Countdown
by: alestie
Disclaimer : Fiksi. Cuman plot fic ini yang punya saya.
Pairing : Bangtan Boys – Kim Taehyung/Jeon Jeongguk
Words : 5.000+
Rate : T
Summary : Tidak akan ada yang pernah tahu, selama apakah sebenarnya 'selamanya' itu. Bahkan keabadian pun memiliki batas hingga kau mulai menghitung mundur.
Anyway, ini fic B/B alias Boys Love/YAOI. Don't like, don't read. Enjoy~!
Story :
Masa karir mereka telah berjalan selama lebih dari satu tahun. Walau berbulan-bulan yang dibutuhkan untuk mereka dapat menyatukan ritme dan koreografi menjadi sempurna dan mempesona, tidak pernah membutuhkan lebih dari seminggu untuk mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain di hari pertama mereka bertemu. Hingga hari ini, mereka sangat dekat satu sama lain—sangat dekat, hingga pada titik dimana mereka tak memiliki rahasia apapun satu sama lain. Dan sudah menjadi rahasia umum, jika ada sesuatu di antara Taehyung dan Jungkook yang membuat keduanya tidak bisa dipisahkan, entah apapun itu.
Seperti ada dinding tebal yang membatasi keduanya dengan yang lainnya. Mereka semua memang begitu dekat satu sama lain; tapi ada hal yang membuat nama Taehyung tidak bisa berdiri tanpa Jungkook, begitu juga sebaliknya. Ada sesuatu yang membuat keduanya seperti terlepas dari bumi ini, mereka selalu terlihat seperti memiliki dunia mereka sendiri.
Semua orang selalu berpikir jika mereka tak dapat dipisahkan, sebelum kejadian tiga hari lalu.
Mungkin berbulan-bulan, berminggu-minggu, hingga ribuan jam yang mereka habiskan bersama tanpa sekat. Semua orang dapat dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan menjadi saudara selamanya.
Tetapi tidak akan ada yang pernah tau, selama apakah sebenarnya 'selamanya' itu.
Tidak akan ada yang pernah tau, jika hanya dengan satu detik saja, mungkin ribuan hari itu akan menjadi tanpa makna sama sekali.
"Tae, pulanglah dan istirahat. Kau sudah di sini empat hari tiga malam, dan wajahmu tampak tak lebih baik daripada zombie."
Ungkapan setengah lelucon Hoseok hanya berlalu bagai angin di telinga kiri hingga kanan Taehyung. Ia sebenarnya hanya sangat mengkhawatirkan kondisi dongsaeng nya.
Taehyung menggeleng lemah, dengan bibir sepucat kapas. "…aku tidak ingin dia terkejut saat bangun nanti." Ia berkata lirih, "Ini semua salahku, aku harus sepenuhnya bertanggung jawab." Lanjutnya dengan suara bergetar; karena setiap mengingatnya, ia merasa begitu lemah.
"Dokter bilang, dia akan baik-baik saja. Mungkin hanya beberapa bulan terapi la—"
"Beberapa bulan?" Taehyung memotong ucapan Jimin dengan seringai frustasi, "Jika tidak, dia akan lumpuh seumur hidup—seumur hidup, hyung," ulangnya seraya mengacak poninya. Suaranya sangat parau, mungkin sebentar lagi ia akan menangis.
"Tae—"
"Tolong tinggalkan kami sendiri, hyung." Taehyung akhirnya mengangkat wajahnya, menatap satu per satu muka anggota grup nya dengan hati-hati, "Terima kasih atas kunjungannya hari ini." Ucapnya seakan tak ingin mendengar sergahan lagi.
Seperti mengerti betul apa yang diinginkan Taehyung, satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan dalam diam. Mereka pria; ketika sedih, mereka tak akan mendekap dan membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Diam adalah semua yang dibutuhkan Taehyung untuk dapat menenangkan pikirannya. Tak ada satupun dari para hyungnya yang bisa menjanjikan apapun, karena tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi besok.
Telapak tangan Taehyung tak henti-hentinya melingkari jemari Jungkook kuat-kuat. Bibirnya terus menggumamkan doa, berharap kawan terbaiknya akan segera siuman dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Di saat seperti inilah; ketika tak ada satu pun yang melihat, Taehyung mengizinkan pertahanannya untuk runtuh. Air mata menetes perlahan bersama prasangka-prasangka yang tak juga berhenti untuk bergelayut dalam nalarnya.
Kecelakaan itu bukan sesuatu yang siapapun dapat mengantisipasinya. Awalnya pun tidak terlihat seperti bencana, bahkan akhirnya pun terasa seperti mimpi; tak satupun dapat begitu saja memercayainya.
Mereka hanya bercanda seperti biasa—Taehyung berani bersumpah. Ia hanya mendorongnya sedikit, tanpa sedikitpun maksud untuk menyakiti Jungkook.
Semuanya akan lebih baik jika segalanya terjadi seperti adegan film—jika saja segala cedera yang diderita Jungkook saat ini seperti yang selalu ia lihat di layar televisi. Semuanya akan lebih baik, jika Jungkook terluka karena mendorong Taehyung dari pilar runtuh, atau tiang listrik yang hendak jatuh, atau apapun itu—seperti dalam film.
Tetapi kenyataannya adalah sebuah silang besar di depan matanya.
Jungkook tersungkur dan mematahkan kakinya, merusak saraf-saraf penting tulang belakangnya; semua karena Taehyung mendorongnya dalam candaannya. Semuanya karena kebodohan dan kecerobohannya.
….dan hal itu lah, di atas segalanya, yang membuatnya tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Walaupun seluruh dunia—ataupun Jungkook sendiri, memaafkannya.
"Jungkook… siuman?"
Taehyung tidak dapat memercayai pendengarannya. Ia tengah mengambil beberapa pakaian ganti untuknya dan Jungkook di asrama, ketika panggilan itu masuk ke dalam ponselnya.
"Aku segera ke sana—Tuhan, aku akan segera kesana." Ujarnya terengah-engah. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. Bukan antusiasme, bukan sepenuhnya kebahagiaan, bukan juga efek dari keterkejutannya.
Itu adalah rasa takut yang merongrong dalam pikirannya tanpa lelah.
Kakinya memacu secepat yang ia bisa, ia mungkin berpikir bahwa ia sudah gila. Kacau, semuanya kacau. Air mata bagai meluap dari matanya, namun ditahannya mati-matian. Pikirannya campur aduk, namun rasa takut itu tak akan pernah hilang.
Rasa takut akan kebencian yang akan diberikan Jungkook kepadanya.
Taehyung menghela dan menghembuskan napas teratur di depan pintu kamar Jungkook. Ia memegang dadanya, mengucapkan berkali-kali bahwa ia telah siap menerima apapun konsekuensinya. Bahkan salah satu tangannya yang membawa tas berisi baju ganti mereka berdua terasa lemas. Ia tak pernah merasakan beberapa detik yang rasanya begitu menyiksa, seperti ratusan tahun.
Perlahan, ia mengulurkan tangannya untuk membuka kenop pintu. Bahkan samar-samar, Taehyung dapat mendengar suara Jungkook yang pelan dan lemah. Tiba-tiba , seluruh jemarinya bergetar kuat, lututnya terasa lemah. Tas yang dibawanya jatuh begitu saja, menyebabkan suara hantaman yang keras dan memekakkan telinga—namun Taehyung terlalu sibuk mengendalikan pikirannya sendiri untuk memedulikannya. Keringat dingin jatuh dari pelipisnya, rasanya lebih menakutkan dibandingkan saat ia menerima rapornya ketika SMA dulu.
Pintu terbuka dari sisi lainnya; membuat Taehyung terkejut setengah mati.
"Tuan, baik-baik saja?" ternyata itu suster yang biasa mengganti infus Jungkook, mungkin ia terkejut karena suara tas jatuh barusan. "Biar saya bawakan tas anda." Ujarnya tanggap.
Taehyung tidak sempat memberikan respon apapun, kerongkongannya terkunci meskipun bibirnya terbuka.
"Ah, ya. Tuan Jeongguk bilang ia ingin sekali bertemu dengan anda." Tambah suster itu sambil tersenyum lebar.
Mata Taehyung melebar. Itu adalah pernyataan paling mengerikan yang didengarnya sepanjang tahun ini. Jungkook—ingin bertemu dengannya? Bahkan ia tak tahu apa yang harus dikatakannya saat mata mereka bertemu nanti.
"Hyung, kau kah itu?"
Suara Jungkook; Taehyung mengenalnya terlalu baik. Ia menelan ludahnya, memberikan seluruh keberaniannya untuk melangkah masuk. Semuanya berjalan seperti slow motion, matanya bertemu dengan dua manik mata Jungkook yang tampak redup. Wajahnya tampak lelah dan pucat, namun entah kenapa, dongsaengnya saat itu tampak begitu—indah? Bukan tampan, bukan cantik. Jungkook adalah simbolisme dari keindahan.
Aish, apa yang ia pikirkan di saat seperti ini.
"Jungkook-ah…" napasnya tertahan ketika membiarkan mulutnya bergerak lebih cepat daripada logikanya. Samar-samar ia dapat melihat pintu kamar telah ditutup, suster itu telah pergi. Penuh pengertian.
"Hai hyung," jawabnya sambil tersenyum, "Kenapa kau tampak lebih pucat daripada aku?" tanyanya setengah tertawa, suaranya serak.
Dengan hati-hati, Taehyung mengangkat kedua tangannya ragu-ragu, "Boleh—aku boleh memelukmu—sebentar saja?" pintanya. Ia tidak tahu kenapa ia malah ingin mendekap Jungkook, bukannya minta maaf, atau bahkan bersujud, atau apapun yang selalu dipersiapkannya saat Jungkook siuman nanti.
Lagi-lagi Jungkook tertawa. Gelak tawa yang mampu mematikan segala saraf yang bekerja di dalam otak Taehyung dalam sekejap saja. "Sejak kapan kau minta izin hanya untuk memelukku? Kemarilah, hyung." Imbuhnya pelan.
Tanpa lebih banyak kata-kata, Taehyung melingkarkan kedua tangannya ke postur kecil Jungkook yang terasa lebih mungil dari biasanya. Mungkin ia tambah kurus. Ia sekuat tenaga menahan air matanya yang memaksa untuk jatuh, ia sangat membenci fakta bahwa dirinya lah yang menyebabkan Jungkook begini tersiksa. Karena kebodohannya.
Ia merasakan sesuatu yang nostalgic ketika memeluk Jungkook, setiap saat sejak dulu. Jungkook beraroma seperti rumah, tempatnya bisa bernaung ketika terlalu lelah berkelana. Tanpa sadar, ia mengeratkan pelukannya; seakan takut jika semua ini hanyalah halusinasi yang akan pudar ketika ia tak mencengkeramnya dengan kuat.
"Hyung…" Jungkook berusaha memanggil pelan.
"Jungkookie, maafkan aku. Ini semua salahku, aku seharusnya—maafkan aku, sungguh, maaf." Ujarnya dengan hatinya yang paling dalam. Taehyung tahu jika semua ini tak mendekati cukup untuk dapat membayar segala yang telah diderita Jungkook karena dirinya.
Namja berambut hitam itu merintih lirih, "Hyung, sakit…" Ia mulai merasa kesulitan untuk bernapas, namun kedua tangannya masih terlalu lemah untuk dapat mendorong hyung nya menjauh.
Taehyung segera menarik dirinya, terkejut. "M-Maafkan aku!" katanya sambil meringis sakit, membayangkan sakit yang sedang diderita kawannya. "Kau baik-baik saja? Mana yang sakit?"
Jungkook menggeleng, "Sudah tidak apa-apa."
Taehyung menghela napas panjang, bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya, sebelum akhirnya menatap Jungkook lamat-lamat ke dalam matanya. Hatinya berdebar kencang, pikirannya tak dapat berhenti berkabut.
"Jungkook, aku—"
"Oh iya, kapan ayah dan ibu datang?"
Kening Taehyung mengerut, ucapannya dipotong oleh Jungkook begitu saja. Kepalanya tampak berpikir ulang, mencerna apa yang baru saja dikatakan dongsaengnya. "Uh, ayah ibumu? Nng, aku sudah menghubungi mereka. Mungkin mereka akan sampai nanti malam." Jawabnya sedikit terbata.
Wajah Jungkook melembut, "Syukurlah, aku sangat merindukan mereka."
Sekali lagi, Taehyung menghela napas. Ia mencengkeram tangan kanannya kuat-kuat, berusaha untuk memberikan kekuaran kepada dirinya sendiri. "Jungkook-ah, dengarkan aku, kumohon." Taehyung berkata, hampir seperti memohon.
Jungkook menatap balik tatapan Taehyung, namun kegentaran tampak jelas di matanya.
"Pertama, aku ingin minta ma—"
"Ba-Bagaimana latihan di asrama tanpa aku?" lagi-lagi Jungkook berusaha menghentikan perkataan Taehyung, kali ini lebih jelas.
"Jungkook, berhenti mengalihkan pembicaraan!" Taehyung menaikkan nada bicaranya setingkat, membuat yang dibentak sedikit terlonjak. Taehyung dapat melihat ketakutan di mata laki-laki di hadapannya, dan ia segera mengutuk dirinya sendiri karena itu. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya—aku kacau. Aku tahu kau pasti tak ingin melihatku lagi. Tapi tolong, dengarkan aku, sebentar saja." Suara Taehyung terdengar begitu lirih dan rapuh, "Mungkin—mungkin aku akan menangis dan terlihat seperti pecundang, tapi tolong dengarkan aku," ujarnya memaksakan tawa palsunya.
Jungkook menggelengkan kepalanya, menunduk, "…bisakah kita tidak membicarakan ini…?"
Taehyung menyeringai menyedihkan, "Kau tahu, aku akan melakukan apapun yang kau minta, Jungkookie, dan semuanya tak akan cukup." Ia merasakan sesak di dadanya, "Kau boleh mengusirku dari matamu, menutup telinga dari semua penjelasanku, memintaku untuk tak muncul lagi di hadapanmu. Kau hanya perlu mengatakannya." Tuturnya lemah.
"Aku hanya—" Jungkook menggigit bibir bawahnya ragu, "Aku baru saja mendengar jika aku mungkin saja lumpuh seumur hidup, dan kau tahu, aku telah menyerah atas sekolahku untuk menjadi entertainer. Aku mungkin saja kehilangan masa depanku—kehilangan segalanya, dan kau, hyung, kau tahu kan jika aku mencintaimu?" ujarnya rapuh, air mata sudah jatuh dari ujung matanya. "Aku mencintai ayah ibuku, semua anggota, manajer—semuanya. Tapi kau sangat dekat denganku, hyung, dan karena kau…" Jungkook menggelengkan kepalanya, "…aku tidak tahu harus bersikap bagaimana."
Taehyung merasakan seteres air mata mulai jatuh, dan semakin deras. Namun tatapan matanya masih lurus menghadap Jungkook lamat-lamat.
"Aku ingin marah, aku ingin membencimu—aku ingin menolakmu mentah-mentah dari wajahku dan menyuruhmu pergi," suara Jungkook terdengar semakin kacau karena tangisnya yang tak sedikitpun disembunyikannya, "…tapi aku tau—kau tahu, aku tak akan bisa. Aku bisa saja tak memaafkanmu, tapi aku tak akan pernah bisa membencimu. Aku mendengar ucapan maafmu, bahkan aku dapat merasakannya. Setiap kali aku berpikir untuk membencimu, aku selalu teringat," Jungkook akhirnya mengangkat wajahnya yang berantakan penuh dengan air mata, "…bukan aku saja yang sakit. Kau juga, kan?"
Senyuman.
Senyuman Jungkook saat itu terlihat lebih indah dari apapun yang pernah Taehyung lihat seumur hidupnya. Walaupun wajah itu kacau oleh air mata dan ingus, bahkan tanpa make-up, ia terlihat sempurna.
Tanpa sadar, Taehyung membalas senyuman Jungkook.
Tiba-tiba, Jungkook tertawa dengan suaranya yang sengau, "Kau jelek sekali tersenyum sambil menangis begitu." Ledeknya, tawanya terdengar seperti anak SD yang tertawa setelah dimarahi kedua orangtuanya.
Taehyung tertawa kecil, "Kau benar," kemudian ia sekali lagi, mendekap dongsaengnya ke dalam pelukannya, kali ini jauh lebih lembut dan berhati-hati bagaikan Jungkook terbuat dari kaca. "Terima kasih, Jungkook-ah. Kau tidak tahu seberapa banyaknya beban yang kau angkat dari pundakku ketika kau berkata begitu."
Jungkook tersenyum dalam pelukannya, "Aku belum memaafkanmu."
Taehyung mengangguk, "Aku tahu." Ia tak menyangka bisa tersenyum di saat seperti ini, namun kenyataannya, ia melakukannya bersama dengan orang yang baru saja disakitinya. "Karena itu, biarkan aku bertanggung jawab atas semuanya. Semua biaya rumah sakitmu, semua hal yang kau butuhkan untuk pulih seperti semula, aku akan menanggungnya," bisik Taehyung di telinga Jungkook, membuat pria yang dipeluknya bergidik samar. "Kita berdua akan nonaktif sementara dari Bangtan dan konsentrasi pada kesembuhanmu. Aku akan menyewa apartemen yang nyaman untuk kita berdua, yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan kau akan mendapatkan apapun yang kau mau. Aku berjanji." Taehyung berkata dengan begitu yakin dan serius, membuat tak ada celah bagi Jungkook untuk menertawainya.
Merasa jantungnya berdebar aneh, Jungkook terkekeh, "Satu apartemen denganmu? Terdengar menyeramkan." Candanya berusaha mengabaikan desir yang mengganggu kerja otaknya.
"Katakan itu pada bocah yang selalu menyusup ke ranjangku karena mimpi buruk." Sindir Taehyung, pelan melepaskan pelukannya untuk menatap dongsaengnya baik-baik.
Wajah namja yang lebih muda segera memerah, "A-Aku tidak pernah menyusup ke ranjang alien!"
Taehyung menghembuskan napas pendek, senyuman tipis masih nampak di bibirnya walaupun air mata masih enggan berhenti mengalir dari matanya. Kedua pasang mata itu saling mengunci, sama-sama berusaha menyelami apa yang sesungguhnya berada di pikiran lawan bicaranya, namun hanya ketulusan dan kebaikan hatilah yang terpantul di dalamnya. Taehyung berbisik, sepenuh hatinya, "Sungguh, terima kasih, Jeon Jungkook."
Jungkook membalas senyuman hyungnya, bersumpah jika ia melihat luka di dalam bola mata Taehyung, dan ia tak menyukainya. "Cengeng." Ejeknya dengan tawa kecil. "Hyungie, mulai hari ini kau harus bertanggung jawab padaku. Kau tidak diizinkan untuk menginggalkan aku sampai kakiku sembuh total." Lanjut Jungkook dengan senyum jahilnya.
Mungkin tuntutan Jungkook seharusnya terdengar mengerikan, tapi anehnya, Taehyung justru merasakan kehangatan pada setiap kata yang dilontarkan dongsaengnya, tanpa cela.
"Apapun yang kau mau—" Taehyung membungkukkan tubuhnya, berpose seperti pangeran yang hendak menjemput Puterinya, "…tuan Puteri." Ucapnya dengan kedipan mata; sukses membuat Jungkook tergelak begitu renyah.
Hari itu, baik Taehyung maupun Jungkook dapat melihat sesuatu yang biasanya tak dapat dilihat satu sama lain selama setahun lebih mereka saling mengenal, Ada pengertian lain dalam tatapan dalam yang diberikan satu sama lain ketika matahari perlahan terbenam di balik punggung mereka. Ada banyak hal yang ingin Taehyung sampaikan kepada sahabat terbaiknya, namun ia tahu, jika ia bisa menunggu hingga besok. Masih banyak hal tak mereka mengerti, dan mereka memutuskan untuk menyelesaikan segalanya satu per satu secara perlahan-lahan.
Karena tidak akan ada yang pernah tahu, selama apakah sebenarnya 'selamanya' itu, maka Jungkook memutuskan untuk tidak mengisi hidupnya dengan dendam dan kebencian.
Setelah berjanji untuk mencari apartemen bersama begitu Jungkook diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, keduanya mengucapkan sampai jumpa.
Sampai jumpa yang selalu jauh berbeda maknanya dengan selamat tinggal.
Sebulan berlalu dengan cepat masa-masa Jungkook dirawat inap rumah sakit. Ayah ibunya merawatnya dengan telaten, bergantian dengan orang-orang agensi, manajer, dan membernya. Jungkook nyaris bisa melupakan sakit yang dirasakannya, dan diagnosis mengerikan bahwa ia memiliki probabilitas untuk menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda—namun ada waktu ketika ia tak dapat berhenti mengingatnya sama sekali.
Taehyung masih berpartisipasi dalam segala aktivitas Bangtan, Jungkook menyuruhnya. Kasihan penggemar mereka jika harus tiba-tiba kehilangan dua personil sekaligus. Berita bahwa dirinya sakit sudah menyebar luas, setiap hari Jungkook menerima ratusan—atau bahkan ribuan, ucapan dan doa di semua akun media sosialnya; mungkin itu lah yang membuat sakitnya sedikit bisa tertahan.
Taehyung telah mendiskusikan rencananya dan Jungkook kepada semua member, orang tuanya sendiri, dan orang tua Jeon. Awalnya, semuanya menentangnya. Semua ini bukan karena Taehyung sengaja melakukannya, ini kecelakaan—namun, pada akhirnya, mereka menyetujuinya dengan berat hati. Orang tua Jungkook meminta untuk dapat mengunjungi puteranya sesekali, mengirimi makanan dan uang untuk kebutuhan mereka berdua, dan Taehyung mengiyakannya.
Di hari terakhir sebelum Taehyung secara resmi nonaktif dari Bangtan, semua member menangis.
Pelukan dalam diam malam itu berarti lebih banyak daripada semua yang bisa Taehyung ungkapkan dengan kata-kata.
"Sudah semuanya?"
Pertanyaan Taehyung dijawab dengan anggukan kecil dari Jungkook. Wajahnya tampak gelisah menyaksikan namja yang sedikit lebih kurus darinya itu mengangkat semua koper dan kardus kemudian menata nya seorang diri.
"Hyung, aku—"
"Ssh," Taehyung segera memotong, "Jangan minta maaf. Tidurlah, kau lelah kan?"
Jungkook kembali bungkam, membiarkan angin siang yang seharusnya hangat membekukan jemari kakinya yang mati rasa. Biasanya ia lebih kuat dibandingkan Taehyung, tapi hanya karena—
"YAK!" tiba-tiba Taehyung berteriak, bangkit dari posisi duduknya. Ia menoleh ke arah Jungkook dengan mata lebar dan mulut terbuka. Yang ditatap tampak jelas-jelas terkejut.
"Ada yang kelupaan, hyung?" tanya Jungkook bingung.
Taehyung berjalan cepat menghampiri Jungkook, "Kita—ini bencana, Jeon Jungkook!" ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak Jungkook, meremasnya pelan. "Makan! Siapa yang akan masak?! Aku cuma bisa masak air panas, dan kau, kau sama payahnya denganku! Bagaimana bisa aku lupa hal sepenting ini?! Aku tidak bisa hidup tidak makan lebih dari dua jam! Tuhan, matilah kita!" celotehnya dengan wajah panik yang serius.
"Aish, hyung ini," Jungkook terkekeh kecil, "Memangnya tidak bisa beli?"
Taehyung menggeleng kuat, "Warung makan yang enak jauh sekali dari sini! Bodohnya aku." Ia terduduk pelan, menurunkan kedua tangan yang tadinya di pundak menjadi di atas lutut Jungkook. Taehyung mengangkat kepalanya, erangannya terdengar kekanakan, "Bagaimana ini?"
Jungkook tersenyum geli, kadang hyungnya menggemaskan sekali. Ia mengangkat tangan kanannya kemudian mengelus pelan kepala Taehyung, "Kita bisa menyewa pembantu, hyung."
Mata Taehyung melebar seketika, "Pembantu?!" Seruannya direspon dengan anggukan yakin Jungkook, ia kemudian menggeleng kuat sekali lagi, "No, no, no, demi apapun, no," ujarnya dengan logat inggris yang lucu.
"Kenapa?" tanya Jungkook heran. Yah, idenya terdengar bagus. "Kita hanya perlu membeli bahan-bahan dan alat dapur, dan dia akan memasakkan untuk kita setiap hari. Lebih efisien daripada harus membeli ke tempat yang jauh setiap saat—tidak dengan nafsu makanmu yang seperti itu."
Taehyung mengerucutkan bibirnya, "Lalu apa jadinya dengan janjiku untuk bertanggung jawab padamu seorang diri?" ia bangkit dari duduknya, membuat kali ini Jungkook yang harus mengangkat wajahnya, "Aku bisa mengaturnya. Tidak perlu pembantu." Ujarnya keras kepala.
"Hyungie…" Jungkook memanggil lembut, tangannya meraih tangan Taehyung, "Kau tidak mungkin mengawasiku 24 jam, kan? Itu membosankan! Kau bisa mencari kegiatan lain; membeli buku, pakaian, sepatu atau apalah, jalan-jalan ke sekitar—"
"Jalan-jalan, kau bilang?" ulang Taehyung tajam, jelas-jelas tersinggung, "Jungkook, kau tahu aku ke sini bukan untuk itu."
"Ani, hyung, bukan begitu maksudku," namja berambut hitam itu buru-buru meluruskan, "Lebih baik melakukan hal yang kau kuasai, tidak usah memaksakan untuk melakukan semuanya seorang diri," berusaha menyampaikan kepeduliannya kepada Taehyung, ia meremas pelan jemari hyungnya dengan kedua tangannya, "Pembantu itu tidak akan jadi babysitter ku. Dia hanya akan masak, mencuci piring, mencuci baju, lalu pulang. Yang merawatku hanya kau, hyung." Katanya meyakinkan.
"Tidak. Lebih baik aku beli jauh ke kota, mencuci piring sendiri, dan laundry." Tolak Taehyung, diam-diam membalas genggaman tangan dongsaengnya—ia pun berusaha menyampaikan keseriusan tekadnya pada Jungkook.
Jungkook menggigit bibir bawahnya, berusaha keras memutar otaknya. Sebenarnya ia hanya tak tahan melihat Taehyung mengerjakan segalanya sendirian, sedangkan dirinya tak dapat banyak membantu—Taehyung melarangnya. Ia memang ingin Taehyung 'bertanggung jawab', tetapi tidak se-'kejam' ini. Membayangkan setiap hari hyungnya hanya akan merawatnya, mencuci piring, mengantar laundry, membeli makan; Ya Tuhan, Jungkook tidak pernah meminta Taehyung untuk memberikan seluruh hidupnya untuk dirinya.
Ia pun menghela napas, "K-kalau begitu… kalau kau setiap saat pergi hanya untuk membeli ini itu," Jungkook mengangkat wajahnya, menunjukkan puppy eyes terbaiknya, "…aku akan kesepian, hyung."
Kedua bola mata Taehyung melebar, mengerdip beberapa kali. Entah kenapa, jantungnya berdebar kencang, tenggorokannya terasa kering. Setelah hening beberapa saat, ia baru bisa memproses otaknya untuk berkata, "…hah?"
"Makanya," Jungkook segera membuang pandangan matanya, merasakan jika ia baru saja mengatakan hal yang sangat memalukan. "Sewa saja pembantu!" desaknya.
Taehyung tampak berpikir. "Pembantu, ya…" ia kemudian melepaskan tangannya dari genggaman dongsaengnya, kemudian mengangkat dagu Jungkook supaya dapat menatap lurus ke matanya, "…benarkah itu yang kau inginkan, Jungkook-ah?" tanyanya hati-hati, wajahnya tampak sayu.
Tak butuh lebih dari satu detik untuk Jungkook mengangguk tanpa ragu.
Mereka bilang, kelumpuhan bisa diobati; apalagi jika baru diagnosa?
Oleh karena itu, Taehyung melakukan segalanya untuk kesembuhan Jungkook. Ia merawatnya dengan baik. Walaupun mereka telah menyewa pembantu, Taehyung tak mengizinkan Gwangjin—nama pembantu mereka, Taehyung bersikeras jika ia tak ingin pembantu wanita—untuk sedikit saja menyentuh Jungkook. Mulai dari menyuapinya, menggantikan baju, menyiapkan obat setiap hari, Taehyung melakukannya dengan baik. Yah, walaupun sang maknae tidak pernah mau untuk dimandikan—dia terlalu malu.
Siang hari mereka habiskan kebanyakan dengan menonton film, anime, atau tayangan televisi apapun. Kadang mereka bermain game, video call dengan member, atau sekedar mengobrol panjang lebar berdua. Taehyung merasa bersalah karena tidak bisa membawa sahabatnya keluar apartemen, terlalu berbahaya. Ia takut seseorang mengenali mereka, resiko nya terlalu besar.
Di antara semua hal yang Taehyung alami, ada satu hal yang membuatnya membenci segalanya.
Senja di hari Selasa.
Hari Selasa adalah jadwal terapi Jungkook, mereka telah menyepakatinya bersama dan sang therapist telah menyanggupi untuk datang ke apartemen mereka seminggu sekali di hari itu.
Seharusnya hari Selasa adalah hari dimana Taehyung bisa bahagia; karena Jungkook semakin mendekati kesembuhan. Akan tetapi—tidak.
Selasa pagi, Jungkook tidak pernah mau sarapan. Ia tidak nonton televisi, tidak main game; yang ia lakukan hanya memohon kepada Taehyung, dan hyungnya itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Selasa siang, Jungkook hanya akan diam. Diam tanpa melakukan apapun, memandang ke luar jendela dengan pandangan kosong, terkadang ia tertidur.
Dan ketika senja datang, itu adalah tiga jam paling lama yang pernah Taehyung rasakan.
Bel apartemennya berbunyi, dan Taehyung akan selalu melihat Jungkook terlonjak dan pucat seketika. Namja kecilnya itu akan menatapnya dengan mata kelinci yang yang memerah, menggeleng dengan bibir bergetar, "…hyung, jebal, jebal, jebal…"
Dan lagi-lagi, Taehyung hanya bisa menggigit bibir bawahnya, berbisik, "…maafkan aku, Jungkook-ah."
Kemudian, ketika dokter terapi itu masuk bersama dengannya, mata Jungkook tampak bergetar karena takut yang luar biasa. Ia tidak pernah melihat ekspresi dongsaengnya tampak begitu ketakutan; bahkan tubuh kecilnya pun terlihat bergetar dengan jelas.
"…hyung, hari ini saja, kumohon…" suara Jungkook terdengar siap akan menangis kapan saja, membuat dada Taehyung sesak dan perih karena tak mampu berbuat apapun.
"Kau tahu aku peduli padamu, kan? Aku mencintaimu, karena itu kau harus melakukannya. Ini untuk kebaikanmu, kau tahu, kan?" Taehyung berusaha mengatur nada bicaranya, ia tak mau menangis lebih dulu daripada Jungkook—ia tak boleh melakukannya.
Melihat ketakutan yang sama terpantul dari bola mata hyungnya, Jungkook menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia terdiam sejenak, menunduk, sebelum akhirnya mengangkat kepalanya pelan, "…hyung, ikat saja tanganku. Jika tidak mungkin aku—"
"Berpeganganlah padaku," dengan hati-hati, Taehyung mengangkat kedua tangan dongsaengnya dan melingkarkannya ke pinggangnya. Ia duduk di pinggir ranjang Jungkook, kemudian tersenyum. "Masih takut?"
Panas menjalar hebat dari debar jantung ke wajah Jungkook, ini sangat memalukan, apalagi di depan dokternya. Namun, melihat ketulusan di setiap gastur hyungnya, Jungkook akhirnya hanya menggeleng kecil, menyembunyikan mukanya di dada Taehyung, mengangkat kedua tangan yang tadinya bertengger di pinggang hyungnya, kini naik dan meremas punggung Taehyung kuat.
Taehyung tahu jika semua tindakannya tak sedikitpun mengurangi rasa sakit yang akan diterima Jungkook, namun ia tidak tahu apa lagi yang bisa diperbuatnya. Ia mengelus pelan rambut hitam namja yang lebih muda darinya, "Hei, gigit ini," ujar Taehyung sembari mendorong hati-hati pundak Jungkook, kemudian mengulurkan lengan tangan kanannya di depan mulut Jungkook sambil tersenyum. "Terakhir kali melakukannya, kau menggigit lidahmu, dan bibirmu berdarah banyak sekali." Ia berkata pelan, teringat terapi di minggu sebelumnya.
Jika Jungkook merasakan sakit, maka Taehyung juga harus merasakannya.
"Tidak perlu, hyung. Nanti tanganmu sakit." Tolak si maknae dengan suara bergetar.
"Jungkook-ah," Taehyung mendesis tajam, "Aku ingin melakukannya. Ya Tuhan, tak bisakah kau mendengarkan apa kata hyung mu ini tanpa banyak melawan?" pintanya dengan nada kesal yang dibuat-buat. "Buka mulutmu."
Jungkook mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi Taehyung, kemudian bergantian ke lengannya yang mengulur tepat di depan matanya, lalu kembali lagi menatap ke wajah kakak kesayanganannya. Dengan ragu, ia pun membuka mulutnya, menggantungkan gigi-gigi nya ke kulit putih Taehyung tanpa menekannya sedikitpun.
"Anak pintar," puji namja yang lebih tua, kembali tersenyum. Ia kemudian meletakkan tangan kirinya di belakang kepala Jungkook, memastikan jika posisi dongsaengnya saat ini sudah seutuhnya terkunci. Setelah menghela napas beberapa kali, ia akhirnya menoleh ke arah dokter terapi Jungkook untuk memberikannya anggukan afirmatif.
Dokter itu mengangguk, jemarinya mulai memposisikan diri di kaki pasiennya dengan sigap, "Jungkook-ah, tolong tahan sebentar, ya." Ujarnya.
Ketika sang dokter memulai menekan suatu sendi di pergelangan kaki Jungkook lalu menariknya turun dengan keahliannya, Taehyung merasakan cengkeraman di punggungnya mendadak menguat. Ia kemudian segera menekan belakang kepala Jungkook dengan tangan kirinya semakin dalam ke dadanya, mengistirahatkan dagunya di ujung kepala maknae terbaiknya. Taehyung mendengar rintihan tertahan keluar dari mulut Jungkook yang tersamarkan karena lengan di antara bibirnya, dan menit-menit berikutnya bagaikan neraka bagi Jeon Jungkook.
Menit berikutnya, Taehyung merasakan sakit yang menyengat di lengannya—Jungkook menggigitnya kuat sekali. Air mata yang deras membasahi kaus di dadanya, menetes ke lengannya. Rintihan samar kini menjadi erangan kesakitan yang memekikkan telinga. Punggungnya bagaikan dicakar karena cengkeraman Jungkook yang terlalu keras dan kasar. Namun yang dilakukannya adalah memeluk namja kecil didekapannya semakin erat, membisikkan kata-kata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Jungkook melepaskan lengan Taehyung dari mulutnya. Mata berlinangnya melebar ketika melihat bekas gigitannya telah mengoyak daging hyungnya hingga mengeluarkan darah. Akan tetapi, sebelum ia sempat mengutarakan maafnya, sensasi sakit yang mengerikan kembali menjalar ke seluruh tubuhnya hingga mengosongkan segala yang ada di pikirannya. Keringat dingin tak henti-hentinya mengalir dari pelipisnya, napasnya naik turun tidak beraturan. Jungkook mengerang dahsyat, memohon dengan sepenuh hatinya, "—HENTIKAN! TUAN DOKTER, JEBAL, sakit, aku—benar-benar sakit! Kumohon, sudah cukup—tolong, tolong… hentikan—YAAKH!"
Seakan tidak mendengar apapun ucapan pasiennya, sang dokter tetap melanjutkan pijatannya. Sementara Taehyung hanya bisa menahan kepala dongsaengnya; air matanya jatuh. Bukan karena kesakitan, bukan karena gigitan Jungkook—tetapi karena melihat adik kesayangannya menahan sakit yang luar biasa. Ia tahu jika Jungkook anak yang kuat dan tegar, tetapi terapi ini telah melampaui batas toleransi sang maknae selama ini.
Jungkook terus menangis dan mengerang sekuat tenaga selama kurang lebih dua jam terapi pemijatan. Ia merasa tak berdaya, namun tubuhnya menolak untuk berhenti meronta.
Dua jam terlama dalam hidup Jungkook—begitupula dengan Taehyung.
Dan ketika sang dokter telah pamit pulang, Taehyung menyaksikan namja kelincinya meringkuk lemas dan terisak sambil menutupi wajahnya. Ia tidak ingin mengakuinya, tetapi Jungkook yang sekarang, ia terlihat begitu… hancur, berantakan—begitu rusak.
Ia pun melangkah perlahan, duduk di ujung ranjang maknaenya, kemudian mengelus penuh kasih sayang setiap helai rambut dongsaengnya. "Jungkook-ah," panggilnya pelan. Yang dipanggil masih tidak merespon, maka Taehyung mendekatkan wajahnya ke telinga namja berambut hitam itu perlahan, kemudian mengulanginya, "Jungkook-ah."
Dengan gerak lamban, Jungkook menyingkirkan tangannya yang menutupi wajahnya, kemudian menoleh ke belakang untuk menjawab panggilan hyungnya. Matanya merah sekali, sembab dan bengkak. Rasanya hati Taehyung mencelos menyaksikannya. Masih sambil mengelus helai rambut Jungkook, ia bertanya, "Kau lapar? Ingin makan sesuatu?"
Jungkook menggeleng pelan, kembali meringkuk dan menyembunyikan wajah kusutnya. Taehyung menghela napas pendek, "Kau belum makan apa-apa dari pagi. Gwangjin sudah mempersiapkan makanan untukmu. Makan, ya?" bujuknya lembut.
Lagi-lagi, Jungkook menggeleng, kali ini lebih keras.
Taehyung terdiam. Ia tidak mau memaksa Jungkook lagi, terlebih setelah ia ambruk karena kejadian sebelumnya.
"Kau mau tidur saja?" Ia mengangguk.
"Tidak mau makan?" Anggukan lagi.
"Ingin aku meninggalkanmu sendiri?" kali ini hening sejenak. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk lagi.
Taehyung menghentikan usapan di kepala dongsaengnya, ia segera bangkit, "Baiklah. Jika kau butuh sesuatu, datanglah padaku kapan saja." Ucapnya betat hati dengan menerima anggukan lain dari Jungkook.
Taehyung mulai melangkah menjauh, kemudian berjalan keluar kamar dan menutupnya.
Sebenarnya, kamar tidur di apartemen mereka hanya satu. Oleh karena itu, Taehyung dan Jungkook berbagi kamar; hanya saja mereka memiliki dua ranjang yang diletakkan sedikit berjauhan. Lemari mereka pun hanya satu meskipun besar, Taehyung terlalu malas menata semuanya seperti ketika di asrama Bangtan dulu, jadi ia meletakkan antara pakaian Jungkook dan miliknya sendiri sembarangan. Walaupun semua ini baru bagi mereka, Jungkook tidak pernah sekalipun memprotes kepadanya.
Taehyung tertidur di sofa ruang tengah hingga pukul 1 pagi. Begitu menyadarinya, ia segera bangkit hendak menuju kamarnya untuk tidur di kasurnya yang empuk. Otaknya sibuk mengingat-ingat; mengapa ia tidur di sofa?
Sampai di depan pintu kamar, rasa kantuk Taehyung serasa menghilang ketika mendengarkan lantunan lagu yang sangat dikenalnya memutar keras dari arah kamarnya. Matanya melebar, dan ia segera ingat alasan mengapa ia bisa tidur di sofa sebelumnya.
Jeon Jungkook. Dan lagu yang didengarnya adalah lagu-lagu grup musiknya sendiri.
Merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, Taehyung cepat-cepat membuka pintu kamar mereka berdua dan masuk. Kamarnya sudah gelap; hanya secercah sinar lampu malam yang menjadi penerangan. Semuanya terlihat tenang, kecuali ketika Taehyung menangkap suara lain selain alunan musik BTS yang terngiang di kepalanya.
Suara isakan.
Taehyung merasa paru-parunya bagai diremas. Jungkook belum tidur, ia masih menangis; menangis dengan iringan lagu Bangtan bersamanya. Dan tidak butuh lebih lama berpikir untuk Taehyung dapat menyadari bahwa tangisannya kali ini bukan hanya karena sakit fisiknya akibat terapi tadi—tetapi hatinya. Pasti dongsaengnya itu tengah merindukan semua kesibukan grup musiknya, member, staff, mungkin juga produser dan penggemarnya. Pasti ia sangat ketakutan; membayangkan jika mungkin saja pada akhirnya semua pengobatan ini hanya sia-sia, mungkin ia akan lumpuh. Taehyung tahu, jika karier adalah segalanya bagi Jungkook, dan ia telah merenggutnya.
Malam itu, Taehyung berjalan tanpa suara mendekati ranjang Jungkook. Ia menyelusup perlahan ke bawah selimut namja yang lebih muda darinya itu, kemudian memeluknya dari belakang. Taehyung dapat mendengar tarikan napas Jungkook yang terkesiap, terkejut akan kehangatan yang tiba-tiba melingkari tubuh kecilnya. Tangan Taehyung bergerilya dari balik tubuh Jungkook, meraba-raba seprei dan menemukan ponsel sang maknae. Tanpa ragu, ia mematikan musik yang tengah berjalan, lalu menaruhnya di nightstand di belakangnya. Tak menunggu protes dari pemilik ponsel, Taehyung kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Jungkook seperti semula.
"Tidurlah, Jeon Jungkook." Bisiknya begitu dekat dengan telinga si rambut hitam.
Jungkook hanya terpaku di posisinya, tidak yakin harus bersikap bagaimana. Taehyung biasa memeluknya ketika tidur, bahkan sejak di asrama dulu. Namun situasi saat ini terasa benar-benar berbeda, meskipun ia sendiri tak yakin apa itu.
Jungkook menggigit bibir bawahnya, teringat hal yang ingin diucapkannya tadi namun belum sempat. Tubuhnya merinding merasakan napas hyungnya bertiup di belakang lehernya. Dengan ragu, ia mengeluarkan suaranya, "…hyung?" panggilnya dengan suara serak setengah sengau.
"Hm?" Taehyung berdengung kecil, mengencangkan pelukannya di tubuh namja di hadapannya.
"Uh, aku…" Jungkook terbata, menjilat bibirnya sebelum melanjutkan, "…lenganmu… apa baik-baik saja? Maafkan aku, tanpa sadar aku menggigitmu terlalu keras…" ucapnya penuh rasa bersalah.
Taehyung tersenyum, meski ia tahu sang maknae tidak dapat melihatnya. Kemudian ia berkata, "Hadap kemari," perintahnya pelan. Terdapat hening sejenak, Jungkook tampak bimbang. Namun akhirnya, ia memutar tubuhnya dengan hati-hati, berhadap-hadapan dengan hyungnya. Suara gesekan seprei dan geritan ranjang terdengar jelas ketika Jungkook membalikkan tubuhnya ke arah Taehyung. Aneh, ia berdebar begitu kencang hingga nyaris membuatnya gila. Bahkan ia terlalu takut untuk mengangkat wajahnya dan melihat Taehyung ke matanya.
"Tidur, jangan pikirkan yang aneh-aneh."
Taehyung tersenyum sebelum memejamkan matanya. Tubuhnya terasa begitu seimbang dengan Jungkook; mereka sama-sama kecil dan kurus. Mereka memang sering berpelukan, tetapi tidak pernah sedekat ini dan dalam kondisi yang seperti ini. Taehyung berusaha mengusir pikiran-pikiran nonsens yang menjalari otaknya.
Hingga hal terakhir yang Taehyung rasakan sebelum tenggelam dalam tidurnya adalah; tangan Jungkook yang melingkar di pinggangnya, dan wajahnya yang kembali terpendam di atas dadanya.
Segalanya berjalan lancar selama sebulan pertama. Orang tua Jungkook dan Taehyung datang berkunjung di minggu ketiga, memberikan uang yang cukup untuk kebutuhan mereka, dan berjanji akan datang lagi bulan depan. Di bulan selanjutnya, ke lima member datang mengunjungi mereka, dan malam itu semua orang menginap. Ramai sekali. Dan mereka tertawa begitu keras dan bebas hingga pagi; mengobati rindu yang terpendam begitu lama. Namun keesokan harinya, mereka terpaksa kembali karena sudah harus disibukkan dengan jadwal dari agensi.
"Hei, tebak apa yang kukatakan pada fansmu ketika fansign kemarin." Jimin berkata sebelum meninggalkan apartemen mereka. Mendengar pertanyaan Jimin, semua member lainnya seperti menahan tawa.
Taehyung mengangkat sebelah alisnya, curiga, "Apa?"
Jimin nyegir lebar. Kemudian sambil melambaikan tangan, ia berteriak, "Aku bilang, kau dan Kookie sedang honeymoon!"
Terlalu lambat untuk berteriak, Taehyung hanya membalas dengan juluran lidah dan kepalan tangan, "Awas saja nanti kau, Park Jimin." Gerutunya sambil menutup pintu apartemennya.
Hari-hari terlewat dengan begitu tentram. Hari esok, lusa, seterusnya.
Hingga suatu hari, ketika Taehyung sedang keluar demi mencari kebutuhan sehari-hari untuk mereka berdua di kota, ia menerima telepon dari Jungkook.
Dengan senyum, ia mengangkatnya, "Yeobo—"
"Taehyung, kumohon, cepatlah pu—"
BEEP.
Sambungan terputus.
Terputus?!
Jantung Taehyung terlonjak bagai melompat hingga kerongkongannya. Telapak tangannya berkeringat seketika, matanya membelalak, bibirnya memucat. Otaknya serasa berhenti bekerja, bahkan dunia seakan berhenti berputar.
Dengan jemari bergetar, ia mencoba menghubungi nomor Jungkook.
Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi—tak ada jawaban.
Detik itu, meninggalkan semua yang dibawanya, Taehyung berlari secepat yang ia bisa. Dengan bibir yang tanpa lelah melantunkan doa, hatinya terus mengucap bagaikan mantera;
"Tuhan, kumohon, jangan ambil dia—"
A/N:
Annyeong, yeorobun! This is my first Vkook fic, kenapa coba kalo engga karena ane shipper berat couple ini nyaha~
Anyway, kemungkinan bakalan two-shot, jadi soal sequel, ditunggu aja ya (:
Bagi reader yang merasa budiman, mind to RnR?
