"Karena orang-orang yang kusayangi adalah mereka yang ingin kauhabisi dengan tanganmu sendiri"
.
.
.
Cast : Xi Luhan,Oh Sehun, Kim JongIn
Genre : Romance—hurt—drama
Rate : T
Author : benbendobi
.
.
.
Who am I to You?
"H-hei!"
Namja berparas cntik itu berlari-lari kecil sambil menarik ujung jaket namja yang sedang berjalan di depannya. Namja tampan itu bisa merasakan ujung jaketnya ditarik,namun dia tetap berjalan saja.
"Kim...Kim Jongin!" panggil namja itu setengah berteriak setengah mencicit. Namun sontak membuat orang yang dipanggil menoleh dan langsung mendekatkan wajahnya ke wajah namja bermata rusa itu. Membuat matanya sontak melebar.
"Waeyo chagiya~?" Namja yang dipanggil chagi itu sudah blushing karena mendengar suara penuh nada manja itu.
Setelah sukses mengendalikan dirinya akhirnya namja manis itu pun bersuara.
"...gomawo."
"Hm, mwonde?(untuk apa)" tanya namja itu masih dengan posenya namun kali ini senyum nakalnya sudah berganti menjadi senyum kecil namun masih mampu membuat jantung namja mungil di depannya menggila. Yap,Xi Luhan,namja yang notabenenya manly namun bisa langsung bersemu-semu pada sebuah sosok Kim Jongin dan bisa langsung berubah 1800 dari sifat aslinya. Kim Jongin,orang-orang memanggilnya Kai,hanya Luhan satu-satunya orang selain ibu dan appanya yang memanggilnya Jongin.
"Untuk hari ini. Karena mau pergi bersamaku ke melihat festival itu,padahal kau kan benci tempat ramai," balas namja itu sambil tersenyum lebar. Terlihat jelas namja itu begitu bahagia. Namja manis itu mengira Jongin akan langsung menciumnya mengingat posisi mereka yang sudah sedekat ini,tapi kenyataannya namja berkulit tan itu malah membalikkan badannya dan terdiam.
"Jangan berterimakasih padaku chagi." Luhan memandangi punggung namja di hadapannya,entah dia salah lihat atau tidak tapi sepertinya wajah Jongin berubah muram saat mengatakannya.
"Kajja." Kai menarik lengan namja yang lebih mungil darinya,mengalihkan pandangan matanya dari bangunan tua yang menjulang di tengah kegelapan malam. Bangunan tua yang sudah tak terurus dan satu-satunya penerangan yang ada disana hanyalah sebuah lampu neon yang berkedip-kedip, membuat tempat itu semakin mengerikan saja bagi Luhan,tapi tidak bagi Jongin. Namja itu kelihatannya tenang-tenang saja dan malah menariknya mendekati bangunan itu.
"Jongin-ah..." terdengar jelas namja itu sama sekali tidak ingin melangkahkan kakinya mendekat ke bangunan itu.
"Gwenchana chagi. Sejak kapan namjachinguku jadi penakut seperti ini,hm?" goda Kai yang tengah memamerkan senyum jahil andalannya,membuat namja itu kesal mendengarnya. Luhan, tidak suka dikatai penakut.
Sontak namja itu membalas perkataan namja berkulit tan itu,"E-enak saja! Siapa bilang aku takut,aku tidak takut! Hanya saja...yah tempat ini...tempat ini jelek! Tempat ini... tidak romantis!" namja itu hanya bisa merutuki mulutnya yang seenaknya mengeluarkan alasan konyol tak masuk akal.
Hening.
Oh sial! Jangan bilang namja di depannya tidak mempercayai alasannya.
Tapi kenyataannya memang benar kok,tempat ini memang jelek dan jauh dari kata err... romantis.
"Kau kan tidak suka tempat romantis."
Bugh
Luhan bagai mendapat pukulan di pipi mendengar Jongin mengungkap fakta tentang dirinya. Namja itu langsung gelagapan mencari alasan lain,apapun yang dapat membuat mereka meninggalkan tempat ini secepatnya.
"Sudahlah,ayo kita pergi saja Jongin-ah,"pinta namja itu akhirnya karena tidak menemukan alasan yang tepat. Namun,Kai hanya terdiam memandangi namja itu tanpa ekspresi apa-apa. Pegangan tangan mereka entah sejak kapan sudah terlepas. Sementara Luhan,jika saja suasananya tidak seperti ini pasti dia sudah bersemu-semu mendapati Jongin menatapnya seperti itu. Tapi kali ini namja itu agak risih ditatap seperti itu. Entahlah,hanya saja Jongin terlihat agak berbeda.
Tiba-tiba sekumpulan orang berbaju hitam keluar dari bangunan itu. Merasa mereka bukan orang-orang yang bisa diajak bicara baik-baik, Luhan segera menarik namjachingunya untuk pergi dari situ. Tapi orang yang ditarik hanya mematung tak bergerak.
"Jongin-ah! Wae irae? Ayo kita pergi saja dari sini," bisik namja itu sambil menarik-narik namja itu. Namun seolah tak mendengar Kai hanya diam saja di tempatnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Jonginnya? Luhan merasa ada yang aneh,namun dia menepis perasaan itu dan kembali menarik-narik Jongin.
KLONTANG!
Terdengar suara kaleng ditendang dengan keras diikuti langkah kaki sesosok namja. Namja dengan balutan kemeja hitam dan celana senada yang tidak hanya meneguhkan kesan misterius dalam dirinya tapi juga sisi kejamnya. Namja bersurai blonde itu mengeluarkan suaranya yang bernada dingin dan tajam,"Wae? Kenapa kalian diam saja sekarang? Kenapa kalian tidak melanjutkan pembicaraan kalian yang BEGITU BERISIK HAH!". Semua yang ada di tempat itu bergidik setelah mendengar bentakannya yang seakan mengubah atmosfer sekitar tempat itu menjadi lebih dingin.
Menyeramkan,pikir Luhan sambil sesekali melirik Kai yang daritadi hanya berdiri di tempat dan bernapas.
"Kai..." Luhan membelalakan mata terkejut orang yang baru saja membentak itu memanggil nama namjachingunya. Sementara yang dipanggil hanya menolehkan sedikit kepalanya.
"Kau mengenal orang itu?" bisik Luhan tapi masih cukup keras untuk didengar semua yang berada di situ. Tersirat kebingungan dan rasa khawatir dari suaranya. Yang ditanya hanya diam. "Jongin..." Luhan mengguncang pelan lengan namja itu,menuntut penjelasan.
"Jangan diam saja,jangan sampai kau menyesal karena tidak sempat mengucapkan kata terakhir sebelum aku mengambilnya."
Bagai kena sihir Kai langsung menoleh dan menatap tajam orang itu dan meremas tangan namja di sebelahnya.
"Satu minggu lagi. Beri aku satu minggu lagi maka aku akan lunasi semuanya."
Namja itu hanya memiringkan kepalanya tanpa mengatakan sesuatu. Kemudian orang-orang berpakaian serba hitam itu menahan kedua tangan Luhan,begitu juga dengan Kai yang kini memberontak.
"J..Jongin-ah!" panggil Luhan saat kedua orang bertubuh raksasa menahan kedua tangannya.
"Lepaskan dia! Kubilang aku akan melunasimu brengsek!" teriak Kai mulai tersulut emosi.
BUGH
"Jongin!" pekik Luhan saat melihat seorang dari mereka memukul perut Kai dan menyeretnya ke dalam. Tak lama kemudian terdengar suara pukulan saling beradu. Luhan menatap ruangan itu dengan tatapan khawatir sambil memikirkan siapa yang sedang menghajar siapa atau siapa yang dihajar siapa. Tak lama kemudian pintu karatan itu terbuka dan salah satu salah seorang dari mereka mengangkat tangannya,mengisyaratkan agar membawa Luhan masuk.
Namja berambut blonde itu membalikkan badannya dan berjalan mengambil benda sambil menyeka darah di sudut yang memar dan sedikit kebiruan juga goresan kecil yang terus meneteskan cairan merah menandakan hasil perkelahian mereka. Namja itu terbatuk kemudian meludahkan darahnya ke sembarang arah yang bahkan hampir mengenai sepatu salah satu anak buahnya. Luhan baru saja akan menghela napas lega tepat saat melihat orang-orang berpakaian hitam itu menyeret seorang namja yang menatap kosong dengan wajah yang dipenuhi luka. Luhan langsung membelalakkan matanya begitu mengenali siapa orang malang yang baru saja dihajar habis-habisan itu. Jongin. Bahkan luka namja yang tadi masih belum ada apa-apanya dibanding luka pada Kai saat ini.
"Jongin-ah!"
Namja itu membelalakkan matanya lebih lebar lagi saat melihat si namja berambut blonde itu berjalan dengan santainya ke arah Kai dengan sebatang besi di tangannya Saking lebarnya sampai kau mungkin mengira bola matanya bisa meloncat keluar dari rongganya kapan saja.
Mereka terlihat bicara sebentar kemudian Kai mendongakkan kepalanya dan menatap tajam namja yang sedang berdiri itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Luhan belum pernah melihat Jongin yang seperti itu.
Kai langsung melepaskan pegangan kedua orang yang memegangnya dan dengan napas berat dia berjalan sempoyongan menghampiri namja itu. Air mata menggenang di pelupuk mata namja itu saat melihat Jongin yang penuh luka kini berdiri di depannya dengan pandangan kosong. Luhan mengulurkan tangannya untuk menghapus darah yang mengalir di pelipis namja itu,namun langsung dihentikan oleh orang yang terluka parah itu. Luhan menatapnya tak mengerti.
Namja yang sudah lemah itu pun terdiam sebentar sebelum melanjutkan .
"Mianhae tapi, kau ikutlah dengan mereka."
