Yooo! Semua! Kini aku hadir dengan Fic Tsubasa... Mari kita ramaikan ANIME! YEAH!

Okelah... Kita mulai aja... JANGAN LUPA REVIEW YA! UNTUK PERBAIKAN SELANJUTNYA!

Maaf ya... Lemonnya di tengah cerita aja... ini masih chapter 1!


Siapa yang lebih kamu cintai? Aku atau bola! Hah?

rate : M

Romance


Hembusan angin laut yang menenangkan membuat seorang terbuai dalam kelembutannya. Suasana yang tenang, pemandangan indah, suara yang damai. Deburan ombak yang menghantam pantai. Kuat, tetapi tidak membahayakan. Malah memberikan kedamaian.

Ya… ombak itu… menyerupai orang itu. Dia sangat kuat… keras! Namun, kekuatannya tak dia gunakan untuk menakuti atau mencelakakan orang lain. Kekuatan itu dia gunakan untuk meraih mimpinya. Dan menyemangati yang lain untuk meraih mimpi masing-masing. Lembut, memberi kedamaian dan tidak lemah.

Oozora Tsubasa… Dialah orangnya. Orang yang kuat pantang menyerah untuk menggapai cita-citanya. Kecintaannya pada sepak bola sungguh sangat besar melebihi apapun. Tidak sebenarnya… Ada yang lebih penting dari bola. Lebih dia cintai dari bola. Kedua orangtuanya.

"Sanae! Kamu ngapain disitu? Ayo masuk! Paman bilang nanti kamu masuk angin!", seru Ishizaki.

"Iya, entar aku masuk… Kamu duluan saja…", jawab Sanae sambil kembali memandangi lautan.

'Tsubasa… disebrang lautan ini, aku yakin ada kau… Gapailah cita-citamu Tsubasa… Jangan pernah menyerah… Aku tahu, bagimu tak ada waktu memikirkanku… dan cintaku… Saat ini, kamu hanya memikirkan cita-citamu… Aku memang sedih saat tahu hal itu… Namun bagiku, aku akan lebih tersiksa bila melihatmu tak bisa gapai cita-citamu… Berjuanglah… Tsubasa…' batin Sanae. Dia pun berjalan menuju rumah Paman dan Bibinya. Menyusuri bibir pantai. Namun, dia berhenti sejenak memandang lautan yang kini terlukis indah bersamaan dengan tenggelamnya sang surya… Dengan beristirahatnya sang surya.

Merasa ingin mengiringi sang surya kembali ke peranakannya, Sanae pun duduk di bangku pantai. Mengambil Ipod nya. Lalu, mendengarkan lagu di dalamnya. (Maaf lagunya Indonesia… Lagu Jepangnya masih kurang ngerti…)

Aku cinta kamu
Tapi kamu tak cinta aku
Ku tak pernah tahu
Apa salahku
Hingga kamu tak suka aku
Tak mau aku

Aku rela oh aku rela
Bila aku hanya menjadi
Selir hatimu untuk selamanya
Hoo o aku rela aku rela

Mendengar lagu ini, aku jadi berpikiran konyol. Salahku adalah, aku bukanlah bola yang akan selalu menemani langkah Tsubasa kemanapun ia pergi, seperti halnya bolanya. Menemani kemanapun kakinya melangkah. Hah, tapi, biarlah... Aku rela kok... asalakan...Aku tetap dapat melihat tawa Tsubasa. Meski rasa ini harus aku korbankan. Tapi, apa salahnya? Toh ini juga demi kebahagiaan kami semua… batin Sanae. Senyumannya miris. Menatap nanar pasir dibawahnya.

Tuhan… Lindungilah Tsubasa… Dimanapun dia berada… Jagalah dia, bagaimanapun keadaannya. Berilah dia kemudahan untuk mengejar cita-citanya. Mudahkanlah jalannya. Ku ingin dia bahagia… walau dia bahagia bukan karenaku… Tapi, karena bolanya. Menurutku itu tak masalah… hahaha ... Tapi, aku mohon Tuhan... sadarkanlah ia... dan sampaikan padanya... bahwa aku mencintainya.. dan akan terus menunggunya... batinnya.

"Sanae! Ayo cepat...!", seru Ishizaki.

"Ya!", seru Sanae. Lalu, Sanae pun kembali ke rumah pamannya. Memasuki rumah Pamannya dan menemukan orang-orang yang telah menunggunya. Banyak sekali. "Haa... ka, kau...", sahut Sanae terkejut setelah dia edarkan pandangannya.

"Hai!", seru orang yang dilihat Sanae. Seketika raut wajah Sanae terkejut. Lalu, senyuman tersungging di wajahnya. "Tsubasa!", seru Sanae.

"Lama tidak berjumpa... Bagaimana keadaanmu?", tanya Sanae.

"Aku baik, bagaimana denganmu?", tanya Tsubasa.

"Tentu saja, seperti yang kamu lihat... aku baik-baik saja...", jawab Sanae. Setelah berkata seperti itu, keduanya terdiam. Tak ada kata yang dapat dikeluarkan keduanya. Membuat suasana dalam ruangan itu hening seketika. Padahal, disana terdapat banyak orang. Ishizaki, Misaki, Misugi, Taki, Wakabayashi, Kojiro Hyuga, Wakashimazu, Morisaki, Soda, Shingo, Yayoi. Semuanya hening.

"Mau sampai kapan kalian diam? Huah! Membosankan!", seru Ishizaki memecah kehingan. Semuanya pun mendelik ke arah Ishizaki. "Apa? Ma, maaf...", sahut Ishizaki. Semuanya pun tertawa.

Malam itu, semuanya menghabiskan waktu itu dengan canda dan tawa. Ishizaki yang selalu membuat semuanya tertawa. Dan semuanya pun memberikan respon berupa tawa. Semua yang berada disana merasakan perasaan bahagia. Semuanya. Lalu, setelah itu mereka pun makan malam bersama. Masih dengan obrolan yang tak jauh dari sepak bola. Ya... hampir semua yang berada di rumah itu adalah pecinta sepak bola.

"Baiklah semuanya! Ayo kita main kembang api! Aku bawa banyak! Lihat!", seru Ishizaki dan paman. Semuanya pun menghambur mengambil kembang api di tangan Ishizaki dan Paman. Mereka semua segera menyalakannya di luar. Sungguh kekanakan memang. Tapi, apa salahnya?

Kojiro memandang kembang api yang dipegangnya dengan tatapan rindu akan adiknya. Misugi dan Yayoi bermain berdua. Ishizaki berlarian sambil mengacung-acungkan kembang apinya. Genzo Wakabayashi hanya memandangi kembang api yang dipegangnya dengan tatapannya yang biasa saja. Misaki bermain kembang api bersama Shingo dan yang lainnya. Tsubasa pun memegang kembang apinya. Menatapnya, dan tersenyum melihatnya.

"Tsubasa... Bagaimana dengan latihan yang kamu jalankan di luar negri?", Tanya Sanae.

"Hmm.. yah... begitulah... aku sangat menyukainya.. benar-benar menyukainya... Aku jadi dapat trik baru dalam bermain sepak bola... asyik sekali! Benar-benar mengasyikan!", seru Tsubasa dengan ceria. "Bagaimana denganmu di Jepang?", Tanya Tsubasa balik.

"Aku... yah seperti biasa, aku menjalankan hari-hariku yang mungkin sedikit membosankan... hehehe...", jawab Sanae.

"Kenapa membosankan? Apa sebegitu membosankannya?", Tanya Tsubasa.

'Ya... membosankan tanpamu...' batin Sanae.

"Mungkin? Sepertinya kamu sangat senang ya... di Barcelona...", sahut Sanae.

"Seperti itulah... semakin lama... aku semakin mengagumi sepak bola... semakin mencintai sepak bola... Seperti tak ada kata lain di pikiranku selain sepak bola... Aku benar-benar jatuh cinta pada sepak bola...", jawab Tsubasa. Sanae menatap Tsubasa... hatinya mencelos. Dia mencintai sepak bola... Apa bila aku memasuki kehidupannya... Apa dia akan teralih dari sepak bola? Jika seperti itu, apa itu artinya... Dia akan kehilangan cintanya pada sepak bola? Dan akan mencintaiku lebih dari apapun? Hah... Tidak... tidak boleh... Bila seperti itu, Tsubasa tak dapat menggapai impiannya. Impian yang sangat diimpakannya sejak dia masih kecil. Aku tahu itu... Memang sulit ku untuk menerimanya. Namun, melihat wajah Tsubasa dan senyum yang menghiasinya saat memasukan gol... benar... itu sudah sangat membuatku bahagia... Aku akan tetap mendukungmu... batin Sanae.

"Kamu kenapa Sanae?", Tanya Tsubasa heran.

"Tidak apa... Kalau begitu... Kamu harus bisa menjadi yang terbaik ya?", sahut Sanae.

"Tentu! Hehehe... Ah... kembang apinya sudah padam... Kita kembali ke rumah paman saja ya...", usul Tsubasa.

"Ya...", jawab Sanae. Mereka pun pergi dari tempat itu. Dari tempat yang sunyi itu. Yang jauh dari teman-temannya yang lain. Dan tanpa mereka sadari... ada beberapa orang yang mengintip kejadian tadi.

"Tsubasa itu... benar-benar mencintai sepak bola ya... Hati dan cintanya hanya untuk sepak bola... pantas saja, dia menjadi komandan lapangan terbaik... hmm..", sahut Wakabayashi.

"Huaaahhh! Tsubasa itu tak mengerti perasaan Sanae... Harusnya dia sedikit peka terhadap wanita, padahal tadi suasananya mendukung! Bodoh!", seru Ishizaki.

"Jangan terlalu keras Ishizaki!", seru Bibi.

"Kau benar, Wakabayashi... Tsubasa sangat mencintai sepak bola... Aku juga akan menjadi sepertinya... Dan akan menjadi stryker handal! Tapi, aku juga mencintai keluargaku... ", sahut Hyuga.

"Tsubasa... Aku pernah bertetangga dengannya... Dia benar-benar cinta sepak bola... bahkan bola juga lah yang menjadi teman Tsubasa sejak dia masih sangat kecil... dan Bola juga lah yang menyelamatkannya...", sahut Yayoi.

"Huh! Andai saja Tsubasa memahami perasaan Sanae yang selalu mendukungnya! Seperti Misugi yang memahami Yayoi... benar-benar Tsubasa itu! Padahal kita udah menyiapkan segalanya untuk mereka...", geram Ishizaki. Bagaimana Ishizaki tidak kesal? Ishizaki tahu betapa Sanae sangat mencintai Tsubasa. Rela menunggunya bahkan sampai sekarang. Walaupun cintanya tak terbalas. Saat ini pun, Ishizaki rela susah payah memanggil teman-temannya... Semua yang dekat dengan Tsubasa. Dan merencanakan saat ini untuk Tsubasa dan Sanae. Seperti saat ini, dia tadi pura-pura mengajak Tsubasa ke tempat sepi dan jauh dari rumah. Sanae pun dibawa oleh Yayoi ke tempat itu. Dan mereka berdua berpura-pura memanggil teman-temannya untuk datang. Padahal keadaan itu diciptakan oleh Ishizaki dan Yayoi untuk mereka berdua. Namun, Tsubasa saja yang tidak peka. Membuat Ishizaki sangat geram.

Sanae dan Tsubasa kini sedang berjalan mengitari pantai. Mereka akan kembali ke rumah paman. Tsubasa berjalan sambil memainkan bola yang tadi dibawanya. Sanae hanya memandangi indahnya lautan dan pemandangan yang walau gelap, tapi, angin yang sejuk berhembus membuatnya nyaman. Sambil sesekali menatap Tsubasa yang memainkan bolanya dan bersemu merah sambil terus menatapnya. Senyum di wajah Sanae tersungging. Betapa ia sangat mencintai pria disampingnya ini.

"Sanae...", sahut Tsubasa di tengah keheningan malam itu.

"Apa?", Tanya Sanae lembut.

"Erm... Kau tahu? Besok lusa... aku akan bergabung dengan tim Jepang untuk melawan tim Brazil... Maksudku... akan ada pertandingan persahabatan... Kau mau kan mendukungku seperti sebelumnya?", Tanya Tsubasa.

"Tentu... aku akan selalu mendukungmu! Kau ini seperti baru mengenal aku saja! Bukankah aku yang selalu mendukungmu semenjak kamu baru pertama kali menginjak dunia per-sepak bolaan?", sahut Sanae dengan yakin. Tsubasa pun tersenyum senang dan mengangguk. Membuat Sanae blushing.

"Kau benar... Hanya saja... sikapmu menjadi aneh... Tadi saat kita sedang memainkan kembang api, kamu seperti selalu melamun... dan marah padaku... senyummu juga seperti dipaksakan... Aku kira kamu benar-benar marah padaku?", ujar Tsubasa. Sanae menatap Tsubasa yang kini kembali memainkan bolanya. Dengan berbagai teknik. Bola itu dimanja Tsubasa.

"Tidak kok... Aku... Aku mungkin hanya rindu berbicara denganmu...", jawab Sanae membuat semburat merah muncul di wajahnya.

"Begitukah? Aku juga rindu kok... sungguh!", seru Tsubasa yang kini telah berhenti memainkan bolanya. Keduanya kini diam dan blushing. Lalu, mereka berhenti berjalan. Dan kini menikmati setiap hembusan angin laut yang menerpa tubuh mereka. Suara deburan ombak yang menenangkan hati mereka. Sanae tak tahu perasaan Tsubasa. Sedangkan yang Tsubasa tahu, Sanae sangat menyayanginya. Layaknya seorang sahabat. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Paman. Masih dengan bola yang dengan manisnya dimainkan oleh Tsubasa.

'Tsubasa.. Nai watashi no daisuki na desu ka? (Tak adakah cinta untukku?) Nani ga sakkā no anata no ai dake? (Apa cintamu hanya untuk sepak bola?)' batin Sanae.

Beberapa hari kemudian, Tsubasa dan kesebelasan Nasional Jepang pun melawan Brazil. Sorak sorai penonton menggema di stadion Yokohama. Beberapa dari mereka mewarnai pipi mereka dengan gambar bendera Jepang. Beberapa spanduk untuk menyemangati Jepan pun terpampang jelas dan besar. Sanae duduk di kursi pemain cadangan bersama pelatih Kira. Bersama pemain cadangan lainnya.

Tidak lama kemudian, Kedua kesebelasan memasuki lapangan. Sorakan penonton makin menggema. Nyanyian lagu pun mulai memekakan telinga. Kini kedua kesebelasan saling berhadapan. Koin dilempar untuk menentukan penerima bola pertama. Kapten kesebelasan Brazil adalah Santana. Sedang Jepang, sudah pasti... Tsubasa Oozora.

Kini, semua pemain telah mengatur posisi masing-masing. Tsubasa sebagai gelandang tengah. Hyuga penyerang. Misaki gelandang kanan. Wakabayashi penjaga gawang. Shingo sebagai gelandang kiri. Dan yang lainnya menempati posisi masing-masing. Tidaklah mudah menghadapi lawan kuat seperti Brazil yang telah memenangkan empat kali piala dunia berturut-turut. Apalagi tim mereka terdiri dari banyak senior yang sudah berpengalaman. Namun, semangat api Jepang membuat semua pemainnya tidak mudah menyerah. Semuanya bersemangat. Peluit pun dibunyikan. Pertanda permainan dimulai.

Tim Jepang yang pertama ambil bagian didominasi oleh Tsubasa dan Misaki. Keduanya melakukan operan cantik walau sering terhambat oleh beberapa pemain Brazil. Menuju gawang Brazil dengan mulus. Saat Tsubasa akan melakukan tendangan ke gawang, Santana berhasil menghalaunya dan segera berlari menuju gawang Jepang. Halangan dan rintangan banyak didapat oleh Santana. Namun, karena dia adalah 'Dewa Sepakbola', maka dia dengan mudah melewati semuanya. Bahkan Hyuga dan Shingo pun sukses dilewatinya. Kini, dia berhadapan satu lawan satu dengan Wakabayashi. Tendangan siap diluncurkan, namun, terhalang oleh perut Ishizaki yang tiba-tiba berada di depannya. Bola pun menggelinding ke arah Wakabayashi dan Wakabayashi mengambilnya dengan sigap lalu melemparkannya ke arah Tsubasa.

"Tsubasa!", seru Wakabayashi.

"Terimakasih Wakabayashi!", seru Tsubasa.

Tsubasa pun berlari menuju gawang. Pemain Brazil yang tangguh menyerang ke arahnya. Dengan sigap, dia langsung mengopernya ke arah Misaki. Namun, Misaki dijaga ketat. Dia melihat Shingo di belakangnya. Akhirnya, Tsubasa memutuskan untuk mengoper ke arah Shingo.

Shingo berlari cepat tak tentu arah. Namun, satu tujuannya. Ke arah gawang. Layaknya kereta express, dia melaju kencang tak terhenti sampai akhirnya dia terkepung. Bola direbut kembali tim Brazil yang terus menggiringnya sampai tengah lapangan. Disana ada Hyuga yang dengan sigap merebut bola dan menggiringnya. Dia mengoper pada Misaki. Misaki melaju dan melakukan operan panjang pada Tsubasa yang ada di dekat gawang. Tsubasa menerima operan panjang Misaki dan melakukan tendangan halilintarnya. Bola melesat ke gawang, namun berhasil ditangkis penjaga gawang. Bola pun bebas dan diambil Shingo yang menendang kembali bola itu ke gawang. Bola tersebut kembali ditangkis. Hyuga dating melesat dan segera mengambil ancang-ancang untuk memasukan bola ke gawang. Namun, hal tersebut tak dilakukannya. Dia melihat pemain Brazil datang dan menerjang ke arahnya. Hyuga pun mengubah arah tendangan bolanya menjadi operan. Operan Hyuga diterima Misaki. Misaki pun berusaha menendang. Sayang, tendangannya tertambat oleh Santana yang berusaha menahan bola yang ditendang Misaki. Bola itu pun lepas dari kaki mereka dan segera diambil Shingo. Shingo melakukan operan pada Tsubasa yang bebas. Tsubasa menerima umpan itu dan melakukan tendangan pelanginya. Bola itu pun menuju arah gawang dan masuk ke gawang. Kiper yang sedari tadi aktif itu, kini hanya bias terdiam. Sorak bahagia penonton pun terdengar menggema. Mengelu-elukan nama Jepang dan Tsubasa. Menjadikan pedang tajam yang mencabik-cabik hati pemain Brazil. Pertandingan pun dilanjutkan. Kedudukan 1-0 untuk Jepang.

Permainan semakin lama semakin memanas. Kombinasi antara Hyuga, Misaki, Shingo dan Tsubasa kini semakin terlihat bagus. Wakabayashi yang pada babak kedua berusaha menahan tendangan dari pemain Brazil semakin bersemangat. Semua pemain Jepang bermain dengan kompak. Sampai pada akhirnya, di menit ke 30 babak kedua, Tsubasa mendapatkan hantaman keras di pelipisnya oleh salah satu pemain belakang Brazil. Dan terjerembab ke tanah berumput setelah mendapat hantaman lain pada kakinya saat salah seorang pemain Brazil akan merebut bola di kaki Tsubasa dan malah mengenai kaki Tsubasa. Kaki Tsubasa mengalami lebam. Sulit untuk digerakan. Kepalanya pusing. Dia tersungkur di tanah. Pertandingan dihentikan. Wasit mengeluarkan kartu kuning pada pemain Brazil yang menendang kaki Tsubasa. Dan kartu merah pada pemain belakang Brazil yang telah menghantam pelipis Tsubasa. Tsubasa pun akhirnya dibawa ke ruang perawatan medis. Karena dirinya kini pingsan.

"Baiklah... kau harus siap-siap Misugi! Hanya 15 menit lagi... berusahalah!", seru pelatih Kira. Misugi pun menggantikan Tsubasa.

"Baik!", seru Misugi yang langsung memasuki lapangan.


Hwaa! Kok gaje ya? Tapi, aku bener-bener berusaha gak OOC!

Okay... sesuai janji... REVIEW YA! PLEASE...


Di chapter selanjutnya ...

"Aku mencintaimu... apa kamu tidak menyadarinya? Namun, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya... Aku pikir... Sekaranglah saatnya..."

Siapakah yang mengatakan itu? Apakah Sanae? Tsubasa? Yayoi?

IKUTI TERUS KISAHNYA!