Melodi Gabungan

.

Peringatan: OoC, AR, dan Slash.

.

Joker Game oleh Koji Yanagi

Melodi Gabungan oleh Putra Penipu

.

Chapter 1: Tentang Mereka yang Berjalan di Belakang Bintang-bintang

.

"Kartika senja di angkasa. Mereka membuat malam bertabur sinar keperakan, seakan runtuh seperti bintang jatuh."

Belah bibir pujaannya sekali waktu berucap. Sakuma, yang karenanya, menyukai malam penuh cahaya bintang. Cintanya yang menitahkan van Gogh (1).

Di kota Tokyo, Miyoshi tidak mengenali lagi akalnya. Hasratnyalah berbicara. Malam ini, dari dulu hingga sekarang dan entah sampai kapan, hanya dilihatnya seorang lelaki yang dinilainya lugu dan beririskan mata yang biru.

Pada pertemuan mereka yang kedua puluh tiga, di hari-harinya yang penuh paradoks, Miyoshi dipaksa mempelajari hingga mengerti bahwa ia telah jatuh cinta kepada seorang lelaki yang sekaligus mengharapkan bintang jatuh di malam yang berbintang dalam genggamannya. Hanya itu. Sayangnya, semakin ia mempelajari semakin ia tidak tahu bahwa manusia pun perasaannya tidak akan pernah sederhana, begitu pula cinta di hatinya.

Miyoshi sejatinya tidak akan pernah tahu pasti. Apakah Sakuma mendambakan cinta yang serupa? Sedangkan Miyoshi selalu memimpikan tentang lembar-lembar kanvas kehidupan mereka yang meminta dilukiskannya. Dimulai dari hitungan lembar kedua puluh empat yang lalu tidak berbatas dan tidak berakhir. Lembar-lembarnya yang begitu banyak tak terkira.

Dilukiskan dengan warna-warni halus miliknya juga Sakuma. Goresan kuas melalui tangannya untuk mengabadikan sebuah potret diri dari satu orang tercinta, jika tidak bisa hatinya. Selalu dan tidak pernah tidak. Miyoshi memulainya dari kedua bola mata yang keduanya adalah milik Sakuma. Itu bersinar terang seperti Regulus di langit malam.

Goresan adalah pertanda. Di sudut kanan bawah menggunakan cat minyak di atas kanvas yang darinya mencintai Sakuma tanpa malu. Titel pada setiap seninya.

Akulah kamu,

dan

Akulah kamu,

dan memang

Akulah kamu,

dan bahkan,

Akulah kamu. Hingga seterusnya.

Merekalah mimpi-mimpi di jauh malam Miyoshi. Di tengah malam tua ia terbangun di futon-nya yang sempit, tetapi ia masih tetap bermimpi. "Malam belum usai," katanya pada diri sendiri. "Malam tidak pernah usai." Ia abadi, terlupakan oleh waktu.

Di pangkuan Sakuma, cinta Miyoshi dipeluk dalam kedamaian, dinina bobokkan. Namun, hati lelaki beriris biru tetap kukuh, tidak pernah ingin takluk. Malam seperti inilah yang menjadi karib Miyoshi dan ia tidak menghendaki untuk berhenti.

Apakah Sakuma bahagia? Miyoshi pun masih tetap tidak tahu. Apakah Sakuma merindunya seperti Miyoshi merindu Sakuma di malam berbintang ataupun tiada? Sekali lagi, ia tetap tidak tahu. Satu hal yang pasti diketahui Miyoshi adalah ia telah mencinta dan itu memaksa juga mengikat erat.

Miyoshi meraba malam yang sarat akan bau mani. Hingga kedua netranya mendapati bercak-bercak merah darah dan aliran sungai kering di pipi lelakinya yang dicinta yang lelap meringkuk. Mengasingkan diri dari jangkauan Miyoshi. Malam telah melukai keduanya; hati Miyoshi dan raga Sakuma.

Syahdan penyesalan memang datang di penghujung masa. Tidak ada dewa yang mampu mengubah kenyataan ini menjadi sekadar dongeng belaka. Kiranya sesal inipun datang karena ketidak tahuan.

Di sudut hati, cintanya ikut meratap. Jika dengan bersimpuh ia akan mendapat pengampunan maka Miyoshi telah melakukannya hingga matahari padam. Ia ciumi punggung kaki Sakuma, seakan mengais batas belas. Namun, Sakuma tetap bungkam. "Mungkin memang tidak ada," tidak ada satupun yang dapat disalahkan kecuali dirinya.

Segala rasa sesalnya mengamini bahwa ia tidak akan pernah diampuni. Akan tetapi, mukjizat itu bisa saja datang jika ia sanggup merebut singgasana bintang. "Bawakan aku kartika jatuh di malam yang berbintang, Miyoshi, karena..."

"...langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku..." (2) Miyoshi meneruskan kata-kata itu yang dihapalnya di luar kepala. Haruskah ia berkenalan, kali ini, dengan malam yang menghendakinya untuk pergi.

Di setiap malam memang ada jalanan terjal yang tidak kasat mata. Ada lampu-lampu kota yang lupa akan cahaya. Sejatinya, jika tidak ingin menjadi penipu, Sakuma tidak pernah bermimpi menjadikan Miyoshi kekasih dirinya sendiri. Namun, Miyoshi tidak tahu. Sakuma tidak pernah ingin merasakan cinta Miyoshi hidup di hatinya. Namun, Miyoshi masih tetap tidak ingin tahu. Miyoshi hanya ingin kembali kepada van Gogh untuk menyelamatkan cinta miliknya sendiri yang egois.

Di kota Tokyo pada tahun 1939, Miyoshi mengenang satu cintanya yang memaksa, tergesa, dan belum sempurna. Hari masih tetap gelap saat ia mengejar van Gogh. Berharap kali ini akan menjadi paripurna. Pengejarannya berlabuh di suatu kota pada masa Kekaisaran Ketiga, ibu kota Jerman, Berlin.

Pada ruang waktunya Miyoshi sendiri. Di negeri orang asing, di antara dinding-dinding Die Ausstellung "Entartete Kunst" (3). Miyoshi mengingat Sakuma, seseorang yang mengingini dibawakan bintang jatuh, dan ia merasa lelaki itu sedang menghukumnya untuk kali kedua.

"Negara ini," gumamnya, "adalah gelap pun gulita," karena di manapun Miyoshi berada ia hanya menemukan malam.

Jarak satu meter dari pandangannya ada sinar yang tengah bersembunyi. Sinar itu adalah malam yang berbintang. Bersinar keperakan dengan ganjil. Miyoshi terkekeh sedih karena egonya yang terluka. Malam berbintang itu nyatanya telah terlalu lama dipaksa padam.

Sinarnya diakui sebagai dosa. Lukisan di atas kanvas itu pucat pasi. Bidangnya mati digantung di dinding-dinding pameran. Meletakkan mayatnya sendiri di hadapan tubuh Miyoshi. Pada akhirnya, bintang jatuh itu benar-benar jatuh. Ia menjelma menjadi bebatuan tajam yang menghujam mimpi-mimpi Miyoshi yang tiada habisnya. Menghempaskan cintanya kepada Sakuma yang lalu menganga karena luka. Miyoshi tidak ingin mengakui karena saat ia menyerahkan semesta dan jiwanya untuk menjadikan cintanya sempurna Sakuma akan tetap membuatnya kandas. "Sakuma-san, kau ini benar-benar..."

Gumaman itu lirih dan sedih, seperti tiupan angin malam yang bergesekan dengan triliunan salju yang jatuh. Namun, di antaranya Miyoshi menyukai suaranya sendiri saat menyebut nama seseorang yang ia tinggalkan di negeri asal hingga ia lupa akan kata-kata. Hanya mimpi-mimpinya sendirian yang tersisa.

Lalu, semua akan kembali, ke Tokyo kepada Sakuma, tanpa bintang jatuh di tangannya. Miyoshi bertanya, "kenapa?" tetapi Sakuma tetap diam, terlampau renggang atau mungkin terlampau enggan untuk menjawab. Namun, van Gogh bisa. Tidak ada bintang jatuh di malam yang berbintang.

Lebih dari lima ribu mil jarak memisahkan mereka. Miyoshi belum akan lupa tentang cintanya, tetapi itu mengeras seperti batu karang. Dua belas bulan di kota Berlin dan perasaan Miyoshi masih tetap tidak berubah. Kiranya, Sakuma lalai bahwa cinta yang datang kepadanya itu memaksa. Jika memang tidak ada bintang jatuh maka Miyoshi lah yang akan membuatnya runtuh. Ia bisa menjadi lebih angkuh, lebih kejam, dan ia biarkan malam-malam absolut datang.

Bersama bintang rampasan Miyoshi ingin berkata, "Sakuma-san, aku pulang."

Ya, apabila Tokyo di tahun 1940 tidak lagi sudi menatapnya maka, apapun itu, hati Sakuma akan selalu menjadi rumahnya untuk kembali. Ia yang telah lama bepergian. Meski pada setelannya terdapat lubang di dada, di ulu hatinya yang tertusuk tiang baja.

Pada bulan pertama di kalender Gregorian maut singgah pada ular besi yang membawa pulang Miyoshi. Kedatangannya tepat seperti yang Miyoshi perhitungkan, tidak ada bela sungkawa, kesedihan, ataupun tangisan. Hanya ada badai salju. Namun, ada satu hal yang ia benci dari kematian adalah kebisuan.

Inikah yang disebut dengan karma? Dari manakah datangnya? Karma Miyoshi melintas pada cermin yang memantulkan cahaya jiwa. Itu ada di dalam dirinya, di antara lara yang merenggut nyawanya selapis demi selapis. Kemudian massa tubuhnya berkurang 21 gram. Ia lelaki yang pernah bertindak kejam karena membunuh bintang di langit malam dan karmanya datang tidak kurang dari padanya.

Sebelum detik ketiga puluh yang membawa nyawanya melayang ia mengingat kalimat di babakpertama kehidupannya sebagai Miyoshi. 'Jangan mati, jangan membunuh'. Sekarang, ia hanya bisa menertawakannya di dalam pikiran karena bibir dan lidahnya kelu. Sekali lagi, dunia memang sesungguhnya paradoks pun hidupnya tidak pernah menjadi sesederhana itu.

Kebisuan itupun mengakibatkan kalimat terakhirnya tidak pernah tersampaikan. Kalimat itu ikut jatuh dihempaskan maut di tengah badai salju, yang tidak seperti malam, ia lekang oleh waktu. Di ujung ruang kehidupannya, Miyoshi mendapati seluruh semestanya hancur lebur, tetapi mimpinya masih datang mengiba. Tampak di sana di antara putih meta, jemari Sakuma yang pernah ia kecup dalam puja, memungutnya kembali.

Ruang dan waktu Miyoshi ternyata masih sama kosong, tetap sendiri, dan menjadi dingin. Maut tidak akan bisa dihentikan hanya karena mimpinya yang datang di antara malam adalah abadi. Di antara ketidak mungkinan Sakuma berkata, "Selamat datang, Miyoshi."

Miyoshi dengar, ia kenal. Suara Sakuma yang merenda cintanya dengan ketidak sempurnaan. Miyoshi telah membisu, tetapi tidak ingin tuli karena selalu didengarnya suara Sakuma dan kali ini sebagai langgam orang mati.

.

Selesai

.

Catatan:

1. Merujuk pada Starry Night oleh Vincent van Gogh.

2. Dikutip dari kata-kata Immanuel Kant.

3. Disebut juga dengan Degenerate Art Exhibition yang sebenarnya diselenggarakan pada tanggal 19 Juli – 30 November 1937, termasuk beberapa di antaranya adalah lukisan van Gogh. Namun, maaf, saya membawanya melompati waktu karena kebutuhan cerita.

4. Fanfic ini akan menjadi cerita MC yang ditandai sebagai complete pada setiap segmennya karena tidak saling berhubungan, tetapi akan selalu melibatkan Sakuma dengan karakter-karakter lain.

5. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

.

2017