Namaku Park Chanyeol orang bilang kalau aku memiliki kharakter seperti layaknya gunung es, tidak ada yang bisa memberikanku kehangatan kasih sayang dari orang yang spesial itu terbukti dari kisah cintaku.

Aku tidak... Bukan tidak tapi belum memiliki tambatan hati, bahkan temanku Suho dia selalu mengatakan padaku bahwa segeralah memiliki kekasih hati, agar di masa yang akan datang hatiku tidak akan merengek sedih karena kesepian.

Tapi bukannya aku tidak perduli aku... Ingin orang itu menerima apapun keadaanku sikapku seperti ini karena aku pernah trauma akan kisah cintaku dimasa lampau, sebab itulah aku seperti ini karena ini hanyalah untuk mengetahui apakah orang itu mencintaiku dengan tulus atau tidak.

Senior High School Seoul, South Korea

Ajaran baru dimulai aku sangat bersemangat untuk hal ini, karena ada seorang wanita yang aku suka, apakah ini cinta? Entahlah, aku pertama kali merasakan hal ini makan tidak sedap, tidur tak nyenyak, jika sendiri terbayang akan wajahnya.Arkh... Aku sungguh bahagia, aku harap dia menjadi masa depanku nantinya.

"Oke... adik-adik perkenalkan nama saya Jeni Kim kalian bisa memanggil saya Jeni, saya anggota panitia penyelenggara penerimaan siswa baru jadi kita sama-sama bekerja dalam hal ini yah!"

Pada saat memperkenalkan dirinya, wajah cantiknya itu membuat aliran darahku terhenti hatikupun menghangat dibuatnya saat dia tersenyum.

Esok harinya, aku memberanikan diri untuk mengatakan isi hatiku padanya huff... Hal ini membuatku gugup tak menentu akankah dia menerima cintaku? Arkh... Sungguh pipiku mulai panas saat ini, dia berjalan ke arah atap sekolah karena di sana tempat yang sepi.

"Kak Jeni... Maaf mengganggu, boleh saya bicara?"

Dia menengok ke arah belakang tempatku berdiri.

"Ah... Bukankah kau anak kelas 10? Apa yang ingin kau katakan?"

Arkh... Ternyata dia ingat padaku, jadi malu.

"I... I.. Ya nama saya Chanyeol, kakak Jen.. Aku ingin mengatakan bahwa... Aku... Suka padamu!"

Dia terdiam sejenak, seperti sedang mencerna maksud perkataan dariku di menit berikutnya dia tertawa.

"Ahahahah, kau ini bodoh atau apa? Omong kosong apa yang kau katakan? Aku sudah bertunangan dengan seseorang omong omong."

"Ta... tapi kan... Umurmu masih delapan belas tahun, bagaimana bisa?"

"Bukannya aku sombong, ataupun takabur. Ayah ibuku seorang kolega, mereka menjodohkanku pada seseorang jadi... yeah... begitulah, lagipula AKU TIDAK SUKA DENGAN ORANG CUPU DAN BODOH SEPERTI KAMU!"

Aku terkejut dengan perkataannya yang menyakitkan, hatiku sakit dihinanya dia boleh menolak cintaku tapi kalau dia mengatakan aku cupu dan bodoh sungguh aku tak terima.

"Kakak... Ingat baik-baik, kita lihat nanti siapa yang akan menjerit saat perkataanmu itu balik lagi kepadamu."

"Ck, kita lihat nanti!"

Pekerjaanku hampir setengah selesai, dulu... Aku sempat dihina oleh orang itu kini aku duduk di kursi CEO sebuah perusahaan teknologi internasional di kota Seoul.

knock Knock Knock

"Maaf tuan, apa boleh saya masuk?"

Suara indah ini milik seorang lelaki cantik, dia menjadi tukang bersih bersih saat ini jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam para karyawan telah pulang ke rumah masing-masing jadi dia bertugas saat sepi.

"Masuklah! pintunya tidak terkunci!"

Saat dia masuk tubuhku membeku, kenapa orang itu memiliki wajah nan ayu bak dewi khayangan? Apakah aku bermimpi?

"Maaf tuan... Aku dengar dari satpam bahwa anda belum pulang, jadi saya mengetuk pintunya."

"Kau... Tidak usah formal padaku, bersihkan saja sampai bersih."

Saat aku selesai mengatakan hal itu, aku teringat dengan ucapan Suho padaku bahwa secepatnya memiki tambatan hati jadi... kebetulan sekali dia datang disaat tepat.

"Baekhyun... Bolehkah saya mengatakan sesuatu padamu?"

"Bertanya apa tuan?"

"Kemarilah!"

"Ada apa tuan?"

Aku menarik tangannya, hingga kini ia terjatuh di pangkuanku.

"Erh... Tuan... Maaf ini tidak sopan!"

Dia menarik tubuhku untuk menjauh, lalu aku menolaknya dengan mendekap pinggang rampingnya untuk mendekat padaku.

"Aku memiliki sebuah permintaan untukmu!"

"Apa?"

"Jadilah pelacurku!"

Tamparan keras kurasakan sangat perih, mungkin sudut bibirku terluka.

"Tuan, sepertinya otak anda harus diobati atau kau bisa kunjungi cenanyang untuk berobat!"

"Ck, aku tak perlu hal itu. Yang aku butuhkan hanya tubuhmu!"

Aku meremas penisnya di luar celana, lalu dia mendesah saat aku melakukan hal ini lagi - lagi tamparan keras aku rasakan.

"Sudah aku katakan, aku bukan lelaki murahan tolong jaga sikap anda! Anda mempunyai pendidikan cukup, tapi kenapa otak anda rendahan? Cih... Jika kau ingin melakukan pemerkosaan, lakukan dengan orang lain jangan aku! karena aku bukan lelaki murahan!"

Aku terkejud dia berkata seperti itu, sungguh lelaki itu membuat jantungku berhenti bekerja lalu perkataannya itu yang aku butuhkan eum... Sungguh menarik!

To Be Continue

Hay bagaimana? Apakah bagus? Menarik? Yang saya butuhkan adalah motifasi dari kalian sebagai pembaca