Rumor Itu Ternyata Benar

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : High School love,drama, friendship

Rated : T

Warning :

AU!, Typo(s), pairing sesuka author, OOC

.

Present~

.

.

September 2016, Bulan ke-dua masuk sekolah SMA SNC.

Bau seragam baru masih menyengat di mana-mana, baik di koridor maupun di kantin belakang sekolah. Beberapa dari mereka yang berseragam tengah mendiskusikan hal yang sangat serius di pagi hari sebelum kelas mulai.

"Apa kau sudah dengar rumor rantai tujuh?" Seorang murid perempuan memulai diskusi.

"Apa itu rantai tujuh?" Tiga murid lelaki mendadak merapat, ikut mendengarkan.

"Aku dengar ini dari kakak kelas yang sudah mengalaminya langsung. Kejadian ini adalah yang paling populer sepanjang masa, dan tidak akan terjadi di sekolah lain. Artinya, ini rahasia sekolah kita."

"Jangan bertele-tele!"

"Cepat jelaskan pada kami sebelum guru datang!"

Si murid perempuan cekikikan sementara teman-temannya mengeluh kesal.

"Jadi, setiap tahun di sekolah kita selalu ada kejadian unik. Entah itu dialami oleh anak kelas satu, kelas dua, ataupun kelas tiga. Tapi, kejadian ini hanya dialami oleh murid tercantik se-angkatan." Semua yang mendengarkan langsung bergumam takjub.

"Sedangkan rantai tujuh sendiri artinya seorang perempuan yang disukai enam lelaki dalam waktu yang sama." Murid lelaki mengangguk-angguk mengerti.

"Dari dulu sampai sekarang, yang dipilih oleh si perempuan justru lelaki terakhir yang mendekatinya. Maka semua orang menyebutnya rantai tujuh." Murid perempuan selaku pencerita mengulas senyum bangga di akhir penjelasan.

"Tunggu," Seorang murid lelaki yang sedari tadi mendengarkan, menceletuk.

"Bagaimana bisa itu disebut rantai tujuh? Laki-lakinya saja hanya ada enam. Bukankah laki-lakinya harus ada tujuh, baru bisa disebut rantai tujuh?"

Si murid perempuan selaku pencerita berdecak. "Kalau laki-lakinya ada tujuh, berarti rantai delapan, bukan rantai tujuh. Kau kira si perempuan tokoh utama tadi tidak dihitung?"

"Masuk akal sih." Tiga perempuan yang sedari tadi mendengarkan mengangguk setuju.

"Si perempuan berperan sebagai rantai satu, alias tempat perasaan laki-laki bermuara. Sementara rantai dua adalah dia yang paling digantungkan rantai satu, seperti diminta mengantar ke sana kemari seperti tukang ojek. Rantai tiga adalah dia yang diminta membantu mengambilkan buku di perpustakaan. Rantai empat selalu diminta membantu mengerjakan pr matematika, karena biasanya si rantai satu ini bodoh dalam pelajaran matematika. Rantai lima itu yang paling sukarela, tanpa diminta selalu mengipasi ketika rantai satu kepanasan, atau memayungi ketika hujan. Pokoknya rantai lima ini yang paling menempel seperti jamur. Rantai enam itu biasanya suka memainkan musik, nyaris membuat si rantai satu jatuh hati kalau saja tidak ada seorang lelaki yang merusak rencananya. Siapakah dia?"

Semua yang mendengarkan jadi semakin beringsut mendekati si murid perempuan selaku pencerita.

"Dia lah rantai tujuh. Lelaki yang paling istimewa meski tidak melakukan banyak hal. Cukup dengan setangkai bunga dan sebaris kalimat romantis, langsung membuat perempuan mana saja jatuh hati."

"Kenapa bagiku justru si rantai tujuh yang kelakukannya paling norak?" Lelaki tadi bertanya lagi.

Waktu serasa berhenti ketika murid perempuan selaku pencerita berusaha memutar otak.

"Tidak dilakukan juga tidak apa-apa sih, karena pada dasarnya rantai tujuh yang akan mendapatkan hati gadis itu."

"Apa ada alasannya rantai tujuh selalu menang?" Lelaki tadi lagi-lagi bertanya, membuat murid perempuan selaku pencerita menghela napas panjang.

"Gaara-kun, kau tidak tahu angka tujuh itu angka keberuntungan? Dasar kau ini, jangan-jangan kau juga tidak tahu apa-apa tentang perempuan makanya dari tadi bertanya terus?"

"Bukan begitu, hanya saja bagiku itu aneh." Lelaki yang dipanggil Gaara bergumam.

Perempuan selaku pencerita mencibirnya.

Sementara Gaara tengah berpikir keras karena penjelasan teman barunya tadi belum mampu ia cerna dengan baik, seorang perempuan dengan paras sebening kristal lewat di depan kelasnya. Seolah waktu melambat ketika gadis itu menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Ia lantas menganga hingga rahang bawahnya hampir jatuh.

.

.

.

7 Januari 2015

Seorang teman pernah berkata padaku,

Untuk apa kita bosan pada sahabat? Mencari sahabat itu jauh lebih sulit daripada mencari kekasih.

Dan aku ingin sekali bertanya padanya,

Salahkah kita bosan jika hanya dianggap sebagai sahabat? Bukankah kejam bila perasaan serumit cinta harus dihalangi sebuah label 'sahabat'?

Seorang perempuan menatap buku diarinya sendiri yang ia letakkan di meja. Ada sakit yang tidak mampu ia jelaskan, bahkan untuk ditangisi saja rasanya sudah terlambat. Ia berkali-kali menghela napas panjang karena mengingat kejadian satu tahun lalu dimana ia harus berpisah dengan seseorang lelaki yang sangat spesial di hatinya. Usianya mungkin saat itu masih terlalu muda untuk menganggap seseorang bisa begitu spesial. Tapi ia tidak bisa menyalahkan umur, karena cinta adalah cinta, mau sejak kapan ia memulainya.

Baginya, hal yang paling menyakitkan itu bukan ketika ia mencintai seseorang yang tidak bisa ia gapai. Akan tetapi ketika ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya sampai orang itu menghilang. Bahkan di hari perpisahan smp lalu, ia tidak sanggup menyatakan perasaannya, karena lelaki itu adalah sahabatnya sendiri.

"Kenapa kau tidak coba menulis novel saja?" Sebuah suara menginterupsi lamunan panjangnya.

"Dasar Inopig, apa kau baru saja mengintip diariku?" Gadis bersurai pink itu memekik pada sahabatnya.

"Aku sudah melihatnya sejak kau buka tulisan hiperbolismu itu." Ino tertawa. Sementara gadis pink itu berusaha tidak peduli sambil mengibaskan rambutnya.

"Sakura, apa kau kepanasan? Aku bisa mengipasimu sepanjang pelajaran kalau kau mau." Tiba-tiba saja seorang lelaki tak diundang mengacungkan kipas lipat besar di depannya.

Gadis yang disebut Sakura itu berdecak. "Maaf ya, bukan aku bermaksud kasar, tapi kipasmu itu menghalangi pandanganku dari papan tulis. Kau berusaha membuatku jadi bodoh hanya karena kipas tidak bergunamu itu?"

Lelaki tadi dengan wajah murung kembali ke bangkunya.

"Aku tidak tahu bagian mananya yang tidak kasar." Ino lagi-lagi menginterupsi.

"Huh, kau tahu kadang orang seperti itu perlu diberi pelajaran, baru dia bisa sadar kapan harus menyingkir dari hadapanku."

"Wow, kau tidak berubah Haruno." Ino menggeleng-gelengkan kepalanya. Sakura mendengus.

Namanya Haruno Sakura, gadis yang sering kasar pada lelaki di sekitarnya. Meski begitu, ia disebut-sebut sebagai permata kelas karena kecantikan wajahnya yang tidak tertandingi. Ia menjadi gadis yang paling ingin dijadikan pacar, versi murid laki-laki. Itulah mengapa Sakura menjadi permata kelas, alias harta yang harus dilindungi.

"Guru matematika sudah datang!" Ino berteriak sampai terdengar seisi kelas.

Ino itu teman baik Sakura. Mereka berteman sejak smp. Kalau boleh jujur sih Ino, Sakura dan satu lelaki yang Sakura lamunkan tadi adalah tiga sekawan. Mereka selalu berada di kelas yang sama, makan siang di tempat yang sama, dan pergi main juga tidak pernah absen satupun dari mereka. Apabila ada satu saja yang tidak bisa ikut, maka rencana main dibatalkan.

Tapi Ino sadar bahwa persahabatan mereka merenggang tepat ketika Sakura mencurahkan perasaannya. Ino tidak tahu harus berbuat apa ketika mereka bertiga masih saja jalan ke mana-mana bersama, ia merasa ada jarak yang Sakura buat hanya karena takut perasaannya terbongkar dan lelaki itu akan menjauhinya.

Mengertilah, menjadi sahabat dari orang yang bermasalah itu tidak menyenangkan sama sekali. Bahkan Ino harus ikut-ikutan menjauh dari sahabat lelakinya karena tidak mau Sakura jadi semakin menyedihkan.

"Ino yang hobi melamun, kerjakan soal nomor satu di buku paket halaman lima puluh tujuh." Guru matematika memerintah dari kursinya.

"Pak, sudah berapa kali saya bilang yang suka melamun itu Sakura, bukan saya!" Ino mememik protes.

Guru matematika berkepala botak di depan kelas hanya tertawa sambil meminta maaf.

"Heh, enak saja kau mengkambing hitamkan aku." Sakura menertawakan Ino yang kini melangkah ke arah papan tulis.

Tanpa Sakura sadari, sedari tadi ada yang memperhatikan dirinya dari jendela. Seorang lelaki dari kelas sebelah yang rahangnya sempat jatuh sebelum memberanikan diri membuntutinya sampai depan kelas. Lelaki itu merasakan dadanya berdetak sangat cepat ketika melihat Sakura sedang tertawa.

"Rumor itu ternyata benar ada." Gumamnya sambil berjalan kembali menuju kelas.

Jam pelajaran matematika hari ini kosong, dan ada tugas yang harus dikerjakan serta dikumpulkan hari ini juga. Banyak memang yang sangat serius mengerjakan tugas, terutama murid perempuan. Seolah sedang olimpiade matematika saja. Tetapi hal itu tidak akan berlaku bagi beberapa murid lelaki, terutama 3 bintang lapangan kita yang sedang ngobrol di bangku belakang.

"Gaara, Sai, ayo keluar! Suram sekali hidup kalian hanya mengerjakan tugas pagi-pagi." Kiba, satu-satunya pemalas diantara ketiganya melangkah keluar, langsung diikuti yang bersangkutan.

"Bukankah kita ada tugas? Kalau kita tidak mengerjakan, kita tidak dapat nilai." Sai berjalan sambil membuka komik yang selalu ia bawa kemana saja.

"Ah, sialan tugas itu! Untuk apa kita masuk sekolah kalau hanya diberi tugas? Kita butuh asupan pelajaran supaya bisa lulus ujian."

"Seperti kau belajar saja." Sai menceletuk, Kiba mengangkat bahu tak peduli.

"Sudahlah, aku ini mau mengajak kalian main voli sebentar. Baru setelah itu kita bisa mengerjakan tugas."

"Kau gila? Sekarang masih jam pelajaran. Kita pasti ketahuan bolos." Sai membelalak, hampir saja ia kembali lagi ke kelas kalau saja Kiba tidak menahan lengannya.

"Tenang saja, kita kan atlet voli sekolah. Mereka pasti mengira kita sedang latihan untuk perlombaan."

"Terserah kau saja lah." Sai kembali menekuri komiknya, sementara Kiba yang sejak tadi berjalan paling depan kini menatap satu persatu temannya yang tidak konsen semua. Yang satu sedang memainkan ponsel, dan yang satu…

"Lihat dia, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri? Sudah gila ya?" Kiba menunjuk-nunjuk Gaara yang masih saja tersenyum, kadang malah terkekeh sendiri.

"Dunia ini ternyata indah sekali ya, teman? Aku bahkan baru menyadarinya." Gaara kembali terkekeh.

"Kau kerasukan apa pagi-pagi begini?"

"Teman, kalian tahu? Ada perempuan cantik di kelas sebelah. Namanya Sakura. Bening sekali wajahnya, sampai kukira aku melihat bidadari di sekolah ini."

"Sakura? Si Haruno Sakura itu? Jangan bilang kau mengincarnya, teman. Dia sudah digilai banyak orang. Kesempatanmu tipis untuk bisa mendapatkan hati perempuan sepertinya." Kiba yang kini tertawa lantang.

"Kenapa memangnya? Aku tampan kok."

"Silahkan saja kalau siap ditolak. Kau seperti tidak tahu saja sudah berapa laki-laki yang dia tolak dua minggu ini. Belum ada yang benar-benar dekat dengannya."

"Siapa bilang? Aku tadi melihat rantai lima." Gaara ngotot atas pendapatnya.

"Rantai lima? Astaga, jadi kau benar-benar percaya cerita Hinata tadi?" Kiba berbisik sambil menahan tawa. Sementara Gaara mengernyit.

"Jadi kau sungguhan percaya rumor yang dia ceritakan? Huh kau ini, memangnya kau anak sd? Mana mungkin ada kisah seperti itu. Kalau cinta ya cinta saja, jangan memberi harapan pada banyak orang sekaligus."

Mereka sudah sampai di lapangan, dan secara kebetulan ada bola voli yang tergeletak begitu saja tanpa pemilik. Tanpa pikir panjang Kiba langsung memulai servis, melemparkan bola volinya pada Sai yang langsung mengoperkan kembali pada Kiba.

Sementara itu Gaara merenung, ia beberapa kali menggeleng tidak percaya pada ucapan Kiba. Bukankah apa yang disebut rumor dan sudah tersebar di seluruh penjuru sekolah itu selalu benar? Tapi tidak ada yang tahu apakah Hinata membodohinya atau tidak, kan?

"Tapi bagiku rantai tujuh itu-"

"Sudahlah, kalau kau memang suka padanya, dekati dia secara natural. Jangan banyak tingkah dan lupakan tentang rumor rantai tujuh itu," Ujar Kiba sambil kembali melakukan servis.

Gaara melirik Sai yang dari tadi hanya menunggu bola mengarah padanya tanpa sekalipun ikut menanggapi kisahnya.

"Kenapa? Cepat ikut main sebelum guru memergoki kita," Ucap Sai singkat.

"Kami sedang berbicara tentang perempuan, kenapa dari tadi kau diam saja? Kau tidak suka perempuan?" Gaara mendekati Sai yang masih saja diam. Sementara itu Kiba yang terpisah net dengan mereka langsung mendekat.

"Kalian kenapa?"

"Aku sedang menanyainya. Lihatlah, dia dari tadi diam saja saat kita membicarakan perempuan." Gaara kembali menatap Sai.

"Yang benar? Sai kau baik-baik saja, kan?" Tanya Kiba sambil menahan tawa.

"Apa-apaan kalian ini? Aku hanya tidak suka Sakura yang kalian puja itu." Akhirnya Sai bersuara. Tapi bukannya memperbaiki keadaan, kalimat lelaki itu justru membuat Gaara dan Kiba semakin membelalak.

"Kau pasti tidak normal, teman. Ayo, kita harus segera membawamu ke rumah sakit." Kiba menceletuk dan kemudian mendapat lemparan bola di kepalanya.

"Tapi Kiba benar, kau mungkin sakit. Masa kau tidak suka perempuan cantik seperti Sakura? Akui saja kalau kau sakit."

"Bukan begitu. Aku hanya…sudah ada seseorang yang aku suka." Sai menggaruk tengkuknya.

Gaara dan Kiba langsung menganga, takjub oleh pengakuan Sai yang selama ini tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.

"Siapa? Apa kami mengenalnya?" Kiba yang mukanya paling terkejut karena hanya ia satu-satunya yang belum menemukan perempuan ideal, sementara 2 temannya tanpa bicara apa-apa sudah satu langkah lebih maju darinya.

"Rahasia. Walaupun tidak secantik Sakura yang kalian gilai itu, tapi bagiku dia tetap manis, terlebih kelakuannya. Beda jauh dari Sakura yang kudengar sangat kasar saat menghadapi laki-laki." Sai tersenyum di akhir kalimat.

"Benarkah yang kau katakan? Bagaimana kalian tahu sedalam itu tentang Sakura yang bahkan baru aku lihat pagi ini, hah?" Gaara berteriak pada 2 temannya yang justru berpura-pura sibuk melemparkan bola voli.

"Jawab aku, dasar sialan! Kalian sebut diri kalian teman!"

TBC

A/N : Halo halo :) Daripada membuat sekuel cerita sebelumnya yang sudah saya janjikan, saya malah lebih memilih menulis cerita baru. Huhu, maafkan saya. Saya tidak sanggup menulis cerita yang akhirnya sudah ada. Dengan ini Secangkir Nostalgia Season 2 resmi dibatalkan. T.T

But, at least I try to write a new one. Ini agak aneh, dan karakternya banyak yang OOC, tapi no hate feeling ya, cuma buat hiburan semata. Kalau boleh bilang sih semacam penyegaran dari cerita-ceritaku sebelumnya yang cenderung mellow. Entah bakal berhasil atau enggak.

Untuk sementara aku cantumkan couplenya Gaahina dulu ya, karena ekspektasiku bakal kesitu, tapi nggak tau deh. Nunggu perkembangan alur. :D

Jangan lupa review yang guiss~

Salam manis,

Waan Mew