Titlle: Mengenangmu

Cast: Park Woojin x Ahn Hyungseob

Genre: Angst

Length: Oneshoot

.

.

.

.

.

Takkan pernah habis airmataku

Bila kuingat tentang dirimu

Mungkin hanya kau yang tahu

Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri...

.

Barisan manusia berpakaian hitam memenuhi kursi gereja. Dentang lonceng gereja menggema membelah langit yang menghitam. Didepan altar, terlihat seorang pemuda sedang berdiri memandangi sebuah peti kayu. Mata sipitnya tertancap lurus kearah seseorang yang terbaring disana. Tak ada airmata yang menetes walaupun cairan bening itu sudah menghalangi pandangan matanya beberapa hari yang lalu. Disekitarnya, sepuluh orang pemuda menatapnya dengan iba.

"Woojin, jangan seperti ini…" kata pemuda berbahu lebar. Pemuda yang ia panggil Woojin itu berulang kali menghela nafas agar perasaan sesak yang membekap hatinya sedikit berkurang. Daniel, pemuda berlesung pipit itu mengusap lengan Woojin dengan iba.

"Waktuku sudah habis, hyung. Dia telah pergi dan aku belum membahagiakannya…" gumam Woojin lirih.

"Jangan berkata begitu. Dia sudah bahagia." kata Jisung.

"Harusnya hari ini, ditempat ini, dia menjadi milikku. Tapi pada akhirnya…" Woojin tidak melanjutkan kata-katanya.

"Tak ada takdir Tuhan yang menyengsarakan umatNya. Tuhan memiliki alasan untuk segala yang ada di dunia ini." ujar Minhyun. Ia tahu, ini sangat menyakitkan untuk adiknya itu. orang yang paling dicintainya pergi dengan sangat tiba-tiba dengan cara yang mengejutkan.

"Ayo, kita harus duduk. Misa kematian sebentar lagi dimulai." ajak Jaehwan sambil menggamit lengan Woojin.

"Aku masih ingin memandanginya. Aku belum sempat meminta maaf padanya, hyung." racau Woojin.

"Nanti kita melihatnya lagi. Lihatlah, pendeta sudah naik mimbar. Kita harus duduk." bujuk Sungwoon. Woojin masih bergeming sembari mengusap peti kayu itu.

"Ayo, Woojin. Nanti kita kemari lagi sebelum petinya ditutup." kata Jihoon sambil menyeret Woojin menjauh dari peti itu dibantu oleh Jinyoung. Mau tak mau, Woojin mengikuti langkah teman-temannya yang mulai duduk satu per satu.

oooOooo

*flashback*

"Woojin…" panggil sosok manis itu. Woojin menoleh kearah sumber suara. Suara lembut Hyungseob, kekasihnya, telah mengalihkan matanya dari kaca besar dan musik menghentak yang sejak tadi ia jadikan fokus.

"Mengapa kau kemari, Sobie? Seharusnya kau menunggu di dorm saja." tanya Woojin.

"Aku sudah menunggu di dorm hampir 2 jam. Lalu Jisung hyung menyuruhku menyusulmu kemari." kata Hyungseob.

"Maaf. Aku sedang melatih gerakan dance untuk comeback nanti." kata Woojin. Hyungseob hanya memajukan bibir, lagi-lagi dia diduakan oleh dance. Melihat itu Woojin langsung memeluk pinggang kekasihnya.

"Jangan cemburu. Aku melakukan ini karena biaya menikah itu tidaklah murah, kau tahu itu kan?" Ujar Woojin. Hyungseob hanya tersenyum mendengar penuturan sang kekasih.

"Kau selalu tahu cara merayuku." dengus Hyungseob. Woojin terkekeh sambil mengusak rambut hitam kekasihnya dengan gemas.

"Bukankah kita sudah berjanji untuk itu? Aku tidak akan mengingkarinya." kata Woojin. Senyum dibibir Hyungseob semakin terkembang.

"Tunggulah beberapa bulan lagi. Setelah itu aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya" ujar Woojin.

*flashback end*

oooOooo

Woojin merogoh saku jas hitamnya. Sebuah kotak merah kecil ia ambil dari sana. Ia membuka kotak itu dan terlihatlah sepasang cincin yang terlihat amat manis.

"Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Kau pergi tanpa bisa kumiliki… Kau tahu, sulit untukku percaya kalau yang di dalam peti itu adalah kau..." kata Woojin.

oooOooo

.

Adakah disana kau rindu padaku

Meski kita kini ada didunia berbeda

Bila masih mungkin waktu kuputar

Kan kutunggu dirimu...

.

*flashback*

"Woojin, terlihat senang sekali. Kenapa?" Tanya Hyungseob. Woojin tersenyum lebar kearah kekasihnya hingga memperlihatkan gingsulnya yang manis.

"Comeback-ku sukses!" Seru Woojin. Ia memeluk dan mengangkat tubuh mungil kekasihnya tinggi-tinggi.

"Whoaaa, selamat Woojin! Aku senang mendengarnya" ucap Hyungseob dengan tulus.

"Minggu depan, aku akan membawamu kedepan altar. Kau akan menjadi milikku ditempat itu." kata Woojin.

"Janji?" Tanya Hyungseob.

"Janji!" ucap Woojin sambil melingkarkan kelingkingnya dengan kelingking kekasihnya.

*flashback end*

oooOooo

Woojin mendekat dan berlutut didepan peti kayu kekasihnya, tangannya terulur untuk memasangkan cincin yang seharusnya melingkar di jari manis kekasihnya itu. Sejenak ia memejamkan mata, membayangkan dirinya dan Hyungseob berdiri didepan altar dengan senyum yang merekah, saling mengikat janji satu sama lain. Lagi-lagi tak ada airmata yang jatuh walaupun Woojin sangat ingin menangis.

Para pelayat, termasuk member Wanna One, yang hadir begitu sedih melihat pemandangan yang menyayat hati itu. Jisung dan Daehwi bahkan sudah mengusap airmata mereka berkali-kali saat menyaksikan Woojin memandang peti kayu itu dengan pandangan kosong.

'Dia pasti bukan Park Woojin! Park Woojin yang kami kenal adalah orang yang selalu tersenyum dan ceria, bukan yang seperti mayat hidup begini!' Batin member Wanna One.

Memang, saat ini keadaan Woojin sangat menyedihkan. Senyum yang biasanya diperlihatkan pada semua orang, kini lenyap begitu saja. Kebahagiaan seolah terenggut saat kekasihnya pergi.

"Petinya akan ditutup. Berilah penghormatan terakhir untuknya." kata Jihoon yang membuyarkan lamunan Woojin. Pemuda itu membantu Woojin berdiri dan mengajaknya memberikan penghormatan bersama member Wanna One yang lain. Jihoon bisa merasakan bahu Woojin yang bergetar hebat karena terus berusaha kuat sejak kemarin.

"Biar kami yang membawa petinya. Hyung pegang fotonya saja." Kata Guanlin. Woojin hanya mengangguk lemah tanpa mengatakan apapun.

oooOooo

*flashback*

"Ada berita buruk." Jinyoung yang sejak tadi mengotak-atik ponselnya tiba-tiba mengejutkan member Wanna One yang duduk di ruang tengah bersamanya. Hanya Woojin yang tidak tampak disana karena sedang ada di ruang latihan.

"Ada apa Jinyoung?" Tanya Jisung.

"Hyungseob hyung kecelakaan dan tewas ditempat." kata Jinyoung.

"Apa?! Kau jangan bercanda, hyung!" Seru Daehwi. Yang lain pun tak kalah terkejut.

"Candaanmu ini sangat tidak lucu, brengsek! Sekali lagi kau bergurau soal kematian, aku bunuh kau!" Desis Seongwoo yang mulai gusar.

"Aku serius hyung. Kecelakaan itu terjadi pagi tadi di daerah Ilsan. Polisi sudah memastikan identitas dan ciri-ciri korban sebagai Hyungseob hyung." jelas Jinyoung.

"Aku mau lihat beritanya. Berikan ponselmu padaku." Pinta Daniel.

Jinyoung menyerahkan ponselnya pada Daniel, dan sedetik kemudian benda persegi berukuran 5 inchi itu tertutup oleh kepala-kepala member Wanna One yang penasaran dengan beritanya. Usai membaca berita, semua member termenung.

"Astaga, kasihan sekali Woojin. Minggu depan dia akan menikah tetapi sekarang Hyungseob malah meninggal dengan cara tragis seperti ini." komentar Jaehwan.

"Apa kita harus memberi tahu Woojin soal berita ini?" Tanya Jihoon sembari mengembalikan ponsel Jinyoung pada si empunya.

"Kurasa jangan dulu, hyung. Woojin hyung pasti akan sangat shock mendengar berita ini." usul Guanlin.

"Apa yang tidak boleh aku tahu, Guanlin?" Tiba-tiba suara Woojin mengagetkan semua member. Entah sejak kapan pemuda itu sudah hadir di dorm.

"Hei, kenapa kalian diam? Apa yang tidak boleh aku tahu?" Tegur Woojin yang membuat teman-temannya salah tingkah sambil sesekali melirik Jinyoung yang sedang memegang ponsel. Woojin semakin curiga dengan tingkah mereka.

"Kalau kalian tidak mau memberitahuku, aku akan cari tahu sendiri." kata Woojin yang kemudian merampas ponsel Jinyoung dan melihat apa yang ada disana. Sialnya, Daniel lupa menutup berita kecelakaan itu. Wajah Woojin seketika memucat setelah membaca berita yang masih terpampang disana.

"Tidak... Ini tidak mungkin..." gumam Woojin. Ia merosot lemas ke lantai bersamaan dengan airmatanya yang mengalir deras dipipi. Daehwi memeluk pemuda itu dengan erat.

"Jangan bersedih sendiri. Berbagilah pada kami." ucap Daehwi. Woojin tidak bereaksi, ia hanya menangis sambil memanggil nama kekasihnya.

"Ia sudah pergi. Jangan tangisi dia lagi. Aku yakin dia akan sedih melihatmu seperti ini." kata Minhyun. Ia mengambil ponsel Jinyoung dari tangan Woojin sebelum pemuda itu kalap dan melempar benda itu ke dinding.

"Kami akan menikah. Kami sudah mempersiapkan segalanya. Tapi kenapa semuanya hancur begini?! Tuhan benar-benar tidak adil!" Teriak Woojin. Ia mengutuk Tuhan yang menurutnya sedang bersikap kejam padanya.

"Ssssttt… jangan berkata begitu. Itu artinya Tuhan menyayanginya. Dia ingin Hyungseob memiliki hidup yang lebih baik." Kata Jihoon menginterupsi.

"Benar yang dikatakan Jihoon. Kau tidak boleh menghujat Tuhan seperti itu. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kalian berdua." Sambung Sungwoon.

"Dengan mengambilnya dari sisiku?! Apa itu yang Ia mau, huh?! Tuhan jahat! Dia tidak adil!" Teriak Woojin yang semakin kalut.

"Dengarkan aku, tidak ada rencana Tuhan yang menyakitkan. Ia telah memilihkan semua yang terbaik untukmu, termasuk jodohmu. Tuhan amatlah baik pada umatNya. Dia menyayangimu dan juga kekasihmu." Ujar Jisung sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajah Woojin. Ia menghapus jejak airmata yang mengalir di wajah pemuda itu dengan lembut.

"Ikhlaskan dia hyung… biarkan dia pergi…" kata Guanlin. Airmata Woojin semakin deras mengalir saat kenyataan pahit yang ia terima bukanlah sebuah mimpi buruk semata. Satu-satunya mimpi yang Woojin merasakan sakit yang teramat sangat dihatinya saat belahan jiwanya pergi.

*flashback end*

oooOooo

.

Biarlah kusimpan sampai nanti aku kan ada disana

Tenanglah dirimu dalam kedamaian

Biarlah cintaku kau tak terlihat lagi

Namun cintamu abadi...

.

Woojin melangkah lebih dulu sambil memegangi foto Hyungseob. Pemuda itu terlihat sangat manis di foto itu. Senyumnya seolah memperlihatkan kebahagiaan yang amat besar. Disampingnya ada Jihoon yang memegang papan nama Hyungseob.

Dibelakang Woojin dan Jihoon, member Wanna One membawa peti jenazah dengan hati-hati. Tak ada kata dan suara yang terdengar. Hanya hembusan angin yang membelai lembut wajah tampan mereka.

Member Wanna One memasukkan peti jenazah itu ke dalam ambulance yang akan membawanya ke pemakaman. Mereka kemudian menyusul menggunakan van mereka.

oooOooo

*flashback*

Woojin membuka pintu kamar jenazah dengan hentakan keras. Ia bahkan mendorong dengan kasar seorang perawat laki-laki yang sedang mengurus jenazah Hyungseob. Jisung dan member Wanna One serempak membungkuk minta maaf atas sikap Woojin yang sangat tidak sopan pada perawat tersebut.

Woojin membelai wajah kekasihnya yang sudah terbaring kaku. Ia tidak peduli darah yeojanya menempel ditubuhnya. Pakaian yang ia kenakanpun telah terkena noda darah.

'Kalau aku pergi, kau jangan menangisiku. Kau harus tegar dan tetap melanjutkan hidup seperti saat belum mengenalku.'

Woojin teringat pesan yang dikirimkan Hyungseob dua hari sebelum tragedi yang mengerikan itu terjadi. Seolah-olah pemuda manis itu tahu kalau dia akan meninggalkan Woojin untuk selamanya. Lagi-lagi Woojin menangis, hatinya berteriak pilu memanggil nama kekasihnya.

"Kembalilah, Seobie... kumohon kembalilah..."

*flashback end*

oooOooo

Peti jenazah itu mulai dimasukkan ke dalam lubang. Nyanyian misa kematian mengiringi suasana sendu itu. Woojin hanya memandang kosong saat peti kekasihnya turun semakin dalam. Bibirnya yang terlihat pucat mengggumamkan lagu misa pelan.

Setelah terkubur sempurna, satu persatu pelayat meninggalkan tempat itu. Hanya Woojin dan member Wanna One yang masih tersisa dan bertahan disana. Suasanya sunyi kembali menyapa mereka. Tak sepatah katapun keluar dari mulut pemuda-pemuda mempesona itu.

Woojin memandang gundukan tanah basah yang ada dihadapannya dengan tatapan kosong. Pemandangan yang membuat member Wanna One sedih sekaligus iba.

"Sudah cukup kau bertahan. Tak apa bila kau ingin menangis. Jangan paksa hatimu untuk berusaha tegar." ucap Jihoon pelan. Ia tidak tega melihat sahabatnya terus disiksa perasaan yang menyakitkan itu. Menangis bukanlah sesuatu yang buruk untuk mengekspresikan rasa sakit itu.

"Aku sudah berjanji padanya tidak akan menangis." kata Woojin pelan, nyaris serupa dengan bisikan. Bahkan Woojin tidak menolehkan kepalanya sedikitpun kearah teman-temannya.

"Kami berjanji tidak akan menertawakanmu kalau kau menangis. Sudah cukup kau menahan semua itu, berbaik hatilah sedikit pada dirimu sendiri." bujuk Seongwoo.

"Kami akan menemani kau disini selama yang kau mampu." Kata Jisung.

"Aku tidak akan merengek meminta pulang. Aku akan berdiri disini menemani hyung, bahkan sampai malam sekalipun." Ucap Guanlin.

"Walaupun aku benci pemakaman, tapi unuk Woojin hyung, aku akan rela duduk disini semalaman." Kata Daehwi.

"Kami juga siap menemani kalau kau memutuskan untuk menginap disini." Sambung Jaehwan.

"Lihatlah, kami tidak akan pernah meninggalkanmu selangkah pun. Tak ada salahnya untuk berbagi kesedihan dengan kami." Ujar Minhyun.

Mendengar pernyataan tulus dari teman-temannya, seketika merobohkan dinding pertahanan yang telah Woojin bangun sejak hari dimana ia tahu Hyungseob pergi untuk selamanya. Akhirnya Woojin jatuh berlutut. Semua perasaan yang sejak kemarin ditahan, tumpah begitu saja dihadapan makam kekasihnya. Maniknya membentuk aliran sungai yang mengalir dipipinya yang terlihat tirus dan pucat karena sejak berita kecelakaan itu muncul hingga detik ini, Woojin nyaris tidak tidur atau sekedar memejamkan matanya untuk sesaat. Woojin terlalu takut kalau mimpi buruk itu akan berlanjut dan ia tidak siap mengetahui apa yang terjadi nantinya.

"Seobie..."

Woojin terisak pelan, namun itu sudah lebih dari cukup menggambarkan betapa perihnya luka itu, betapa dalamnya perasaan kehilangan itu, betapa besarnya rasa sakit itu. Pemuda itu terluka, ia terluka sangat dalam hingga mustahil rasanya untuk disembuhkan. Hati Woojin benar-benar hancur. Luka berdarah itu takkan pernah sembuh dan pulih lagi.

Desir angin yang berhembus pelan seperti menyanyikan lagu lara, seakan ikut merasakan kehilangan yang teramat pahit itu. Keesepuluh member Wanna One memeluk Woojin, sekedar untuk menenangkan dan mengalirkan sedikit kekuatan untuk pemuda itu.

"Kau masih mau disini?" Tanya Sungwoon. Woojin menggelengkan kepalanya lemah. Lagi-lagi keheningan tercipta diantara mereka.

"Ayo, kita pulang. Biarkan Hyungseob beristirahat dengan tenang." ajak Daniel setelah terdiam cukup lama. Woojin mengusap sisa airmatanya dan mencoba tersenyum, mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Ia sengaja meninggalkan makam kekasihnya terakhir untuk memperlihatkan kalau ia sanggup menghadapi semua ini pada kekasihnya.

'Selamat tidur, Seobie. Tunggu aku disana, sampai saat malaikat maut Tuhan akan menjemputku dan Tuhan menyandingkanku denganmu di surga nanti. Aku mencintaimu...'

.

.

.

.

End

Haiiiiiii

ini pertama kalinya aku publish cerita di FFn dan kali ini aku bawa kapal kesayanganku yang katanya sudah karam :")

JinSeob nggak karam, cuma belum ada moment mereka lagi aja habis pd101 s2 selesai. JinSeob-ku masih berkibar walaupun sekarang pendukungnya udah pada pindah kapal ke 2park, deepwink, panwink, ongniel, dll. Aku juga pendukung kapal lain, tapi JinSeob tetep dihati :")

Ayo yang Jinseob shipper, kita kembangkan lagi layar JinSeob kita #JinSeobTidakKaram #MenolakJinSeobKaram