Be My Side.
Pokemon © Tajiri Satoshi
Warning; BL. Crack-pairing. Plotless, hahahaha. Hanya ngelepasin Headcanon OTP ini :")))
.
Lemonmeringuepieshipping (Dent x Citron)
[ KALOS ]
Menemukannya.
Ketika hatinya sudah lebur, Dent tak pernah mengira bahwa ia akan menemukan lagi satu yang baru.
Hati Satoshi sudah ada yang punya. Itu kenyataannya. Dent tahu ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana intimnya interaksi Satoshi dan Shigeru. Cara mereka saling sapa. Cara mereka saling ejek. Cara mereka berbagi cerita. Hingga rangkulan juga cubitan. Semua tampak tak bercelah bagi Dent.
Tak ada sudut kosong dalam hati Satoshi untuk Dent. Tanpa perlu menyatakan apapun, Dent sudah tahu itu.
"Dent?"
Di hadapannya, pemuda berparas khas Parisian, tengah menatapnya. Mata biru itu tampak menyelidiki, tapi ada juga simpati yang tertuang di dalam sorotnya.
Dent tak pernah membayangkan jika si pirang itu akan mengikis bayang-bayang Satoshi dalam benaknya. Sedikit-demi sedikit.
Menara Miare.
Citroid sudah mengangkat tangannya, tanda pertarungan baru saja berakhir.
Keduanya tersenyum. Adrenalin masih belum padam. Degup jantung masih berdentam-dentam ketika kedua Pokemon mereka terduduk di tanah. Pertarungan berakhir seri. Puncak menara Miare malam itu ditutup dengan decak kagum dari para penonton.
"Kau hebat, Dent," Citron mengusap keringat yang mengalir dari dahinya. Senyumnya semakin mengembang, ketika lawannya membalas tatapannya.
"Kau juga, Citron. Aku benar-benar tak menduga trik jahanam yang kau pakai pada sesi terakhir. Arena penuh aliran listrik itu di luar perkiraanku," Dent mengembalikan Yanappu ke dalam bola monster.
Setelah listrik pada arena di matikan, Citron menghampiri Dent, menyelesaikan paruh akhir dari petarungan antar ketua gym. Tangan mereka bertaut dalam satu salaman persahabatan.
Sebenarnya Citron tak ingin melepaskan tangan pucat milik Dent.
Si'l Vous Plait.
"Kayaknya kakak sama Sommelier-san—maksudku, Dent cocok, deh," ucapan Eureka membuat sang ayah melongok dari balik mesin pesanan pelanggan. Hari ini toko reparasi Limone bukanya lebih siang. "Ya, kan, Papa?"
"Maksudnya?' Limone melotot. "Dent itu siapa, ketemu di mana? Kok tahu-tahu Citron sudah nyaman saja bersamanya?"
"Gym Leader dari Isshu, Pah."
"Hah? Gym leader? Dari Isshu? Jauh amat. Ada angin apa sampai-sampai dia kesasar ke Kalos?" Limone belum tahu kalau Dent tengah dalam rangka jalan-jalan menghilangkan patah hati.
"Dia Pokemon Sommelier, Pah."
"Pokemon Sommerlier yang kalau ngomong suka berbunga-bunga itu?" heran, deh, kenapa semua Sommelier omongannya bertabur hiasan, apa memang standar pekerjaan mereka begitu?
"Eureka mau Si'l Vous Plait dia, Pah. Dilamar biar jadi milik kakak!"
"Oh dilamar—WAIT, APA?"
obengnya jatuh dari tangan Limone.
Adik.
"Aku punya Butler Cafe di Isshu."
Eureka tampak berbinar-binar ketika mendengarkan cerita Dent. Gadis kecil itu tak henti-hentinya bertanya tentang Isshu. Tentang Dent. Tentang Sanyo Gym. Membuat Dent gemas, tapi dia suka anak-anak, jadi Eureka tetap saja dilayani dengan suka cita.
"Aku boleh main ke kafenya Dent?"
Dent mengurai senyum. "Tentu. Nanti kukenalkan dengan dua kakakku. Mereka baik-baik, loh."
"Hee, Dent anak bungsu, ya? Sama denganku. Tapi Kakak-kakaknya Dent pasti keren semua, bukannya cerewet kayak kakakku."
"Ahahaha, menurutku Citron tak secerewet itu, kok," Dent tertawa, seraya mengusap kepala Eureka.
"Apaan, sih, kalian, kok malah gosipin aku?" Citron muncul dari balik pintu ruang tamu. Rambutnya lembab, aroma shamponya masih menguar. Piyama sewarna langit sudah dia kenakan. "Eureka, cepat tidur. Sudah selarut ini, loh."
"Tuh, kan, Kakak cerewet, kayak ibu-ibu," Eureka mendengus, lalu turun dari sofa. "Dent, besok kita ngobrol-ngobrol lagi, ya. Dah! Oyasumi!"
"Dasar Eureka centil," sahut Citron, memerhatikan adiknya yang berlari menuju kamar.
Tapi Citron tak pernah menduga, dia akan disuguhi pemandangan yang begitu hangat. Sosok Dent yang mengusap kepala adik kecilnya masih melekat dalam benak Citron. Dia memandang Dent sekali lagi, sebelum mengucapkan selamat tidur.
"Ada sesuatu di wajahku?"
"Ah, tidak. Selamat tidur, Dent."
Ah, sudahlah. Citron tak ingin menduga-duga. Dirinya kan bukan peramal.
Ledakan.
"Rasanya tadi aku mendengar suara ledakan?" Dent mengamati seisi dapur, mengira-ngira apakah ada gas yang bocor atau apapun yang bisa menimbulkan ledakan susulan. "Apa ada kecelakaan? Kita harus mengungsi kalau begitu."
"Hahaha, bukan, kok, tenang saja," Limone ayah Citron, terbahak seolah tak terjadi apapun. "Paling-paling itu Citron. Penemuan gagalnya memang selalu berakhir meledak."
"Ooh, begitukah?" sepertinya Limone memang benar. Buktinya Eureka masih santai melahap roti cokelatnya.
Gagal.
"Lagi-lagi gagal."
Citron menggulung tubuhnya. Aura suram sudah tak lagi tersisa, tapi penampilannya super berantakan. Ada sisa-sisa abu di wajahnya. Pakaiannya juga jadi compang-camping. Rasanya ada bintang menari-nari di ujung matanya.
Sebenarnya Dent salut. Citron masih bisa hidup sampai hari ini walau berurusan dengan ledakan hampir setiap hari.
"Gagal lagi. Gagal lagi. Gagal lagi—"
Kali ini ada mantera 'gagal lagi' yang terus keluar dari mulutnya, tanpa putus.
Dirasanya telapak tangan hangat mengusap-usap rambutnya. "Citron, istirahat dulu," secangkir kopi susu tersaji di hadapannya. Aroma manisnya memenuhi sudut penciuman.
"Kau belum tidur, Dent?" tanyanya ketika menyesap kopi susu yang masih mengeluarkan sedikit kepulan uap.
"Belum ngantuk," sahut Dent. "aku akan menemanimu di sini. Persediaan kopi susunya masih banyak, kok."
"Benarkah? Terima kasih," disesapnya lagi kopi susunya. Citron bukannya ingin melebih-lebihkan, tapi kopi susu buatan Dent memang minuman terenak. Mungkin acara begadang malam ini akan terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Kacamata.
"Dent! Kembalikan kacamataku!"
Citron kelabakan. Walaupun sudah jinjit dan lompat, tapi tetap gagal menggapai kacamata yang ada di tangan Dent. Sial. Dari tinggi badan saja mereka sudah jauh beda, Dent pakai mengangkat kacamata itu tinggi-tinggi pula di ujung tangannya.
"Dent! Turunkan kacamataku! Aku minus parah, tanpa itu aku tak bisa lihat apa-apa!"
"Nanti," sahutnya tenang.
"Apa-apaan jawabanmu itu?"
"Habisnya kamu disuruh istirahat, jawabannya 'nanti' melulu."
Cemburu.
Citron menggebrak meja, perkakasnya berjatuhan ke lantai.
Seharusnya aku tak boleh kesal begini. Itu hal wajar. Bukannya semua orang pernah memiliki orang yang disukai setidaknya sekali seumur hidup?
Dia masih terpaku menatap baut-baut yang sudah berserakan. Pikirannya melayang, batinnya bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang tengah dituntut oleh hatinya untuk Dent?
Apa ini? Mengapa rasanya begini?
"Kakak, masih di sini?" Eureka menghambur masuk. "Ayo cepat, Kak. Ini malam terakhir Dent di sini dan dia janji pada kita mau membuatkan makan malam spesial. Ayo kita temani dia ke supermarket untuk belanja bahan masakannya."
Citron melemaskan urat-urat di wajahnya. Dia memoles senyum, memandang Eureka dengan tatapan selembut mungkin. "Ah .. penemuanku belum selesai. Tinggal sedikit lagi. Eureka saja yang pergi dengan Dent, ya?"
"Kok begitu?" Eureka menggembungkan pipi.
Sebisa mungkin Citron ingin menghindar bertemu Dent—setidaknya sampai ia bisa mengendalikan rona merah dan rasa kecewa di wajahnya.
Tapi dia juga tidak mengerti, mengapa dia jadi begitu sedih, kesal, bercampur iri, ketika tahu kalau Dent pernah menyukai Satoshi?
To Be Continued
Melawan WEBEEE. AKU WEBE PARAH HAHAHAHAHA #nangis.
Betewe, saya nambah OTP di Pokemon www Dent dan Citron. Rasanya mereka kyung aja kalo bareng hshshs. Iya, TBC, karena ada chapter duanya di Sanyo (isshu) pengen bikin interaksi Citron juga sama abang-abangnya Dent xDD
Yuush. Semoga terhibur—dan tejebak #UHUK kalau ada yang suka ShigeSato, Ntouya, atau terjerumus DentCitron, yuu sini senggol-senggol, kita fangirling dan tuker hedkenen bareng xD
.
Salam,
Ratu Galau
