Please, Tied My Shoelace

Cast: Lee Jeno and Huang Renjun

Genre:Romance, Friendship, School Life, Drama

Disclaimer: Ini bukan asli karya author, author cuma me rombak cerita milik kak Khunrimhotwalkerz dengan judul yang sama tapi cast berbeda. Jadi ini bukan plagiat yaa

Warning : Boys Love, BL Boy x Boy, Yaoi

.

.

'Summary:"Jika tali sepatuku lepas, maukah kau selalu mengikatkannya untukku? Karena hanya kau yang mau melakukannya. So, please always be my side." –HRJ-

.

.

.

Jeno POV

Ini hari pertamaku memasuki sekolah yang baru tapiibuku malah tidak bisa mengantarku karena harus menghadirimeetingmendadak di kantornya. Bukannya aku manja, tapi keluargaku baru pindah kekota ini beberapa hari yang lalu. Otomatis aku masih belum hafal jalanan yang ada di kota ini. Khususnya jalan menuju sekolah baruku. Dan sekarang aku harus berlari di antara lalu-lalang pejalan kaki karena aku salah menaiki bis. Semoga saja aku tidak terlambat. Aku hendak berlari menyeberang jalan raya tepat ketika rambu untuk pejalan kaki menyala merah. Sial! Aku kalah cepat. Aku menunggu lampu itu kembali hijau dengan tidak sabar. Tidak banyak orang yang akan menyeberang. Mungkin karena ini sudah memasuki jam kerja. Ah, itu semakin membuatku gelisah. Hanya ada seorang namja berseragam SMA di depanku. Namja itu tiba-tiba melangkah semakin maju. Kakinya mulai menapak aspal jalan raya. Astaga! Jangan-jangan dia mau menghabisi nyawanya sendiri. Aku segera menarik lengannya sebelum mobil menyambarnya terlebih dahulu. Tapi ternyata aku menariknya terlalu keras sehingga membuat kami tersungkur ke belakang.

"Aww!" pekiknya.

Aku segera bangkit dan membantunya berdiri.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku.

Namja itu tak merespon. Ia menepuk-nepuk celananya, membersihkan debu yang menempel. Manikku menangkap sebungkus rokok yang terjatuh di dekatkakinya. Menyadari arah tatapanku, namja itu memungut bungkus rokok itu. Kemudian tatapannya beralih padaku. Maniknya menusukku tajam.

"Apa yang kau lakukan tadi?" namja itu membentakku.

"Eungg, aku hanya…." mendadak aku gugup dan tak tahu harus menjawab apa,

"Lain kali jangan ikut campur urusan orang. Urusi saja urusanmu sendiri!"

"Maafkan aku," aku menunduk meminta namja itu melenggang pergi.

"Apa-apan sih, namja itu? Bukannya berterima kasih setelah kutolong malah marah-marah. Sudah tidak tahu sopan santun, ketahuan merokok lagi. Dasar! Tabiatnya benar-benar buruk," aku menggerutu. Aku tidak habis pikir dengan sikap namja itu. Tetapi yang lebih mengganggu pikiranku adalah apakah benar namja itu hendak bunuh diri? Lalu apa yang membuatnya ingin melakukan aksi bodoh itu?

"Astaga! Aku terlambat!" aku menengok arlojiku dan baru menyadari bahwa aku semakin terlambat ke sekolah. Ini gara-gara namja itu. Awas saja kalau aku bertemu dengannya lagi.

Di hari pertama sekolah baruku, aku harus menerima kesialan yang beruntun. Kini aku dihukum berdiri di luar kelas gara-gara terlambat. Jika saja aku tak bertemu dengan namja itu, tidak-tidak. Jika saja aku tak salah naik bis, tidak bukan itu. Jika saja ibu bisa mengantarku, aku pasti tidak akan terlambat. Ah, lebih baik aku tak menyalahkan siapapun. Toh, ini sudah terlanjur terjadi.

"Hai, kau murid baru kan? Aku Mark. Kita akan jadi teman sekelas sekarang." Seorang murid namja yang juga dihukum karena terlambat menyapaku. Ditengah-tengah siksaan dari guru kami, ia masih saja sempat menyapaku.

"Aku Jeno. Salam kenal," balasku.

"Kau dari mana?"

"Arcadia High School, LA."

"Wah, jadi kau dari luar negeri, ya? Hebat! Kau tidak kesulitan menghadapi perbedaan budaya di sini?"

"Tidak juga. Keluargaku masih orang Korea."

"Oh, begitu ya? Jen, aku akan memberitahumu satu hal. Berasal dari luar negeri saja tidak menjamin kau bisa mendapatkan peringkat yang tinggi di sini. Persaingan di sini sangat ketat. Semua berambisi untuk menjadi yang nomor satu. Itu sebabnya sekolah ini menjadi salah satu sekolah bergengsi di Korea."

"Iya, aku tahu. Aku akan berjuang sebaik mungkin."

Tiba-tiba seorang namja yang tak asing bagiku melintas di depan kami. Aku terkejut bukan main. Itu namja brutal yang ku tolong pagi tadi. Dan dialah penyebab aku berdiri di sini. Dengan entengnya dia memasuki kelas. Aku mengintip dari jendela. Ku lihat iamelenggang menuju bangkunya dan merebahkan kepalanya di atas meja. Astaga, apa-apaan dia? Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu ketika ada guruyang mengajar di kelas.

"Dia Renjun, salah satu murid jenius di sekolah ini. Mungkin karena kejeniusannya itu semua orang membiarkan saja ketika dia bertindak seenaknya. Bahkan para guru saja enggan menegurnya. Selain itu dia dikenal sebagai 'King of Rudeness'. Ada juga yang mengatainya 'Pangeran Es', 'Bad Boy'. Dia punya segudang julukan jika kau mensensusnya satu persatu."

Aku semakin penasaran dengannya. Kulihat guru Matematika yang tadinya sedang mengajar, menghampiri bangkunya. "Renjun! Apa yang sedang kau lakukan? Kau ini datang terlambat tapi berani-beraninya masuk ke kelas tanpa seizinku? Sekarang kerjakan soal di depan!" Namja itu memutar bola matanya malas. Ia menuliskan jawaban soal Matematika yang baru saja ditulis. Aku sedikit memicingkan mataku untuk melihat soal itu lebih jelas. Tak sampai dua menit, ia sudah menyelesaikan soal itu dengan sempurna.

"Bagaimana? Bukankah ini sudah cukup? Sekarang boleh aku melakukan apapun yang kumau?"Sekarang pandanganku beralih pada guru Matematika yang masih belum kutahu namanya itu.

"Apa katamu? Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu pada gurumu? Kau sungguh tak punya sopan santun. Dimana etikamu?"

"Anda menyuruhku mengerjakan soal itu, dan aku berhasil mengerjakannya dengan sempurna. Apakah masih ada masalah?"

"Berani-beraninya kau!" kulihat guru itu hendak memukul Renjun.

"Hak Asasi Siswa pada Undang-Undang Negara pasal 6 ayat 2, Guru tidak boleh menggunakan hukuman fisik atau kekerasan secara verbal atau fisik pada siswanya. Bukan begitu, Han ssaem?" Astaga! Baru kali ini aku melihat seorang siswa mampu membungkam gurunya sendiri hingga tak berkutik. Sikap namja itu sungguh arogan. Dagunya yang terangkat dan manik tajamnya yang menelisik guru paruh baya di depannya itu seolah menelanjangi Han seonsaengnim. Namja itu kembali duduk di bangkunya tanpa memperdulikan lagi Han seonsaengnim yang kuyakin amarahnya sudah memuncak.

"Hei, kalian berdua! Siapa yang mennyuruh kalian mengintip? Cepat lanjutkan hukuman kalian!" parahnya, amarah Han seonsaengnim yang memuncak itu dilampiaskan pada kami yang sama sekali tidak bersalah.

.

.

.

TBC

.

.

.

Gimana chingu yaaa...

pada tertarik buat baca fict ini ga?

Kalo banyak yg minta di lanjut aku bakalan post lanjutannya secepatnya...

tapi kalo ga ada aku remove aja yaaa...

Oh ya sekali lagi aku tegasin ini bukan murni fict aku tapi punya kak Khunrimhotwalkerz.

so buat yang udah pernah baca mungkin nggak asing dengan fict ku ini...

etttt... tapi fict ini aku bedain dikit yaaa...

kalo punya kakak Khunrimhotwalkerz itu bukan BL nah yg ini aku bikin versi BL nya...

hahaha...