Hollaaaa... Fic ini sebenernya permintaan teman saya. Dan jujur ini adalah fic multichap pertama Nagi di fandom ini. Sebenernya ini dimaksud untuk balas dendam Nagi pada Sasuke yang cuma muncul 2x di "Naruto Movie 10 the last" bayangin cuma 2x selama film itu ditayangin. Pertama cuma sekilas dan kedua pas dia ngebantu Kakashi untuk ngelindungin Konoha mana dialognya cuma sekali. Hellooww bikin greget tau ga sih? Tapi meskipun begitu saya salut dan agak kaget ngeliat movienya ketika melihat Naruto berani nyium Hinata *Kyaaa~ dan bagian akhirnya yg menceritakan pernikahan mereka meskipun pernikahan Sasuke dan Sakura ga diceritain *Hiks

Nah maka dari itulah saya membuat Fic ini. Tapi sebelumnya saya akan memperingatkan bahwa karakter Sasuke disini OOC bgt. Untuk lebih jelasnya silahkan kalian baca sendiri tapi jangan salahkan saya kalau alurnya berantakan. Maklum saya author baru oiya Salam Kenal (Telat woy) *ditimpuk

Oke, Selamat membaca.


My Life is Different

By : Nagisa Yuuki

Disclaimer : Om Masashi Kishimoto adalah pencipta serta pemilik sah Naruto dan karakter lainnya.

Warning : AU, OOC, Typo(s), dll.


.

.

Gelap. Hanya itu yang sedari tadi ia lihat. Kegelapan yang mendominasi penglihatannya. Bau khas debu kembali mengusik hidungnya. Tempat ini benar-benar kotor, dipenuhi debu, sarang laba-laba, dan banyak serangga menjijikan yang bersarang ditempat ini. Belum lagi hewan pengerat yang sejak tadi tak henti-hentinya menatapnya, memandangnya, memperhatikannya, seolah hewan itu bisa merasakan kekosongan yang melanda hatinya.

Pemuda ini hanya diam. Itulah yang ia lakukan sedari tadi. Ia terduduk dipojok ruangan penuh debu dengan memeluk lutut kakinya. Sementara kepalanya terus menunduk berpangku pada kedua tangan yang ia gunakan sebagai penahan kedua lututnya.

Kosong.

Pandangannya lagi-lagi kosong. Dengan sorot mata yang tak terbaca. Memandang beberapa tumpukan kursi, meja, serta barang-barang tak terpakai lainnya. Debu lagi-lagi bertebaran diruangan ini. Ia tidak memperdulikannya karna saat ini ia berada di gudang. Ya, gudang. Wajar saja kalau tempat ini sangat berantakan dan kotor.

Tapi, bukan hal itu yang ia lamunkan sejak tadi. Melainkan sesuatu yang tertancap di hatinya. Sesuatu yang ia tidak ketahui apa itu. Sesuatu yang merenggut sebagian haknya untuk bernafas.

Pemuda itu mulai menyentuh dadanya, denyutan kehidupan bisa ia rasakan disana. Tapi anehnya ia merasa seperti tak pernah hidup. Seperti sebuah jasad tanpa jiwa. Terasa hampa. Surai raven miliknya terlihat berantakan dengan beberapa debu yang menempel disana. Menjadikannya seperti benda usang yang diletakkan di gudang. Benda yang tak dapat lagi digunakan. Tidak ada bedanya dengan sampah. Ia memang tidak berguna. Sejak dulu memang tidak pernah berguna. Ia selalu bertanya pada dirinya sendiri. Jika ia memang tidak diharapkan untuk hidup. Untuk apa ia dilahirkan. Kenapa ia harus dilahirkan.

"Karna kau adalah aib.."

Suara itu kembali terngiang. Tak perduli seberapa kuatnya ia menutup telinganya. Suara itu selalu terngiang. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya di tembok. Tapi rasa sakit yang menjalar dikepala, membuatnya tak lagi mampu untuk bergerak. Pemuda itu menyentuh kepalanya yang terus berdenyut, sedikit menjambak surai ravennya yang semakin acak-acakan. Rasa sakit itu mulai mereda lalu berpindah pada lambungnya. Rasanya perih. Ia lupa bahwa ia belum makan apapun sejak dua hari yang lalu. Ia melupakan fakta itu. Bahkan ia tidak tahu harus berapa lama lagi ia berada disana untuk menjalani hukumannya.

Hukuman.

Kata itu terus memenuhi pikirannya. Ia menekan perutnya yang kosong agar rasa lapar itu secepatnya menghilang. Sekarang ia mulai menggigil. Dingin. Tempat ini sangat dingin. Tenggorokannya yang kering hampir tak mampu mengucapkan rintihan yang ia tahan sejak kemarin.

Ia menutup matanya berusaha melupakan hal itu. Namun, gagal. Usahanya untuk menutup mata rupanya adalah salah. Ia menyesal. Merutuk dalam hati. Memaki dirinya sendiri. Ia malah kembali mengingat kejadian itu. Kejadian yang belum lama ini terjadi. Tangannya gemetar. Jantungnya terpompa kuat. Nafasnya terengah. Ia lelah. Sangat lelah. Rasanya ia ingin meledak. Meledak menjadi berkeping-keping atau menjadi abu tanpa sisa.

*Flashback*

Sore itu Sasuke nampak tergesa. Ia berlari cepat berusaha berpacu dengan waktu. Tak dihiraukannya langit yang mulai dihiasi awan gelap ditambah hujan deras yang menggugur dirinya beserta bumi yang dipijakinya. Yang ia inginkan hanya sampai dirumah secepat yang ia bisa. Ia tahu hidupnya memang dipenuhi dengan berbagai peraturan yang kadang membuatnya berpikir untuk apa sebenarnya peraturan itu dibuat. Ia bahkan sampai hafal diluar kepala. Sasuke tersenyum miris dibalik kacamata tebalnya yang mulai berembun. Dia ingat. Dia dilarang keluar rumah tanpa izin selain pergi kesekolah. Dilarang menunjukan ekspresi. Dilarang bermain. Dilarang mendapatkan nilai dibawah 90. Dilarang menunjukan perasaannya. Lalu Sasuke mengingat peraturan yang selalu nyaris membuatnya terkena masalah jika dilanggar. Ia harus sudah berada dirumah tepat sebelum jam 5 sore.

Sial!

Sasuke tahu ia sudah terlambat pulang. Itu semua karna hujan sialan ini. Ia tidak dapat membayangkan hukuman seperti apa yang akan ia terima setelah sampai dirumah nanti. Memikirkan hal yang menakutkan seperti itu membuat sebagian konsentrasinya buyar. Kakinya tersandung sesuatu hingga ia jatuh tersungkur. Menimbulkan suara cipratan air yang tergenang dijalan. Sasuke mengeluh sebentar. Ia mengusap lututnya yang terjatuh lebih dulu menyentuh aspal jalan. Ia tahu rasa sakit itu tidak sebanding dengan ketakutannya. Bahkan rasa dingin yang menjalari tubuhnya tak ia hiraukan. Meskipun bibirnya sudah tampak membiru dan bergetar.

Sasuke kembali mempercepat langkahnya. Menembus hujan yang semakin deras. Dengan pikiran-pikiran negatif yang sarat akan ketakutan. Sampai ia tidak sadar kacamatanya terpental ketika ia jatuh. Dan ia tidak memungutnya karna ia tidak menyadarinya.

Kreek..

Sasuke membuka dan menutup pintu dengan gerakan cepat tapi tidak menimbulkan kegaduhan sedikitpun. Ia selalu berhati-hati pada apa yang disentuhnya. Ia takut merusaknya dan ia takut mendapatkan hukuman dari perbuatannya.

"Okaeri nasai, Sasuke-sama." Ucap seorang pelayan dirumah keluarga itu.

"Ta-tadaima, S-shizune." Balas Sasuke dengan nafasnya yang masih tersenggal. Shizune mengernyitkan dahinya ketika melihat wajah tuan mudanya pucat dengan tubuh menggigil dan bibir yang membiru. Bahkan ia mendengar gigi tuannya saling beradu karna kedinginan.

"Biar saya siapkan air hangat untuk tuan muda," Tawarnya tulus. Sasuke tahu itu.

"Tidak perlu aku bisa menyiapkannya sendiri. Terima kasih, Shizune."

"Tidak, itu adalah tugas saya, tuan muda tidak perlu berterima kasih. Ngomong-ngomong tuan besar telah menunggu kepulangan anda sejak tadi diruang tengah, sebaiknya.. Anda menemui beliau." Ungkap Shizune. Nada suaranya mendadak ragu.

Sasuke menelan salivanya gugup. Ia melihat kekhawatiran dalam wajah Shizune dan ia tahu itu bukanlah pertanda baik. Sejujurnya perasaannya sendiri sekarang tidak enak. Dengan ragu ia melangkah menuju ruang tengah. Ia gemetar. Rasanya kakinya tidak lagi berpijak pada bumi. Ia tidak bisa merasakan kakinya. Terlalu takut untuk melangkah. Namun, sialnya ia sudah berada didalam ruangan itu. Ruangan besar dengan perabot mahal yang terlihat mewah. Sasuke bisa melihat sosok Ayahnya disana. Didepan sebuah lukisan abstrak. Pria itu berdiri membelakanginya menatap lukisan itu dalam diam.

Diletakkannya tas sekolahnya perlahan dilantai tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ia takut Ayahnya akan semakin marah jika ia melakukan itu. Sasuke menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.

"Ma-ma-maafkan aku, A-ayah.. Aku.. Aku ter-lambat," Sasuke menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia dapat merasakan Ayahnya kini telah berbalik memandangnya. Sasuke masih belum berani mengangkat wajahnya. Ia terus menatap lantai yang seolah menarik untuk dilihat. Sepasang Onyx-nya melihat ujung sepatu hitam milik Ayahnya yang berjalan kearahnya lalu berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Pelan-pelan ia mengangkat wajahnya dan hal itu malah membuatnya menyesal. Ia melihat wajah Ayahnya yang menatap bengis padanya. Tanpa sadar tubuhnya kembali bergetar. Ia dapat merasakan aura mengerikan disekitar tubuh Ayahnya. Sasuke terkesiap. Ia tersedak nafasnya sendiri. Tenggorokannya tercekat. Ketika melihat kemarahan yang tersirat dari wajah tegas sang Ayah. Sasuke membeku dan ia dapat merasakan tubuhnya terlempar lalu terjatuh menubruk lantai dengan kerasnya. Ia merasa sesuatu mengalir dari hidung serta bibirnya.

Barusan pria tua itu memukulnya. Memukulnya dengan kekuatan penuh seolah ia tidak perduli apakah pukulan itu menyakitinya atau tidak. Sasuke masih tercengang dengan ketakutan yang semakin menguasainya. Ia masih dapat merasakan dengan kesadaran dirinya saat surai ravennya ditarik dengan kasar. Membuat wajahnya mendongak paksa. Dilihatnya Fugaku -Ayahnya- menatap benci padanya. Sasuke meringis dalam hati. Memang kapan Fugaku pernah menatapnya dengan penuh kasih sayang.

"Siapa yang menyuruhmu dengan berani memperlihatkan wajah jelekmu padaku? Sudah kukatakan aku benci melihatnya!" Bentak Fugaku. Suaranya terdengar keras dan penuh penekanan dalam setiap katanya.

Hati Sasuke mencelos. Ia merasa sesak. Ucapan Ayahnya sangat menyakitinya. Ia tetap tidak berani mengeluarkan suara. Ia takut Fugaku semakin marah. Ayahnya tidak suka kalau ia membantah.

Fugaku menghempas rambut Sasuke kasar. Membuat pemuda bersurai raven itu kembali terjatuh dilantai. Dilepaskannya ikat pinggang dari celana hitam panjangnya. Lalu tanpa segan menghadiahkan cambukan secara beruntun pada punggung Sasuke. Ia tidak memperdulikannya. Merasa kasihan pun tidak. Ia sangat membenci putra bungsunya melebihi apapun yang ada di dunia ini. Fugaku terus mencambuk punggung Sasuke. Tak mengindahkan rasa sakit yang dirasakan Sasuke. Membuat pemuda malang ini menutup rapat kedua matanya saat dirasakannya bekas cambukan itu memanas lalu terasa perih dan sakit. Sasuke mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat berusaha untuk tegar. Ia menggigit bibir bawahnya berusaha meredam suara teriakan yang nyaris ia keluarkan. Matanya semakin terpejam saat ia mencoba untuk membukanya pandangannya tiba-tiba mengabur. Seberapa kuatnya ia mencoba untuk tidak menangis. Kenyataannya ia semakin tak sanggup membendung tetesan air yang menggenang dipelupuk matanya. Dan sialnya hal itu dilihat oleh Fugaku. Ia tahu ia dilarang untuk menunjukan ekspresinya. Tapi ini terlalu menyakitkan untuknya.

Seringai buas mulai tampak diwajah datar Fugaku. Dia menikmati kesakitan yang dirasakan oleh Sasuke. Dan baginya ini belum bisa menebus semua dosa-dosanya pada keluarganya. Kehadiran anak ini hanya membawa malapetaka dan kesialan. Ia sangat tidak mengharapkan kehadiran putra bungsunya itu. Ia sangat membencinya. Amat sangat membencinya.

"Apa yang kau lihat heh?!" Hardiknya saat melihat wajah memelas yang diberikan Sasuke padanya. Fugaku menendang perut putranya dengan kuat. Hal itu membuat Sasuke memuntahkan darah dari mulutnya. Tatapannya nanar dan ia menahan dirinya untuk merintih. Ia melihat Ayahnya yang mendekat lalu wajahnya kembali meringis saat dirasanya rambutnya kembali ditarik kasar. Kali ini bukan untuk membuatnya mendongak tetapi menyeretnya kearah gudang.

Sasuke terus diam. Kepalanya mulai berdenyut nyeri. Ditambah sakit yang ada dipunggungnya. Ia yakin punggungnya sudah memar dan berdarah. Ia bisa merasakannya ketika lukanya bergesekan dengan gakuran yang ia kenakan rasanya perih. Dan ia hampir tidak bisa menahannya.

Sementara tubuhnya semakin diseret paksa oleh sang Ayah. Fugaku baru melepaskan jambakan pada rambut Sasuke ketika mereka telah sampai di gudang. Sasuke melihat Ayahnya yang mulai berbalik meninggalkannya. Pintu gudang itu ditutup lalu dikunci dari luar. Seketika kegelapan membungkusnya dalam rasa sakit yang mendera tubuhnya.

*Flashback End*

Perlahan dengan gerakan yang amat hati-hati ia mencoba menyentuh punggungnya. Dan seketika raut kesakitan nampak diwajah pucatnya. Ia tidak akan menangis karna ia dilarang melakukannya. Entah sejak kapan ia diperlakukan seperti ini oleh Ayahnya. Karna sejauh ingatan yang dimiliki. Fugaku sudah memperlakukannya dengan kejam sejak dulu. Sejak ia kecil. Bahkan jauh dari itu. Sasuke tak pernah ingat Fugaku pernah memeluknya. Yang ia ingat Fugaku selalu mengabaikannya, menghukumnya, membentaknya, memukulnya, dan melarangnya ini itu dengan peraturan tak masuk akal yang telah dibuatnya dirumah ini. Tidak. Lebih tepatnya untuknya. Peraturan itu hanya berlaku untuknya. Dan ia dihukum seperti ini karena ia dengan -tanpa sengaja- menunjukan wajah yang sangat dibenci Ayahnya kehadapan beliau. Sasuke tidak mengenakan kacamata untuk menutupinya. Ia lupa. Ia tidak ingat. Ketika kacamata itu terjatuh. Dan ia harus menelan rasa sakit ini bulat-bulan hanya karna masalah sepele seperti itu. Kapan dunia bisa berlaku adil padanya. Kapan-

Trek.. Trek.. Kreek..

Pintu gudang terbuka. Setelah sebelumnya ia mendengar bunyi kunci diputar dan gagangnya ditekan. Sasuke menoleh memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dengan sedikit memerah ketika cahaya masuk dan menerangi dirinya dari kegelapan.

"Tuan muda.." Panggil Shizune yang nyaris memekik melihat penampilan Sasuke yang sangat mengkhawatirkan.

"Shizune.." Sasuke menjawab dengan suara seraknya. Ia melihat pelayan wanita itu mendekat kearahnya. Ia dapat merasakan dinginnya punggung tangan Shizune didahinya. Dan ia dapat mendengar nada suara Shizune yang mengkhawatirkan dirinya.

"Sebaiknya tuan muda kembali ke kamar lalu istirahat. Anda sepertinya terserang demam Sasuke-sama." Ucapan itu hanya direspon anggukan pelan dari Sasuke meskipun ia merasa kepalanya semakin pusing ketika mengangguk. Shizune membantu Sasuke untuk berjalan ia dapat melihat noda merah dibalik gakuran tuan mudanya. Hatinya langsung mencelos. Rasanya ia ingin menangis walaupun ia tahu ia tidak punya hak untuk melakukannya.

Sasuke melihat Shizune dengan telaten mengobati lukanya. Ia juga melihat Suigetsu pelayan laki-lakinya tengah membantunya untuk berganti pakaian. Ia bahkan melihat si pelayan ceria Karin yang tersipu ketika berusaha memintanya makan. Ia tahu. Sangat tahu. Tapi ia tidak tahu untuk apa mereka melakukan semua itu.

.

::My Life is Different::

.

Disekolah semua murid tampak riang. Bercanda dan bercengkrama pada sesamanya. Ada yang menjahili dan ada yang dijahili. Senyum dan tawa selalu mewarnai suasana tiap kelas. Bahkan ada juga suara riang yang tertangkap ditelinganya saat dilorong. Semua orang bahagia. Semua orang tertawa. Kenapa hanya dia yang tidak bisa merasakan semua itu. Bahkan Sasuke lupa kapan terakhir kali ia tertawa dan tersenyum. Ia sendiri tidak tahu bagaimana cara melakukannya.

"Seharusnya kau lihat bagaimana respon Shino saat kami menyembunyikan serangganya, sungguh konyol dan tampak memelas," Seru Naruto pemuda dengan rambut pirang acak-acakannya. Tawanya menggema disekitar kelas. Pemuda ini bagaikan matahari yang selalu bersinar dan membagikan kebahagiaannya pada orang-orang disekelilingnya.

"Kau itu keterlaluan Naruto, kau kan tahu Shino itu sangat menyayangi serangganya," Protes Ino. Gadis berambut pirang panjang yang diikat tinggi seperti ekor kuda.

"Kami kan hanya bercanda setelah itu juga sudah kami kembalikan," Gerutu Naruto setengah mencibir.

"Kalian ini senang sekali menjahili orang sih. Minggu lalu kau juga kan yang menyembunyikan novel kesayangannya Kakashi-sensei," Kini gadis berambut merah muda yang bersuara. Haruno Sakura gadis yang duduk disamping meja Sasuke.

"Hahaha.. Kalau ingat itu aku jadi ingin tertawa. Tidak biasanya Kakashi-sensei murung dengan wajah memelas seperti itu saat mengajar," Kata pemuda dengan tato segitiga terbalik dikedua sisi pipinya. Inuzuka Kiba.

"Haah.. Kurasa percuma saja menasehati mereka. Itu tidak ada gunanya." Ucap Sabaku Gaara. Pemuda stoic minim ekspresi dengan rambut merah darahnya yang berantakan.

"Mendokusai. Kenapa kalian berisik sekali!" Protes seseorang yang sedang mencoba tidur dikursi paling pojok. Raut wajahnya terlihat malas dengan sesekali menguap lebar. Nara Shikamaru yang memiliki rambut hitam menyerupai nanas.

Sasuke hanya mendengarnya dalam diam dengan pandangan yang lurus menatap jendela. Kebetulan mejanya memang berada dekat dengan jendela sehingga memungkinkan dirinya untuk melihat langit kapanpun ia mau. Sasuke memang pendiam. Ia jarang berbicara dengan teman sekelasnya. Jika sedang tidak belajar ia hanya melamun menatap langit dengan ekspresi datarnya yang melebihi seorang Gaara. Dan saat istirahat ia lebih suka menghabiskan waktu sendirian diatas atap untuk belajar atau sekedar untuk tidur.

Sasuke mendesah. Hari ini rasanya ia sedang sial. Ia harus berangkat kesekolah dengan keadaan yang sangat buruk. Punggung penuh luka, kepalanya yang terasa berat dan sakit, demam yang dirasakannya semalam juga belum sepenuhnya menurun. Tapi berada disekolah jauh lebih baik daripada dirumah walaupun ia tidak menyukai keramaian.

"Sasuke-kun kau tampak tidak sehat hari ini," Komentar si gadis bersurai pink sepunggungnya. Haruno Sakura.

Sasuke menghentikan lamunannya dan menoleh pada Sakura. Ia melihat gadis itu sekarang telah kembali ke kursinya. Menatapnya penuh khawatir dan hal itu membuatnya sedikit risih.

"Apa kau sakit?" Tanya Sakura. Membuat teman-temannya yang masih sibuk mengobrol serempak menoleh pada Sasuke.

"Tidak. Aku baik-baik saja." Sanggahnya.

"Benarkah? Kalau kau sedang tidak enak badan sebaiknya kau istirahat di UKS saja,"

"Tidak perlu. Terima kasih sudah mencemaskanku." Sasuke menggeleng dan membuat kepalanya semakin pusing. Sontak ia memejamkan matanya sejenak. Berusaha meraih ujung meja untuk menahan keseimbangannya.

Hal itu tak luput dari mata Sakura. Ia tahu kalau Sasuke berbohong. Ia sedang sakit dan ia berusaha untuk menutupinya.

"Oi, kau baik-baik saja?" Tanya Naruto. Ia juga melihat saat Sasuke nyaris terjatuh barusan. Ia menghampiri Sasuke yang sedang menenggelamkan kepalanya diatas meja. Ia menyentuh pelan punggung Sasuke dan ia terkejut saat mendengar pemuda itu merintih pelan.

"Jangan sentuh aku!" Kata Sasuke berusaha menjauhkan Naruto darinya.

"Ma-maaf aku tidak bermaksud-"

"Sudahlah lupakan." Potong Sasuke. Sedikit merasa bersalah telah mengucapkan kalimat yang menyinggung niat baik pemuda pirang itu. Ia kembali menenggelamkan wajahnya diatas meja berusaha mengakhiri percakapannya dengan kedua temannya.

Naruto kembali ketempat teman-temannya berada. Sedikit heran juga dengan sikap anti sosial Sasuke. Ia tahu Sasuke memang pendiam. Ia jarang berbicara dengannya kalau bukan menyangkut soal penting seperti pelajaran. Sejak awal dimulainya semester baru Sasuke memang sudah menutup diri. Sebenarnya kalau ingin jujur Naruto ingin sekali berteman dengan dia tapi sulit.

"Apa-apaan sikapnya itu?" Protes Kiba.

"Sasuke itu sepertinya menyukai kesendirian ya?" Kata Sai.

"Dia murid cupu yang paling sombong menurutku. Seharusnya kau dan Sakura tak perlu berbaik hati padanya. Kau lihat sendiri kan responnya barusan." Dengus Kiba.

"Kiba kecilkan nada suaramu. Kau bisa menyakiti perasaannya tahu!" Ucap Ino. Dan Kiba hanya mencibir. Ia memang tidak menyukai tipe murid seperti Sasuke. Sementara Naruto ia hanya diam memandang punggung Sasuke dari tempatnya berdiri. Ia sedikit penasaran kenapa Sasuke suka sekali sendirian. Ditambah lagi ia merasa kalau Sasuke itu sebenarnya kesepian.

.

::My Life is Different::

.

Naruto menggigir jarinya dengan ekspresi tak percaya. Sudah ia duga kalau hari ini ia sedang sial. Buktinya baru mulai belajar saja ia sudah dipanggil kedepan kelas untuk mengerjakan soal yang menurutnya err- sulit. Naruto bukanlah termasuk murid yang pintar. Nilai akademiknya saja pas-pasan. Ia hanya menonjol dibidang olahraga saja. Dan menurutnya itulah lelaki sejati. Meskipun pemikirannya sering membuat teman-temannya kesal dan mengatainya bodoh. Tapi begitulah Naruto. Selalu ceria dan membuat orang-orang disekitarnya menyukainya meskipun ia bodoh.

Sudah 10 menit ia berada didepan kelas tanpa menyentuh soal yang diberikan oleh Kurenai-sensei. Ia menggaruk kepalanya dengan wajahnya yang terlihat semakin bodoh. Dilihatnya Kurenai-sensei yang tampak habis kesabarannya menunggu Naruto untuk menyelesaikan rumus fisika yang bahkan tidak ia sentuh sedikitpun.

"Huuff.." Kurenai menghela nafas gusar saat melihat murid pirangnya ini nyengir kuda dengan wajah tanpa dosanya.

"Sasuke.. Bisa kau maju kedepan dan bantu Naruto menyelesaikan rumus itu?" Pinta Kurenai dan Sasuke segera mengangguk.

Dimintanya Sasuke untuk maju kedepan kelas membuat Naruto menatapnya penuh harap. Dia yakin Sasuke pasti bisa membantunya. Karna tidak ada murid disekolah ini yang dapat menyaingi kepintaran Sasuke dalam segi akademik.

Sasuke menerima spidol yang diberikan Naruto padanya. Ia melihat pemuda itu tersenyum secerah matahari. Ia meneliti soal itu sejenak dan lalu menyeringai dalam hati. Ini adalah soal mudah baginya.

Ptotal = Po + . g . h

= 105 Pa + ,03X103 kg/m3 . 10m/s2 . 50m

= 105 Pa + 515 X 103

= 1 X 105 + 5,15 X 105 = 6,15 X 105 N/m2

Pandangan Sasuke sedikit kabur saat berbalik akhirnya ia memutuskan untuk diam sebentar ditempatnya. Ia melihat Kurenai-sensei tengah mengoreksi jawaban yang ia tulis dipapan tulis. Ia juga melihat Naruto yang mengacungkan jempol padanya. Ia bahkan juga mendengar seruan kekaguman teman-teman sekelasnya saat melihat dirinya mengerjakan soal itu dengan mudah. Tapi ia merasa sedikit tidak nyaman dengan tubuhnya yang seperti mau melayang. Keringat dingin mulai tampak didahinya. Sasuke menyipitkan matanya saat tiba-tiba ia merasa pandangnya mulai bergoyang. Memejamkan mata rasanya percuma hal itu malah membuatnya semakin pusing tak terkendali. Akhirnya ia membuka matanya kembali. Kurenai-sensei tampak mengucapkan sesuatu padanya tapi ia tidak dapat mendengarnya. Ia hanya bisa melihat senyumnya secara samar. Ia berniat kembali kekursinya. Namun kakinya entah kenapa seperti tidak nampak dibumi. Pandangannya mulai berputar-putar lalu semakin kabur. Hal terakhir yang ia ingat adalah seseorang menyentuh lengannya dan berusaha mengguncang tubuhnya yang melemah. Selanjutnya gelap mendominasi indera penglihatannya.

.

::My Life is Different::

.

Sasuke pernah bermimpi. Mimpi buruk yang tidak memiliki sisi disetiap ujungnya. Ia terperangkap disana. Dengan dipenuhi kegelapan, penderitaan, dan rasa sakit. Tak perduli seberapa kuat ia menangis, seberapa kencang ia teriak. Ia tidak bisa keluar dari tempat itu. Disaat ia mulai merasa putus asa. Cahaya mulai datang. Penuh kehangatan dan kasih sayang. Disaat itulah ia melihat sosok wanita itu. Wanita yang menurut Sasuke sangat cantik. Rambutnya hitam panjang dan matanya mirip dengan yang ia punya. Wanita itu tersenyum. Merengkuhnya. Memberikan ketenangan. Dan ia juga membawa Sasuke ketempat yang sangat indah.

Hal itu selalu terjadi berulang-ulang. Mimpi buruk. Kegelapan. Cahaya datang. Wanita cantik yang menyelamatkannya. Dan setelah itu ia terbangun dengan segudang tanda tanya. Sedikit merasa kecewa. Karna ia sadar hidupnya jauh lebih mengerikan dari mimpi buruknya semalam.

Kini ia terduduk dengan pandangan yang tidak lepas menatap pemuda pirang yang tersenyum cerah padanya. Jujur ia sedikit bingung kenapa ia bisa berada di ruang UKS padahal seingatnya tadi ia sedang berada didepan kelas untuk mengerjakan kuis yang diberikan Kurenai-sensei. Lalu mengapa ia bisa ada disini.

"Akhirnya kau sadar juga. Kau sudah membuat Kurenai-sensei cemas dan khawatir tahu," Naruto tersenyum lagi. Dengan senyumnya yang biasa ia perlihatkan.

"Kenapa aku ada disini?" Tanya Sasuke bingung.

"Kau tidak ingat? Kalau kau tadi pingsan. Geez, dasar! Kalau sakit seharusnya kau tidak usah masuk sekolah." Ucap Naruto.

Sasuke menunduk lalu menghela nafasnya pelan. Keadaannya sudah agak membaik dibanding yang tadi. Setidaknya rasa sakit dikepalanya sudah hilang.

"Kau tahu, sebenarnya kau itu tidak perlu memakai kacamata kan? Matamu normal dan kau juga tidak jelek." Komentar Naruto polos. Sasuke sedikit tersentak. Dirabanya wajahnya yang tanpa kacamata dan melihat kacamata itu telah berpindah pada tangan Naruto.

"Kembalikan,"

"Huh?" Naruto menaikan sebelah alisnya. Merasa heran untuk apa orang yang memiliki mata normal memakai kacamata super tebal yang bisa membuat matanya sakit.

"Aku memerlukannya Naruto," Pinta Sasuke halus. Terdengar sangat sopan berbeda dengan ia yang dikelas tadi.

"Kau pasti memiliki alasan kenapa memakai benda ini kan?" Tanya Naruto.

"Aku hanya suka,"

"Kau aneh.."

"Diamlah dobe,"

"Apa? Dasar teme!"

"Hn."

"Ah, kau menyebalkan." Gerutu Naruto sambil mengerucutkan bibirnya. Ia memberikan kacamata itu pada Sasuke dan sebelum pemuda itu mengenakannya ia sempat menangkap sorot mata Sasuke penuh dengan luka dan kesedihan. Kenapa pemuda minim ekspresi seperti dia bisa menampakan sorot mata seperti itu.

Sasuke menatap langit dari jendela ruang UKS. Lagi-lagi pandangannya kosong.

"Yah, sebaiknya aku kembali. Kau istirahat saja sampai jam bubar sekolah nanti." Naruto beranjak dari kursinya sebelum ia meraih engsel pintu. Sasuke menoleh kearahnya.

"Terima kasih, Naruto." Katanya pelan. Kemudian dibalas dengan cengiran lebar milik Naruto.

Blam!

Pintu kembali ditutup bersamaan dengan raibnya sosok Naruto yang menghilang dibalik pintu. Sasuke kembali melamun. Melihat daun yang beterbangan ditiup oleh angin dari balik jendela.

"Kau tahu, sebenarnya kau itu tidak perlu memakai kacamata kan? Matamu normal dan kau juga tidak jelek."

"Siapa yang menyuruhmu dengan berani memperlihatkan wajah jelekmu padaku? Sudah kukatakan aku benci melihatnya!"

Dua kalimat yang berbeda itu terasa berputar-putar diotaknya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan tatapan nanar. Tembok pertahanan yang dibangunnya selama ini seakan runtuh. Bisakah meskipun sebentar ia menangis. Menangisi hidupnya. Menangisi kemalangannya. Tapi.. Ia tidak boleh lemah. Ia harus tegar. Sasuke tidak boleh menunjukan kelemahannya meskipun ia lelah. Ia tahu ia hampir mencapai batas kemampuannya. Dan ia tahu suatu saat ia akan menyerah. Tapi untuk sekarang ini biarlah ia menunjukan sisi lain dirinya yang terpendam. Ia benar-benar sudah lelah. Sangat lelah.

.

::My Life is Different::

.

Suasana tegang tengah menyelimuti ruangan besar ditempat itu. Kepulan asap cerutu yang dihisap oleh seorang lelaki tua menyebar bebas hingga tercium aroma nikotin yang sangat khas. Bibirnya membentuk sebuah seringai. Ia melampirkan sebuah foto dimejanya bermaksud agar kedua pemuda dihadapannya bisa melihat wajah yang tertera difoto itu. Wajah seorang remaja 15 tahun dengan rambut raven serta mata onyx-nya yang sangat kelam.

Kedua pemuda yang sejak tadi hanya berdiri diam menunggu sebuah perintah dari sang majikan. Tanpa ragu menerima foto itu dan mulai menatap lekat wajah yang terpotret didalamnya.

"Cari, Uchiha Sasuke, hidup atau mati."

Perintah itu dalam sekejab membuat kedua pemuda itu mengangguk lalu menunduk untuk memberi hormat kemudian pergi.

"Kau akan menyesal, Fugaku."

.

.

The End

.

.

.

.

Haha bercanda.

To Be Continued kok.

Menurut kalian gimana? Mau dilanjut apa enggak? Jujur saya mengakui ke OOC'an Sasuke serta karakter lainnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya. *smirk

Hohoho... Ja matta ne ^_^