Information

Disclaimer: Fairy Tail © Hiro Mashima

Title: My Family!

Story 1: Grandine, Wendy, Igneel.

Rated: T/T+ Menuju M? (entahlah) tapi pastinya ini masih T kok!

Genre: Slice of Life, Family, Sedikit Humor, Romance dll.

Pairing: Natsu D x Lucy H

Description: AU, Typo (Tell me) OOC, Dll...

Italic/Miring = Berkata dalam hati

HURUF BESAR = Berteriak

.

.

XXXXXXXXXX

.

.

Siang hari yang cerah, atau bisa dibilang biasa saja? Karena nyatanya tak ada burung, hanya ada mentari yang menyengat di tengah hari yang terik.

Natsu, Lucy, dan tentunya anak mereka satu-satunya ini. Tengah berdiri di depan pintu rumah kediaman Dragneel.

"Aku penasaran seperti apa, Kakek dan Nenek." Celetuk si kecil.

"Baiklah. Ayo masuk." Seru Natsu yang tangannya bergerak menuju gagang pintu. Lucy yang memegang koper di kedua tangannya tak setuju dengan aksi(?) Natsu.

"Tunggu! Harusnya kau ketuk pintunya!" Protesnya.

.

Ceklek! Gagang pintu turun ke bawah.

"Ini rumahku sendiri, jadi tak masalah. Dan kenapa tak dikunci?" Membuka pintu, lalu menarik dua koper miliknya sendiri. Jangan lupakan juga ransel di punggungnya. Ketahuilah. Barang bawaan keluarga kecil ini 'lumayan' banyak.

"Aneh... Rasanya di dalam ramai sekali. Tadaima~" Seru Natsu yang sudah masuk. Ibu-anak ini akhirnya ikut masuk ke dalam rumah. Dengan suara-suara pukulan dan sebagainya, yang entah suara apa itu. Namun pastinya berasal dari ruang tengah.

"Ibuuu! Aku pu-" Saat sampai di ruang tengah Natsu tiba-tiba berhenti. Lucy sontak kaget. Apa terjadi sesuatu? Dengan langkah cepat ia mendekati suaminya -secara biologis- itu.

"A-ada ap- Eh?!" Dan akhirnya Lucy ikut mematung keheranan. Ruang tengahnya berantakan! Di lantai banyak kaleng minuman, bungkus aneka macam snack, cup ramen, botol teh, botol minuman bersoda, kaleng susu. Dan masih banyak lagi. Dan yang paling membuat mereka berdua terheran-heran adalah...

"Yak! Ini! Terima ini!" Seru seorang wanita dewasa, dengan rambut biru panjang yang duduk di sofa depan TV. Tampak asik menekan-nekan Joystick di genggamannya.

"Ibu. Sepertinya tadi aku mendengar suara seseorang." Ujar seorang wanita- Gadis! Dengan rambut biru yang juga panjang. Lawan mainnya dalam Game Playstation 3 itu.

"Wendy. Mereka pulang paling cepat tiga bulan. Ini masih sekitar dua bulan setengah lewat sedikit." Jawab sang Ibu.

Natsu dan Lucy masih terdiam di tempat berdiri.

"O-o-oh..." Sementara si kecil dengan mulut berbentuk 'O' yang malah salah fokus, melihat takjub ke arah TV, yang menampilkan kedua karakter beradu pedang. Tak lupa aneka macam snack dan beberapa minuman di atas meja. Hingga...

.

K.O! Salah satu dari mereka tumbang, tanda pertarungan sudah berakhir.

"Ahahahaha... Ibu menang Wendy!" Ucap wanita itu sembari menyambar botol cola dari meja dihadapanya. Si gadis juga ikut mengambil snack yang juga ada di meja.

"Selanjutnya aku ti-" Kalimatnya terhenti lantaran menoleh ke kanan, dan gadis bernama Wendy ini terkejut melihat Natsu Dragneel, Kakaknya sendiri...

"I-i-ibu!" Gagapnya.

"Hmm?" Sementara sang Ibu acuh tak acuh, mengarahkan lubang botol pada mulutnya sendiri, meminumnya.

Sedangkan Wendy semakin panik.

"I-itu! Itu di sana..." Belum selesai Wendy menjelaskan, Natsu memanggil Ibunya

"I... Bu?" Wanita dewasa yang ternyata bernama Grandine ini menoleh dengan perlahan, dan mulut penuh cola.

"H-hmph!" Dirinya terkejut bukan main melihat Natsu, yang datang 'diluar perkiraan'

"Ibu?" Panggilnya lagi, kali ini dengan lancar.

.

BUUUUUUR! Dan sang ibu pun menyemburkan isi mulutnya.

"Uhuk! Uhuk! Ke-kenapa... K-kau... Uhuk! Pulang?" Herannya disertai batuk

"Yang lebih penting Ibu... APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN!?"

"Tunggu! Tunggu! Jawab dulu pertanyaan ibu!"

"Ibu yang jawab! Kenapa disini berantakan?! Jadi kalian memakan cemilanku? Dan kenapa kalian malah bermain PS?!"

"Tidak hanya punyamu kok! Meminuman punya Ayahmu di kulkas juga Ibu minum."

"APAAA?! Ya ampun, Ibu..." Dan blablabla... Ibu-anak itu mulai adu mulut.

"A-ano..." Gumam Wendy.

"A-ah... Hahaha" Sementara Lucy tertawa sweatdropped

"Aku minta ya?" Ujar anak kecil rambut pink, yang entah sejak kapan berada dekat Wendy. Ia mengambil satu keripik kentang di meja.

"Hei tunggu! Kau tidak boleh..."

"Kenapa kau pulang ce- LUCY?!" Lucy yang hendak menghampiri putrinya malah terkejut dengan teriakan Grandine.

"A-ah... Y-ya?" Sahutnya

"I-ini benar Lucy 'kan?" Ucapnya tak percaya.

"Iya Bibi... Ini aku. Lama tak bertemu." Dan wanita itu langsung berhambur(?) memeluk Lucy.

"Sudah lama sekali ya?" Tanya Lucy saat mereka saling melepaskan satu sama lain.

"Bagaimana kabarmu?" Grandine balik bertanya.

"Aku baik kok!" Jawab Lucy dengan senyum tipis.

"Jadi... Kalian sudah berbaikan?" Tanya Grandine yang kini menoleh pada Natsu.

"Tentu saja! Sudah kubilang 'kan? Aku pasti mendapatkannya kembali!" Jawab Natsu dengan grins khasnya. Melihat itu mata Grandine mulai berkaca-kaca

"Natsu..." Ia pun tak dapat menahan diri untuk memeluk putra sulungnya ini.

"I-ibu?" Heran Natsu.

"Hiks... Hiks... Syukurlah" Pelukannya semakin erat, dengan tangis haru.

"Hiks... Syukurlah, kau benar-benar telah kembali..." Tambahnya yang kini menangkup wajah Natsu. Yang dibalas senyum lebar Natsu. Bibirnya menyungging senyum, berurai air mata. Akhirnya putra kesayangannya ini 'kembali dari masa-masa sulit' Ibu manapun pasti bahagia 'kan?

'"A-ano... Maaf. Anak siapa ini?" Tanya Wendy tiba-tiba. Semua mata langsung terfokus padanya.

"Hmm?" Tak terkecuali anak kecil yang tengah makan keripik kentang ini.

"Ah! Dia putriku. Namanya Nashi." Jelas Lucy. Mendengarnya mata Grandine mengerjap tak percaya.

"Su-sudah menikah dan punya anak?!" Wendy tak kalah terkejutnya.

"Tidak Wendy, kami belum menikah!" Sangkal Natsu.

"K-K-KAMIIIIII?!" Pekik Wendy

"I-itu berarti..." Grandine mulai memandang Nashi, lalu beralih pada Natsu, dan Lucy, lalu Nashi, Natsu, Nashi, Lucy, Natsu, Nashi, Lucy, Nashi Lucy, Natsu, Nashi, Natsu, Nashi. Saat fokus menatapnya. Anak itu malah berucap dengan polosnya...

"Kenapa Nenek?"

.

.

.

"EHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!" Wanita dengan rambut biru panjang itu berteriak kaget dengan amat kencangnya.

"Hoi Natsu. Apa-apaan ini? Jangan bercanda! Dia? Anakmu?" Tanyanya bertubi-tubi sembari mendekat pada Natsu, dan menunjuk-nunjuk Nashi yang...

"Tante. Ayo main denganku!" Ajaknya pada Wendy. Joystick yang dipakai Grandine tadi sudah ada di tangannya.

"T-Tante?! A-aku ini masih muda lho! Dua puluh tahun! Dan aku ini adik Ayahmu!" Balasnya penuh penekanan.

"Berarti aku benar 'kan? Adik Papa berarti Tante." Jawabnya tanpa dosa. Dan memang begitulah kenyataannya. Wendy yang tak rela disebut' Tante' langsung down di tempat duduknya.

"Ya ampun Ibuuuu! Apa setelah melihat wajah kami bertiga masih kurang jelas?" Dan Grandine malah menguncang kedua pundak Natsu tanpa ampun(?)

"Bagaimana bisa!? Ini benar-benar tidak masuk akal! Jangan main-main!" Semburnya(?)

"Yang lebih penting Ibu..." Grandine pun menghentikan aksi menguncang pundaknya, lantaran suara berat Natsu.

"...Kalau Ayah melihat ruang tengah ini..." Natsu tak melanjutkan kalimatnya. Grandine seketika merasa tersengat listrik imajinasi(?)

"Ka-ka-kau jangan bilang-bilang Ayahmu ya? Ya? Anak Ibu kan pintar menjaga rahasia. Ya 'kan? Kita bisa bekerja sama." Ucapnya dengan manis. Gagap diawal, dan menyogok diakhir.

"Pokoknya Ibu harus cepat membersihkan ini sebelum Ayah-"

"TADAIMAAAA!" Suara teriakan pria dengan lantangnya memotong kalimat Natsu. Wajah Grandine dan Natsu langsung berubah horor.

"Berakhir sudah..." Batin mereka bersamaan.

"Oh. Ada tamu ternyata..." Pria itu mulai mendekat. Lucy menoleh ke arahnya.

"Paman Igneel?" Sapanya.

"Lucy? Wah! Wah! Jadi Natsu benar-benar membawamu kemba..." Langkah pria yang bernama Igneel ini terhenti seketika, dan matanya melebar melihat keadaan ruang tengah rumahnya.

"...Li" Lanjutnya.

"Ah! Sayang. Pu-pulang cepat?" Sapa Grandine, yang entah kenapa bersembunyi di belakang Natsu.

"APA-APAAN SEMUA INI!?" Bentaknya keras menggelegar!

"Hiiiii!" Grandine yang gemetaran memeluk Natsu, yang juga gemetaran dari belakang.

"ULAH SIAPA INI?! SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI?! CEPAT JAWAB KALIAN SEMUA!" Melihat Igneel dalam mode sangarnya(?) membuat Lucy ikut bergidik ngeri.

"I-ini ulah ibu! Aku baru pulang kok!" Natsu menyingkirkan badannya membuat Grandine terlihat jelas, karena tamengnya(?) menyingkir.

"I-ini idenya Wendy! A-aku hanya ikut-ikutan. Sungguh!" Jelasnya dengan telunjuk tangan kanan menunjuk lurus arah kanan, tempat Wendy berada.

"Wendy..." Igneel mengikuti arah yang ditunjuk istrinya itu. Dan dirinya malah heran melihat Wendy yang bermain Playstation bersama anak kecil dengan rambut pink.

"Yah... Aku kalah." Ucapnya lemas. Ia mengambil keripik kentang miliknya tadi.

"Eh? Habis..." Lalu membuangnya sembarang arah.

"Oh tidak..." Grandine menganga melihatnya 'menambah sampah' di ruang tengah yang 'sangat' berantakan ini.

"Wendy... Siapa anak ini?" Tanyanya dingin. Wendy sudah bergidik ngeri di tempat. Sementara Nashi biasa saja. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi.

"Namaku Nashi." Ia menjawab sendiri pertanyaan Igneel.

"Nashi?" Herannya.

"Uhm! Nashi Heartfilia- Eh? Atau Dragneel ya? Mana yang benar Mama?" Dan Lucy menjawab 'Heartfilia' sedangkan Natsu menjawab 'Dragneel' secara bersamaan. Igneel menghela nafas panjang, lalu berkata...

"Jadi artinya, dia ini anak adopsi kalian berdua?"

"Tentu saja tidak! Ayah tidak lihat rambutnya mirip denganku?" Igneel pun melirik Natsu lalu, Nashi sesaat, lalu beralih pada Lucy.

"Jadi benar ini anak kalian berdua?" Tanyanya masih belum percaya. Keduanya mengangguk mantap.

"Jadi sudah berapa tahun aku tidak pulang?" Semua yang ada di ruang tengah sweatdropped serentak. Kecuali Grandine.

"Benar juga... Jangan-jangan aku bermain PS selama setahun lebih!" Pikirnya.

"Ini belum sampai tiga bulan Ayah." Jelas Natsu.

"Ya Tuhan..." Dan Grandine menepuk dahinya sendiri.

"Ahahahaha... Meski terlihat muda, Kakek pelupa ya?"

"A-ah! Jadi aku masih terlihat muda ya?"

"Uhm! Masih muda! Nenek juga." Balasnya bersemangat.

"Hoh! Masih keren?" Tanya Igneel lagi, mulai percaya diri.

"Ya... Tapi sayang ada kumisnya." Polosnya sambil nyengir.

"Begitu ya..." Igneel pun langsung down dengan aura hitam, suram.

"Ngomong-ngomong Kakek. Kenapa sampah-sampah ini berserakan di lantai? Apa tempat sampahnya jauh sampai malas membuangnya?"

"MATI AKU!" Pekik Grandine dalam hati, gara-gara anak lima tahun itu. Igneel pasti marah dan...

.

Glek! Dirinya meneguk ludah, saat sang suami menghadap padanya.

"Grandine cepat bersihkan." Perintahnya dengan suara normal, yang membuat Grandine merasa aman(?)

"Tunggu! Kenapa hanya aku? Ini idenya Wendy! Aku hanya ikut-"

"SEKARANG!" Bentak Igneel yang mulai panas(?) lagi.

"S-siap laksanakan!" Dengan itu, wanita rambut biru itu memulai tanggung jawabnya(?) membersihkan ruangan 'kotor' ini.

"Pfff... Kakek dan Nenek lucu juga. Mirip Mama dan Papa, saat bertengkar. Ahahahaha..." Ya benar. Namun bedanya kalau kedua orangtuanya bertengkar, Paparnya lah yang sering 'kalah' atau bisa disebut 'korban' pukulan cinta sang Mama.

"Anak ini... Berapa u..." Igneel menghentikan kalimatnya lantaran menyadari sesuatu. Dia adalah anak Natsu. Rambutnya pink, wajahnya mirip Lucy. Tak ada yang mampu menyangkal kalau anak ini bukan putri mereka berdua. Lalu... Bagaimana bisa sebesar ini? Bahkan orangtuanya baru saja bertemu kembali dan berbaikan...

.

"EHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!" Yak! Teriakan kaget kedua di rumah ini, yang keluar dari pemilik rumah, seorang pria, Igneel Dragneel!

"Natsu!" Pria yang terlihat muda, namun sudah berkepala empat ini, mendekati putra sulungnya itu.

"Kau harus jelaskan ini sekarang juga!" Katanya setengah membentak. Grandine yang asik menyapu tiba-tiba menodongkan sapunya pada Natsu

"Kau juga berhutang penjelasan pada Ibu!" Serunya yang mendekat pada Natsu.

"Pertama! Kalian belum menikah, mengapa bisa punya anak?" Tanya Ibunya.

"Kalian baru bertema kurang lebih beberapa bulan lalu. Jadi bagaimana anak itu bisa sebesar ini?" Tambah Ayahnya.

"Apakah dia anak dari suami Lucy sebelumnya? Siapa suaminya? Kenapa rambutnya mirip denganmu?" Ibunya kembali bertanya.

"Kalau dia anak dari suami Lucy sebelumnya kenapa dia menyebutkan marga Heartfilia dan Dragneel tadi?" Tanya Igneel lagi.

"Dan kenapa jawaban kalian berdua berbeda?" Suami-istri ini kompak bertanya secara bergantian.

"Kau bilang dia bukan anak adopsi, bagaimana dia bisa sebesar ini?" Dan pertanyaan Ayahnya malah mirip dengan sebelumnya.

"Ah! Benar. Itu yang lebih penting! Berapa umurnya?" Dan Ibunya malah ikut-ikutan. Lalu secara bersamaan mereka bertanya...

"Jangan-jangan Natsu, kau sudah meng-"

"GAAAAAH! POKOKNYA DIA ANAKKU! BERHENTI BERTANYA! AKAN KUJELASKAN SEMUANYAAAAAAAAAA!" Potong Natsu yang menjambak rambut landak -kata Nashi- pink miliknya frustasi.

"Haaaaahh..." Melihat semua ini. Lucy hanya bisa menghela nafas berat. Wendy tertawa pelan, karena sesuatu.

"Kenapa Tante?" Dan Nashi heran...

.

XXXXXXXXXX

.

.

Ruang tengah sudah bersih dari berbagai 'sampah' berterima kasih lah pada Lucy yang ikut membantu Nyonya Grandine.

Wendy, dan juga Nashi, dengan ekspresi poker face, lurus, datar macam ikan mati. Masih tetap dengan pertarungan mereka, di PS.

Sementara keempat orang dewasa duduk berhadap-hadapan di ruang tamu.

Igneel beserta istrinya Grandine menyimak dengan baik cerita dari Natsu dan Lucy. Jarum jam berada di angka 11, sedangkan si panjang berputar dari 12 menuju angka 3, tanda lima belas menit telah berlalu.

"Hmm... Cukup panjang juga ceritanya. Dan ternyata Natsu 'lumayan' brengsek!" Ucap Igneel yang mengusap dagu. Tak lupa teriakan 'Hei!' Natsu yang menyahut

"Sudah, sudah, yang penting dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan sayang..." Grandine menghadap ke kanan menatap intens suaminya.

"...Apa kau berpikir sama seperti yang aku pikirkan?"

"Hoh!" Seru Igneel tiba-tiba, membuat Lucy dan Natsu mengerjapkan matanya heran.

"Orang nomor dua di Dragneel Company..." Igneel melirik Grandine, dan wanita itu mengerti.

"Pengusaha muda yang banyak digandrungi kaum hawa~" Dengan wajah berseri, centil. Ia genggam kedua tangan suaminya.

"Ternyata sudah punya anak dari... Ehem! Seorang novelis cantik." Jawab Igneel, mendekatkan wajah pada istrinya dengan suara sok keren -menjijikan menurut Natsu.

"K-KYAAA!" Dan mendapat reaksi berlebihan berupa teriakan fangirling -imut menurut Lucy.

"Ini benar-benar masalah besar!" Igneel berubah serius. Natsu dan Lucy meneguk ludah. Grandine tersenyum sarkastik.

"Ufufu... Sebuah A-I-B?" Katanya dengan suara seductif, tak lupa menjilat bibir bawahnya. Natsu dan Lucy merinding di tempat.

"Ini skandal besar sayang... Skandal besar!" Menggerat genggaman pada kedua tangan istrinya, agar terkesan lebih dramatis.

"Oh my GOD!" Yang dijawab teriakan dengan nada naik-turun, gaya khas anak SMA stres. Dengan kata lain alay!

"Sebelum masalah ini bertambah besar..." Sang suami tak acuh, dengan 'Oh my GOD'nya Itu, dan tetap melanjutkan -entah apa maksudnya ini.

"Dan membuat media heboh."

"Kami berdua memutuskan..." Dengan suara bersamaan

.

BRAAK! Meja digebrak bersamaan. Jari telunjuk menunjuk kedua tersangka(?)

"Kalian akan menikah minggu depan!" "E-eh?" Sedangkan reaksi keduanya hanya buka mulut, dan buka-tutup mata macam anak balita ingusan yang tidak tahu apa-apa, dan belum bisa bicara.

"YEAAAH! AKHIRNYA AKU MENANG!" Teriak Nashi yang mengangkat Joystick tinggi-tinggi, berdiri di sofa depan TV. Sukses, teriakan itu menyadarkan Natsu dan Lucy dari shock nya. Mereka saling berpandangan satu sama lain, dengan mata melotot.

.

.

.

"EHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

Dan begitulah teriakan kaget ketiga di rumah ini, dilakukan oleh dua orang berbeda gender.

.

.

Story 1

End

.

.

Author Note

Yo! Sebenarnya fic ini genre utamanya Slice of Life. Namun karena di FFn tidak ada genre Slice of Life, aku masukkan ke Family dan Romance (Karena juga mengandung genre itu)

Jadi, bagaimana? Kuharap Sequel Hate This and I Love You Ini cukup memuaskan (meski aku kurang yakin dengan itu)

Oh ya, satu lagi. Aku akan usahakan update setiap minggu (semoga bisa)

.

HARGAILAH KARYA DAN KERJA KERAS ORANG LAIN DENGAN MEMBERIKAN REVIEW! ENTAH ITU KRITIKAN/PUJIAN PANJANG/PENDEK KARNA DENGAN REVIEW PENULIS AKAN MENGETAHUI ADA YANG MEMBACA CERITANYA!