Kau mendekapnya erat, membenamkan diri pada dirinya yang sama sekali tidak bertambah tua, sejak bertahun-tahun dahulu.

"Terima kasih atas waktu bermain yang begitu berharga, Mario!"


Old School Gamer (c) bruderup

Super Mario Bros. (c) Nintendo


Lagu familiar ini memasuki telingamu.

Ah, rasanya sakit sekaligus haru, ingin menggigit, ingin meraung, ingin menangis, bahkan saat tetesan yang berkilau diterpa sinar lampu itu jatuh, dia masih berlari melompati kura-kura untuk mendapatkan jamur pembesar tubuh.

Permainan berlanjut, kini menggelap, dia memasuki ruang bawah tanah. Grafis, lagu, jalan cerita, karakternya tetap sama, sedikitpun tidak berubah, hanya saja, saat kau beralih pandang ke arah controller yang tergenggam erat, disadari kalau tangan itu bertambah besar.

Sudah berapa lama waktu berlalu?

Makin sesak saja dadamu, kini bukan hanya air mata, melainkan lendir kehijauan ikut turun dari hidung, mengalir pelan, tak digubris dan tak diusap, melewati lekukan merah yang tiba-tiba saja terasa asin, menetes, dan terulang terus.

Tidak!

Tidak!

Kau tak tahan!

"Huaaaaaa! Mariooooooo!" Tangisan itu pecah seketika!


Kau menggulung selembar tisu, melemparnya secara tepat ke arah tempat sampah.

"Ya, petualangan mereka luar biasa! Mereka punya grafis yang mirip sekali seperti asli, punya karakter unik dan beragam kisah menarik."

"Tapi..." Seorang pria baya dihadapanmu hanya tersenyum. "...seberapa menariknya mereka, kau tidak tergantikan, Mario."

Eh? Benarkah? Wajah sosok yang dipanggil Mario agak berubah jadi riang. Langit di mana ia berpijak hanyalah warna biru dengan awan membosankan, tidak seperti punyanya sebelah yang bahkan memiliki cuacanya sendiri.

"Waktu banyak berlalu, kau tumbuh."

Kau mengingatnya, saat usia 7 tahun dan ibumu yang begitu manis menghadiahkan sebuah konsol bergengsi, Super Mario adalah pertama kali dicicipi, menurutmu, Super Mario itu terbaik dengan cerita dan grafis mumpuni.

Hanya saja, itu 20 tahun yang lalu.

Seseorang berwarna jingga mendekatimu, kau mengenalnya jelas, itu Lena Oxton! Ada pertempuran yang harus dihadapi dan tidak boleh ditunggu lagi.

Maka, sebelum kau pergi dan barangkali tidak kembali, kau mendekapnya erat, membenamkan wajah murungmu pada dirinya yang sama sekali tidak bertambah tua, sejak bertahun-tahun dahulu.

"Terima kasih atas waktu bermain yang begitu berharga, Mario!"


End


Huft, cukup lelah, cukup rindu juga sama Mario dan lagu tetonet tetonet, tot!

Oh ya, Old School Gamer adalah sebutan buat gamer lama, yang biasanya udah berumur cukup dewasa :3

Sila tinggalkan jejak~~