Halo ketemu lagi dengan saya!
Setelah melihat feedback yang diberikan, akhirnya saya memutuskan untuk mempublish Rewrite terlebih dahulu. Sepertinya antusiasme reader mengenai tema Time Shifting sangat besar. Saya juga sangat bersemangat untuk menulis fanfiksi ini. Sampai-sampai Kimi No Sei dan Love Story that Has No Beginning belum saya update juga. Maafkan sayaa~ saya akan berusaha mengupdate kedua fanfiksi itu dengan cepat. Hehe.
Ini pertama kalinya saya mencoba genre Adventure (yah walaupun ada Angst dan Romance seperti fanfiksi saya yang lain tapi pada karya ini saya akan berusaha fokus pada Action dan Adventurenya. Tentu saja Romance juga menjadi unsur yang penting disini. Tapi saya akan berusaha lebih keras pada perkembangan alur cerita dan ga hanya fokus di Romance saja.
Selamat membaca!
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Adventure / Hurt / Comfort / Angst
Rated: T+
Pairing: SasuSaku, NaruSaku,
Warning: Canon, Angsty, OOC, Super Power Sakura, Mary Sue, Full of SPOILER dan berbagai hal lain.
Naruto © Masashi Kishimoto
Summary:
Sakura tahu, semenjak perang besar melawan Uchiha Madara hidupnya takkan pernah sama lagi. Ia telah kehilangan segalanya. Cahaya dan cintanya. Naruto dan Sasuke. Baginya dunia seolah berhenti berputar. Ia akan melakukan apapun untuk mengubah takdir, walaupun ia harus menggunakan jurus terlarang sekalipun.
Akina Takahashi presents,
Rewrite
Story by: Akina Takahashi
Chapter 1: The Forbidden Jutsu
"Seharusnya kau yang menduduki jabatan merepotkan ini." Sakura meletakkan sehelai jubah berwarna putih dengan tulisan kanji berwarna merah di bagian belakangnya yang bertuliskan "六代目" –Rokudaime. Ia menghela napas sesaat sebelum tangannya membuka lipatan jubah itu dan memakaikannya pada sebuah batu nisan. "Naruto."
Angin berhembus meniup ujung jubah hokage itu hingga membuatnya berkibar. Sakura menutup mata emeraldnya perlahan. Membayangkan jika Naruto lah yang mengenakan jubah kehormatan itu. Pasti ia akan terlihat sangat gagah. Tentu saja dengan rambut pirangnya yang berkilauan dan senyum lebarnya yang mampu menghangatkan siapapun yang berada di dekatnya.
Ya, benar.
Seharusnya Naruto lah yang mengenakan jubah itu sekarang.
Bukan batu nisan yang ada di hadapannya.
Sakura mengepalkan tangannya erat.
Matanya beralih pada batu nisan yang berada di sebelah batu nisan Naruto. Batu nisan dengan pahatan lambang Uchiha diatasnya. Uchiha Sasuke. Pemuda yang telah menjadi tambatan hatinya sejak dulu.
Gadis bermata hijau itu menunduk kemudian meletakkan sebuah bunga lili putih diatas makam pemuda itu.
"Apa kabarmu Sasuke?" tanyanya retoris. "Pasti menyenangkan ya bisa bertemu kembali dengan keluargamu lagi." Mata hijau Sakura meredup. "dan… meninggalkanku untuk yang kedua kalinya."
.
Sesaat tak ada suara apapun di area pemakaman itu.
Yang ada hanyalah keheningan.
.
"SYUU" Angin berhembus menerbangkan helaian rambut panjang Sakura. Ia menutup matanya berusaha menikmati sentuhan angin pada kulitnya. Membuat baju terusan cheongsam merahnya berkibar.
.
"POOF" aktivitasnya terganggu ketika ia merasakan ada sosok Anbu yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Sakura membalikkan tubuhnya menatap sosok Anbu berambut hitam itu.
.
"Hokage-sama, kami berhasil menangkap para nukenin yang berusaha menyerang seorang shinobi Suna di Konoha." Pemuda itu masih berada dalam posisinya. Ia setengah berlutut ketika menghadap Sakura.
"Kerja bagus." Sakura menatap wajah tanpa ekspresi di hadapannya. "Sai."
"Apa perintah Anda selanjutnya?" Pria itu tersenyum. Sama seperti senyum formalnya yang biasanya ia tunjukkan pada siapapun.
"Bunuh mereka semua." Suara Sakura terdengar dingin. Sesaat mata hitam Sai melebar. Namun dengan segera ia kembali memasang senyum palsunya. "Aku tidak akan membiarkan pengorbanan Naruto dan Sasuke sia-sia. Aku akan membasmi siapapun yang berusaha merusaknya." Sakura berkata tanpa keraguan sedikitpun di matanya.
"Baik." Sai kembali menunduk memberi hormat. "Kami para Anbu akan melaksanakan perintah Hokage-sama dengan sebaik-baiknya."
"…" Sesaat sebelum Sai menghilang dari pandangannya, Sakura membuka mulutnya. "Sai."
"Ya?" Sai dengan segera menatap wajah Sakura yang berada di hadapannya. "Sampaikan salamku pada Ino."
Sai tersenyum. "Baik akan saya sampaikan salam Anda pada istri saya."
Sakura tertawa kecil. "Entah kenapa aku tidak pernah terbiasa dengan cara bicaramu yang terlalu formal itu Sai." Sakura mengangkat bahu. "Kau selalu memanggilku dengan sebutan jelek, hag, ataupun sebutan tak pantas lainnya. Tapi sekarang kau memanggilku Hokage-sama? Ini rasanya sangat aneh."
"Ah, saya bisa dihukum pancung jika mengatai pemimpin Konoha-gakure dan juga pemimpin aliansi lima negara dengan sebutan tak pantas seperti itu."
Sakura tertawa. "Benar juga."
"Saya mohon diri." Sai bangkit berdiri. Senyuman masih terpampang di wajahnya. "Sakura-san."
"POOF" Seketika sosok Sai telah menghilang dari pandangan Sakura.
Sakura kembali berbalik menghadapkan tubuhnya pada kedua batu nisan di hadapannya. "Aku tidak akan membiarkan kalian berdua berakhir seperti ini."
Aku akan mengubah segalanya.
Sekalipun aku harus mengorbankan nyawaku.
Sekalipun aku harus membiarkan diriku jatuh ke dalam kegelapan tak berdasar.
.
.
.
.
Sudah dua puluh tahun berlalu semenjak perang dunia shinobi ke-4 berakhir. Pada akhirnya Uchiha Madara tak berhasil melaksanakan project Tsuki No Me-nya. Dunia tidak dikuasai oleh genjutsu seperti yang ditakutkan oleh semua shinobi saat itu. Namun semuanya harus dibayar dengan sangat mahal.
Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke harus mengorbankan nyawa mereka. Sasuke menggunakan Izanagi dan Susano'o nya secara berlebihan hingga pada akhirnya nyawanya tak tertolong lagi, sementara Naruto melakukan tindakan bunuh diri dan menyeret Uchiha Madara bersamanya. Dengan kekuatan Kurama yang berhasil ia dapatkan kembali dari ayahnya, Namikaze Minato. Ia mengeluarkan Bijuudama terbesar dan terkuat yang pernah ada. Meledakkan Uchiha Madara dan juga... dirinya sendiri.
Tak hanya Naruto dan Sasuke yang mengorbankan diri untuk memenangkan perang ini. Maito Guy, guru kesayangan Rock Lee pun melakukannya. Guy mengeluarkan jurus terlarang yang akan mengakibatkan kematian seketika pada penggunanya. Sang Konoha's Green Beast itu pun akhirnya meninggal tak lama setelah ia mengeluarkan jurus tersebut. Sayang sekali ternyata pengorbanannya tak cukup untuk membunuh Uchiha Madara.
Belum lagi para shinobi yang harus kehilangan nyawa disaat perang melawan white zetsu masih berlangsung. Hyuuga Neji, si jenius dari klan Hyuuga harus kehilangan nyawanya. Tidak hanya Hyuuga Neji, masyarakat sipil Konoha yang tidak ikut berperang pun diserang oleh kawanan white zetsu yang menyamar menjadi anggota keluarga mereka.
Sakura harus kehilangan kedua orang tuanya saat penyerangan ini terjadi. Ia tahu ia tak bisa menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Semua shinobi Konoha sedang pergi berperang dan ia tahu Konohamaru dan para genin yang lain telah berusaha keras untuk menghalau pasukan musuh. Namun, perbedaan kekuatan yang sangat besar mengakibatkan Konoha dengan cepat dapat dikuasai oleh zetsu.
Sakura masih ingat dengan jelas saat ia menemui Konohamaru yang baru saja sadar dari koma beberapa hari setelah perang berakhir.
"Sakura-neechan…" Konohamaru menangis keras sambil mencengkram rompi chuunin yang dikenakan Sakura. "Aku sudah berusaha keras tapi…" kata-katanya tersendat. Tangisannya kembali histeris. "Aku tidak dapat melindungi mereka semua! Aku sudah melakukan segala yang aku bisa. Kenapa aku tidak memiliki kekuatan seperti Naruto-niichan?" Seketika mata hijau Sakura melebar ketika ia mendengar nama Naruto disebut. "Kalau Naruto-niichan pasti…"
"Kau tidak salah Konohamaru." Sakura memotong perkataan Konohamaru. Sang genin mengangkat wajahnya yang basah dipenuhi air mata. Ia menatap mata hijau Sakura. "Tidak, neechan… kalau Naruto-niichan yang berada di Konoha saat itu, hal ini pasti takkan terjadi."
Sakura mengepalkan tangannya erat. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri." Ia melepaskan pelukan Konohamaru dari tubuhnya. "Sakura-neechan?" Seketika Konohamaru dapat melihat mata hijau Sakura yang sempat meredup. "Naruto takkan berada di Konoha saat itu. Ia sudah mati sesaat sebelum white zetsu menyerang Konoha."
Seketika air mata Konohamaru kembali tumpah. "TIDAK! Ini pasti bohong kan neechan?" pemuda berambut coklat jabrik itu menggelengkan kepalanya. "Naruto-niichan itu kuat. Ia punya chakra kyuubi, ia ninja terkuat yang pernah kukenal. Jadi ini pasti bohong. Naruto-niichan tidak mungkin mati secepat itu."
"Ini bohong kan Sakura-neechan?"
"Tidak. Ini adalah kebenaran yang harus kau hadapi."
"Tidak! Naruto-niichaan!" Konohamaru kembali menangis. "Naruto-niichan masih belum mengajariku Oodama Rasengan, mengajarkanku harem no jutsu, dan belum melihatku menjadi Hokage! Naruto-niichan tidak boleh mati!"
"Konohamaru, sudahlah jangan menangis lagi." Sakura mengusap air mata sang cucu hokage ke-3 itu dengan tangan kanannya. Ia tersenyum lebar pada murid kesayangan Naruto yang ada di hadapannya. "Semuanya akan baik-baik saja."
"Kenapa Sakura-neechan tidak menangis? Apakah kau tidak sedih? Apakah kau tidak kehilangan?"
Sakura terdiam sesaat ketika mendengar pertanyaan Konohamaru yang berhasil mengusik kembali pikirannya.
"Aku sudah kehilangan semuanya." Perkataan Sakura berhasil membuat Konohamaru tercengang. "Air mataku, cahayaku, dan juga cintaku." Sakura mengalihkan wajahnya menatap mata Konohamaru. "Duniaku sudah berhenti berputar."
"Sakura-neechan, maaf aku…"
"Aku hampir saja membunuh diriku sendiri. Aku ingin menyusul mereka berdua." Sakura tertawa getir. "Tapi aku tidak yakin jika mereka mau menerimaku di surga jika aku melakukan itu." Ia mengacak rambut coklat Konohamaru. "Jadi Konohamaru… ayo kita wujudkan impian terakhir mereka! Ayo kita wujudkan perdamaian yang selama ini mereka impikan."
Konohamaru kembali menangis keras. "Huaaa… Sakura-neechan, hu..hu…hu, aku… aku…"
"Aku tahu ini mungkin berlebihan, tapi aku akan berusaha keras." Sakura tersenyum lembut. "Mohon bantuannya, Konohamaru-kun!"
"Un! Tentu saja, Sakura-neechan!" Konohamaru mengangguk pelan. Ia mengelap air matanya dengan kedua tangannya.
.
.
.
"Hokage-sama."
Sakura tersadar dari lamunannya ketika sebuah suara terdengar di telinganya. Ia mengalihkan pandangannya pada sesosok Anbu yang berlutut di hadapannya.
"Ada apa?"
"Kazekage-sama datang berkunjung."
"Aa…" Sakura menutup buku yang sedang dibacanya. Kemudian bangkit dari meja kerjanya. "Persilakan ia masuk."
"Baik." Sosok Anbu itu menghilang di balik kepulan asap.
Tak lama kemudian terdengar suara yang sangat familiar dari balik pintu ruang kerjanya yang terbuka. "Sakura-san."
"Silakan masuk Gaara-san." Sakura berjalan menuju ke pintu. Mempersilakan pemuda berambut merah itu memasuki ruangan.
"Lama tak bertemu." Sakura tersenyum. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya ramah seraya berjalan menuju sofa yang ada di ujung ruangan. Mempersilakan Gaara untuk duduk di sampingnya.
"Baik." Sang Kazekage mengikuti Sakura dan mendudukkan dirinya di samping gadis itu.
"Ocha?" Sakura mengambil teko yang ada di atas meja kemudian menuangkan isinya pada cangkir. Gaara mengangguk pelan. Setelah cangkir itu terisi penuh, ia mempersilakan Gaara untuk segera meminumnya. "Terima kasih." Sang Kazekage mengambil cangkir itu dan menyeruputnya perlahan.
Sakura tersenyum. "Ada keperluan apa Gaara-san datang kemari?"
Gaara menatap mata hijau Sakura. "Aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku karena sudah membantu seorang shinobi Suna yang diserang oleh sekelompok nukenin malam lalu."
"Aah, itu sudah menjadi kewajiban Konoha untuk membantu shinobi aliansi lima negara." Sakura tertawa kecil. "Kau juga pasti akan membantu kami kan jika seandainya shinobi Konoha yang diserang berada di desamu?"
"Tentu saja."
"Aku tidak akan membiarkan kedamaian yang telah kita dapatkan dengan susah payah ini kembali hilang." Sakura menegakkan posisi duduknya dan mengangkat kepalanya menatap Gaara dengan tatapan serius. "Aku takkan mengampuni orang-orang yang berusaha merusaknya, Gaara-san. Jadi aku mohon, bantu aku untuk melindungi dunia ini dari orang-orang gila yang menyukai peperangan."
"Suna akan selalu menjadi partner Konoha yang dapat dipercaya." Suara dingin Gaara kembali terdengar. Namun entah kenapa dibalik suara dingin itu Sakura dapat mendengar suara yang menenangkan. Sakura tahu dibalik wajah tanpa ekspresi Gaara, pemuda itu mencintai desanya lebih dari apapun. Ia pasti akan berusaha melindungi desanya dari ancaman perang. Saat ini Suna dan Konoha telah menjadi aliansi yang sangat dekat. Baik Sakura maupun Gaara, keduanya berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan impian terakhir Uzumaki Naruto. Sahabat terbaik mereka.
"Tentu saja aku mempercayai Suna-gakure lebih dari desa shinobi manapun saat ini." Sakura tersenyum tipis.
"…"
"Hanya saja ada satu hal yang kukhawatirkan…" Sakura menghela napas. "Sejak kematian Onoki-sama, kondisi pemerintahan Iwa-gakure menjadi tidak stabil. Pihak oposisi berusaha merebut kekuasaan dan keadaan menjadi kacau balau. Kita semua tahu bahwa pihak oposisi tidak pernah menyetujui keberadaan aliansi lima negara. Mereka menganggap bahwa menjalin hubungan dengan pihak yang pernah berperang dengan negaranya sendiri adalah hal yang merugikan. Mereka tidak mempercayai kita dan mereka berusaha untuk menjadikan Iwa sebagai satu-satunya desa yang berkuasa. Hal itu sama seperti prinsip Danzou-san. Dan tentu saja hal itu telah terbukti bisa menimbulkan peperangan antar shinobi kembali terjadi." Sakura terdengar sangat serius kali ini.
"Aku yakin saat ini mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan aliansi lima negara." Sakura kembali menghela napas. "Aku takut mereka berusaha untuk mengadu domba masing-masing negara ataupun memfitnah negara yang satu dengan negara yang lain. Nukenin yang berhasil kami tangkap pun ternyata berasal dari Iwa-gakure. Ia mengakui bahwa misi yang dikerjakannya saat itu adalah untuk membunuh para shinobi Suna dan memfitnah shinobi Konoha sebagai pelakunya."
Seketika Sakura dapat melihat keterkejutan melintas di mata jade Gaara. "Kami menggunakan Sharingan saat menginterogasinya. Jadi bisa kau pastikan bahwa semua perkataan yang kukatakan adalah benar." Sakura menghentikan kata-katanya sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil. "Yah, walaupun pada akhirnya Kakashi-sensei harus beristirahat di rumah sakit setelah menggunakan Sharingannya secara berlebihan. Yah, kau tahu… saat ini ia hanyalah seorang ojisan tua yang mesum."
Gaara tersenyum tipis saat mendengar perkataan Sakura yang menurutnya lucu ini.
"Kurasa kita harus melakukan sesuatu Sakura-san." Gaara menyarankan.
"Tentu saja." Sakura mengangguk. "Jangan khawatir, kami memiliki ahli strategi terbaik di dunia shinobi." Sang Hokage berambut pink itu tersenyum kemudian mengerling kearah pintu masuk yang terbuka. "Shikamaru, sebaiknya kau segera bergabung dengan kami disini. Tak baik mencuri dengar seperti itu."
Sesosok Jounin berambut seperti nanas muncul dari balik pintu. "Yare-yare…" Shikamaru menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Sakura…"
Shikamaru termasuk beberapa orang yang tetap memanggilnya tanpa embel-embel apapun. Baginya mau jadi apapun, Sakura tetaplah Sakura. Bukan Hokage-sama, atau apapun. Sakura sangat menyukai hal itu, sejujurnya ia muak mendengar orang-orang seolah menjauh darinya. Menjaga jarak hanya karena jabatan yang dipegangnya sejak sepuluh tahun yang lalu itu.
Ya sepuluh tahun sejak Tsunade meninggal, para tetua mengangkat Haruno Sakura sebagai Hokage ke-6.
Sudah beberapa kali ia menyarankan agar ada seseorang yang menggantikan dirinya. Namun banyak yang tidak menyetujuinya. Mereka mengatakan bahwa Konoha menjadi negara yang sangat aman ketika berada di bawah pimpinan Sakura.
"Jadi Shikamaru…" Sakura mengerling pada Jounin elite yang ada di sampingnya. "Kau punya strategi untuk mengatasi kekacauan ini?"
Gaara hanya diam menatap pria yang telah menjadi kakak iparnya semenjak dua puluh tahun yang lalu ini. Semenjak Shikamaru menikah dengan Temari, hubungannya dengan pria jenius ini menjadi lebih dekat.
Shikamaru menghela napas. "Aku tidak tahu rencana ini akan berhasil atau tidak, tapi…" Shikamaru mengeluarkan sebuah peta. "Sebaiknya kita mencobanya terlebih dahulu."
"Aku percaya pada otak jeniusmu itu."
"Huf… jangan memaksaku untuk berpikir keras di usiaku yang ke 37 ini Sakura. Aku sudah tua." Ujarnya sambil menghela napas.
"Berhenti menggerutu Shikamaru. Kau lupa kalau aku dan Gaara juga seumur denganmu?" Sakura terlihat kesal.
"Oke, aku mengerti." Ia kembali menghela napasnya. "Hari ini akan jadi hari yang panjang."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya menuruni tangga yang ada di hadapannya. Hari sudah larut malam, ia tak menyangka diskusi dengan Kazekage dan Shikamaru akan memakan waktu yang sangat lama. Sakura menghela napas panjang, merasa lega setidaknya satu masalah akan selesai. Jika pelaksanaan dari rencana Shikamaru berjalan lancar maka semua akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Pihak oposisi di desa Iwa-gakure dapat dikalahkan dan Iwa-gakure dapat kembali menjalankan pemerintahannya seperti saat Onoki menjadi Tsuchikage dulu.
Setelah menuruni tangga yang cukup panjang, Sakura menemukan sebuah pintu rahasia disana. Dengan segera ia membuka pintu itu dan masuk ke ruangan di dalamnya. Ruangan itu merupakan ruangan rahasia bawah tanah yang terletak di bawah kantor Hokage. Dengan langit-langit yang sangat tinggi dan ukurannya yang sangat luas, sepertinya tidak sulit untuk men-summon Katsuyu raksasa disana.
Sang Hokage berjalan menuju ke sebuah peti mati yang terletak di tengah ruangan. Membuka peti itu dan menatap dingin mayat yang berada di dalamnya.
"Halo." Ia menghentikan perkataannya sesaat.
"Uchiha Madara."
Mata emerald dinginnya menatap tubuh tak bernyawa yang berada di dalam peti itu. Sesosok Uchiha tampan berambut hitam panjang terbaring tak berdaya. Sesosok pria yang dulu sempat menjadi pria terkuat sepanjang masa. Pria immortal yang mempunyai kekuatan dewa dan chakra yang tak terbatas.
"Apa yang kau rencanakan, Sakura?" Sakura merasakan bahunya menegang saat ia merasakan keberadaan orang selain dirinya berada di ruangan ini.
"Shikamaru, kenapa kau berada disini?"
"Aku mengikuti chakra-mu karena aku ingin menanyakan beberapa hal padamu. Tapi sepertinya ada hal lain yang lebih penting dari itu…"
Mata Shikamaru membelalak lebar saat melihat apa yang berada di tengah ruangan itu. Shikamaru menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya atas apa yang dilihatnya.
Untuk apa Sakura menyimpan mayat Uchiha Madara?
Apa yang sedang direncanakan oleh gadis itu?
"Kau harus memiliki alasan bagus untuk hal ini, Sakura."
"Tentu saja aku memiliki alasan." Sakura membalikkan badannya untuk menatap Shikamaru. "Aku melakukan ini untuk mengubah takdir."
"Jangan bodoh. Takdir tidak akan bisa diubah. Sepintar apapun kau." Shikamaru mendengus.
"Mungkin itu benar bagi kita. Namun tidak jika yang melakukan hal itu adalah juubi."
"AP-" Mata Shikamaru melebar, ia tak sanggup melanjutkan pertanyaannya karena tiba-tiba saja otaknya yang jenius mencerna perkataan Sakura dengan cepat. "Jangan bilang kau berniat melakukan Edo Tensei pada Uchiha Madara untuk membangkitkan kembali si ekor sepuluh itu."
"Bingo." Suara Sakura terdengar tenang seolah ini adalah hal yang biasa ia hadapi.
"Kau gila Sakura! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Shikamaru mulai terlihat panik. Saat ini otak jeniusnya tidak bisa memikirkan apapun. Bagaimanapun juga Ia harus menghentikan Sakura.
"Juubi memiliki kemampuan untuk menggeser dimensi ruang dan waktu. Aku dan Naruto sempat merasakan kekuatannya saat kami terlempar ke dunia paralel." Sakura berusaha menjelaskan pada Shikamaru. "Aku tidak akan menyia-nyiakan itu semua. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku tidak akan membiarkan Naruto dan Sasuke mati begitu saja."
"Sakura! Apapun alasannya kau tidak boleh menghidupkan orang ini kembali!" Pria berambut nanas itu mengguncang bahu Sakura dengan kedua tangannya. "Kau sudah lihat kan dulu Kabuto bahkan tidak bisa menguasai pria ini. Uchiha Madara memiliki kekuatan kekkei genkai yang sangat kuat sehingga ia tidak dapat dikendalikan dengan Edo Tensei."
Sakura melepaskan pegangan Shikamaru pada bahunya. "Pada saat itu Kabuto melakukan kesalahan. Ia terlalu menyepelekan kekuatan Uchiha Madara. Ia tidak memiliki cukup chakra saat melakukan Edo Tensei pada Uchiha Madara."
"Lalu apa bedanya denganmu? Kau juga pasti tak memiliki chakra yang cukup besar untuk mengontrolnya. Sakura ingatlah bahwa kau bukan Naruto."
"Tentu saja berbeda." Sakura memfokuskan seluruh chakra pada dahinya sehingga sebuah segel byakugou seperti yang dimiliki Tsunade terbentuk. Byakugou itu menyebar ke seluruh tubuhnya membentuk jalinan yang terlihat seperti tato disana.
"Sakura… Kau…"
"Aku sudah mengumpulkan chakra ini selama dua puluh tahun Shikamaru. Dan aku mengumpulkannya dari berbagai shinobi yang kutemui. Aku bahkan sempat mengekstrak chakra yang dimiliki oleh anggota Akatsuki sesaat sebelum mereka menghilang akibat efek dari Edo Tensei yang dilakukan Kabuto dihentikan dengan paksa."
"Tidak. Sakura, jangan lakukan ini! Ini sangat berbahaya!" Shikamaru berusaha menahan Sakura namun ia kalah cepat dengan gadis itu yang kini telah berada di belakangnya. Seketika ia mengalirkan chakra ke tangan kanannya dan mengunci aliran impuls beberapa sistem syaraf yang mengatur pergerakan di tubuh Shikamaru.
Pria itu jatuh tak berdaya. "Sakura! Apa yang kau lakukan padaku?!"
"Jangan khawatir, tubuhmu akan kembali normal dalam beberapa jam ke depan." Sakura tersenyum. "Tenang saja Shikamaru, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan memberikan masa depan yang jauh lebih baik daripada ini."
"Sakura…"
Sakura mengangkat tangannya membentuk segel-segel aneh. "Uma, ushi, tori, kame…" Ia menghela napas panjang sebelum berteriak "Edo Tensei!"
Cahaya putih menyelubungi sosok mayat Uchiha Madara sebelum akhirnya tubuh itu berdiri kaku di hadapannya. Sakura masih berusaha keras mengeluarkan chakranya untuk menguasai Madara. Setelah pergolakan yang cukup panjang akhirnya ia berhasil mengambil kendali penuh atas tubuh itu."
"Madara… aku ingin kau memanggil juubi untukku." Perintahnya.
Kata-katanya tidak direspon oleh tubuh kaku yang terlihat seperti manekin yang ada di hadapannya itu. Madara mengangkat tangannya untuk memanggil Juubi. Sharingan dan Rinnegannya berkilat. Tak lama kemudian sosok juubi muncul dari balik asap tebal yang yang mengelilinginya.
Shikamaru menatap sosok yang muncul di hadapannya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Apa yang kau inginkan dariku, nona?" sang mystical beast berukuran raksasa itu bertanya pada Sakura.
"Aku ingin kau membawaku ke masa lalu. Sebelum perang melawan Uchiha Madara terjadi." Sang Hokage menjawab dengan penuh keyakinan.
"Tentu saja aku dapat melakukan hal itu." Juubi menjawab. "Hanya saja ada konsekuensi yang sangat berat bagi manusia yang berusaha melawan takdir yang telah ditetapkan."
"Apa itu?"
"Keberadaanmu." Jawab sang Juubi. "Kau tidak diperbolehkan ada di dunia ini lagi."
"Dengan kata lain, setelah aku berhasil mengubah takdir maka sebagai gantinya maka keberadaanku akan dihapuskan? Aku akan mati?"
"Ya. Itu benar."
Sakura tersenyum lembut. "Tentu saja aku akan melakukannya. Aku akan mengubah takdir meskipun nyawaku yang jadi taruhannya."
"Kuberitahu kau satu hal nona." Juubi menghentikan kata-katanya sesaat sebelum melanjutkannya kembali. "Apapun yang terjadi keberadaanmu akan dihapuskan. Jika kau gagal mengubah takdir atau kau malah mengubahnya menjadi lebih buruk maka kau akan mati karena kegagalanmu. Kalaupun kau berhasil mengubah takdir menjadi seperti yang kau inginkan, kau juga tetap akan mati."
"Aku tahu. Dunia ini memang tak pernah adil. Aku sudah terbiasa akan hal itu." Kata-kata Sakura terdengar ringan seolah tanpa beban. "Lagipula hidupku tak ada artinya jika aku tak bisa menyelamatkan dua orang yang sangat penting bagiku."
"Baiklah."
Juubi mengeluarkan kekuatannya untuk membentuk sebuah portal dimensi yang diselubungi cahaya putih. Sakura tersenyum dan menatap Shikamaru yang terbaring tak berdaya akibat jurusnya tadi. "Maafkan aku Shikamaru, tapi aku harus pergi."
"Sakura, tunggu!"
"Ah, surat pengunduran diriku sebagai Hokage dan ketua aliansi lima negara telah kusiapkan di meja kerjaku. Disana juga ada surat rekomendasi agar kau menggantikanku sebagai Hokage." Sakura melangkahkan kakinya mendekati portal dimensi yang telah dibuat oleh juubi.
"Sakura!"
"Edo Tensei release!" seketika sosok juubi menghilang dan Madara telah kembali menjadi mayat. "Sayonara Shikamaru! Aku percayakan Konoha padamu!" Sesaat setelah Shikamaru mendengar perkataan itu, sosok Sakura telah menghilang di balik portal.
"SAKURA!"
-To Be Continued-
Whew akhirnya Rewrite rilis jugaaa! *tebar confetti
Setelah ini saya akan fokus terlebih dahulu pada Kimi No Sei dan Love Story that Has No Beginning, mungkin fic Civil Engineering akan saya tunda dulu releasenya. Wonderful Life, The Lost Soul, dan The Melodies of The Loneliness masih dalam tahap pengerjaan. Saya mohon maaf karena telah menelantarkan karya-karya saya selama bertahun-tahun. Selama empat tahun saya berkuliah, saya sangat disibukkan dengan kegiatan perkuliahan. Saat ini saya telah menjadi engineer dan memiliki waktu senggang untuk menyelesaikan fanfiksi saya (entah sampai kapan, mungkin saya akan hiatus jika saya sudah mulai bekerja). Jadi saya akan berusaha untuk terus menulis dan menyelesaikan semuanya. Terima kasih atas pengertian dan kesabarannya
Yosh, saya mengharapkan masukan berupa saran, kritik, atau flame sekalipun akan saya terima dengan senang hati. Review merupakan bentuk penghargaan bagi saya dan saya akan sangat senang jika ada reader yang memberikan penghargaan itu pada saya.
Jika tanggapan pembaca terhadap fanfiksi ini bagus dan saya melihat antusiasme yang tinggi pada fanfiksi ini, saya akan melanjutkan fanfiksi ini ke chapter selanjutnya. Parameter dari kedua hal tersebut adalah jumlah review yang diberikan.
jadi... mind to review?
Kalian dapat menghubungi saya melalui PM jika ada yang ingin ditanyakan atau jika hanya sekedar ingin mengobrol.
.
With love,
Akina Takahashi
