Dia cuma, bosan?
Alasan sederhana, membuat alur cerita yang telah tersususn dan terlukiskan sama selama bertahun-tahun menjadi luruh seketika.
Boredom (c) bruderup
Counter Strike (c) Valve
Ah, lagi-lagi seperti ini, setelah berpetualang semenjak tahun rilis awal dan sampai sekarang, masih sama, hanya ada beberapa yang berubah, sedikit, itupun sama sekali tidak mempengaruhi apa pula akan terjadi selanjutnya.
De_dust, skenario sebagai pelawan teroris, dan segenggam M4A1. Bosan. Helikopter diatasnya pelan-pelan menjauh, tak ada intruksi harus bagaimana, tapi dia tahu, langkahnya pelan-pelan keluar sambil meneriaki kalimat "Go! Go! Go!"
Seseorang tengah camping di sisi kanan, sama saja, tidak ada perubahan.
Ah, itu ada musuh!
Baku tembak kembali terjadi, buat apa susah? Ini tidak seperti perang kata orang-orang, kau bisa respawn, atau menunggu satu babak lalu kembali hidup. Mengumpulkan uang dengan membunuh, yang kemudian hanya akan habis karena membeli senjata.
Seseorang melempar flash bang, sial, malah team mate-nya yang terkena.
Sial.
Mereka noob.
Mengendap-endap, tadi pertarungan cukup menegangkan, tapi dia biasa saja, setelah melihat daftar pemain tersisa, tinggal dirinya counter-terrorist seorang diri, seluruh kawan telah mati, bahkan si camper sekalipun.
Seorang musuh dihadapannya sendirian. Beberapa tembakan M4A1 membungkam langkah, mungkin sang pemain tengah mencak-mencak, seorang teroris datang karena mendengar konflik, tidak sempat reload, akhirnya ganti pakai secondary, lolos, orang itu mati.
Tetap terasa bosan.
Tinggal dua orang, satu lawan dua, pembawa bom pasti diantara mereka berdua.
The bomb has been planted.
Bombside A, tidak ada, pasti di B, tersenyum lebar saat membayangkan ujaran Cyka Blyat Rush B.
Seorang lagi ditembak sampai mati, seorang lagi tersisa, tapi tidak sempat, bomnya keburu meledak. Mungkin sedang tak beruntung, bom keburu meledak, dan di match ini mungkin kalah.
Namun ada yang berbeda.
Ledakannya sangat besar, besar sekali, membuat telinga sang pemain terasa agak sakit, api menari-nari dan asap membumbung, sebelumnya tidak seperti ini, bukankah semua yang terlihat adalah skenario? Lalu mengapa ada menyalahinya?
Sebuah lubang besar nampak, sang teroris, dengan membawa sebuah sniper AWP, datang menghampiri, matilah, tapi di babak selanjutnya pasti bisa hidup lagi, jadi, hidupnya tak melulu berarti.
"Ayo, ikut aku pergi," ujarnya mantap, terasa aneh dan bingung, ini menyalahi, lagi-lagi-lagi. "Kau bosan kan? Lihat, temboknya rubuh, sebelum match selesai, kita harus melarikan diri."
Tubuh yang tersisa 26/100, yang telah tertembak berkali-kali tapi masih bisa berlari, dipaksakan untuk bangkit, benar saja, temboknya agak terbuka, kecil sih, tapi bisa dipakai melarikan diri.
Bagamana? Mau pergi? Mungkin bosannya dapat segera diatasi.
Senyumnya mengembang lebar, meski tidak terlihat karena menggunakan penutup wajah.
"Ayo!" Sang teroris maju pertama, melewati rusakan di dinding, disusul oleh dia. Barangkali, dunia di sebelah tembok menawarkan petualangan yang lebih seru lagi, tentu saja, sang karakter menjadi sangat tidak sabar.
Sementara, sosok ber-id CutePinky melebarkan mata hijaunya, aneh, tertegun, sudut pandang sang karakter mendadak putus dan tergantikan oleh karakter lain.
"Kenapa matamu begitu?"
"Aku tidak mengerti, karakterku baru saja menghancurkan tembok dan melarikan diri!"
End
Ah, akhirnya selesai, fanfic Counter Strike kedua dariku~
Ini sih terinspirasi pas lagi main CS, ngebayangin kalau jadi mereka yang kerjanya cuma hidup, tetembakan, mati, hidup lagi, (kadang jadi zombie dulu sehabis mati :3) dan terus-terusan seperti itu buat ngehibur orang-orang, apa kagak bosen kali :p
Silakan kasih saran dan kesan, makasih banyak bagi yang udah menyempatkan baca fanfic sederhana ini :3
