Nijimura Shuuzou selalu muak jika harus berhadapan dengan pemuda bernama Nash Gold Jr. Kelereng hitamnya benar-benar tidak ingin menatap kelereng biru milik Nash yang selalu meremehkan dirinya. Ia tak ingin adu tinju dan berakhir kalah di tangan pemuda yang bukan pribumi itu. Ia sangat ogah punya alat pendengaran jika mulut kotor Nash mulai mengeluarkan hinaan-hinaan yang kelewat cantik—bahkan lebih cantik dari pada hiasan di toko saat Natal.

Nijimura melepas blazer sekolahnya. Melemparnya kesembarang arah tanpa peduli itu akan kotor atau tidak. Lengan kemeja panjangnya ia gulung sampai sebatas sikut. Manik gelapnya terus memperhatikan helaian pirang yang menari-nari dengan santai tanpa empunya tahu kalau sedang diperhatikan.

Langkah pelan diambil menuju orang terkutuk dan kelewat biadab kata-katanya. Sebuah kepalan sudah siap dengan kuat menghajar orang kurang ajar yang tengah membolos dengan tidak tahu diri. Persetanlah, mau Nash kakak kelas atau apapun, yang namanya melanggar tetaplah melanggar. Meskipun Nijimura juga aslinya sudah muak dengan kelakuan senpai-nya yang luar biasa jahanam itu.

"Hanya orang tolol yang menangkap kakak kelasnya tapi melepas blazernya dulu, kau ingin sekalian aku lucuti kemejamu, Shuu-chan?"

Nash menoleh, memasang senyuman iblis andalannya. Nijimura memasang tampang jelek dengan artian tidak suka. Ia menghentikan langkahnya saat Nash berdiri dan juga melepaskan blazer-nya, lalu dilempar kesembarang arah.

"Jangan sok akrab denganku, Senpai," bibir monyong milik Nijimura mencibir tak suka. Dalam netra milik Nash, bibir milik kouhai berengseknya itu minta untuk dikecupi sepersekian detik dengan permainan lidah yang handal.

"Niji-chan?" Seringai Nash makin terukir dengan kentara, tangan kanannya mengulur sok minta untuk diraih.

Diraih untuk apa? Dibanting? Kalau seperti itu Nijimura siap saja. Tapi sayangnya, Nijimura masih sangat amat sadar perbandingan tenaga antara dirinya dan juga Nash. Ia lebih memilih menatap tak suka kakak kelasnya itu dengan tatapan benci yang menggebu-gebu.

Sudah setengah tahun ia juga tak pernah kalah oleh Nash. Kalaupun orang sialan itu kena hukuman, pasti karena ia berhasil mencium dua belah daging kenyal yang kerap maju milik Nijimura. Ia mau dihukum karena melanggar peraturan sekolah dan mengaku salah kalau Nijimura mau dikecupi.

Menjijikan? Sangat. Menyebalkan? Jangan ditanya. Nijimura sudah terlalu lelah dengan Nash. Sangat amat teramat lelah.

"Aku sedang ada waktu senggang, Niji-chan. Aku akan menerima hukuman karena bolos," nada khas songong yang kentara dan pantas untuk menerima sebuah bogeman matang dan keras.

Melalui gerakan yang terlihat santai namun cepat. Nash berhasil menarik kerah kemeja milik Nijimura. Menatapnya tajam lalu berkata, "Bahkan kau ingin memukuli kakak kelasmu saja masih terlihat rapi, bagaimana kalau aku buat pakaianmu berantakan, bocah?"

Dan dalam hitungan detik, Nijimura membulatkan bola matanya dengan sempurna.

.

.

Kuroko no basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Nash Gold Jr x Nijimura Shuuzou

AU! / Typo(s) / Crack!Pairing / OOC / deskripsi sekenanya / EyD diluar kenyataan / tanda baca dan lainnya sangat memprihatinkan.

A/N : di sini Nash kelas 3 SMA dan Nijimura kelas 2 SMA. Semacam hukum karma dulu dia ngebully ayang coretHaizakicoret tapi sekarang dia malah dibully dan diperukekan. /plak/

Selamat membaca—maaf atas kenistaan Haisaki o(-( /kabur dengan kecenya/

.

.

Hidup itu bagaikan cermin tanpa kita sadari. Jika kita berani mengabaikan seseorang, maka kita akan terabaikan oleh seseorang yang lain juga. Kita berani berbuat kasar terhadap orang, maka kita akan dikasari bahkan lebih bengis dari pada yang kita lakukan.

Nijimura Shuuzou ingat betul adik kelasnya yang masuk klub basket sewaktu SMP. Bocah nakal dan ingusan dengan ke-maso-an yang unik. Rambut kelabu dengan tampang imut namun menggoda untuk disiksa bukan disayang.

Kelereng gelap milik Nijimura memperhatikan kakak kelas yang tengah tiduran di area atap sekolah dengan malasnya. Membolos. Nakal. Omongannya kurang ajar—mengundang otak berpikir yang tidak-tidak—Nijimura tidak tahu lagi apa yang harus ia nobatkan untuk kakak kelasnya itu.

Sebagai komite kedisiplinan yang sudah menjabat setengah tahun. Nijimura adalah yang paling tidak mau mengalah terhadap Nash si kakak kelas tidak berguna dan kurang ajar. Para pendahulunya saja ogah berurusan dengan Nash dengan alasan ba-bi-bu, meskipun salah satunya takut bonyok.

Bahkan, para guru saja sudah memasrahkan Nash pada Nijimura. Yah, Nijimura sangat tahu, memusnahkan iblis kotor yang keji adalah suatu hal yang kelewat mulia di dunia ini. Salah satunya memusnakan kekotoran otak Nash dan tingkah tidak mau menurut aturan.

"Apa sulitnya masuk ke kelas, senpai?" Tutur Nijimura dengan nada tak suka.

"Hanya masuk?"

Oh, Tumben sekali Nash langsung merespon omongan Nijimura tentang sekolah atau kelas dengan cepat.

"Iya, masuk, duduk dan dengarkan penjelasan guru, sen-pai," kata senpai sengaja dieja untuk mengejek. Bibir monyong milik Nijimura semakin monyong karena mengomel. Nijimura lelah.

Nash tak langsung menjawab. Ia duduk memunggungi Nijimura. mengacak surai pirangnya, yang tanpa Nijimura sadari, Nash menyeringai dipadu dengan bulir mesum yang ada di otaknya.

"Jadi," Nash menoleh, membalikkan tubuhnya. Memperhatikan adik kelas yang merana dengan nistanya.


Nijimura dengan pose eksotisnya. Tali yang menyambung pada engsel pintu bagian dalam dengan tangannya yang terikat menjulang di atas kepalanya. Seperti akan melakukan adegan seks dengan cara dirantai. Namun untuk yang ini tidak elit sama sekali karena tali yang dipakai tali murahan.

Baju kemeja kotor berantakan. Berkelahi dengan Nash itu membawa sial untuk Nijimura. Sejauh ini, Nijimura selalu menang melawan kakak kelas—kecuali Nash—dalam adu tinju. Entah itu memang mereka yang mengalah atau apa. Nijimura tidak peduli. Sebab takdir sialan sudah terlanjur bertengger dengan imutnya untuk menyiksa pemuda tampan bernama Nijimura Shuuzou.

Awalnya dikecupi dengan paksa, lalu kena tinju dengan cuma-cuma tanpa persiapan. Membuat diri Nijimura merasa limbung. Tapi Nash tetap menarik kerah Nijimura tanpa adab. Memaksanya untuk menuju tali keparat yang ditinggalkan manusia terkutuk—entah siapa—di atas atap sekolah.

Tangannya diikat. Dengan pemberontakan. Hasilnya percuma, ujungnya Nijimura terikat dengan seksinya.

Nijimura bukan tipe penurut pada berandalan kelas kampung macam Nash, walaupun Nash sudah naik posisi badungnya jadi kelas komplek atau perumahan besar.

Nijimura sebelumnya sudah melawan Nash melalui tinju yang tepat sasaran. Nash diam, tetap menarik kerah Nijimura tanpa merasakan telah kena bogem sama sekali. Berlagak cuek ada lalat bodoh yang menggerayangi wajah premannya.


"Masuk kelas tidak seperti memasukkan benda spesial milikku kedalam analmu." Nijimura mengerjap, mengumpulkan nyawanya yang semula sedikit mengingat kejadian bagaimana tangannya terikat dengan tidak berharganya.

"Kau ingin aku masuk,"

"diam di dalam analmu,"

"mendengar rintihan tololmu untuk meminta milikku bergerak?"

"begitu prosesnya, Shuuzou?

Serius, Nijimura sangat ingin meludahi kening milik Nash agar sedikit lebih cerah dan gemilang.

Decihan tak suka terlontar. Bibir indah milik Nijimura kentara semakin maju saja. Kelihatan sangat tak suka dengan omongan Nash yang menyimpang dari jalur pendidikan yang ditempuh.

"Kenapa kau selalu berpikir tentang anal? kau tak punya anal, eh?" Nijimura jengah, membalas perkataan Nash dengan jiwa judes yang ia miliki. Tatapan tak suka masih berkuasa dan melekat hanya untuk Nash seorang.

Nash mendekat. Nijimura nekat bergerak. Tidak mau lagi dikecupi dengan liar dan tak tahu aturan. Nijimura sering kali berpikir dosa apa dimasa lampau yang ia miliki. Namun, surai abu-abu sekelebat terlintas bagai kentut yang tak permisi. Mengganggu.

oke, sepertinya Haizaki mengutukku agar mendapat karma dan disenonohi oleh kakak kelas keparat. TAPI INI KELEWAT KEPARAT!

Batin Nijimura menjerit saat Nash semakin mendekat. Bukannya mengahkimi Nash karena bolos seharian dan hanya masuk kelas 15 menit awal pelajaran. Kini malah dirinya yang tak berdaya bagai korban pemerkosaan.

"Aku punya anal, tapi aku lebih suka memasuki anal."

Nijimura hening. Mencoba membayangkan dirinya adalah Nash dan Haizaki adalah dirinya. Semakin memberontak dan menghina akan semakin ia tergoda. Jadi, lebih baik Nijimura memilih untuk diam. Membuang pandangannya agar tidak bertemu manik biru yang penuh hasrat untuk memperkosa dirinya.

Nash mengangguk, lalu berjongkok dihadapan Nijimura yang entah sejak kapan kakinya terbuka dengan lebar. "Jadi kau membuang wajahmu karena malu atau ingin memberi akses untuk aku mencumbu leher indahmu, kouhai?"

Jari telunjuk kanan Nash mulai menyentuh leher jenjang milik Nijimura. Ia membuat gerakan pelan seolah mengelus. Naik-turun. Membuat Nijimura bergidik dan sesekali menggerakkan kepalanya untuk menolak.

"Orang bodoh bisa terlihat menggoda juga ya?"

Nijimura masih berpegang teguh pada keyakinan. Jika ia tergoda untuk mengumpat maka Nash akan semakin senang. Jika ia diam, mungkin saja Nash akan bosan dan memilih untuk melepaskan tali itu dan membiarkannya pulang.

Nijimura Shuuzou kadang memiliki pikiran yang kelewat cetek.

Biarlah.

Leher mulus dielus perlahan. Masih setia dengan gerakan naik dan turun. Kadang Nash menyeringai, mengangkat dagu milik Nijimura, meskipun Nijimura masih mengalihkan pandangan dan kepalanya.

"Kau membosankan ya—"

sudah pulangkan saja aku, senpai terkutuk.

Tatapan sinis diterima Nash.

"A—hn!"

Sebuah suara lolos memanjakan telinga milik Nash. menodai mulut suci milik Nijimura. Suara sialan yang membuat birahi Si pirang menggebu-gebu. Sentuhan tanpa izin pada sesuatu yang terbungkus di dalam sana membuat reflek dengan kurang ajarnya. Kepalang biadab.

"Kau menyukainya, sayang?"

Yang terbungkus masih dielusi bagai mengelus anak anjing kesayangan. Pemiliknya bergidik geli. Kaki digerakkan dengan risih. Tangan mencoba memberontak, menolak sensasi menggelitik namun juga menegangkan untuk bagian kecil dari dirinya.

Nijmura menggeleng. Meminta Nash untuk menghentikan semua kegilaan yang ia lakukan. Nijimura tak berani membuka suara. Mengunci melodi yang membuat candu para pendengar.

Darah mendesir bagai semilir angin. Rona merah sebagai bukti hingga cuping telinga. Kupu-kupu berkejaran sana-sini di dalam perut. Benar-benar menggelitik diri untuk meminta lebih.

"Jika kau menginginkan lebih kau bisa memi—"

"Nijimura, kau masih di atas sana?"

Suara orang yang sangat Nijimura kenali merobek seluruh perkataan dan perbuatan Nash. Nijimura tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menarik nafas panjang untuk menstabilkan nafasnya—karena menahan desahan—

"May—mphh!"

Belum sempat Nijimura memanggil nama orang yang sepertinya menuju atap sekolah. Mulutnya lebih dulu dibungkam dengan bibir milik Nash.

Dua daging kenyal dilumat bergantian oleh Nash. Atas dan bawah. Atas dan bawah lalu dihisap gemas.

Tatapan tajam tak suka masih melekat. Nijimura merasa hina jika seperti diperkosa seperti ini.

"Nijimura? Kau diatas?"

Ciuman yang memang tidak terlalu panas—menurut Nash—dilepaskan. Nash menganggat dagu Nijimura agar mendongak. Membiarkan kelereng hitam dan biru saling bertemu. Bengis dan muak.

"Kau sudah dijemput, eh? Seperti tuan putri ternyata."

"Nijimura?"

"Sebentar, aku ada urusan dengan Shuuzou-chan. Mayuzumi Chihiro 'kan?"

Nada bicara Nash sedikit dibuat sok polos bagai tidak membuat sebesit dosa pun pada Nijimura. Nash mengambil pisau lipat dari saku celananya. Memotong tali yang mengikat pergelangan tangan Nijimura dengan cantiknya.

"Jadi," jeda untuk Nash mendekatkan dirinya pada Nijimura hingga cuping telinga. "Kalau kau menginginkannya, aku bersedia melayanimu. Ma—ah bukan, tapi tampan." Ia berbisik mulus layaknya seorang penggoda di bar. Telinga Nijimura dikecupi perlahan.

Bughh!

Satu tonjokan keras mendarat pada pipi mulus milik Nash. Nijimura semakin memandangnya dengan tak suka. Kini kebenciannya pada Nash berkali-kali lipat dibanding yang sebelumnya meskipun ia sadar bahwa tubuhnya menikmati perlakuan Nash secara kompaknya. Rona merah masih kentara akibat bisikan jahanam yang ia dengar.

Nijimura berniat mengorek telinganya sampai berdarah agar tidak bisa mendengar Nash berbicara atau mengajak hal intim lainnya.

"Aku segera ke dalam Mayuzumi," bibir kenyal milik Nijimura dilap oleh punggung tangannya sendiri. Nash tersenyum puas menerima pukulan itu.

Toh, memegang benda berharga sampai mengelusnya tak akan setara dengan sebuah pukulan. Apalagi dengan bonus desahan singkat dan mimik muka Nijimura yang kelewat menggoda untuk dicumbu lebih dalam.

Pintu dibuka dengan cueknya tanpa mengindahkan Nash yang duduk bersila memegangi ujung bibirnya. Segaris lengkung semakin mengembang pada bibir Nash. Rambutnya ia sibak sambil memperhatikan punggung Nijimura yang perlahan menghilang ditelan pintu untuk masuk ke dalam sekolah.

Tali bekas mengikat Nijimura dibiarkan menggeletak.

.

.

"Kau tumben lama Nijimura."

Nijimura tak tahu itu sebuah sindiran atau pernyataan dari teman sekelasnya ini. Surai kelabu yang cukup terang dan tatapan mata yang tenang. Novel kesukaan bertengger setia di tangan kanan. Ia sedikit memperhatikan Nijimura yang terus saja mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

"Ada orang terkutuk yang mengganggu."

Mayuzumi Chihiro menoleh kebelakang. Melihat tali yang mengikat pada engsel pintu menuju atas sekolah. Sebuah senyum simpul yang tak Nijimura sadari tertoreh pada wajah Mayuzumi.

Drrrt Drrrt

Sebuah pesan masuk membuat langkah Mayuzumi terhenti. Ia mengambil ponselnya dari saku jasnya. Membiarkan Nijimura berjalan lebih dulu karena terlalu sibuk terus mengelap bibirnya dan menggerutu entah apa dengan cerewetnya.

From : Nash

To : Mayuzumi Chihiro

Jangan lupa besok, ranjangnya harus yang empuk. Aku tidak ingin bokong milik Shuuzou-ku bersentuhan dengan hal yang keras seperti tadi. Aku yakin lubang analnya tadi menjerit meminta untuk di isi secepatnya.

Tanpa membalas pesannya, Mayuzumi memasukkan ponselnya lagi kedalam jas sekolahnya.

"Nijimura, jangan tinggalkan aku. Kau tidak menyadari keberadaanku, eh?"

Langkah Mayuzumi Chihiro dipercepat agar sejajar dengan orang yang tengah kesal setengah mati.


—TBC—


HALO! PAIRING NISTA NAN CRACK LAGI YANG DISANDINGIN SAMA NASH!

Yoshaaa! XDDD saya Haisaki sebelumnya minta maaf lahir batin.

Entah itu cerita buatan Haisaki suka gaje, berantakan dan kecacatan yang banyak namun terselubung (?)

Untuk para reviewer (dari cerita SILENT sampai ini) makasih banyak atas semangat kalian! /ei/ xD

Erry-kun ini kubawakan seperangkat NashNiji untukmu sesuai janji /eh/ maaf kalo gak mutu gini wahahaha tapi moga Erry-senpai mau nerima tiap paragraf yang disusun penuh sayang /cukup/

Untuk Kuga / kapten pelangi : akhirnya omongan dari kapan hari kesampean bikin NashNiji lol dari jauuuh sebelum puasa mau bikin gak jadi-jadi, padahal kita janjian mau collab /plak XDD

Untuk para pembaca, maaf saya nista, baru lebaran udah nebar dosa— /boboan/

Dan terakhir jika ada komentar Nijimura terlalu uke bisa di protes—

Saya juga mau nyoba sesuain Niji tetep tampan ~xDD

Akhir kata—sampai jumpa di chapter 2 [ END ]

Makasih udah baca sampe sini, salam sayang dari Haisaki.

Top of Form