Part-time Job Scandal

Kuroko no Basket isn't mine
But the story is mine

.

Warning : AT, shounen-ai, etc.

.

Summary : Ketika mencari lowongan pekerjaan sama susahnya dengan mengumpulkan tujuh Dragon Ball, seorang Kuroko Tetsuya dengan beruntungnya diterima bekerja di Restoran bintang lima yang mewah sebagai pelayan. Tapi kenapa ia tak pernah tahu kalau tempat itu milik mantan kekasihnya?/"Ya enggaklah! Aku sama kamu itu cuma cerita masa lalu!"/AkaKuro

.


{(Chapter 1)}


Kuroko memutuskan untuk beristirahat sejenak di kursi panjang dekat mesin penjual minuman otomatis setelah berjalan sampai kakinya mampus-mampus. Ia menghela napas lelah dan mengusap peluh yang turun mengalir dari dahi menuju pipinya.

Hari ini panas sekali―matahari punya dendam apa sih, sama Kuroko?. Mencari pekerjaan seusai kuliah memang sulit seperti yang orang-orang bilang. Hal ini bahkan lebih sulit dari mengupas kacang kulit yang baru terbuka separuh atasnya. Ini tak boleh dibiarkan terjadi. Krisis keuangannya terancam. Bercinta dengan Vanilla Milkshake pun menjadi taruhannya.

AAH! Pekerjaan apapun itu yang penting Kuroko bisa dapat uang! Jadi pelayan kafe pun tak masalah, hanya saja di tempat manapun itu lowongan pekerjaannya pasti sudah penuh. Ugh, andai Kuroko tak mengabaikan ajakan sang ayahanda untuk belajar naik motor, ia pasti sudah jadi tukang goj*k sekarang.

Ketika harapan semakan menipis, matanya menangkap secercah harapan. Kertas yang tertempel di badan mesin penjual minuman otomatis terlihat sangat seksi di mata Kuroko. Kertas itu memberitahukan informasi kalau Resto Sei membuka lowongan pekerjaan. Kuroko sempat menyesal dulu ia suka memakai kertas iklan untuk membuat pesawat terbang atau perahu atau topi, sekarang ia sadar betapa pentingnya kertas iklan.

Oh, Kuroko tahu Restoran itu. Restoran mahal bintang lima yang jadi popular sejak pembukaan pertamanya. Sekitar dua tahun yang lalu kalau tidak salah. Iya, Kuroko tahu, tapi ia tak pernah makan disana. Ingin sih, tapi apalah daya ketika dompet menampar keras realita.

Dengan langkah cepat dan jus jeruk kalengan masih di tangannya, pemuda bersurai langit itu segera menuju Restoran yang dimaksud kertas iklan. Semoga saja Restoran yang ia tuju masih membuka lowongannya.


"Mulai besok lusa kau sudah bisa bekerja disini." kata Manajer Restoran dengan name-tag 'Kise' yang mengurusi Kuroko mulai satu jam yang lalu. "Tadinya kupikir kau ini orangnya ceroboh, tapi ternyata sangat cekatan-ssu."

"-ssu?"

"Oi Kise, tunjukkan wibawamu di depan pekerja baru!" Seseorang menjitak kepala Kise dari belakang.

"Ah! Sakit, Aominecchi!"

"Hm? Selamat siang…" Kuroko membungkuk pada lelaki yang Kise sebut sebagai Aomine―cchi.

"Yo," balas Aomine ramah. "kau pelayan baru, kan?"

"Iya, namaku Kuroko Tetsuya. Mohon bantuannya, Aomine-san."

Aomine tertawa. "Panggil saja Aomine. Aku koki disini. Kalau kamu punya pertanyaan, tanyakan saja padaku. Atau jika butuh bantuan, aku bersedia membantu."

"Eeeh? Itu kan tugas manajer!" Kise menyerobot perkataan Aomine. "Kurokocchi kalau bingung tanyanya padaku saja-ssu!"

"Kurokocchi?"

"Ah, si bodoh ini memang punya kebiasaan memanggil orang seperti itu. Jangan hiraukan dia."

"Aominecchi tajam seperti biasa, ya…"

Kuroko terkekeh pelan. Sepertinya bekerja disini akan sangat menyenangkan. Bahkan di hari pertamanya interview sudah seramai ini. Mungkin tidak akan menjadi mudah karena Restoran ini ramai dan diminati, tapi Kuroko akan berjuang semaksimal mungkin untuk pekerjaan barunya―juga untuk bayaran yang nominalnya sangat besar tiap jamnya itu.

"Kalau begitu aku akan pamit sekarang, Aomine-kun, Kise-tanchou." Kuroko membungkuk.

Aomine dan Kise saling bertatapan sebelum akhirnya tertawa keras. Keras sekali. Seisi dapur memerhatikan ketiganya dengan refleks. Ah, bukan hal aneh jika si koki berkulit kecoklatan dan manajer mereka membuat keributan―yang sebenarnya tidak boleh―di dapur.

"Apa-apaan…" Kise memegangi perutnya. "Kau tidak perlu memanggil begitu, semua pekerja disini adalah keluarga. Panggil saja namanya langsung-ssu."

Bibir Kuroko menarik seulas senyum. "Baiklah Kise, juga Aomine."

"Oh, ngomong-ngomong kamu sudah bertemu dengan Presiden?" tanya Aomine.

"Presiden?" ulang Kuroko.

"AAAAAHHH! IYA YA, PRESIDEEEENN!"

Sekali lagi perhatian seluruh dapur tertuju pada mereka bertiga. Aomine dengan cepat mencubit kecil pinggang Kise dengan tujuan agar pemuda mantan model itu berhenti.

"ADUH, SAKIT AOMINECCHI!"

Semua orang semakin memperhatikan. Mencari tahu apa yang sedang dilakukan manajer dan koki mereka yang memang sering bertengkar itu.

"Oi, Kise! Kau itu bodoh, ya?" Aomine berbisik. "Semuanya memperhatikan kita! Kalau kau membuat keributan, Presiden akan marah dan memberi hukuman lagi!"

Kise langsung menutup mulutnya spontan. Ia melirik Kuroko lalu melirik pada pekerja yang sedari tadi memperhatikan. "Hei, apa yang kalian perhatikan? Kembali kerja sana!"

Apa yang mereka perhatikan? Tentu saja dirimu, bodoh.

"Kau itu memang idiot…" Aomine mencubit kecil daun telinga Kise. "Cepat melapor sana! Kalau kau asal merekrut pegawai nanti gajimu turun lagi! Dan aku kena impasnya karena dikira tidak memerhatikanmu!

Cih, padahal kau itu manajer-nya disini, tapi kenapa aku yang harus mengawasimu…"

"Aominecchi berhenti mencubiti aku-ssu!" Kise dengan kasar menyingkirkan tangan Aomine dari telinganya.

"Sudah sana lapor! Cepaat!" Aomine menendang bokong Kise.

"Ugh, Kurokocchi ayo ikut aku sekarang!" Kise langsung menarik tangan Kuroko dan berlari keluar dapur.

Seisi dapur hening menyisakan Aomine yang kini berdiri sendirian dengan perasaan tak nyaman. Ia berbalik dengan awkward. Ehm, apa yang harus dikatakan, ya?

.

"Anu, Kise, kita akan kemana?" tanya Kuroko. Dalam hati ia merutuki tangan kirinya yang kini memerah.

Kise tak menyahut. Ia tetap berlari hingga akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan. Napasnya terengah-engah. Mungkin saja diafragma-nya akan meledak sesaat lagi―eh, tapi jangan sampai deh. Ia belum menikah, setidaknya ia ingin menginjakkan kaki di altar gereja untuk pernikahan.

Kuroko tak mengerti. Ia melihat Kise merapihkan jasnya yang sempat berantakan karena berlari. Lalu ia melihat manajer barunya itu mengatur napas sambil menatap horor pintu di depannya.

"Ini ruangan keramat, Kurokocchi…" Kise menoleh pada Kuroko dengan peluh mengalir. "Doakan aku menghadapmu lagi tanpa luka sedikit pun-ssu…"

Dengan tubuh tegap gagah sekaligus kaki bergetar, Kise memutar kenop dan melangkah masuk. Kuroko bisa merasakan hawa dingin menjalari kakinya ketika pintu dibuka. AC merk apa yang sang Presiden pakai sampai suhunya sesejuk ini?

Kuroko dengan setia menunggu kepulangan―yang sebenarnya bukan―Kise dari tempat keramat yang disebutnya tadi sambil menyusun kalimat sekiranya ia diperintahkan untuk menghadap Presiden.

.

Sepuluh menit berlalu dan Kise belum menunjukkan bokong indahnya lagi. Apa yang ia lakukan di ruangan itu? Kuroko memainkan ujung daun dari tanaman hias yang diletakkan di samping pintu ruangan tempatnya berdiri dengan bosan. Kepalanya langsung menoleh ketika suara kenop pintu diputar telah terdengar. Ada Kise dengan peluh membanjiri tubuhnya. Ia langsung menutup pintu ruangan.

"Huff, menghadap Presiden itu memang lebih melelahkan dari bermain basket-ssu…" Sapu tangan kuning dikeluarkan dari saku. "Sepertinya aku akan mengatur jadwal diet-ku dengan sering-sering ke ruangan Presiden."

Semenyeramkan itu, kah? Kuroko mulai doki-doki. Feeling-nya berkata akan ada hal tak menyenangkan terjadi.

"Kau diminta untuk masuk, Kurokocchi." Kise tersenyum. "Aku tidak dimarahi―untungnya. Selamat berjuang-ssu~"

Ah, Kuroko mau pulang. Ia mau makan brokoli yang selalu disingkirkannya saja. Kuroko mau puasa Vanilla Milkshake saja.

"Ayo cepat, sebelum iblis yang tertidur dalam tubuhnya terbangun-ssu!" Kise mendorong pelan tubuh Kuroko.

I-Iblis?

Tanpa ba-bi-bu atau cas-cis-cus lagi, Kuroko memutar kenop dan masuk ke ruangan dengan langkah kaku-kaku. Suasana dingin langsung menyerbu indera perabanya. Ruangan luar berlantai marmer dan karpet merah yang terhampar rapih di tengah ruangan kini terbentang di hadapannya. Ruangan klasik yang elegan. Sangat mengingatkan Kuroko pada seseorang yang ia kenal―tidak, bahkan yang ia cintai, dulu.

Ketika maju tiga langkah, aroma yang sangat ia kenal sejak SMA menyeruak berebut masuk ke kedua lubang hidungnya. Aroma lembut yang pernah ia tinggalkan, dan selalu ia coba lupakan. Ya, ini juga aroma mantan kekasihnya yang dulu ia tinggalkan.

Iya, benar. Kuroko yang memutuskan hubungan keduanya lima tahun silam. Kalian tak salah baca, bahkan saya sudah menggaris bawahi kata yang menekan di paragraf sebelumnya.

Buku-buku tertata rapih di rak, ikan-ikan berenang dengan santai di akuarium besar yang airnya jernih, dan suara pendingin ruangan dan filter akuarium menjadi satu-satunya suara di ruangan ini. Tenang sekali. Kuroko jadi ber-nostalgia. Sementara Kuroko masih hanyut dalam suasana, bunyi 'klik' dari pulpen yang ujungnya ditekan membuyarkan lamunan si surai langit.

"Halo kembali, Tetsuya."

Apa ini halusinasi? Kuroko baru saja mendengar suara khas mantan kekasihnya itu. Ya memang sih, suasananya benar-benar mendukung. Tapi masa berhalusinasi sampai suaranya bisa terdengar?

Haha. Kuroko berasa bego. Kayaknya kangen mantan. Dusta bila ia berkata tak lagi cinta.

"Kupikir ini reuni setelah lima tahun," Kursi hitam panjang yang sebelumnya membelakangi Kuroko terputar, kini menghadap ke depan. "hm, bukan begitu, Tetsuya?"

Kuroko membulatkan matanya. "Sei-kun…?"

Pemuda heterochromia di depan Kuroko tersenyum sambil terus memainkan pulpen merah di tangan kirinya.

"'Sei-kun' katamu?" Ia terkekeh lalu bertopang dagu. "Aku Presiden Akashi."

Siapa saja, cepat tanam C4 di langit-langit ruangan ini sekarang.


A/N : Setelah berbulan-bulan hiatus dengan tidak elit, saya kembali dengan fanfik baru. Ada yang inget? Nggak ya? V':

Selalu pengen publish kesini baru kesampean sekarang
Alhamdulillah sempet LOL

Intinya, saya udah balik dari tidur panjang/?

Diusahakan cepet update \('-')/

See you next chapter~