vocaloid (c) yamaha corporation, etc.
no commercial profit gained.
.
-00-
.
"Aku pengen jadi putri tidur," kata Gumiya suatu hari. Di belakangnya, demonstran masih riuh menjerit-jerit.
"Cut!" Kaito menginterupsi, "kalian yang peran demonstran ini kurang menjiwai."
Yuuma yang berperan sebagai pedagang asongan menatap si sutradara, mengerutkan kening. Dia melempar tatapan dongkol pada Gumiya di ujung terjauh stage dan berteriak, "Lu salah dialog, Dodol!"
"Eh, eh—eh?" Gumiya kicep. Akibat terlalu banyak peran, Gumiya jadi lupa ia berada di panggung yang mana. Maklum, ini sudah peran ketiga yang dia dapatkan dalam satu bulan terakhir. Dan di salah satu peran yang ia dapatkan sebenarnya memang menjadi manusia setengah banci.
Para pemeran demonstran pun kesal—Gumiya yang salah dialog, kenapa Kaito jadi marah pada mereka? Memang, sih, Kaito dan Gumiya itu kakak-adik, tapi dalam pekerjaan, Kaito seharusnya profesional!
"Ehem," Kaito berdeham. "Gimana kalau dialognya ganti jadi gitu aja?"
Yuuma membanting A*ua dagangannya dan mengumpat kesal, "Eh, Kutu Kupret, ganti sekalian pemeran utamanya dah!"
Gumiya menoleh seketika, mukanya beringas, "Eh, Kutu Loncat, jangan panggil adik gue kutu kupret!"
Ban mobil bekas bengkel samping rumahnya, yang dari tadi digunakan buat salah satu properti para demonstran, hendak Yuuma lemparkan mentah-mentah—tapi tidak jadi karena dia bingung mau melemparkannya ke arah Kaito atau Gumiya. Kemudian Yuuma mendapati Kaito memandangnya, lantas berkata, "Kamu mau jadi tokoh utama, Yuuma?"
Yuuma menanggapi pertanyaan itu dengan tatapan heran. Tanpa dikendalikan, kepalanya menggeleng sendiri—bego, kesempatan woi!
"Mending gue aja deh yang jadi pemeran utama, Yuuma kelamaan," Rin menyambar kesempatan.
"Mending Dell aja dah."
Sontak, Yuuma menatap jengkel pada sumber suara—Momo. Perempuan itu duduk di samping Kaito, santai mengipas-ngipasi diri dengan bundelan naskah.
Merasa diperhatikan sebegitu instensnya oleh Yuuma, Momo balas menatap. "Kenapa liat-liat? Naksir gue?"
Bulu kuduk Yuuma merinding seketika. Yang benar saja Momo itu, tubuh sependek tuyul tapi hawanya bisa semengintimidasi dosen ter-killer sejagat fakultas.
"Udahlah, Guys," tiba-tiba Dell buka suara setelah merasa lelah karena namanya ikut dibawa-bawa. "Aku gamau main syuting-syutingan ini lagi."
"Tunggu, Dell! Gue setuju sama Momo, elu yang paling cocok main peran ini."
"Astaga, Kai, kuharap kamu, dan sebenarnya kalian semua, masih cukup waras buat sadar aku satu-satunya kameramen yang kalian punya!"
"Sadarlah kalian, wahai para mahasiswa gabut."
Serentak semua mahasiswa yang ada di sana terperanjat mendengar suara dosen killer yang datang entah dari mana. Samar-samar dari ujung mata, Kaito dapat melihat siluet Yang Mulia Bapak Dosen Kiyoteru berdiri di ambang pintu.
"Kok ga ada yang ingetin saya kalau sekarang kalian ada kelas?"
"... emang ada?" bisik Gumiya pada orang random di sebelahnya. Si Orang Random balas melempar tatapan dongkol setengah ingin menghajar.
Ternyata yang Gumiya tanyai ini adalah Yang Mulia Bapak Dosen Kiyoteru sendiri.
"Semester ini nilaimu auto C."
Ucapan Yang Mulia Bapak Dosen Kiyoteru begitu kalem, begitu tenang dan santai seolah sedang memilih kaleng sarden dari rak supermarket, tapi efek yang dihasilkan luar biasa.
Gumiya betulan merasa ingin jadi putri tidur saja.
.
-00-
.
a/n: another fik estafet dengan jatah satu orang satu kalimat, jadinya gjls. tunggu estafet kami yang selanjutnya!
salam hangat,
tytyry club.
