SELAMAT SORE, SEMUANYA~! XD

Selamat H-1 Hari Pahlawan!

Yaap, saya kembali dengan OTP saya yang satu ini pasca bertempur dengan UTS yang ASDFGHJKL-I-don't-care... QuQ #bilangnyagitutapiemotnya

Fict absurd yang satu ini dibuat kebutan—lupakan masa-masa saya nyolong nulis selama 10 hari masa ujian—dengan total waktu dari cari referensi sampai chap 1 ini terpublish kira-kira 5 hari (70% saya selesaikan dalam waktu kurang dari 18 jam termasuk tidurnya). Jadi, maaf kalau ada yang aneh di sana-sini. m(_ _)m #sungkemkepembaca

Oya, warningnya panjang—tapi jangan di-skip, ya. Demi kebaikan bersama. :D #dilemparibamburuncing

Selamat membaca! :D

SUMMARY :

Pecinta yang tercabik rasa dan dipertemukan kembali dalam yudakembali kau akan dipertemukan, dengannya yang mengecupmu dengan bilah pedang.

DISCLAIMER :

Saya gak bakal bosen teriak, "Hidekazu Himaruya-sensei, JADIIN INDONESIA OFFICIAL CHARA, DONG!" QuQ

WARNING :

Dramatisasi peristiwa sejarah (Once again, my dear readers, ini fanfiksi. Jangan salah berasumsi bahwa semua peristiwa sok historis di sini adalah nyata. Jadi, sangat disarankan untuk tidak menggunakan fanfiksi ini sebagai salah satu rujukan makalah Sejarah Anda. I really mean it. Oh, tapi kalau mau referensi yang saya pakai untuk fict ini, silakan PM saja. Nanti pasti saya kirimkan referensi yang bentuknya softcopy.); sangat disarankan untuk membaca dulu "In Een Kopje Koffie—Dalam Secangkir Kopi" (karena, yaah, masih ada hubungannya sedikit-sedikit sama twoshot saya yang satu itu—promosi terselubung #grins); yaoi (Nethmale!Indo from me, people, what else did you expect? :3); rate M karena kekerasan, penggunaan bahasa kasar dan implicit sex scene (perang, umpatan antara dua mantan, dan masa lalu yang menghantui; apa lagi memangnya? Dan, oh, saya gak sanggup bikin yang graphic. #angkattangan Ini aja udah lebih hardcore dari sebelumnya. I've warned you.); OC,OOC & typo (Pemunculan tokoh-tokoh sejarah di sana-sini dan lainnya, just because. Saya usahain si Netherland dan karakter para tokoh sejarah IC. Meski soal Raka, kan terserah saya mau digalauin sebegimana juga. #grinslikeaboss); penggalan puisi gaje di sana-sini. In the end, DON'T LIKE, DON'T READ. Jika Anda tidak tertarik, tidak bisa menerima dengan lapang dada pairing yang saya tulis, please, BACK OFF. Saya akan sangat senang jika cara penulisan saya yang dikritik habis-habisan—tapi sungguh, saya tidak akan rela jika pilihan pairing saya yang dijadikan hinaan. Terima kasih sudah bersedia membaca peringatan panjang ini. Kali ini sungguhan—selamat membaca! :D

.

.

Bilik Paleis op de Dam, Amsterdam, dini hari akhir Agustus 1945.

Peluh bersimbah. Rambut pirangmu yang biasanya menentang gravitasi dan berbentuk layaknya kuncup tulip jatuh berantakan membingkai wajahmu yang kini mulai ditumbuhi rambut-rambut wajah kasar.

Sekali lagi—laiknya malam-malam sebelumnya, malam-malam yang kau lalui tanpa dia di sisimu lagi—kau terbangun.

Hari di Paleis op de Dam masih begitu dini—malam masih begitu tinggi, tak menjejak, menyelimutimu dalam sunyi—dan kau terbangun. Hanya untuk mendapati segalanya—senyumnya, tawanya, sentuhnya, peluknya, rengkuhnya, kecupnya—semuanya semu. Hanya mimpi. Bunga tidur yang entah bilamana akan kembali mewujud nyata.

masih sama, tak beda

aku masih luka dan luka masih nganga

"... Bruder?"

Sesosok berambut pirang muncul tanpa mengetuk pintu. Raut wajah cantik khas Eropa itu dihiasi gurat cemas. Adikmu—yang sebenarnya berumur ratusan tahun meski berwajah dara belia—itu mencemaskanmu. Betapa tidak, jika hampir tiap malam teriakanmu menggema di istana yang dibangun dari yellow sandstone ini.

"Kau baik-baik saja?"

Senyummu, yang bisa disamakan kelangkaannya dengan gerhana purnama, melengkung begitu saja. Kau hanya ingin menyampaikan padanya bahwa kau baik-baik saja. Dan kau tahu pasti bahwa satu senyummu akan jauh lebih efektif daripada ribuan kata.

senyum masih sama siksa

tawa masih sama derita

Satu senyuman tipis dan satu gelengan kepala, "Aku baik-baik saja. Kembalilah tidur, België."

Adikmu tak beranjak dari ambang pintu—ia tahu kau tak suka bila ada orang memasuki kamarmu, siapapun itu.

"Bruder juga. Besok Bruder berangkat pagi bukan?"

Kau mengangguk.

Benar, esok kau akan berangkat pagi-pagi. Si alis enam menyebalkan itu bersedia memberimu tumpangan agar kau bisa memasuki teritori si dia yang mengusik bawah sadarmu setiap malam—meski alasannya sedikit personal dan melibatkan si mata safir berkacamata tertentu serta simpati kelewatan sebagai sesama kolonialis yang kehilangan koloni, kau tidak peduli. Dan tidak, kau takkan membiarkan kesempatan yang sudah susah payah kau dapatkan hancur begitu rupa karena sebuah keterlambatan yang sangat konyol.

"Tenang saja. Aku akan kembali tidur. Kau tidurlah dulu, België."

Adikmu mengangguk, meski jelas-jelas raut wajahnya meneriakkan ketidakpercayaan, dan beranjak pergi.

pecinta masih aniaya

masih mengerang dalam neraka fana

Daun pintu jatuh tertutup dan senyap kembali melingkupi.

Rindu. Entah kenapa, di saat-saat seperti inilah—di detik sunyi, senyap dan sepi berkomplot merongrongmu—perasaan itu memilih waktu untuk tanpa ampun menghajarmu.

atas nama rasa yang dikutuk setan durjana

dan dielukan malaikat sejagad raya

duh, asmara

.

.

Hetalia Axis Powers©Hidekazu Himaruya

ROODE = merah©sherry-me

.

ROODE = merah

( Sebuah fanfiksi untuk memperingati Hari Pahlawan )

.

Bagian Pertama

Sebelum Bersua

.

Bisakah mendengarnya?

Keping demi keping kalbumu yang berdenting—

jatuh

lebur hingga tak bisa dipungut lagi.

.

.

Peron Stasiun Kota, Jakarta, lepas tengah hari, 2 September 1945

"Tak semestinya kau ke sini, War."

Suara pemuda itu hanyut oleh kebisingan peron—deru mesin kereta, suara penjaja makanan, teriakan para kuli pengangkut barang.

"Tak bolehkah, Tuan?"

Sosok pria paruh baya berblangkon dan berkacamata itu tersenyum, sepenuhnya nyaman dalam keramaian peron. Harusnya dia merasa tersinggung dengan kekurangajaran pemuda di depannya itu—bagaimanapun ia memanggil Menteri Pendidikan pertama republik ini tanpa embel-embel apapun. Tapi tidak—mungkin karena sudah lebih dari 30 tahun ia mengenal pemuda bermata jati di hadapannya itu.

Tiga dasawarsa. Waktu yang cukup untuk mengubah bocah menjadi orang tua—tapi tidak untuk mengikis secuil pun raut muda dari sosok pemuda di hadapannya. Tak ada kerut di wajahnya, tak ada sepucuk pun rona kelabu di rambutnya—ya, kebijakannya jelas membukit seiring masa, bersama tiap luka dan pemahamannya akan dunia, tapi tidak—sosok itu seakan membatu dalam aliran waktu.

langkah tak lagi terpasung

tapi mengapa senyummu tak kunjung mengapung?

"Kau harusnya berada di kantormu, merencanakan pendirian sekolah dan program pendidikan rakyat—bukannya mengantarku begini, tanpa kawalan pula. Kau tidak takut apa, War, diserang bekas tentara Jepang yang masih berkeliaran?"

"Panjenengan sendiri yang tidak mau dikawal."

Pemuda itu memutar matanya, "Tak ada gunanya mengawalku. Aku toh bukan siapa-siapa."

Pria itu menggelengkan kepalanya, "Jangan merendah, Tuan."

Pemuda itu memang takkan mungkin berada di jajaran resmi pemerintahan republik. Juga takkan mungkin mencatatkan jejak di buku-buku sejarah. Tapi ia adalah alasan semua itu bisa terjadi—peperangan, pengorbanan, pertumpahan darah selama lebih dari 3,5 abad demi kemerdekaan. Kemerdekaan yang demikian manis karena sudah 3,5 abad—tiga ratus delapan setengah tahun lebih tepatnya—kebebasan rakyatnya, kebebasannya terbelenggu, terkekang, terjajah.

masih lukakah?

masih perihkah?

Terdengar aneh? Tidak. Tentu tidak kalau sudah mengetahui kebenarannya.

Bahwa pemuda berambut hitam ikal dan bermata jati teduh di hadapan pria itu adalah perwujudan negara ini—perinsanan dari tiap jengkal tanah, perairan, udara dan inti sukma dari jutaan jiwa yang menghirup napas di buminya.

Bahwa pemuda bersenyum menenangkan itu adalah Indonesia.

Peluit kereta berbunyi. Dan pemuda itu bangkit, menjinjing tas kulitnya yang penuh goresan di sana-sini.

"Sudah saatnya aku berangkat," ia menoleh pada 'War'—nama panggilan darinya untuk sang sentono Pakualaman takkan berubah, itu perjanjian mereka dulu—dan tersenyum, "Baik-baik kau, bilang pada Karno, Hatta, kabinet dan komisi untuk tidak hanya melulu fokus pada kondisi ibukota. Ada delapan provinsi yang harus diurus."

"Ya, Tuan, tentu," pria berkacamata itu tersenyum, "Lagipula itu alasan kepergian Panjenengan sekarang bukan?"

Iya, itu alasannya pergi dari Batavia—coret itu—Jakarta, nama ibukotanya sekarang adalah Jakarta, untuk menilik kondisi kedelapan provinsinya pasca kemerdekaan—tak peduli atasannya yang terpilih secara aklamasi itu menentangnya dan bilang ia lebih dibutuhkan di sini sekarang. Ia ingin pergi ke Jawa Tengah, ke Jawa Timur, ke Yogyakarta, ke Sumatera, ke seluruh wilayahnya. Ia ingin melihat keadaan rakyatnya dengan matanya sendiri—tidak hanya lagi merasakan letup semangat mereka melalui tiap sel tubuhnya dari ibukota. Ia ingin merasakan euforia kemerdekaan di setiap daerahnya dan mempersiapkan tiap wilayah bila ada gerakan sabotase dari mantan kolonialisnya—bukannya ia tidak menyadari bahwa ada kemungkinan besar kolonialisnya tertentu, yang tampaknya sangat tidak rela ia lepas dari genggamannya dan jatuh ke tangan Jepang 3,5 tahun silam (ia masih ingat betapa beringas dan terluka tatap matanya ketika dia angkat kaki dari sini dan menyerahkannya pada Jepang—heh, memang dia barang diserahterimakan begitu?), akan datang kembali dan mencoba merampas kebebasannya sekali lagi.

ya, masih nanah

ya, masih darah

Raka—Indonesia selalu memperkenalkan diri sebagai Raka Sukma Nusantara (nama manusia yang ia pilih sendiri)—nyengir dan menjabat tangan Suwardi.

"Sampai jumpa, War. Akan kupastikan mengirim telegram tiap beberapa hari dan juga menelepon, kalau ada. Kalian di sini pasti akan butuh laporanku bukan?"

"Tentu, Tuan. Tentu…"

Peluit kereta berbunyi nyaring sekali lagi dan Raka melompat ke dalam gerbong kereta api.

tapi takkan sekalipun aku berpasrah

takkan secuilpun aku sumarah

"Berhati-hatilah, Tuan."

Pemuda itu tersenyum cemerlang dan melambaikan tangan, berteriak sekuat tenaga agar ucapannya terdengar, melampaui suara bising mesin kereta api dan peluit, "Sampai jumpa!"

untuk semua jiwa yang berserah

.

.

Sudut kota Surabaya, fajar menyingsing, 19 September 1945

Tangan besar yang tadi merobek paksa sandangnya itu, hingga kancingnya lepas entah ke mana, kini menelusuri tubuhnya. Menyentuh tiap jengkal tubuhnya. Membelai tiap senti kulitnya. Menghantarkan panas yang seolah menembus langsung inti tubuhnya, sebelum meneruskannya langsung ke bagian selatan tubuhnya—ke organ yang bereaksi paling lantang atas semua aksi gila, kasar , beringas maupun lembut namun menyiksa sosok yang kini merengkuhnya.

Ia berteriak—bukan hanya perlambang perih dan pedih atas perilaku liarnya, tapi juga nikmat atas lembut sentuh terkutuk yang seolah melelehkan seluruh tulangnya. Ia terengah—napasnya sudah cukup pendek-pendek karena semua kelakuannya, belum lagi jika harus ditambah invasi mulut pria itu atas organ bicaranya.

Bibir mereka saling meringsek, melibas, melumat. Semua bagian mulutnya sepertinya sudah diabsen lidah pria itu—geliginya, langit-langit mulutnya, bahkan ke pangkal lidahnya—membuatnya tersedak salivanya sendiri sementara tangan pria itu menjelajah tiap inci tubuhnya dan jemarinya, tangan yang lain, menembus bagian paling intim tubuhnya. Tulang punggungnya melengkung merespons gerak tiba-tiba itu—ia terjebak antara nikmat dan perih yang membutakan semua inderanya.

Ironis, dikiranya dia akan langsung memasukinya begitu saja, sekalian meluluhlantakkan tubuhnya—tapi ternyata ia masih mempersiapkannya dan ia sendiri masih mendesah tak karuan saat ia melakukannya.

Tidakkah ia tahu itu malah lebih menyayat hatinya—perasaannya? Sekalian saja perlakukan ia bak binatang—kasar, liar, tak beradab. Sekalian saja biar ia lebih mudah membencinya. Setiap belainya, setiap kecupnya, setiap sentuhnya, setiap hisapnya—dia sadari atau tidak—hanya akan menyadarkannya betapa mereka masih memiliki rasa manusiawi itu. Betapa ia masih—dan betapa ia sendiri juga tidak bisa tidak berlaku sama. Karena ia memang masih memiliki rasa itu. Rasa yang pantang mereka sebut namanya.

Panas.

Jemari itu kini sudah tergantikan. Sekujur tubuhnya seolah terbakar—tiap gesekan seolah mengirimkan percik membara ke seluruh selnya. Tubuhnya dan tubuhnya—sama saja, toh, mereka kini satu—terasa luar biasa panas. Panas, lantas luluh, lebur, lantak—bersamaan dengan tiap intrusinya dan peluh mereka yang mengalir, lengket, melekatkan tubuh mereka lebih rekat. Lebih liat.

Napasnya memburu. Temperatur di antara mereka berdua meningkat. Semua rasa itu sudah terasa terlalu membuncah. Gelembung kenikmatan itu siap meledak kapan saja, sebelum buyar menjadi kanvas putih yang selalu ia yakini adalah batas tertinggi lazuardi—dan menjadi pertanda bahwa setelah ini hanya senjata dan yuda yang akan bisa mempertemukan mereka. Satu hentakan keras. Dan...

.

tak perlu terjaga untuk memahaminya

tak perlu sadar sepenuhnya untuk mengerti segalanya

Ia tergeragap bangun—pagi masih perawan, fajar pun baru melayang. Kasur kapuk di bawah tubuhnya berderit keras—kayu nangka yang menopangnya protes semua—karena gerak duduknya yang tiba-tiba. Peluh mengaliri setiap jengkal kulitnya—dan organ tertentu di selatan tubuhnya sana masih bereaksi karena suguhan alam bawah sadarnya.

Ya ampun...

Demi maklumat 1 September mengibarkan Merah Putih di seluruh Nusantara, itu tadi apa? Dia bermimpi tentang pria itu? Lagi?

bagai memutar piringan rusak

semuanya berulang dalam benak

Sungguh. Ini benar-benar mulai tidak sehat. Sangat.

Tiga setengah abad memang bukan waktu yang singkat. Tapi ini? Memimpikannya lagi—setelah dua bulan bebas mimpi—lebih-lebih memimpikan malam terakhir mereka bercumbu itu sangatlah tidak sehat.

Ia mencoba memelankan napasnya. Tarik, satu, dua, tiga, hembuskan. Ulangi. Tarik, satu, dua, tiga, hembuskan.

Tenang, tenang. Pasti ada alasan kenapa ia bermimpi seperti ini. Pasti. Pasti ada dalil yang bisa dipakai untuk menjelaskan absurditas ini. Pasti...

"Tuan Raka? Tuan?"

Pintu kamar tidur yang ditempatinya digedor.

Seorang muda bernama Sidik menyilakannya menginap di kediamannya selama berada di Surabaya. Tentu saja hal ini bisa terjadi berkat telepon dari petinggi negara di ibukota, berkata dia orang penting pemerintah dalam samaran dan sengaja tidak mau tinggal di rumah dinas para pejabat Surabaya. Heh, gulali kejujuran berlumur gula kebohongan. Tidak buruk juga terkadang.

Ia langsung siaga—meloncat dari kasur, menyambar kemeja sekaligus membanting pintu hingga terbuka.

"Ada apa?"

satu, dua, tiga, satu, dua, tiga

bak wals yang didansakan paksa

Pemilik rumah menyambutnya dengan pakaian sama berantakannya dengannya—kaus oblong di balik kemeja yang utuh belum dikancingkan, "Residen Sudirman menelepon, meminta Tuan datang ke kediaman beliau. Kata beliau, bakal ada rusuh, Tuan. Di utara kota, Jalan Tunjungan."

Mata cokelat jatinya yang barusan masih sayu karena kantuk langsung awas. Pintu keburu terbanting di belakang tubuhnya, ia bergegas keluar kamar sembari mengancingi kemejanya.

"Kenapa?"

"Bendera Belanda dikerek tanpa ijin di atap Hotel Yamato. RAPWI(1) kiranya merasa kelebihan kuasa. Rakyat tidak terima karena dikira mereka melecehkan kita."

Mengibarkan bendera penjajah tiga setengah abad di tengah rakyat yang sedang menikmati euforia merdeka dan gerakan pengibaran Merah Putih se-Nusantara? Cari mati namanya.

Tuh, benar kan. Mimpi itu pasti ada maknanya. Dan kini maknanya langsung dipaparkan di hadapannya begitu ia membuka mata.

benang takdir terpintal balik

bentang suratan tergulung ulang

"Hotel Yamato? Oranje Hotel maksudmu?"

Sidik terdiam sejenak sebelum mengangguk. Heran, kenapa bisa pemuda yang tampak lebih muda darinya itu lebih familiar dengan nama Hotel Oranye daripada Hotel Yamato. Belum lagi melihat betapa dalam tiga hari sejak ia menginap di sini, telepon rumahnya sering berdering karena dihubungi orang-orang penting pemerintah. Siapa dia sebenarnya?

"Jangan sampai rusuh benar terjadi, Dik. Mereka orang Intercross(2), terlindungi hukum internasional untuk tidak dilukai. Jangan sampai rakyat kalap dan mencoreng nama republik yang bahkan belum diakui dunia ini."

akalmu tak tahu

tapi tidak dengan kalbumu

Ya, ia memang tidak suka bila kebebasannya dianiaya—tapi ia juga perlu cari muka pada dunia bahwa republik yang masih 'bayi' ini cinta damai. Dinilai sebagai negara brutal sama sekali bukan merupakan tujuannya dalam setahun pertama kemerdekaannya.

Sidik mengangguk, "Iya, Tuan."

Pemuda bermata jati menepuk saku celananya. Revolver mungilnya tersimpan rapi di sana. Hanya untuk jaga-jaga saja. Entah kenapa perutnya terasa jungkir balik, dan itu bukan karena bunga tidurnya barusan. Firasatnya tidak enak.

—kembali kau akan dipertemukan

dengannya yang mengecupmu dengan bilah pedang

.

.

Hotel Yamato, Jalan Tunjungan 65, Surabaya, matahari sepenggalah naik, 19 September 1945

Mata zamrud itu mengintip ke luar jendela. Kabar tentang dikibarkannya Bendera Triwarna di puncak Oranje Hotel sudah meluas hingga ke seluruh Surabaya. Rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan hingga orang tua—semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan—sudah memenuhi Jalan Tunjungan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga—sementara di dalam, pasukan Belanda yang berhasil diselundupkan kemari telah bersiaga. Situasi tampak genting—bak balon yang ditiup terlalu besar dan siap pecah kapan saja.

bulan berganti, dan aku masih tak peduli

tahun menghampiri, dan aku masih memegang janji

Mendadak, mobil hitam yang dikawal dua motor yang sama hitam berhenti di muka hotel.

Pria berambut pirang menentang gravitasi itu memicingkan matanya, mencoba melihat siapa yang keluar dari mobil itu—pasti orang penting kota. Dilihatnya seorang pemuda keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil.

Tebakannya benar.

Residen Sudirman. Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI sudah datang. Massa langsung menyibak, memberikan jalan, begitu mengetahui siapa yang telah tiba.

Bibirnya melengkung—bukan senyum. Ternyata mudah memancing petinggi kota ini keluar. Hanya dengan pengerekan benderanya—ia hanya perlu menyuruh Ploegman(3) dan anak buahnya, selesai sudah. Sekarang ia hanya perlu menjalankan rencana awal—memancing pergolakan yang cukup besar agar pihak Indonesia kalap dan meletuskan kembali perang. Pria berbaret di dahi itu tahu, rakyat negara ini cinta damai—seperti dia. Tapi sekalinya amarah mereka berhasil disulut, mereka takkan tanggung-tanggung—persis seperti dia.

demimu, Kasih, bumi akan kutundukkan di bawah kaki

demimu, Cinta, menentang galaksi pun tak mengapa

Seluruh penumpang mobil kini sudah keluar dan mata zamrudnya melebar begitu mengetahui siapa yang terakhir turun.

Ia takkan salah mengenalinya—postur yang baginya mungil tapi sempurna itu, rambut ikal yang dipermainkan angin itu, wajah eksotis nan manis itu, mata sewarna jati itu...

Buku-buku jarinya memutih—ia menggenggam gorden terlalu erat. Ia sama sekali tak menyangka akan langsung bertemu dengannya lagi. Ia sudah menduga bahwa ia akan bisa bertemu—dengannya yang mempermainkan alam bawah sadarnya tiap malam merengkuhnya—tapi tidak, tidak secepat ini.

Matanya dipenuhi suka cita—ia akan bisa segera bertatap muka dengannya. Bibirnya melengkung lagi—bukan senyum, seringai pemangsa adalah nama yang lebih presisi.

Sebuah nama meluncur dari bibirnya dalam desis yang tak terdengar manusia, "Indië..."

atas nama rasa yang menyatukan dan mencabik kita

"Meneer van Damme?"

Ketukan di pintu membuatnya menoleh dari pemandangan di luar. Tatapan matanya menajam—tatap mata Koninkrijk der Nederlanden sang kolonialis dunia.

"Ada apa?"

"Pihak sana mengajukan perundingan."

Lengkungan itu kembali menyinggahi bibirnya. Jemarinya meraba revolver di ikat pinggangnya. Untungnya ia selalu menerapkan 'sedia payung sebelum hujan'.

aku akan jadi pendosa terbesar di dunia

Bersambung...

Catatan :

(1) Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees. Organisasi bentukan Sekutu yang dibonceng Belanda yang berdalih merehabilitasi tawanan perang mereka di Surabaya.

(2) Palang Merah Internasional. Pasca kemerdekaan RI, mula-mula Jepang dan Indo Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross).

(3) Lengkapnya Mr W. V. Ch. Ploegman. Saya sudah mencoba mencari profil lebih jelasnya, tapi tidak menemukan. Ada yang mau berbagi pengetahuan?

I've told you. Ini absurd! Hyakakakaka~ :D #diberondongpeluru #menghindar

Saya akan mencoba menyelesaikan Bagian Dua—dan mungkin Tiga—secepatnya #galauauthorisgalau Yaah, mumpung masih liburan pasca UTS. Tenang aja, pasti saya tamatin, kok, kalau yang ini. :D

Terima kasih sudah membaca—jangan lupa tinggalkan jejak dalam kotak keramat di bawah ini, ya~ #toelreviewbox

Luv,

sherry