyumnya lembut kebapakan. Tapi aku merasa ada yang janggal (a/n. Coba tebak siapa?). Begitu kupikir kembali, untuk apa aku memikirkan hal itu? Tidak akan ada untungnya buatku.

Aku kembali mengobrol dengan Tatsuki dan Orihime. Tapi beberapa saat kemudian, bapak tadi -masih tetap senyum senyum seperti tadi- menginterupsi pembicaraan kami dengan mencondongkan tubuhnya ke arah kami yang duduk di bagian paling belakang/pojok.

"Neng..." katanya padaku, Orihime, dan Tatsuki.

Neng? Oneng?? pikirku dalam hati -walaupun sebenarnya aku tahu 'neng' itu maksudnya 'mbak'.

"Neng udah SMP apa SMA?"

GUBRAK!!!

Pertanyaan nggak mutu!! Apa dia nggak lihat kita bertiga pakai rok merah dan dasi merah?? Kita bertiga belum lulus SD, paak!!

Kulihat Tatsuki dan Orihime juga sama terkejutnya denganku. Tapi tentu saja, ada rasa geli juga di dalam hati.

"Mmm... Maaf, pak. Kita bertiga masih SD, pak. Tahun depan baru kita SMP," kata Orihime.

"Kalau lulus." Langsung kutendang tulang kering Tatsuki pelan begitu ia mengatakannya.

"Masih SD?" kata si bapak kurang yakin.

Kami bertiga mengangguk dan saling menunjuk atribut anak SD yang kami pakai. Aku menunjuk rok merah Tatsuki, Tatsuki menunjuk dasi merah yang kupakai, dan Orihime menunjukkan buku paket Matematika-nya yang masih ia pegang.

"Bapak tidak lihat kami memakai seragam SD?" tanyaku.

Bapak itu menggeleng. Aku dan Tatsuki berusaha sekuat tenaga menahan tawa.

"Hmph... Matanya sudah ..hmph.. kacau stadium akhir...hmph," kata Tatsuki pelan sambil masih terus menahan tawa. Kulihat mbak yang duduk di belakang supir -satu satunya penumpang lain selain kami- tertawa pelan.

Aku mengangguk. "Rabun warna akut..."

Mau bilang apa lagi? Memang benar kok. Mbah Ginrei yang sudah bau tanah saja masih bisa membedakan warna dengan baik.

Tapi walaupun aku dan Tatsuki -serta si mbak yang sekarang sedang tertawa lepas- sedang tertawa, sepertinya si bapak tidak menyadarinya. Ia tetap saja senyum senyum sambil berbicara dengan Orihime.

"Ooh... Jadi, kalian masih SD?"

"Iya, bapak... Kan sudah kami bilang dari tadi..." kata Orihime yang masih dengan sabarnya menanggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan si bapak. Yaah... Pertanyaan yang diajukan selalu sama, sih. Harus berapa kali dibilangin sih, biar si bapak ngerti?

Setelah beberapa saat, si bapak akhirnya mau turun. "Kiri, bang!" serunya.

Angkot pun melambat dan akhirnya berhenti. Sebelum turun si bapak mengucapkan "salam perpisahan" pada kami.

"Sudah ya, Adinda... Akang turun di sini..." katanya. Ia lalu turun dan membayar ongkos.

GUBRAK!!

Apa yang barusan dia bilang?? Adinda?? Akang??

Belum hilang rasa terkejutku, si "Akang" mulai melakukan hal aneh lagi.

"Bang, kembali 2000. Sama 3 anak kuliahan yang di belakang..." katanya sambil menyodorkan uang kertas senilai 10.000 pada supir.

Kuliahan??

Siapa??

Kita bertiga??

OMG!!

Aku melihat si supir melongokkan kepala ke belakang dan menggaruk garukkan kepala. Heran? Jelas! Kan tidak ada anak kuliahan di angkot ini! Si mbak juga tertawanya makin menjadi. "Tadi SMP dan SMA, kenapa jadi kuliah? Wakakakakak!! Kenapa gue nggak sekalian dibayarin, ya?" katanya di sela tawa.

Setelah si bapak menerima uang kembalian dari si supir dan memasukkannya ke saku celana, ia mengedipkan mata nakal pada "3 anak kuliah".

Tidaak~!! Aku menjerit histeris di dalam hati. Kupandangi Tatsuki dan Orihime yang sama shock-nya denganku. Bahkan Tatsuki sampai merinding!

Akhirnya, angkot berjalan kembali -suatu hal yang sejak tadi kuharapkan- meninggalkan si bapak -yang sepertinya tak waras- itu di belakang.

"Mbak," panggil si supir angkot. Ia menoleh sedikit ke belakang sambil tetap konsentrasi menyetir.

Merasa yang dipanggil, aku menjawab. "Kenapa, bang?"

"Yang tadi itu om-nya ya?"

GUBRAK!!

Amit amit deh, punya om kayak gitu!

"Nggak kok, bang. Baru ketemu hari ini..." jawabku.

"Baru kenal kok, dibayarin? Dasar," kata si supir.

Yaah... Walaupun si bapak tadi bikin sebal, tapi kita dapat untung. Irit 1500!!

---

Nah, itulah yang terjadi tadi. Semoga besok besok aku tidak bertemu lagi dengannya...

Sudah dulu ya, Shirayuki. Aku sudah mengantuk.

Bye-bye...

Tamat

Tambahan

September 6, 2005

Fufufu...

Hei, Suigetsu. Gue udah lama nih, nggak nulis lo...

Gue punya kenalan cewek baru lho! Lumayan, walau udah kerja tapi cantik cantik! Cuci mata...

Oh iya, kata psikiater, keadaan otak gue udah kacau banget. Makanya besok gue mau terapi otak.

Hahaha... Kalau gue udah sembuh, gue mau cari cewek lagi, ah!

---

Review?