Disclaimer : Everything written in this blog is creation of my imagination. The characters belongs to their mangaka, but the plot belongs to me. Please DO NOT REDISTRIBUTE!

Title : Secret

Author : _kadzuki_ aka fate_aram

Rating : M

Pairing : AkaKuro

Genre : AU, Yaoi, Dark, Supranatural

Cast : Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya

Warning : Darah, pembunuhan, adegan seks yang eksplisit, and totally madness di chapter mendatang. Disarankan untuk mendengar lagu Secret dari Megurine Luka untuk hasil maksimal.

Summary : Langit musim panas dan senja di sore hari. Laut tak berujung dan api abadi. Kuroko Tetsuya dan Akashi Seijuurou. Dua entitas yang bertolak belakang. Takdir keduanya yang terjalin atas darah, cinta, dan kegilaan tanpa batas.

A/N : Mood lagi down + lagu Megurine Luka - Secret = pengen bikin novel genre dark. Sepanjang fic ini bakal ada potongan lirik Secret yang tidak beraturan. Well, itadakimasu.


.

[Prologue: An Endless Blue Sky on Cerulean Orbs]

.

.

Dia memandangi langit musim panas yang sewarna rambutnya, menikmati belaian angin yang mencuri masuk lewat celah jendela yang terbuka. Wajahnya datar, tidak menampakkan ekspresi apa pun. Namun bola matanya yang sejernih air laut musim panas bergerak awas, mengamati kondisi di luar sana dengan seksama. Meski keadaan tampak normal, ia tidak mau menurunkan dinding pertahanannya sedikit pun.

' Dia... Sekarang sedang apa, ya? '

Suara banyak kaki kursi yang bergesekan dengan lantai membuatnya tersentak. Ia menolehkan kepalanya, dan mendapati seluruh penghuni kelasnya membereskan buku mereka sama mengobrol. Ternyata tanpa ia sadari waktu berlalu begitu cepat, dan jam pelajaran sudah usai. Satu per satu teman-teman sekelasnya keluar, melewati bangku yang didudukinya begitu saja.

Siapa pun yang melihatnya pasti mengira bahwa dirinya adalah seorang anak lemah yang ditindas oleh teman-teman sekelasnya dan diabaikan begitu saja. Tapi kenyataannya bukanlah seperti itu. Keberadaannya sangatlah tipis, antara ada dan tiada. Jarang sekali ada orang yang berhasil menyadari keberadaannya pada kesempatan pertama. Bahkan dalam kesehariannya, jarang sekali orang yang sadar bahwa dia berada di sana bersama mereka.

Dirinya sama sekali tidak ambil pusing. Toh dia lebih senang karena sedikit yang menyadari keberadaannya. Lebih sedikit yang berhubungan dengan dirinya akan lebih baik. Dia tidak perlu repot-repot membuat kebohongan demi kebohongan. Dia tidak memerlukan ikatan dengan manusia lain. Yang ia butuhkan hanyalah ikatan spesialnya dengan orang itu. Cuma demi orang itu dan dia rela mempertaruhkan nyawanya, segalanya.

" Kurokocchi~ Ayo ke lapangan sama-sama-ssu~ "

Ia melirik ke arah pintu, dimana seorang pemuda berambut pirang melambaikan tangan ke arahnya dengan riang. Menghela nafas pelan, ia bangkit sambil meraih tas yang tergantung di sisi mejanya. Dengan ekspresi datar yang sama, ia menghampiri pemuda itu.

" Ayo, Kise-kun. "

.

.

Empat pemuda dengan warna rambut yang berbeda-beda tergeletak di tepi lapangan basket. Peluh bercucuran membasahi tubuh mereka, nafas memburu, keputusasaan untuk mendapatkan volume oksigen lebih banyak demi mempertahankan kesadaran. Di sudut lapangan basket, seorang pemuda berambut langit sedang muntah-muntah, tubuhnya bergetar hebat karena tidak mampu bertahan dari porsi latihan neraka. Sesosok pemuda berambut merah dengan mata heterokrom berdiri di tengah lapangan, mengawasi anggota timnya satu per satu.

" Tetsuya, jangan sampai besok kau muntah lagi. Ryouta, Daiki, berhentilah bercanda saat latihan atau aku akan menggandakan menu latihan kalian. Atsushi, berhenti makan jika latihan sudah dimulai. " ujarnya lantang. " Cukup sekian untuk hari ini. "

Pemuda berambut merah itu langsung berbalik tanpa melirik anggotanya yang masih tergeletak, kemudian berjalan menuju ruang ganti. Begitu sosoknya menghilang dari pandangan, semua yang tersisa di lapangan merayap dengan susah payah ke bangku pemain. Kuroko, yang akhirnya berhenti muntah, berjalan perlahan ke tempat teman-temannya berkumpul.

" Dasar raja neraka. " maki Aomine pelan, takut yang bersangkutan mendadak kembali. " Nggak berperikemanusiaan sekali, sih. Sudah tahu kalau Tetsu nggak akan sanggup, masih singgung soal muntah lagi. "

" Um, aku tidak apa, Aomine-kun. " tukas Kuroko sembari mengelap keringatnya. " Memang aku yang salah. "

" Tetsu! Kau ini terlalu baik! Jangan selalu positif thinking tentang raja neraka satu itu! "

" Sudahlah-ssu. Daripada memikirkan Akashicchi, bagaimana kalau habis ini kita mampir di Maji? " sahut Kise, mencoba memperbaiki mood teman-teman setimnya. " Ne? Kurokocchi ikut, kan? Aku traktir vanilla milkshake favoritmu-ssu. "

" Maaf, tapi aku harus segera pulang. Aku ada kep— "

" Ayolaah~ Kurokocchi kan jarang ikut-ssu! Tiap kali Kurokocchi ikut, pasti selalu saat Akashicchi ikut. Kurokocchi kan jadi tidak bisa rileks gara-gara ada Akashicchi-ssu. Makanya, mumpung Akashicchi kali ini tidak ada, Kurokocchi harus ikut-ssu. Ne? Ne? "

Kuroko menghela nafas putus asa. Tidak ada gunanya ia menolak kalau pemuda berambut pirang itu mulai berkicau. Kise akan terus memaksa dengan berbagai cara hingga dirinya memberikan jawaban yang diinginkannya. Meski enggan, akhirnya pemuda berambut langit itu mengangguk.

' Padahal aku ingin segera bertemu dengannya... '

.

~~~~~TBC~~~~~

.

.


Kadzchan End-Note :

Galau di kantor, dengerin lagu-lagu Gakupo sama Luka, kepengen nulis dark fic deh. Eniwei, gw lagi bingung mesti ngomong apalagi. Silakan dicerna.

RnR puh-leaasseee~