The Ending
.
Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Adventure, Suspense, Romance
Rated : T (teen)
Warning!
Semi-Canon
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
Bahasa yg mungkin masih jauh dari kategori bagus(?), dan berbagai kekurangan lainnya.
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
Harry Potter © J.K Rowling
The Ending © Ms. Loony Lovegood
.
.
Pria itu berdiri mematung di tempatnya. Tak banyak yang bisa ia lakukan. Wajahnya yang sedari dulu pucat, kini bertambah pucat. Lingkaran hitam di matanya pun sangat terlihat jelas, terbingkai menggantung di pelupuk atensinya. Jujur, ia merasa sangat kacau dan bingung. Di satu sisi, ia tak ingin orang-orang curiga terhadapnya. Tetapi di sisi terpenting di dalam hatinya yang lain tentu saja adalah keberadaan dan keadaan wanita itu sekarang. Yah, wanita berambut semak yang kini berada di Manornya.
"Minggir, jauhi dia!" Terdengar suara Ron yang berteriak nyaring ketika melihat Hermione didekati oleh salah satu anggota Pelahap Maut. Detik berikutnya terdengar sebuah suara lain lagi—yang tak diragukan lagi bahwa itu adalah suara buku-buku jari menghantam daging. Ron menggerung kesakitan dan Hermione memekik di tempatnya, merasa tak tega melihat sahabat rambut merahnya diperlakukan kasar seperti itu. Bagaimanapun itu semua karena Ron berusaha untuk membelanya.
"Kumohon, jangan! Tinggalkan dia sendiri, jangan sakiti dia!" Pekik Hermione memenuhi ruangan Malfoy Manor, semakin membawa aura suram yang seolah-olah mengelilingi tiap-tiap sisi dan sudut-sudut ruangan bangunan megah itu.
"Kekasihmu akan menjadi jauh lebih buruk dari ini apabila dia ada di daftarku," cicit sebuah suara parau mengerikan yang terdengar begitu familiar. Draco merasa perutnya berjumpalitan, mengapa bisa orang itu menyangka bahwa Hermione adalah kekasih Ron Weasley?
'Cih! Jelas-jelas Hermione adalah milikku. Aku tak akan pernah rela melepasnya demi si Weaselbee keparat itu!' Draco membatin geram.
"Gadis yang lezat," ucap pria itu lagi sembari mengelus leher jenjang Hermione dengan pandangan yang berkilat-kilat. Draco semakin merasa ingin menonjok pria kurang ajar tersebut, tapi sekuat tenaga ia mencoba untuk meredam rasa kesal itu demi menyamarkan tanda-tanda betrayal yang sepertinya sudah akan ditembusnya.
"Aku akan menikmati kelembutan kulitnya," Lagi-lagi pria itu berkata sembari menyentuh wajah cantik Hermione dengan kuku-kukunya yang tajam dan panjang, membuat Hermione bergidik. Tapi apa boleh buat? Kedua tangannya diikat ke belakang, ia sama sekali tak bisa menghindari setiap perlakuan yang didapatnya dari pria sialan itu.
Meneguk ludah, Hermione memejamkan matanya—berharap ada sedikit keajaiban yang bisa membuatnya terlepas dari sini. Sementara itu goresan-goresan akibat kuku panjang pria tadi sudah meninggalkan jejak berdarah di sekitaran pipi mulusnya.
Draco menggeram rendah di tempatnya, sungguh ia sudah tak tahan menyaksikan Hermione tersiksa seperti itu. Perutnya serasa jungkir balik dalam waktu yang bersamaan. Dia tahu dan kenal siapa pria kurang ajar yang berani-beraninya menyentuhkan tangan kotornya pada gadis pujaan hatinya itu. Yah, pria brengsek itu adalah Fenrir Greyback, manusia serigala yang kini diizinkan memakai jubah Pelahap Maut sebagai bayaran atas keikutsertaannya mengabdi pada Lord Voldemort. Draco sudah akan melangkah ke arah mereka ketika tetiba terdengar ujaran sebuah suara dingin wanita.
"Apa ini?" Narcissa Malfoy tiba-tiba muncul dan ikut bergabung dalam ruangan itu. Draco dapat merasakan degup jantungnya yang memompa lebih kencang dari sebelumnya.
"Kami datang kesini untuk bertemu dengan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut!" Teriak Greyback.
"Siapa kau?" Narcissa menyipitkan matanya. Greyback mendengus tidak sabar.
"Kau kenal aku!" Bentak Greyback dengan nada suara kejengkelan yang sangat kentara. "Aku Fenrir Greyback! Kau tahu? Kami menangkap Potter!" Greyback menyeret Harry, Hermione, dan Ron agar menghadap cahaya.
"Aku tahu dia bengkak, Ma'm. Tapi percayalah ini benar-benar Potter! Kalau anda tidak percaya, lihatlah gadis ini. Gadis darah lumpur yang diketahui bepergian dengan Harry Potter, Ma'am," jelas Scabior meyakinkan. Narcissa mencoba untuk menelitinya dengan cermat. Sementara itu, Draco merasa peluhnya membanjiri sekujur tubuhnya. Bagaimanapun, jauh di relung hatinya—untuk kali ini saja rasanya ia ingin sekali memihak pada Harry Potter dan kemudian bergabung dan berjuang bersama dengan gadis yang ia cintai—Hermione Granger—dalam jalan yang segaris.
"Bawa mereka masuk," putus Narcissa masih dengan suara datar yang dingin, sedingin atmosfir dalam ruangan megah itu. Harry, Hermione, dan Ron segera dibawa menuju ruangan yang lain lagi. Mereka didorong dan ditendang menaiki tangga batu lebar memasuki aula yang dindingnya penuh lukisan. Draco tak tinggal diam, ia berjalan mengikuti ibunya. Jujur, ingin sekali rasanya ia memukul hidung tengik si Greyback itu saking kesalnya ketika melihat ia menendang Hermione dengan kasar. Giginya bergemulutuk menahan amarah. Namun sekali lagi, ia mencoba untuk mengatur emosinya. Ia kembali berjalan dalam diam tanpa ekspresi.
Beberapa menit berikutnya, akhirnya mereka sampai di sebuah ruang tamu. Ruang tamu tersebut terlihat menyilaukan setelah kegelapan yang memenuhi ruangan sebelumnya. Hermione mengamat-amati ruangan itu. Ia melihat sebuah tempat lilin kristal tergantung di langit-langit, dan lebih banyak lagi lukisan yang tergantung di dinding berwarna ungu gelap. Namun kegiatan pengamatannya terhenti kendati sebuah suara dingin Narcissa kembali menarik rotasi pusat konsentrasinya.
"Kalau memang benar dia adalah Harry Potter, sudah pastilah anakku, Draco akan tahu. Draco kemari," panggil Narcissa berbalik ke arah Draco. Draco sempat terkejut ketika namanya turut disebut, wajah pucatnya tersamarkan di bawah rambut pirang keperakannya. Namun seperti biasa, sedetik kemudian wajahnya kembali menampilkan ekspresi datar. Sosok langsing yang lebih tinggi dari sebelumnya itu berjalan pelan menuju Harry Potter dan melewati Hermione. Tak ayal ia mengerling sebentar ke arah gadis bermata hazel itu yang menatapnya penuh kerinduan. Jantungnya berdenyar, ingin rasanya ia berhenti saat itu juga dan menghambur ke dalam pelukan Hermione yang hangat. Namun sekali lagi, ia tak mungkin melakukan hal itu saat ini. Dengan langkah berat ia melanjutkan langkahnya ke arah Harry.
Draco berlutut didepan Harry Potter, mencoba untuk mengamati dan mencermatinya. Memang kini wajah Harry banyak berubah, bengkak disana-sini. Wajahnya besar, bersinar, dan kemerahan—yang sebetulnya setiap bagian itu berubah gara-gara mantra Hermione.
Sebenarnya Draco sudah yakin kalau orang yang berada di hadapannya itu benar-benar Harry Potter, orang yang paling dicari saat ini. Dengan ragu, ia menoleh ke belakang sekilas. Dari ujung matanya, ia dapat melihat Hermione yang memandangnya dengan pandangan memohon.
"Well, Draco?" Ujar sebuah suara, Lucius Malfoy. Kelihatannya dia sangat tertarik. "Apa benar itu dia? Harry Potter, eh?"
"Ak..Aku tidak—aku tidak yakin, Ayah," dusta Draco. Padahal ia benar-benar yakin kalau orang yang ada di hadapannya sekarang adalah Harry Potter, musuhnya semenjak tahun pertama mereka di Hogwarts.
"Ayolah, nak. Lihat baik-baik! Ayo mendekat!" Perintah Lucius lagi, semakin tertarik. "Kalau kita menyerahkan Harry Potter pada Pangeran Kegelapan, maka semuanya akan dimaaf—"
"Tentu kita tak akan lupa siapa yang sebenarnya menangkap dia kan, Mr. Malfoy?" Potong Greyback dengan nada melecehkan sekaligus mengancam. Lucius melayangkan pandangan tidak sabar ke arahnya. Tak sadar, ia mendengus pelan.
"Ada sesuatu disana," bisik Lucius. "Bisa jadi bekas luka," katanya dengan atensinya yang terus bergerilya memandangi kening Harry. "Draco, coba perhatikan! Bagaimana menurutmu?"
Draco kembali memfokuskan dirinya kepada Harry setelah sebelumnya pikirannya melanglang buana tepat ke seorang gadis berambut coklat yang sedari tadi mengusik konsentrasinya. Kini ia tepat berada di sebelah ayahnya, Lucius Malfoy. Mereka benar-benar mirip, kecuali ekspresi wajahnya. Lucius memandang Harry dengan penuh ketertarikan, sementara ekspresi Draco terlihat enggan, bahkan terkesan seperti takut.
"Aku tidak tahu," katanya dingin. Ia kemudian berdiri dan berjalan menjauh menuju perapian dimana ibunya berdiri memperhatikan. Merasa tidak puas dengan jawaban Draco yang terasa tidak bersungguh-sungguh itu, maka Greyback kembali membuka suara.
"Bagaimana dengan Darah Lumpurnya, kalau begitu?" Draco tertegun di tempatnya. Hatinya diliputi kecemasan yang luar biasa. Hermione dalam bahaya. Yah gadis yang dicintainya itu sekarang dalam bahaya. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Semua atensi kini tertuju kepada Hermione, yang masih berdiri dengan posisi tangan terikat. Wajah cantiknya dibanjiri peluh ketakutan. Narcissa menoleh singkat ke arah Draco yang berdiri membatu disampingnya. Sebenarnya beberapa hari yang lalu, Draco sudah bercerita pada Narcissa bahwa ia memiliki hubungan dengan Hermione Granger. Meski awalnya terkejut mendengar pengakuan putra semata wayangnya itu, namun tak ayal hatinya luluh ketika Draco berusaha keras untuk meyakinkannya bahwa Hermione benar-benar adalah seorang gadis yang memang pantas untuknya, tak peduli asal-usul darahnya.
Narcissa menggenggam jemari Draco, berusaha menguatkan putranya lewat tatapan mata dan genggamannya. Draco balik menatapnya dengan gusar.
"Tunggu!" Kata Lucius tajam. "Ya, Cissy bilang dia pernah bertemu dengannya di Madam Makin's dengan Potter! Apa dia yang kau maksud, Cissy?" Lucius beralih memandangi istrinya. Namun orang yang dipandang tak kunjung menjawab. Rahangnya terkatup rapat. Bagaimanapun juga, kebahagiaan Draco adalah segalanya baginya. Bahkan ia rela di cap sebagai seorang betrayal demi melihat segaris senyum bahagia terukir di wajah putra kesayangannya, Draco Malfoy. Merasa tak ada jawaban, Lucius pun kembali melanjutkan.
"Aku juga melihatnya di Prophet! Lihat, Draco! Bukankan ini si Granger itu?" Ia mulai bertanya tak sabar.
Deg!
Draco merasa jantungnya akan merosot detik itu juga. Sungguh hal yang absurd baginya untuk mengiakan pernyataan ayahnya—Lucius—dalam keadaan terdesak seperti ini.
"Err, aku ... Mmh, mungkin. Yeah. Ah, entahlah," jawab Draco kikuk. Suaranya seperti tercekat di ujung tenggorokan.
"Dan lagi, ini si Weasley kan?" Teriak Lucius, meluncur mengelilingi tahanan yang diikat untuk menghadap lebih jelas ke arah Ron Weasley. "Yeah, itu mereka. Teman-teman Potter, Draco! Lihatlah! Bukankan dia anak Arthur Weasley? Siapa namanya, aku lup—"
Bruaaakkk!
Pintu ruang tamu tetiba menjeblak terbuka di belakang Harry diiringi kemunculan seorang wanita berambut keriting dengan gayanya yang nge-bos.
"Apa ini? Apa yang terjadi, Cissy?" Bellatrix Lestrange berjalan perlahan mengelilingi Hermione, Ron, dan Harry—yang wajahnya masih bengkak dan tersamarkan. Ia kemudian berhenti di sebelah kanan Harry, menatap Hermione melalui mata kelamnya yang berpelupuk tebal.
"Tapi tentu saja," katanya pelan. "Ini gadis Darah Lumpur itu? Ini Granger, kan?" Cetus Bellatrix berapi-api. Draco bergerak-gerak gelisah di tempatnya sementara Narcissa semakin kuat menggenggam tangannya mencoba memberi semangat.
"Ya, ya ... Mmh, sepertinya ini memang Granger!" Lucius berkata tajam. "Dan disampingnya itu kami kira ... Potter! Potter dan teman-temannya," jelas Lucius datar. Sementara Greyback kembali mendekat untuk mengamati Harry lebih seksama. Dia menunduk dengan wajahnya yang ditutupi rambut dan kumis abu-abu gelap, dengan gigi-gigi runcing kecoklatan serta luka di sudut mulutnya. Greyback berbau seperti saat di Menara Astronomi ketika Dumbledore meninggal dulu. Berbau lumpur, keringat, dan darah bercampur menjadi satu. Kemudian ia beralih menatap Ron lalu Hermione. Hermione merinding karenanya. Manusia serigala yang berada di hadapannya sekarang benar-benar mengerikan.
"Hermione Granger," sahut sebuah suara lagi dengan tiba-tiba, suara Scabior. "Darah Lumpur yang diketahui bepergian dengan Harry Potter." Greyback semakin tertarik untuk mendekati Hermione setelah mendengarkan penuturan Scabior. Ia menunduk memandangi wajah mungil nan cantik yang sedang ketakutan itu.
"Kau tahu, eh? Tapi fotonya benar-benar mirip denganmu," ujar Greyback menggebu-gebu tepat di depan wajah Hermione.
"Bu—bukan. Bukan aku!" Hermione berkilah. Namun sial, cicit ketakutannya barusan justru seolah-olah sudah seperti sebuah pengakuan. Bahkan Harry bisa merasakan lengan Hermione gemetaran disampingnya. Draco menatapnya iba, penuh dengan perasaan cemas.
"Apa itu?" Suara ketertarikan Bellatrix kembali memenuhi ruang tamu nan besar itu.
"Pedang," jawab salah seorang pria yang berdiri tak jauh dari Scabior.
"Berikan padaku!" Bentak Bellatrix.
"Tapi ini bukan milikmu. Ini milikku, karena kupikir akulah yang menemukannya!" Ujar pria itu keras kepala. Bersamaan dengan itu, terdengar benturan dan kilatan cahaya merah menembus ruangan—membuat Hermione, Draco, dan beberapa orang dalam ruangan itu terkejut bukan main. Pria itu telah diserang dengan mantra 'Stupefy' oleh Bellatrix yang nampaknya mulai murka. Di detik berikutnya, ia kembali merapalkan mantra 'pemingsan' itu ke arah kelompok pria tadi yang masih berdiri bergumul di sudut ruangan. Yah, Bellatrix memang seorang penyihir wanita dengan kemampuan luar biasa namun tanpa nurani.
Dan kini tinggal Greyback lah yang masih tersisa. Dengan tenaga bajanya, Bellatrix mengangkat manusia serigala itu, pedang Gryffindor tergenggam erat di tangannya, wajahnya memucat.
"Dari mana kau mendapat pedang ini?" Bellatrix bertanya dalam nada mengancam, melambaikan pedangnya di depan wajah Greyback. "Kau tahu? Snape mengirim ini ke lemari besiku di Gringotts!" Lanjutnya dengan nada murka yang sangat kentara.
"Itu dari tenda mereka," kata Greyback memberanikan diri. "Bebaskan aku!" Pekiknya kemudian. Bellatrix mengayunkan tongkatnya hingga Greyback meloncat jatuh di kakinya. Manusia serigala itu kemudian bersembunyi ketakutan di belakang kursi berlengan, kukunya yang kotor melengkung menggenggam bagian belakang kursi tersebut.
"Draco dear, pindahkan sampah itu keluar!" Bellatrix berkata tajam sembari menunjuk pria yang tak sadarkan diri. "Tapi kalau kau belum punya keberanian untuk menyelesaikannya, tinggalkan saja di halaman untukku," lanjutnya dengan nada mencemooh. Secara refleks Narcissa merangsek maju ke depan.
"Jangan berani-berani bicara pada Draco seperti itu!" Tuding Narcissa marah, yang dibalas Bellatrix dengan teriakan yang memekakkan telinga.
"Diam! Situasinya lebih genting dari yang bisa kau bayangkan, Cissy! Kita punya masalah yang sangat serius!" Bellatrix berdiri dengan sedikit terengah-engah, mata kelamnya menyusuri pedang di tangannya, memeriksa pangkalnya sejenak. Kemudian ia berbalik, menghadap ke arah Harry, Ron, dan Hermione.
"Kalau dia benar-benar Potter, jangan sakiti dia," wanita berambut keriting itu bergumam—lebih kepada dirinya sendiri. "Pangeran kegelapan ingin melenyapkan Potter dengan tangannya sendiri...Tapi kalau dia menemukan... Ah, aku harus...Yah, aku harus tahu..." Secepat kilat Bellatrix kembali berbalik menghadap adiknya lagi, Narcissa.
"Mereka harus ditempatkan di gudang bawah tanah, sementara aku akan memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya!" Ujar Bellatrix.
"Ini rumahku, Bella! Jangan seenaknya memberi perin—"
"Lakukan!" Jerit Bellatrix dengan pandangan murka. "Kau tak tahu bahaya yang kini sedang kita hadapi, Cissy!" Bentaknya tajam. Aliran api kecil menyembur dari ujung tongkatnya dan membakar karpet berwarna crimsom yang tengah ia pijak—membentuk sebuah lubang disana. Narcissa, Lucius, Draco, Hermione, dan semua orang yang berada dalam ruangan itu tertegun sesaat.
Narcisaa memandang manusia serigala—Fenrir Greyback di belakang kursi berlengan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyuruhnya.
"Bawa mereka semua ke gudang bawah tanah, Greyback!" Perintah Narcissa dengan suara dingin. Namun Bellatrix melambaikan tangannya ke udara.
"Tunggu!" Kata wanita itu tajam. "Yah, semuanya kecuali ... Kecuali si Darah Lumpur!" Putus Bella diiringi dengan seringai kejam di sudut bibirnya yang berkedut-kedut sangar. Sementara itu Greyback mengeluarkan dengkuran senang.
"Tidak! Kumohon, jangan!" Teriak Ron pilu. "Kau bisa menahanku, tahanlah aku. Asal jangan dia!" Draco meringis mendengarnya. Ron rela berkata seperti itu demi Hermione, bahkan hingga Bellatrix sampai memukul wajahnya sekalipun. Nah, sementara dirinya? Draco merasa ia tak lebih dari seorang pecundang alih-alih pengecut. Jelas-jelas Hermione adalah kekasihnya, sementara Ron hanyalah sahabat Hermione—well, setidaknya itu yang dipikirkan Hermione, tapi mungkin tidak dengan Ron. Draco pun dapat melihat dengan jelas bahwa nampaknya Ron memiliki perasaan yang lebih terhadap gadisnya itu.
"Tenang saja, kalau dia mati saat ditanyai, maka kau yang berikutnya. Well, darah pengkhianat selalu yang berikutnya setelah darah lumpur dalam kamusku! Hahaha." Bellatrix tertawa melengking hingga suaranya yang mengerikan itu terasa memenuhi atmosfir ruangan. Harry dan Ron beserta tawanan lainnya dibawah turun ke gudang bawah tanah. Sementara Hermione dilepaskan oleh Bellatrix. Rambutnya ditarik dan diseret hingga sampai ke tengah ruangan.
"Mmh, kira-kira apakah dia membiarkanku untuk menggigit sedikit gadis itu saat dia selesai dengannya?" Greyback berkata senang sembari menyeret para tahanan ke gudang bawah tanah. Tetapi tepat saat ia melewati Draco, langkahnya terhenti ketika sebuah bogem mentah melayang tepat di atas wajahnya yang menjijikan.
"Arrrgggghhh! Apa-apaan kau?" Manusia serigala itu menggeram kesakitan, sembari memegangi wajahnya yang terlihat mulai membiru. Matanya berkilat-kilat penuh amarah. Sementara Draco berdiri gemetar di depannya. Giginya bergemulutuk—yang kemungkinan besar disebabkan karena ia telah menahan amarah yang sedari tadi terus memuncak di dadanya. Draco hanya diam dan sama sekali tak menyahut. Narcissa, Lucius, bahkan Harry dan Ron terkejut atas tindakan Draco barusan—untung saja wanita keriting sadis—Bellatrix—tak melihat kejadian itu, yang diam-diam Draco syukuri.
Greyback kembali melangkahkan kakinya dan mendorong tawanan di sepanjang koridor—setelah memberikan tatapan mematikan ke arah Draco, yang dibalas dengan tatapan yang serupa. Namun di detik berikutnya, suara jeritan pilu menyakitkan sukses membawa Draco kembali ke permukaan kesadarannya yang sempat melanglang buana entah kemana.
"Aaaaaaaaaaaarrrggggghhhhh!"
"Pedang itu seharusnya ada di brankasku di Gringotts, bagaimana kau bisa mendapatkannya?" Bellatrix bertanya dalam suara rendah yang mencekam dan menusuk. "Apalagi yang kau ambil bersama temanmu di brankasku, hah?!" Bellatrix kali ini membentaknya dengan suara lantang dan menakutkan. Hermione mulai menangis, terisak-isak.
"Aku tak mengambil apapun! Kumohon! Aku tak mengambil apapun!" Sahut Hermione di sela-sela isak tangis pilunya. Draco mulai tak tahan melihat gadisnya diperlakukan seperti itu.
" .mempercayaimu, mudblood!" Raung Bellatrix murka. Tak segan-segan ia mengukir lengan Hermione dengan tulisan 'mudblood' yang rasanya tentulah teramat sakit. Hermione menggelinjang di tempatnya, menjerit kesakitan bagai orang yang kesetanan. Jeritan pilunya membahana di ruangan itu, bahkan sepertinya terdengar hingga gudang bawah tanah, tempat para sahabatnya ditawan.
"Expelliarmus!" Tiba-tiba sebuah mantra pelucut terdengar dirapalkan dengan mantap oleh seseorang. Bellatrix berbalik dengan raut wajah penuh amarah setelah menyadari tongkatnya terpental entah kemana.
"DRACOOOO!" Raung Bellatrix mengerikan. Narcissa dan Lucius pun terkaget-kaget atas apa yang baru saja dilakukan Draco.
"Jangan berani-beraninya kau sakiti dia!" Entah darimana Draco mendapatkan keberanian layaknya singa jantan gagah berani seperti ini. Tongkatnya teracung ke depan dengan tangan kanan yang menguasainya. Sementara tangan kirinya menggenggam tongkat bibinya, Bellatrix.
"Apa yang kau lakukan, bodoh! Kembalikan tongkatku!" Jerit Bellatrix kesetanan. Ia berdiri mendekati Draco dan meninggalkan Hermione yang terkapar setengah trans di lantai dingin Malfoy Manor. Darah segar menetes dari lengannya diiringi dengan bulir-bulir air mata yang tak hentinya menganaksungai di pipinya.
"Kau yang bodoh! Gila, sinting, dan tak berperasaan!" Sahut Draco berapi-api. Atensi kelam Bellatrix nyaris terlonjak keluar mendengar penghinaan besar sang keponakan yang ia tak percayai dialamatkan kepadanya. Dengan keberanian yang memukau, Draco maju menyerang Bellatrix, tak peduli status Bella yang notabene adalah bibinya sendiri.
"Stupefy!" Teriak Draco mantap, namun Bellatrix masih sempat menghindar di detik-detik terakhir. Dengan tak ragu-ragu ia merebut tongkat adiknya, Narcissa—yang nampaknya tak begitu meyadarinya lantaran masih shock atas kejadian yang terjadi tepat di depan matanya.
"Crucio!" Raung Bellatrix tanpa ragu-ragu. Dengan sigap Draco melemparkan diriya ke lantai, berguling di belakang sofa untuk menghindari serangan Bellatrix.
"Crucio! Stupefy! Expelliarmus!" Erang Bellatrix bertubi-tubi, namun hanya berhasil mengenai sisi-sisi sofa tempat Draco bersembunyi. "Confringo!" Sofa tempat Draco berlindung seketika meledak dengan api dimana-mana. Untung saja Draco sempat menghindar dan berguling ke sisi lain. Bellatrix mendecih penuh emosi. "Sial!" umpatnya kesal. Sementara itu Hermione berusaha mencari-cari tongkatnya yang tercecer entah dimana dalam ruangan itu. Maniknya seketika berbinar ketika berhasil menemukan benda yang dicarinya. Dengan tertatih-tatih ia berusaha bangkit. Hermione mulai melangkah berdiri, meskipun langkahnya begitu pongah.
Draco berlari terengah-engah di sekitar ruang tamu Malfoy Manor yang super luas itu. Rambut platinanya tampak lepek oleh keringat. Tanpa pikir panjang, Bellatrix melemparkan pisau perak pendeknya tepat ke arah Draco, wajahnya nampak berseri-seri atas perbuatannya itu. Hatinya berelasi ria. Ia sama sekali tak peduli, sekalipun orang yang diserangnya adalah keponakannya sendiri. Narcissa dan Lucius tertegun di tempatnya. Bahkan tak sadar, Narcissa sudah menitikkan air mata melihat putra semata wayangnya yang berjuang keras demi seorang gadis yang dicintainya.
"Impedimenta!" Tiba-tiba terdengar teriakan lemah seseorang, atensi kelam Bellatrix membeliak tak percaya. Dengan segera ia berbalik dan mendapati Hermione Granger berdiri menjulang di belakangnya. Pergerakan pisau perak pendeknya terhenti di tengah jalan, lalu kemudian terjatuh berdenting ke lantai dingin Malfoy Manor.
"Berani-beraninya kau, Mudblood-jalang!" Bellatrix menggeram berbahaya. "Awas kau gadis sialan!" Lanjutnya terengah. Tangannya terulur ke depan, mengacungkan tongkat Narcissa.
"Avada Kedav—"
"Expelliarmus!" Draco berteriak di belakangnya. Dengan segera tongkat yang dipegang Bellatrix melayang ke udara, Narcissa menangkapnya dengan cekatan.
"Petrificus Totalus!" Kini terdengar lagi sebuah suara, yang ternyata suara Narcissa Malfoy. Lucius tak mengira bahwa Narcissa, istrinya akan turut memihak pada Hermione Granger setelah melihat semua peristiwa yang terjadi. Bellatrix berdiri mematung di tempatnya dengan posisi mata membeliak terkejut dan tangan teracung ke depan, lalu ambruk di lantai dingin Malfoy Manor. Rupanya sungguh mengerikan. Sementara itu Narcissa terengah-engah di tempatnya berdiri, tongkatnya pun masih teracung dengan gemetar. Lucius memandangi istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tak ingin buang-buang waktu dengan percuma, Draco segera berlari ke arah Hermione yang terlihat masih sangat lemah—setelah sebelumnya ia menoleh sekilas ke arah ibunya, Narcissa Malfoy yang mengisyaratkan pandangan berterima kasih tak berujung.
"Kau tak apa-apa, Hermione?" Ujar Draco mulai membopong tubuh mungil yang sudah nyaris roboh itu.
"Aku baik, Draco," jawab Hermione lemah.
"Kalian harus segera pergi darisini," tiba-tiba sebuah suara kembali mendominasi percakapan sepasang kekasih itu. Draco menoleh ke arah sang empunya suara, Nacissa Malfoy—ibunya. Lucius menatap istrinya sekilas dengan urat-urat dahi yang sudah menonjol. Namun Narcissa memandangnya dengan penuh perasaan memohon, seakan hanya itu yang bisa ia lakukan demi kebahagiaan putra semata wayang mereka, Draco Malfoy.
"Pergilah nak, kami yang akan mengatasi semua ini. Cari tempat persembunyian yang paling aman untukmu dan juga ... Hermione." Narcissa beralih menatap Hermione yang tubuhnya telah ditopang oleh Draco.
"Ta—tapi, Mum ... Aku tak bisa meninggalkanmu be—" Belum sempat Draco menyelesaikan kalimatnya, Narcissa sudah menyelanya.
"Kumohon pergilah sekarang, nak. Temukan kebahagiaanmu," sahut Narcissa penuh kelembutan. Lucius yang sedari tadi berdiri kaku disebelahnya kini nampaknya mulai ikut melunak.
"Tapi, Mum—"
"Sudahlah, Draco. Pergilah segera, sebelum semuanya terlambat," bujuk Narcissa lagi dengan air muka yang memelas. Manik kelam Bellatrix bergerak-gerak marah. Tubuhnya masih mematung terkunci, tak bisa sama sekali melakukan pergerakan sedikitpun. Draco memandangi ibu dan ayahnya beberapa saat dengan pandangan sendu.
"Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik," kata Draco pada akhirnya. Narcissa mengangguk dalam diam. Lucius yang pada mulanya terlihat begitu marah dan gengsi, akhirnya turut buka suara setelah sebelumnya terlihat beberapa kali membuka tutup mulutnya—seperti hendak mengatakn sesuatu.
"Be careful, son," ujar Lucius datar. Namun meskipun begitu, tak dipungkiri bahwa ia tak cukup kuat untuk menyembunyikan rasa perhatiannya terhadap Draco. Well, bagaimanapun juga Draco tetaplah putranya, sampai kapanpun.
"Terima kasih," sahut Draco diiringi dengan senyuman tipis namun tulus. Lucius mengangguk kaku, sementara Narcissa tak sanggup lagi untuk membendung air matanya yang sudah mulai berlomba-lomba menerobos keluar dari manik indahnya. Hermione hanya memandangi keduanya dengan pandangan yang seolah menyiratkan perasaan berterima kasih yang luar biasa.
"Kau siap, Hermione?" Tanya Draco lembut.
"Ya. Tapi, bagaimana dengan sahabat-sahabatku?" Hermione balik bertanya dengan nada cemas.
"Mereka penyihir yang hebat, aku yakin sebentar lagi mereka akan bebas dengan caranya sendiri." Draco mencoba menenangkan.
"Expelliarmus!"
"Stupefy!" Ada kilatan cahaya merah menyilaukan yang diiringi dengan bunyi debam keras, pintu ruang tamu Malfoy Manor pun meledak menjadi serpihan dengan sebuah tubuh teronggok setelahnya, terbanting ke lantai.
"Ayo, Ron!" Seru sebuah suara, yang tak lain dan tak bukan adalah suara Harry Potter. Ron mengangguk mantap di sebelahnya.
Semua pasang mata terkejut akan serangan yang bertubi-tubi itu. Beberapa pelahap maut kini terlihat berkumpul di sekitar ruang tamu. Dan oh, mereka ternyata melawan Harry Potter dan kroni-kroninya.
"Sekarang, Draco!" Narcissa memekik tak sabar. Jantung Draco dan Hermione berdegup kencang. Nyaris melengos dari area bertenggernya.
"Baiklah. Siapkan dirimu, Mione," ujar Draco. Hermione hanya mengangguk pasrah. Tangannya menggenngam jemari Draco dengan erat. Dan di detik berikutnya mereka pun menghilang, ber-apparate ke suatu tempat, entah dimana.
"Avada Kedavra!" Pancaran kilatan sinar hijau menyilaukan meluncur dari salah satu tongkat—entah siapa. Menghantam seseorang telak di dadanya. Beberapa pasang mata melebar terkejut.
.
.
Bersambung ...
-OoOoO-
Oke guys, Thanks sudah membaca :D ini akan menjadi two-shot atau three-shot! So, bagaimana menurut kalian? Haruskah kisah DraMione kali ini berakhir tragis atau malah sebaliknya—happy ending? Well, jujur saja review dari kalian sangat berpengaruh atas kelanjutan dan akhir cerita ini. Dan maaf yah kalau chap ini masih ngambang ^^ ...
So, mind to review? ^^
.
.
Salam,
Miss Loony
(06Juli2013-07.17 pm).
