Sakura mengalihkan perhatiannya dari bunga mawar pada Mabui yang berlari-lari ke arahnya. Gadis yang sudah menjadi pelayannya selama delapan tahun itu berhenti di sampingnya dengan nafas memburu. Sakura terkekeh melihat tingkah Mabui yamg gampang panik.
"Kau seperti di kejar setan, Mabui-chan."
"Bukan nona. Bukan setan..." Mabui berusaha menenangkan dirinya. Gadis ini juga tak bisa bercanda. Entah hanya dengannya atau memang sifat dasarnya. "Keluarga Sabaku datang lagi."
Sakura memberikan alat penyiram bunga pada Mabui, menyuruh gadis itu melanjutkan pekerjaannya selagi dia menemui keluarga Sabaku. Keluarga merepotkan yang selalu datang ke kediamannya akhir-akhir ini dengan berbagai macam alasan yang menyebalkan. Setidaknya itu karna Sakura tahu ujung-ujungnya pembicaraan selalu tentang lamaran mereka yang Sakura tolak beberapa bulan lalu. Sabaku memang keras kepala.
"Nona Haruno." Sambut Sabaku Rasa saat Sakura masuk ke ruang tamunya. Sakura tersenyum membalas sapaan pria paruh baya itu. Kali ini dia bersama dengan Sabaku Kankurou. Yah mungkin itu lebih baik daripada membawa nyonya Karura yang kelewat enerjik dan membuat Sakura lelah.
"Senang melihat anda lagi. Apa pekerjaan anda baik-baik saja?" Tanya Sakura basa-basi. Dia tahu Rasa adalah menteri perdagangan Konoha. Dan semuanya akan baik-baik saja selagi hubungannya dengan petinggi-petinggi lain baik-baik saja. Korupsi bukan hal besar di kalangan mereka. Selagi saling menguntungkan. Dan Sakura sebisa mungkin tak akan terbelit ikatan yang pasti sulit di urai itu. Tak ada alasan lain selain Sakura tak suka terikat.
"Tentu saja. Ah kami membawakan guci terbaik dari china sebagai oleh-oleh." Sakura terkekeh saat Kankurou menyodorkan peti besar.
"Terima kasih. Anda seperti yang baru pulang dari bepergian. Ah ku pikir anda sudah tahu Rasa-san, kalau pikiranku tak akan bisa di pengaruhi hal ini." Sakura tersenyum manis melihat wajah cemberut Kankurou dan senyum kecut Rasa.
"Kamipun tak berniat mengubah pikiranmu dengan ini. Adikku baru kembali dari negeri itu, dan mungkin mulai besok dia yang akan berkunjung ke sini secara langsung." Ketus Kankurou yang langsung mendapatkan tatapan tajam ayahnya.
Pembicaraan mereka berubah ringan setelah itu. Keluarga Sabaku memang melamarnya untuk Gaara, putra bungsu mereka yang belum pernah Sakura jumpai karna belajar di negeri china. Dan Sakura tak peduli. Dia sudah menolak lamaran itu sejak beberapa bulan yang lalu. Dan tak akan berubah hanya karna kepulangan sosok lain di keluarga itu.
Sepulang keluarga Sabaku, Sakura mendesah lelah. Berharap saja jika sosok yang bernama Gaara akan lebih peka dan mudah di tangani. Sakura sedang tak butuh pendamping saat ini. Dia sedang butuh alat untuk segala yang ada di kepalanya.
Sakura menatap bulan yang membulat sempurna. Sinar keemasannya begitu mempesona menyelimuti malam. Gadis itu tersenyum melihat sosok yang melompat dari satu atap ke atap lainnya dan semakin mendekat padanya. Sosok yang ternyata remaja pria itu mendarat tanpa suara di hadapan Sakura.
"Selamat datang Sasuke." Ucap Sakura selembut angin malam yang berhembus mengibarkan pakaian serba hitam remaja itu.
"Sakura-nee." Sakura berbalik dan membiarkan Sasuke melompat jendela masuk ke kamarnya.
Sasuke duduk manis mengamati Sakura yang dengan anggun menyeduh teh dan menuangkan ke gelas kecil di depannya. Setelah menuang teh ke gelasnya sendiri Sakura duduk di hadapan pria yang lebih muda lima tahun darinya itu. Emeraldnya menelisik pemuda yang setiap bertemu dengannya terlihat semakin tampan. Sakura tersenyum kecil menertawakan pikirannya.
"Bicaralah Sasuke." Ucap Sakura setelah Sasuke meletakkan gelasnya kembali ke meja.
"Sasori-nii bilang Sakura-nee harus mendapatkan ijin agar kapal Akatsuki bisa berlabuh di dermaga." Sakura menatap Sasuke dengan kening sedikit berkerut. Tapi bukan Sasuke fokusnya, melainkan ucapan pemuda itu.
Sakura menghela nafas dan mengalihkan tatapannya keluar jendela. Sasori memang di biarkannya melakukan apapun yang mungkin di butuhkan. Keadaan mereka yang nyaris tak pernah bertemu membuat Sakura terkadang tak bisa menerka maksud pria itu. Hanya saja Sakura percaya jika Sasori tak akan pernah mengecewakannya.
"Apa dia menitipkan sesuatu yang lain?" Tanya Sakura yang membuat Sasuke nyaris tersedak. Remaja itu cepat-cepat meletakkan kembali gelasnya lagi dan mengambil sesuatu di lipatan ikat pinggangnya lalu menyodorkannya pada Sakura.
"Maaf Sakura-nee, aku lupa." Sakura tersenyum meraih gulungan kecil yang di sodorkan Sasuke. Lalu mengacak pelan rambut remaja di depannya gemas.
"Jangan pasang wajah bersalah. Ini bukan masalah besar." Ucap Sakura menenangkan. Perhatian Sakura beralih pada daftar muatan kapal di tangannya tanpa menyadari wajah Sasuke yang memerah. Remaja itu meremas tangannya gelisah berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan teh yang di tuangkan Sakura ke dua kalinya Sasuke berpamitan. Sakura tersenyum menatap keragu-raguan di mata pemuda itu. Sakura tak pernah menyadari keengganan Sasuke pergi tiap kali pemuda itu mengantarkan pesan padanya. Dan Sasuke tak keberatan. Dia tahu dia hanyalah kurir yang tak akan sebanding dengan Sakura. Sasuke hanyalah bocah yang hidup karena kebaikan hati Sakura.
Setelah Sasuke lenyap dari pandangannya Sakura menutup jendela dan menguncinya. Sekarang pikirannya sibuk mencari cara mendapatkan surat ijin dalam dua hari. Sasori juga bilang lebih baik jika tak ada kru dermaga yang ikut membongkar muatan kapal Akatsuki. Dan itu merupakan tugas yang merepotkan.
Hingga pagi hari Sakura belum bisa menemukan alasan agar kru dermaga tak ikut mengawasi apalagi membongkar muatan kapal. Mabui yang menata rambutnya mengeluhkan kantung mata Sakura yang membuat penampilannya terlihat buruk. Sakura hanya terkekeh mendengar segala omelan Mabui dengan cara yang sangat sopan dan halus. Pelayannya ini memang unik.
"Sasori ingin kita mendapatkan ijin untuk kapal Akatsuki sekaligus mencegah kru dermaga ikut campur dalam bongkar muat kapal." Ucap Sakura saat berjalan bersama Darui memeriksa setiap toko miliknya di pasar.
Sakura menguasai enampuluh persen peredaran uang di pasar. Dia juga menjadi salah satu dari dua pemasok segala kebutuhan keluarga kerajaan, mulai dari makanan hingga peralatan perang. Saingannya itu adalah pengusaha yang sedang mulai berkembang. Di luar Saingan yang terlihat berusaha menggerogotinya, bisa di bilang Sakura memonopoli perdagangan di kota kerajaan Konoha. Setidaknya itu yang di ketahui semua orang. Jangan tanyakan yang tidak di ketahui orang-orang karna itu berarti Sakura memang tak mengijinkan siapapun tahu.
"Surat ijin bukan hal sulit, tapi mengatur agar kru dermaga tidak ikut campur saya pikir akan merepotkan, Haruno-san." Sakura tersenyum sembari mengangkat guci yang bibirnya gompel di salah satu rak tokonya. Melihat Sakura dan Darui, seorang pelayan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Ku pikir ini tak akan bisa di jual. Lakukan sesukamu pada benda ini. Dan tolong perhatikan semua barang. Berdagang itu berpatokan pada kepuasan pelanggan. Mengerti?" Ucap Sakura kalem, tapi siapapun tahu jika nada itu tak mau di bantah. Dan siapapun tahu Sakura hanya memiliki satu maaf untuk satu orang.
"Baik Haruno-san."
Sakura meninggalkan pelayan yang masih membuangkuk itu di ikuti Darui. Mereka selalu menghabiskan tiga jam setiap ada hari luang untuk berkeliling memantau perkembangan toko-toko. Meski selalu ada penanggung jawab di tiap toko tak membuat Sakura lepas tangan begitu saja.
"Hari ini putra bungsu Sabaku akan datang. Bagaimanaa menurutmu?"
"Anda tak bisa menyelesaikan ini dengan tuan muda yang tak tahu apapun, Haruno-san. Hanya akan membuat kekacauan." Sakura terkekeh mendengar ucapan orang kepercayaannya. Ya, Darui adalah satu-satunya orang yang mengetahui nyaris seratus persen gerak-geriknya. Tidak ada satu orangpun di sekelilingnya yang tahu selain tentangnya yang seorang saudagar kaya. Hanya Darui.
"Kalau begitu, tugasmu memenuhi permintaan Sasorikan?"
"Akan saya urus, nona." Darui membungkukkan sedikit tubuhnya dan meninggalkan Sakura yang sudah sampai di depan kediamannya.
Sakura mengangkat sebelah alisnya saat melihat seorang pemuda dengan surai merah bata yang sudah duduk manis di ruang tamunya. Senyum Sakura mengembang membalas senyuman pemuda yang terlihat seusianya itu. Dengan anggun Sakura duduk di hadapan pemuda itu.
"Kenapa tak menyusulku jika ada tamu Mabui?" Tanya Sakura pada gadis yang menunduk gelisah.
"Anu nona..."
"Aku yang melarangnya. Ku pikir tak masalah menunggumu menyelesaikan pekerjaanmu." Gaara memotong ucapan Mabui. Sakura tersenyum tipis mendengar Gaara bicara santai dengannya. Setidaknya pria ini menganggapnya teman di pertemuan pertama. Menarik.
Berbicara dengan Gaara membuat Sakura bisa menyimpulkan beberapa hal. Gaara adalah pribadi yang tenang dan menyenangkan. Pria itu juga terdengar cerdas dengan segala pengetahuannya tentang banyak hal. Poin utamanya, Gaara meminta maaf karna sikap keluarganya yang terkesan memaksa Sakura agar menerima pinangan mereka. Sayangnya itu bukanlah akhir yang bahagia karna Gaara bilang akan tetap berusaha membuat Sakura menerima pinangan keluarganya. Hanya saja kali ini karna Sakura memang jatuh cinta padanya. Oh kepercayaan diri yang sangat menakjubkan. Dan terdengar menyebalkan. Akhirnya mereka tetap bersikeras agar Sakura menjadi bagian dari mereka.
"Ayah menginginkanmu untuk memperkuat pengaruhnya, dan aku menginginkanmu karna menyukaimu." Ucap Gaara saat Sakura mengantarkannya sampai ke pintu gerbang.
"Pada akhirnya kalian sama-sama menginginkanku." Sakura tersenyum simpul melihat wajah Gaara yang memerah.
Pria itu melambaikan tangannya dan masuk ke kereta kudanya. Sakura hanya menatap iring-iringan itu menjauh dengan senyum kecut. Sakura tak ingin terlibat dengan tetek bengek kerajaan, hanya saja memanfaatkan keinginan keluarga menteri perdagangan mungkin tak akan buruk. Apalagi menteri perhubungan telah berada di bawah kendalinya, dan nyaris terikat sempurna.
.
.
.
Seorang pria berambut merah dengan wajah bagai bayi sedang berbicara serius dengan empat orang di sebuah ruangan. Sebenarnya hanya dengan orang yang berada tepat di depannya, karna dua orang lainnya adalah pengikut setianya si kembar Zetsu. Sisanya tangan kanan ketua perampok yang sekarang sedang menatapnya bengis. Dan Sasori tak akan mau kalah. Mereka saling menatap tajam dengan rahang mengetat. Jelas ketegangan sedang menyelimuti ruangan itu.
"Aku tak memberikan waktu berpikir. Tawaran ini tak akan ku ucapkan dua kali."
"Kau mengancamku, Sasori?" Geram pria dengan tindikan nyaris di seluruh wajahnya. Sasori mendengus dan tertawa mengejek.
"Begitulah. Dan kau pasti tahu keuntungan pasti yang akan kau dapatkan." Manik hazel itu menatap lekat pimpinan perampok gunung dengan anggota lebih dari lima puluh orang di depannya. Jelas pria berambut merah ini memiliki kepercayaan dan keyakinan besar jika kelompok ini tak akan menolaknya.
"Kau bajingan brengsek, Sasori!" pria bertindik itu menggebrak meja.
"Jadi?"
"Kau tahu aku tak bisa menolakmu." Dengusan jengkel pria itu justru membuat seringai senang Sasori mengembang.
"Baiklah. Kalian harus pindah ke sini secepatnya." Sasori meletakkan kertas yang berisi lokasi yang harus di tuju kelompok itu di meja lalu keluar di ikuti dua orang bawahannya.
"Siapa yang ada di belakangmu?" Tanya pria bertindik itu sebelum Sasori benar-benar keluar.
"Kau belum mendapatkan kepercayaanku untuk mengetahui informasi sekecil apapun, pain." Ucap Sasori dan meninggalkan teriakan jengkel pain di bekangnya.
Mereka bertiga menunggang kuda cepat menembus hutan. Sepanjang perjalanan pikiran Sasori terus saja berputar, persiapannya untuk hari H baru berjalan empat puluh persen. Masih banyak yang perlu di lakukan. Dan kemungkinan mereka harus sedikit terburu-buru mengingat waktu yang semakin sempit. Kegagalan akan membuat Sakura murka. Dan Sasori benar-benar tak menginginkan itu. Senyum Sakura adalah keinginan absolut Sasori.
Sasori turun dari kudanya dan membiarkan salah satu anak buah yang menghampirinya mengurus kudanya. Langkahnya cepat menuju salah satu bangunan setelah anak buahnya tadi mengatakan ada pesan dari kota.
"Sasori-nii, Suigetsu datang." Sambut Sasuke yang berlari ke arahnya. sasori tersenyum dan mengacak rambut Sasuke pelan lalu masuk ke dalam meninggalkan Sasuke yang menutup pintu dan menunggu di luar.
"Sasori-san." Suigetsu berdiri dan menyerahkan gulungan surat pada pria berambut merah itu dan duduk lagi saat Sasori duduk juga.
Sasori membaca tulisan di surat itu lalu tersenyum. Darui memang selalu bisa di andalkan. Tak ada satupun permintaannya yang tak bisa dilakukan pria itu. Sasori memanggil Sasuke dan menyuruh bocah itu memanggil si kembar Zetsu. Dengan senyum manis Sasori menyuruh si kembar menyampaikan pesan bahwa Kapal bisa berlabuh. Setelah itu Sasori menulis sesuatu dan menyerahkan pada Suigetsu.
"Bilang pada Darui agar memberikan ini pada Sakura." Suigetsu mengangguk dan pergi.
"Sasori-nii." Sasori menoleh saat Sasuke masuk. Dia tersenyum dan membakar kertas bukti komunikasinya dengan Darui.
"Hm?"
"Tak ada pesan untuk Sakura-nee?" Nada kecewa jelas kentara terlontar dari bocah raven itu. Sasori terkekeh. Sasuke memang selalu memasang wajah cemberut jika pesan yang seharusnya di antar olehnya Sasori berikan pada Suigetsu. Padahal Sasori hanya berpikir tentang keefisienan waktu.
"Jangan begitu, kau kan baru bertemu dengan Sakura dua hari yang lalu. Apa secepat itu kau merindukan Sakura?" Sasori makin terkekeh melihat wajah memerah Sasuke.
"Ck. Sasori-nii bebal." Gerutu Sasuke lalu meninggalkan Sasori yang makin terkekeh.
Sasuke adalah bocah kesayangan Sakura. Dari sekian banyak orang selain keluarga besarnya, hanya Sasuke yang di biarkan gadis itu memanggil Sakura sekehendaknya. Hanya Sasuke yang di biarkan Sakura melakukan apapun yang di inginkannya selagi tak melanggar aturan dasar Sakura. Dan Sasori akan mengistimewakan apa yang di istimewakan Sakura. Karna Sasori tahu gadis itu tak pernah mengancam segala rencana mereka dengan hal-hal sepele. Dan Sakura tak akan pernah mementingkan Sasuke melebihi segala yang mereka perjuangkan.
.
.
.
Kankurou membereskan peralatannya lalu berjalan keluar dari ruangannya. Dia sudah mulai bekerja sebagai asisten tabib istana. Yah dia memang membiarkan Gaara yang menjadi penerus ayahnya sebagai politikus. Kankurou lebih suka dengan pekerjaan ini yang menurutnya memusingkan hal jelas.
"Kau tidak ikut memeriksa yang mulia?" Kankurou menoleh dan tersenyum melihat Itachi, sang putra mahkota mensejajari langkahnya. Tentu saja di belakangnyaa ada iring-iringan pengawal dan pelayan. Bagian ini memang sedikit membuat Kankurou tak nyaman. Seolah tak akan ada privasi untuk obrolan mereka.
"Tsunade sensei memberiku tugas lain."
"Aa, jadi apa nona Haruno sudah menerima pinangan kalian?" Kankurou mendengus. Dia tak mengerti kenapa Itachi selalu penasaran dengan cerita itu. Apa putra mahkota ini senang melihat keluarganya seolah di remehkan oleh saudagar muda itu? Sangat menjengkelkan.
"Aku bahkan tak mengerti kenapa ayah bersikeras menjadikan nona sombong itu menantu."
"Ha ha kau harusnya tahu tujuan ayahmu. Dia ingin menguasai peredaran uang di kota ini." Lagi-lagi Kankurou mendengus mendengar ucapan Itachi. Inilah yang Kankurou tak suka dari sistem politik. Sampai pernikahanpun mereka memperhitungkan untung ruginya.
"Terserahlah, aku hanya tak suka jika ayah terlalu menundukkan kepalanya pada nona sombong itu. Ku pikir kenapa kau tak menjadikannya selirmu? Itu akan bagus agar ayahku tak berurusan dengannya lagi." Itachi tertawa mendengar ucapan sahabatnya.
"Ah itu ide bagus, nona Haruno sangat cantik dan cerdas. Sayangnya aku tidak mau." Ucapan Itachi membuat Kankurou mengernyit bingung. Cantik dan cerdas tentu akan menjadi poin yang bagus. Kenapa Itachi menolaknya? "Dia tak akan bisa di kendalikan dengan mudah. Itu hanya akan menambah jumlah rambutku yang rontok." Lanjut Itachi. Sang putra mahkota itu menepuk bahu Kankurou bersahabat lalu mendului si asisten tabib istana.
Itachi tahu, sahabatnya tak akan pernah tertarik dengan hal-hal rumit kerajaan. Karna itulah, bukan hal mengherankan melihat Kankurou tak terlalu memahami segala alasan ayahnya yang bersikeras menjadikan Haruno Sakura menantu keluarga Sabaku. Itachi bisa memahami niat Rasa, sayangnya dia tak menyetujui cara ayah Kankurou yang terkesan merendahkan dirinya. Tapi itu bukan urusan Itachi.
Itachi masuk melewati jajaran pelayan dan pengawal raja yang menunduk setelah Ebisu meneriakkan kedatangannya. Dia tersenyum melihat raja dan ratu yang sedang duduk semeja menikmati teh.
"Apa yang di katakan Tsunade-sensei, yang mulia?" Itachi duduk bersama mereka setelah membungkuk hormat.
"Tak ada." Sahut yang mulia raja Uchiha Fugaku. Itachi hanya bisa tersenyum kecil mendengar sahutan singkat ayahnya. Sementara ratu Mikoto mengusap lembut punggung tangan suaminya.
"Tidak ada masalah dengan kesehatan yang mulia, sayang." Mikoto tersenyum lembut dan beralih mengusap wajah putranya.
"Syukurlah."
Untuk beberapa saat mereka mengobrol ringan, tepatnya Mikoto dan Itachi. Sedangkan Fugaku hanya diam mendengarkan. Selalu begitu, seperti tak akan ada obrolan yang bisa membuat Itachi bicara dengan ayahnya. Tak lama Itachi dan Mikoto berpamitan.
Mikoto tinggal di istana ratu. Menjadi istri dari seorang raja membuatnya harus rela berbagi suami. Meski Fugaku bukanlah raja yang tamak akan selir, tetap saja pria itu memiliki tiga orang selir. Dan Mikoto tak sebaik itu, dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan posisinya. Apapun.
.
.
.
Sakura menutup buku catatan keuangan terakhir yang di periksanya. Emeraldnya menyalang, jelas gadis itu sedang dalam kondisi tak baik. Dengan langkah berat Sakura keluar dari ruang kerjanya, Mabui yang biasa menunggunya di depan pintu langsung menunduk tanpa berani membuat gerakan aneh sedikitpun. Dia tahu nonanya sedang marah. Dan sebisa mungkin Mabui membuat dirinya seperti udara yang keberadaannya tak tampak.
"Tinggalah di rumah, Mabui." Ucap Sakura tajam saat gadis itu nyaris mengikutinya keluar rumah. Tanpa bantahan seperti biasanya Mabui menghentikan langkahnya. Gadis itu hanya menatap cemas punggung Sakura yang menghilang di balik gerbang.
"Izuna!" Panggil Sakura, tidak kuat namun tidak juga lirih. Sesosok pria dengan pakaian serba hitam melompat dan berdiri di belakang Sakura. "Temukan Mito dan seret ke kuil." Desis Sakura tanpa menghentikan langkahnya.
"Ya nona." Izuna langsung melesat pergi. Keinginan Sakura harus di lakukan secepat yang dia bisa. Sakura bukan orang yang sabar untuk menunggu.
Sementara itu Sakura sudah menunggangi kuda dan menembus hutan. Tak di hiraukannya tanaman menjalar yang sedang berbunga di sisi jalan. Biasanya dia akan berkuda pelan demi menikmati pemandangan sepanjang jalan ke kuil. Sayangnya kali ini dia sedang tak berminat, apa sudah ku bilang jika Sakura hanya memiliki satu maaf untuk satu orang?
Sakura masuk ke kuil yang terlihat kecil dari luar. Nyatanya kuil itu memiliki ruang bawah tanah yang luas. Sakura melangkah anggun namun menguarkan aura mengancam. Sosok-sosok berpakaian hitam yang di lewatinya menunduk hormat. Saat sampai di ruangan yang lebih besar dengan sebuah kursi di tengahnya, Sakura langsung duduk.
"Nona, apa yang membuatmu datang kali ini?" Ucap sosok yang baru keluar dari pintu di sebelah kanan Sakura.
"Kau tahu apa yang ingin ku lakukan Madara. Dua kali kesalahan terlalu banyak." Bersamaan dengan selesainya ucapan Sakura, Izuna datang dengan menyeret seorang wanita.
"Kyaaa!" Jerit wanita itu saat Izuna melemparkannya ke hadapan Sakura. Emerald Sakura menatap dingin wanita di depannya. Wanita yang mengabaikan kepercayaannya untuk kedua kalinya. "No... Nona... aku bisa jelaskan."
"Kau sudah melakukannya sebelum ini Uzumaki Mito." Sakura melangkah dan berdiri di depan Mito dengan wajah angkuh khasnya. Sebelum sempat wanita itu melakukan apapun, Sakura sudah menamparnya, mengangkatnya dan melemparkannya hingga jatuh tepat di kaki Izuna.
"Tendang ke sini Izuna." Mito membelalak mendengar ucapan Sakura, dan lagi-lagi sebelum sempat berkedip tubuhnya sudah di tendang kuat oleh Izuna ke arah Sakura.
"No...nona ma...af... hiks, maafkan saya..."
"Aku sudah melakukannya beberapa waktu yang lalu." Sakura mengulurkan tangannya yang langsung di beri katana oleh Madara. Tanpa ragu sedikitpun gadis itu menebas leher Mito.
Dua orang datang mengambil mayat wanita malang itu sementara Sakura melepas kimononya yang terkena cipratan darah menyisakan kimono putih dalamannya. Madara dengan cekatan memakaikan kimono baru sewarna emerald pada Sakura. Seolah ini memang hal biasa yang di lakukannya. Dan memang seperti itu.
"Ikuti Karui yang akan berangkat ke Iwa besok siang. Keadaan di kota itu tak begitu baik, selesaikan dengan caramu. Hanya saja, pastikan Karui pulang." Madara mengangguk mengerti.
Sakura pergi meninggalkan kuil dengan lebih santai. Hukuman memang membuat perasaannya lebih baik. Sayangnya tak terlalu baik jika mengingat bisnisnya di Iwa terancam karna maraknya sabotase. Setidaknya Sakura tahu jika Madara tak akan mengecewakannya. Madara memiliki akses terbaik dalam menyelesaikan masalah secara diam-diam. Kelompoknya adalah klan ninja yang tak di ketahui siapapun. Hanya Sakura dan Sasori.
"Bagaimana Sasori dengan orang gunung?" Sakura terkekeh mendengar ucapan Darui. Pria ini terdengar memiliki masalah dengan kelompok pain.
"Apa kau tak membaca pesan Sasori?"
"Itu pesan untuk anda nona." Sakura tersenyum meminum tehnya seraya melirik Darui.
"Sesuai yang di harapkan." Ucap Sakura seraya meletakkan gelasnya di meja. Darui mendesah lalu tersenyum tipis. "Kalian manis sekali." Pria itu menatap nonanya dengan heran. "Kau dan Sasori saling memuji dalam hatikan? Itu terlihat manis." Mendengarkan lanjutan ucapan Sakura justru membuat Darui menahan senyumnya. Dan Sakura semakin terkekeh.
"Nanti malam anda akan pergi?"
"Tentu saja kita akan pergi, ini pesta pernikahan putri menteri perhubungan. Merawat aset dengan baik akan memberi keuntungan untuk kita." Sakura mengulum senyumnya.
Tbc...
