[[Blattella asahinai.
—guess what?]]

Suara langkah kaki mengiringi perjalanan Anezaki Mamori ke ruang klub Deimon Devil Bats. Pintu dibuka, Mamori masuk dan memulai aktivitas bersih-bersihnya.

Pertama, sapu ruang klub. Bawah meja, ruang loker—hei, sebelah sana jangan sampai terlewat. Bersihkan atas lemari dengan kemoceng—ahem, perlu naik kursi rupanya … ah, Mamori, hati-hati dengan debunya. Awas bersin.

Kedua, ambil tongkat pel. Lap, lap, lap. Semua beres? Oh, belum. Lap meja tempat bermain roulette dengan kain—awas, jangan sampai terlalu basah, Anezaki Mamori. Nanti ada yang marah.

Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Setengah jam sudah berlalu. Sang Manajer mengedarkan pandangannya, memerhatikan dengan cermat kalau-kalau ada tempat tersembunyi yang dilewatkannya.

"Ah. Aku lupa membersihkan bagian belakang lemari yang itu … ." Mamori bergumam sambil membawa sapunya menuju lemari di sebelah Barat ruang klub Deimon.

"Hup." Mamori menggeser lemari yang cukup besar itu, mengambil sapu yang tadi disenderkan ke dinding, dan—

Brak.

"AAAAAAAAAAAAAA!"

—satu jeritan mengawali kekacauan di pagi hari.


AN EYESHIELD 21 FANFICTION
EyeShield 21© Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata
Trouble in the Morning © Just 'Monta –YukiYovi and Meongaum
Idea © Yovi and Meongaum
Dedicated to: para Insectophobia! Khususnya, yang takut sama 'dia'~
Warning : maybe OOC, Canon, typo(s), etc.
Let's Start!


Hiruma Yōichi berjalan menuju ruang klub Deimon. Di belakangnya, ada para anggota Deimon Devil Bats—kecuali Musashi yang belum datang—yang secara kebetulan bertemu sang Kapten beberapa menit yang lalu dan sekarang mengikuti jejak Hiruma.

"AAAAAAAAAAAAAA!"

Hiruma dan bodyguards-nya berhenti. Suara apa itu?

Jeritan terdengar lagi disertai suara sesuatu berat jatuh. Hiruma dan anggota Deimon yang lain—bodyguards-nya—saling melempar tatapan bingung.

"Itu suara Kak Mamo 'kan? Apa yang terjadi?" tanya Suzuna membuka suara. Hiruma mengangkat bahu; tanda dia juga tidak tahu hal epic apa yang terjadi.

[[SCHÄBE]]—

Di dalam.

Sapu Mamori jatuh dari genggamannya. Mata biru safir Mamori membelalak melihat hewan invertebrata golongan filum arthropoda yang sedang berlari kecil menuju ke arah kakinya—TUNGGU, KE ARAH KAKI SIAPA BARUSAN?

CRAP! Mamori, sadar! Lihat, makhluk berkelas insekta dan berkaki enam itu mengincarmu! HEI!

"AAAAAAAAAAAAAA!" Mamori berteriak kencang sambil mengambil sapunya kembali—satu-satunya alat pertahanan yang ada di dekatnya.

Mamori memukulkan sapunya sekuat tenaga ke arah serangga dari ordo blattodea itu.

Sayang, sang Blattella asahinai terlanjur terbang ke tepi meja yang baru dibersihkan Mamori. Argh, harga diri Mamori terluka. Sadarlah Mamori, serangga berwarna coklat itu sedang berjalan ke bagian bawah meja! Cepat!

Sapu Mamori kembali terangkat. Layaknya seorang pemain baseball profesional, Mamori mengayunkan pukulan dari bawah. Fobianya terhadap binatang satu itu membuat kekuatan Mamori jadi berlipat ganda, rupanya.

BRAAAAAK!

Insekta yang terdiri dari kurang lebih 3.500 spesies dan 6 familia inidengan lihainya kembali terbang dan nemplok di tengah pintu masuk ruang klub yang—sialnya—Mamori tutup.

Sebagai gantinya, meja gambling di tengah ruangan terjatuh—akibat pukulan 'profesional' Mamori pada tepi bawah meja—dan menimbulkan suara keras.

Seperti tidak punya cukup waktu untuk mengembalikan meja tersebut ke posisi normal, Mamori mengambil sapu cadangan—FYI, akal sehat Mamori yang untungnya masih bekerja mengatakan bahwa dia akan membuat kerusakan besar kalau memakai tongkat pel yang terbuat dari besi—dan bersiap memukul kembali. Hormon adrenalin Mamori tidak banyak membantu kali ini.

Helaian ijuk sang sapu siap menghantam. Sedikit lagi, sedikit lagi. Hewan berantena yang mengalami metamorfosis tidak sempurna alias hemimetabola itu pasti knock out

BUAK!

—atau orang lain yang kena knock out?

"—UKH!"

Hening sejenak. Suara itu 'kan

"H, Hiruma-kun?!" Mamori shock. Harusnya dia yang kena, bukan dia … nah loh bingung 'kan.

"MANAJER SIALAAAANNN KAMU NGAPAINNNN?!" bentak Hiruma sensi—dalem hati sih meringis kesakitan, auw. Poninya yang unik jadi berantakan, hancur total gara-gara sapu sial yang seenak jidat nyamber mukanya. Hiruma diam-diam bertekad untuk belajar yang namanya "mengetuk pintu sebelum masuk", bukan "geser pintu pake kaki baru masuk"in case menghindari kejadian "kena gebuk setelah masuk" terjadi atas dirinya lagi.

[[CAFARD]]—

Sang Kapten dan anak buahnya mengedarkan pandangan ke dalam ruang klub.

Meja gambling terbalik.

Kursi tidak pada tempatnya—beberapa terbalik.

Lemari mencong.

Mamori masih memegang sapu dengan muka pucat dan rambut berantakan.

Kucluk, kucluk, kucluk. Si Troublemaker melenggang dengan tenangnya di tengah-tengah Mamori dan Hiruma.

OH. MY. GOD.

KECOA.

KECOA!

OH GOD WHY!

Monta celingukan dengan beungeut cileupeung*, "Kak Mamori, ruang klub kok—"

"PINJEM!" potong Mamori dan langsung mengambil flame thrower yang dibawa Hiruma, "ADA KECOA TAUK!"

"Mau ap—UWOY RUANG KLUBNYA JANGAN DIBAKAR STUPID!" teriak Hiruma sambil berusaha merebut flame throwernya.

"AKU DAPAT, AKU DAPAT!" jerit Suzuna sambil mengangkat kakinya, bersiap menginjak sang Biang Kerok.

Woy, Suzuna, kamu 'kan pake

SEERR

BRUAK

in line skate. See?

Kapten cheerleader Deimon ini tergelincir, dan jatuh terjungkal menimpa siapapun di belakangnya. Bad luck untuk Jumonji yang DENGAN BERUNTUNGNYA ada di belakang Suzuna.

"KECOANYA DI SITU!" Suara Kurita menggelegar, tanpa berpikir panjang Kurita melompat. MELOMPAT! MANA REAKSI KALIAN?

"UWOOO KAK KURITA TUNGGUUUUUU JANGAN LOMPATTTT!" Sena histeris.

"KURIII HAMMEEER!"

BUUUUMMM

Gempa hebat mendadak melanda ruang klub Deimon. Si kecoa? Sori ye, udah kabur duluan. Slow is not good, right?

Gempa mulai hilang setelah beberapa detik, menyisakan para anggota Deimon termasuk si kecoa yang trauma. Seakan balas dendam pada Deimon Devil Bats, kecoa tersebut terbang dan nemplok di bahu Sena.

"HIIIIIII KAK HIRUMAAA KAK MAMORIII KECOANYA DI SINI AAAA!"

Mamori sudah siap dengan bazooka yang didapatnya entah dari mana dan Hiruma nyaris melempar hand-grenade kalau saja Yukimitsu tidak berteriak.

"JANGAN! PERCUMA! KECOA ITU MAKHLUK YANG GAK GAMPANG MATI TAU!"

"SENAAA AKU AKAN MENYELAMATKANMU!" jerit Monta, siap melempar kulit pisang—melempar, eh?

Pluk, kulit pisang labil tersebut mengenai komik Togano. Strike.

"DASHJADASKJSAFJK!" Jeritan Togano yang meratapi komiknya tidak terdefinisikan, jadi … cuekin aja.

Dengan polosnya, kecoa yang ternyata suka nge-troll ini terbang menghampiri Mamori; belum puas menjahili gadis fobia kecoa yang lagi super panik.

"KYAAA! KECOANYA! KECOANYAAAA!" teriak Mamori heboh sambil berlari-lari mengitari ruang klub dan menabrak apa saja yang menghalangi niatnya untuk hidup. You Only Live OnceYOLOright? Sayangnya, si kecoa kita yang satu ini ga mau nyerah. Ga. GA MAU!

Didorong oleh rasa kemanusiaan, Hiruma yang tadinya hanya jadi korban karena kekacauan yang ditimbulkan oleh budak-budaknya tercinta ini mengambil inisiatif untuk mengambil pembasmi serangga guna dilempar ke arah sang kecoa. Fine, jangan menyalahkanku kalau naluri Hiruma sebagai quarterback mengalahkan logikanya.

Disadari oleh sang kecoa, si kecoa merubah target troll-nya yang semula Mamori menjadi komandan neraka kita. Hiruma Yōichi, RUN FOR YOUR LIFE!

Dengan santai, si kecoa nemplok di jidat Hiruma dan say hello, dan bertatap mesra dengan kedua iris zamrud sang Kapten. Alhasil, Komandan Neraka kita yang terkenal cool, galak, sadis, dan kejam ini langsung berteriak ngambek.

"AAAAA! KECOA! KECOANYA DI DI HIDUNG GUE!" teriak Hiruma nyaris menembakkan senapannya ke kepala sendiri. Anggota Deimon Devil Bats terdiam.

Tanpa ba-bi-bu, anggota Deimon Devil Bats langsung menghampiri Hiruma dengan tampang lempeng** dan madesu. Hiruma jadi persis tahanan yang mau dieksekusi mati. Atau, tepatnya: "Hiruma is surrounded by crazy people and he is the craziest one."

"Kak Hiruma," kata Monta sambil berjalan ke depan Hiruma, "aku tahu hidup ini indah. Aku tahu ini sakit, tapi demi Kak Mamori dan kesejahteraan umat manusia … TAHANLAH!"

Monta yang sudah siap dengan pemukulnya memasang kuda-kuda untuk melancarkan pukulannya ke muka sang Senior.

"OH WAIT—?!"

Seperseratus detik sebelum Monta mengenai si kecoa, si kecoa buru-buru kabur dan—Plak! —muka Hiruma jadi mirip Komusubi karena pukulan Monta tadi. Lol.

Hiruma memasang muka busuk. Tau hukum karma? Inilah yang terjadi pada Hiruma.

"MONYET SIALAN!"

[[KAKKERLAK]]—

Pertarungan sengit antara seekor kecoa dan Deimon Devil Bats terus berlanjut.

Demi apapun, membasmi satu serangga kecil ini lebih sulit daripada melawan Shin, menenangkan Gaou, membuat Kid menjadi muda kembali, dan membuat Taka tertawa digabung jadi satu. Ciyus.

Dan si kecoa? Oh, dia sedang santai di atas kaki meja gambling yang terbalik karena pukulan profesional Mamori.

Merasa terlalu lama beradu diam dengan si kecoa, Yukimitsu mencoba bernegosiasi.

"Hai Breh," kata Yukimitsu pelan, "keluar yuk?"

Seakan mengerti maksud Yukimitsu, si kecoa mulai terbang ke arah pintu ruang klub yang entah kenapa tertutup. Tapi sayangnya, kecoa kita ini memilih untuk melakukan manuver ke kanan seperti KRI Macan Tutul dan menuju Yukimitsu untuk memberikan 'ciuman perpisahan'.

"ITU KECOANYA DI JIDAT KAK YUKI!"

"AYO BOCAH-BOCAH SIALAN, BASMI KECOA SIALAN ITU!"

Yukimitsu 'tak bisa menghindari terjangan teman-temannya. Bagaimana mau menghindar kalau ia diterjang dari segala arah? Dari lemparan kulit pisang, kue sus, hingga komik shonen jump pun diarahkan kepada Yukimitsu. Sedangkan si kecoa? Dia sudah kabur dan nangkring kembali di kaki meja gambling.

Yukimitsu berpikir keras. Bagaimana caranya ia mengentikan teman-teman sarapnya? Tiba-tiba, terlintaslah sebuah ide. Yukimitsu mengambil smartphonenya dan mengarahkan flashlight ke jidatnya.

"BERHENTI KALIAN SEMUA!"

Sring!

Ruang klub Deimon tiba-tiba menjadi terang benderang. Yukimitsu berhasil menghentikan teman-temannya. Merasa sudah cukup, Yukimitsu menghentikan aktivitas 'memberikan sinar dewa' kepada teman-temannya. Pelajaran hari ini: pakai kacamata hitam.

[[SCARAFAGGIO]]—

Deimon Devil Bats kewalahan.

Mengalahkan insekta berwarna coklat ini MEMANG lebih sulit dari Death March, menghindari kejaran Cerberus, atau menguruskan Kurita, atau apapun yang mau kalian pikirkan. Ingin rasanya mereka membakar ruang klub ini saking frustasinya. Tapi tentu aja ga bisa, karena pasti mereka disuruh kerja rodi untuk membangun kembali ruang klub mereka oleh Hiruma.

"Jadi ... bagaimana?"

Pertanyaan Yukimitsu mendapat keheningan serentak dari teman-temannya. Mereka sekarang sedang melakukan huddle seperti sebelum mereka bermain american football.

"Kita bakar saja ruang klub ini!" teriak Mamori frustasi. Anggota yang lain langsung melotot dengan tatapan 'ciyus-demi-apa-lo' ke arah Mamori.

"Tidak!" sanggah Hiruma. "Aku ga mau harus nunggu renovasi gara-gara satu serangga sialan itu!"

"Jadi ... bagaimana?" tanya Yukimitsu sekali lagi.

"Pakai lem tikus aja! Kita pasang jebakan yang kayak di film-film T*m & J*rry!" usul Togano.

Anggota Deimon Devil Bats hening sejenak.

Jumonji menepuk bahu sohibnya. "Tumben kau pintar Nak."

"Jadi, tunggu apalagi?" kata Mamori sambil melemparkan beberapa papan berlem tikus yang masih tersegel rapi.

Anggota Deimon Devil Bats menarik napas dalam untuk mengucapkan kalimat terkenal dari Yos Soedarso pada Pertempuran Laut Aru.

"KOBARKAN SEMANGAT PERTEMPURAN!"

[[CUCARACHA]]—

Kini ruang klub Deimon Devil Bats sudah penuh oleh lem tikus.

Tidak hanya di lantai, dinding pun ditempeli oleh lem tikus yang memang ampuh membuat tikus 'tak berkutik. Bagian yang tidak ditempeli lem tikus hanya area depan pintu masuk, niatnya supaya punya cukup tempat untuk ngacir***.

Lalu anggota Deimon Devil Bats? Mereka sedang bersembunyi di belakang loker.

Si kecoa? Entah diam di mana, pake jaket invisible kayaknya.

Ini strategi terakhir, strategi Heaven or Hell. Kalau berhasil, si kecoa bisa dibinasakan dengan kecenya. Kalau gagal … pertama, si kecoa ga mati. Kedua, susah lagi bersihin ruang klubnya.

Tok. Tok. Tok.

Deg. Suara apa itu? Si kecoa ga mungkin bisa bikin suara macam begitu.

Anggota Deimon celingukan. Nggak, suara itu bukan dari mereka. Mereka daritadi diem, bahkan ga ada yang kentut.

Pintu terbuka. Semua anggota Deimon Devil Bats memelototi pintu.

"Hai semua. Maaf telat, tadi macet. Kalian ngapain sembunyi di belakang loker?"

Suara datar nan tiis****itu mengingatkan anggota Deimon Devil Bats pada seseorang.

"Dan … kenapa ruang klub berantakan plus penuh sama lem tikus?"

Dan dia … Musashi. Si kicker yang dari tadi ga keliatan.

Tunggu, lupakan soal Musashi. Mana si kecoa itu?

Ah, itu dia! Si kecoa yang melihat masa depan cerah penuh harapan untuk keluar dari tempat sarap ini segera terbang dan landing di depan pintu masuk klub. Dia merayap tanpa peduli ada Musashi di situ.

"Ah. Kecoa," gumam Musahi cuek lalu menginjak sang Kecoa secepat kilat.

Si kecoa gepeng, kakinya copot satu. Masih dengan muka datar, Musashi memegang antena kecoa tersebut, membawanya keluar ruang klub, dan melakukan finishing dengan menendangnya ke tempat sampah.

Krik.

"… apa?" ujar Musashi yang risih daritadi dipelongin***** sama anggota Deimon Devil Bats.

Pengen rasanya ngunyah Musashi yang menaklukan seekor kecoa tanpa susah payah. Then, lihat ruang klub sekarang. Lem tikus di mana-mana.

"… ayo beres-beres sekarang," ujar Hiruma madesu.

.

.

THE END
—Pro Deo et Patria—
—Untuk Tuhan dan Tanah Air—

.

.

*cileupeung: muka bego (kasarnya)

**lempeng: datar

***ngacir: kabur

****tiis: dingin

*****dipelongin: diliatin gitu (?)

We're—saya dan Neti, btw—back. Seneng rasanya kembali ke 'rumah'.

Ide fic ini bermula dari kebencian saya pada kecoa Lol XD

Berlanjut dengan percakapan saya sama Neti lewat SMS. Thanks bantuan ngetiknya Say :*

Btw itu yang tulisan di tengah-tengah, artinya kecoa dalam berbagai bahasa. Ngurut dari atas bahasa Jerman, Prancis, Belanda, Itali, dan yang terakhir Spanyol.

Review/ flame/ concrit please?