Seijuuro Akashi.
Sosok Raja Tiran—jangan sebut Titan, itu melukai harga dirinya— yang dulu berjaya melebarkan kekuasaannya hingga ke Kyoto.
Mendengar namanya sekarang masih menjadi horror tersendiri. Ada yang bekata wah, dia anggota Kiseki no Sedai, 'kan? Ada pula yang menimpali hush, jangan menyebut namanya sembarangan jika tidak ingin kena kutuk.
Namun dari semua itu, hanya ada satu orang yang berkata—
"Akashi Seijuuro? Dia suamiku, ssu!"
—yah, siapa lagi jika bukan Ryouta Ki— Ryouta Akashi, maksudnya. Kise itu nama ketika dia masih gad— salah. Kise itu nama Ryouta ketika dia masih perj— meski tidak bisa dibilang seperti itu juga.
Intinya, nama pria berambut pirang itu adalah Ryouta Kise sebelum nama Kise dilempar jauh-jauh dan digantikan oleh The Great and The Almighty Akashi.
Ren present,
"SEIJUURO"
To Kurobasu Fandom
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Bagi yang mengenal Akashi Seijuuro dengan baik, tahu jika Seijuuro adalah manusia yang tidak suka kalah dan amat membenci orang yang menyentuh kepunyaannya.
Semua orang sadar itu dan langsung mengangkat tangan mereka dari kepunyaan sang Akashi.
Kepunyaan yang pertama, Ryouta. Hal ini mutlak dan tidak bisa dibantah lagi. Senggol bacok adalah slogan Seijuuro yang ia berikan lewat tatapan mata jika ada yang mendekati Ryouta.
Kapan ada yang mendekati Ist—Suami dari Seijuuro itu? Normalnya karena Ryouta selalu di rumah, manusia yang masih waras tidak ada yang berani bertandang ke rumah megah berpapan nama Akashi itu.
Normalnya, tapi kadang yang namanya manusia tidak bisa lepas dari sesuatu yang berbau sosial. Undangan pembukaan toko kue dari mantan bab—teman yang dulu pernah ikut klub yang sama membuka sebuah kesempatan yang Seijuuro sering sebut bawa sial.
Pesta yang diadakan Atsushi Murasakibara di toko yang bernama Mura's Cake Shop—namanya tidak kreatif, Seijuuro mengakui itu—berjalan lancar hingga seorang polisi yang lebih cocok jadi kriminal kelas kakap memasuki toko dan sok akrab memanggil "Ryouta!" dan memeluk Ist—Suami dari Akashi muda berambut merah tersebut.
Ryouta—yang dasarnya memang tidak peka ditambah sedang mengunyah kue—langsung memeluk si pemanggil. Daiki Aomine.
Dan bagai gula di rubung semut, semua temannya mendatangi Ryouta.
"Ryouta-kun, rambutmu halus." Toel rambut.
"Mungkin dia memakai produk Sanslik terbaru, nanodayo." Elus rambut.
"Ryouchin juga tambah gemuk sekarang." Cubit lengan.
"Bagus jika dia tambah gemuk. Jika dia tambah kurus, kita harus menyalahkan suaminya!" colek perut.
"Oh, ada krim di mulutmu, ikemen." Coel krim di pipi, jilat.
Cukup sudah. Seijuuro—yang sekarang tingginya sudah hampir menyamai Shintarou; thanks to puberty—menggenggam tangan Ryouta dan berkata dengan halus.
"Kami pulang dulu. Anak kami lelah dan sepertinya Istriku juga. Lagipula udara malam tidak baik untuk kandungannya."
Dan Ryouta meradang ketika dijauhkan dengan kue-kue.
.
Kepunyaan yang kedua, Seita Akashi. Anaknya yang mirip luar biasa dengan Ryouta. Kecuali mata, tentu saja. Jika bukan karena mata yang nurun dari Papanya, Seijuuro yakin anaknya sudah lama sekali di culik.
Jika slogan Seijuuro untuk Ryouta senggol bacok, slogan Seijuuro untuk Seita megang buntung.
Beda lagi jika kombinasi Ryouta dan Seita dan anak mereka yang masih dalam kandungan.
Lirik mati.
.
Kepunyaan yang ketiga, gunting keramat. Lain cerita dengan gunting yang setia sama Seijuuro. Gunting ini tidak pernah jauh dari sisi Seijuuro. Baik saat tidur atau mandi.
Slogannya, nantang nancep.
.
Tapi yah, itu hanya pendapat orang luar rumah.
Orang dalam rumah beda lagi.
.
"Heh? Seicchi itu baik, kok! Waktu aku sakit, dia langsung membatalkan rapat pentingnya di Swiss dan merawatku, ssu! Dia bahkan memasak selama aku sakit! Seicchi itu suami yang baik dan pengertian, ssu!"
"Papa? Beliau sangat bijaksana! Ketika Mama sakit, Papa membuat makanan dan melakukan pekerjaan rumah. Dia juga selalu menjemputku ketika pulang sekolah. Papa itu orang yang hebat!"
Dan berhubung gunting tidak bisa berbicara, anggap saja ia menganggap Seijuuro amat hebat!
.
"Aku pulang."
"Selamat datang, Papa!"
"Aku membeli kue. Hari ini Seita bisa memainkan Moonlight Sonata, 'kan? Papa dengar dari Reo."
"Hee, Seicchi membeli kue apa?"
"Red valvet dan Cheese cake."
"Hari ini Mama juga membuat Sukiyaki! Kuenya nanti saja setelah makan malam, oke?"
"Yippie!"
.
Terlepas dari pandangan semua orang, Ryouta dan Seita bahagia memiliki Seijuuro sebagai pengayom mereka.
Tidak perlu memikirkan omongan orang lain tentang dirinya, asal mereka senang dan bahagia bersama, itu sudah cukup.
.
END
.
.
.
A/N :
Bertemu lagi sama saya. Semoga ga bosen nemu fic akaki dari saya ;v
Yeah, saya masih cinta sama mereka.
.
Love,
Ren
