Fanfic pertamaku dalam Bahasa Indonesia, cerita yang tertulis sama sekali tidak terjadi di dalam game.

Hanya dirubah karena ingin menampilkan OC milik seseorang.

Silahkan dibaca dan di review... :D

Di RE-UPLOAD karena ada yang di RE-WRITE

DISCLAIMER : Persona 3 itu milik ATLUS corp.


ENCOUNTERED WITH THE SONGSTRESS

3rd September 2009
Escapade Club

Seorang pemuda berambut biru gelap memasuki sebuah pub malam yang ada di Paulownia Mall. Walau dia dengan naifnya, tetap memakai seragam sekolahnya dan datang ke tempat tersebut bukan di waktu yang tepat, yaitu malam hari dan hampir tengah malam.

Dia tampak sangat biasa-biasa saja, tidak merasa takut kepergok atau ditarik paksa keluar dari tempat yang merupakan 'dunia orang dewasa' itu. Kebetulan pada malam itu, pub tersebut cukup ramai. Yah, semua karena ada penampilan mini concert dari penyanyi yang sedang menyanyi pada malam itu. Suara lagu yang selalu terdengar melalui headset silver miliknya, tidak dapat mengalahkan suara penyanyi tersebut dan mau tidak mau dia terpaksa melepas dan mematikan mp3 player miliknya.

"Hhh..." dia menghela napas dan segera menuju ke lantai dua pub tersebut untuk bertemu dengan seseorang. Yap, datang ke pub tersebut pada malam hari di hari tertentu sudah menjadi rutinitasnya, sehingga orang disekitar pub, tidak aneh dengan kedatangan pemuda SMA tersebut. Jalan menuju lantai dua pub tersebut menjadi cukup sulit pada malam itu, para gadis di pub tersebut berusaha menariknya untuk ikut menari, tapi dia menolaknya, dengan sopan tentunya dan juga sesekali memperlihatkan senyumannya.

"Haha...kukira siapa, ternyata kamu toh, teman kecil..." kata seseorang yang bersuara besar dan agak serak, dia membuyarkan kepenatan pemuda tersebut yang disebabkan oleh pub yang ramai. Pemuda itu pun tersenyum kepada orang di hadapannya, "Kombanwa, Mutatsu-san..." ucapnya sopan.

"Hei..sudah kubilang, santai saja..tidak usah formal seperti itu. Jangan hanya karena aku ini biksu sehingga kamu malah ngomong penuh dengan bahasa formal seperti itu!" kata orang yang ternyata dia adalah biksu. "Arisato, ada apa lagi malam ini kau datang hah? Mau menemaniku minum-minum?" ajaknya.

"Ah tidak..." kata pemuda itu yang duduk di sebelah Mutatsu. "Ngomong-ngomong panggil saja aku Minato."

Mutatsu lalu terdiam sebentar dan beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...kau ini memang anak yang menarik! Tiba-tiba saja datang dan baru beberapa minggu kita kenalan, kau sudah memintaku memanggil nama kecilmu. Menarik-menarik.." kata Mutatsu dan Minato hanya membalasnya dengan senyuman kecil.

Mereka berdua dengan asyiknya mengobrol. Sebenarnya yang paling banyak omong bukan Minato, melainkan Mutatsu sendiri. Dia menceritakan masalah hidupnya kepada Minato dengan mudahnya dan Minato hanya menjadi pendengar yang baik. Memang seperti itulah dia, mendengarkan masalah orang dan menyelesaikannya walau orang-orang disekitarnya selalu menyebutnya poker face. Seakan-akan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

I've never felt like so miserable
I've never felt like thinking this will last forever
Baby stay with me
You gotta tell me your love came all over me

When stars're smiling at moon wonder how they look in your eyes
Just dialing your number failing to press the last two
Pray in the heart
When the moon's reaching stars if you hold me tight
Feeling heartbeat so close Will this last long?

Pikiran Minato pun buyar dan dia mengintip ke bagian stage, suara nyanyian yang menggema disekitar ruangan itu menarik perhatiannya. Lalu dia melihat orang yang sedang menyanyi itu. Seorang wanita dengan gaya berpakaian gothic boyish dan rambutnya yang berwarna hitam keunguan dengan sedikit layer berwarna biru. Minato memperhatikan wanita itu dan tak sengaja melupakan Mutatsu.

Siapa dia...kenapa aura yang muncul...Minato berpikir.

Suara wanita itu sebenarnya biasa-biasa saja, tapi entah mengapa ada sesuatu di dalam diri wanita itu yang menarik perhatian Minato. Mata merah gelap wanita itu tak sengaja bertemu dengan mata biru keabuan Minato. Tatapan mata wanita itu benar-benar tajam dan dia memperlihatkan senyum sinisnya kepada Minato.

DEG

Minato terkejut dan segera membalikkan badannya ke kursi dan menghadap Mutatsu lagi. Wajahnya tampak pucat dan entah mengapa keringat dingin keluar dari kulit putihnya.

Mutatsu yang sebenarnya langsung berhenti bicara ketika Minato tidak mendengarkannya tampak bingung dan dia lalu melihat ke arah stage, "Ah...Sara-chan ya..." Minato lalu melihat ke arah Mutatsu. "Dia adalah penyanyi disini. Setelah sekian lama dia vakum, akhirnya dia muncul lagi..hehehe...aku suka suaranya."

"Anda kenal dengannya?" kata Minato yang masih tampak pucat.

Mutatsu menghisap cerutu miliknya dan mengeluarkan asapnya, "Dia terkenal loh...yah wajar kalau kau tidak tahu. Kau kan baru di sini..hahaha...tapi tak kusangka tipe mu yang seperti itu..anak-anak jaman sekarang..hahaha..." ejek Mutatsu yang sepertinya dia merasa Minato adalah orang yang aneh karena langsung berkeringat dingin dan pucat ketika melihat wanita itu.

"Hahaha..." Minato tertawa pelan. Bukan itu masalahnya...masalahnya kok auranya cukup mirip dengan aura Pharos ya...siapa dia sebenarnya...pikirnya yang ingin sekali rasanya dia menjawab itu, tapi tidak bisa.


Minato sesegera mungkin pulang ke asrama, setelah urusannya dengan Mutatsu selesai. Tapi, sepanjang perjalanan perasaannya tidak bisa tenang. Semua karena dia bertemu dengan penyanyi itu. "Tadaima..." dia memasuki asrama dan segera menuju lantai atas karena tidak ada siapa-siapa di lantai bawah.

Sebelum sempat mencapai lantai dua, dia melihat seseorang sedang berdiri dan ia lalu melihat orang itu. Seorang gadis berambut coklat tua dan bermata merah darah mengenakan piyama miliknya yang berwarna orange muda. Dia terlihat sangat sebal, "Ah, Minako...tadaima..." kata Minato dengan senyum kecilnya.

Tiba-tiba gadis itu mendekati Minato dan menjentikkan jarinya ke dahi Minato dengan cukup keras, "Aduh!" seru Minato, "Hei, kau ini apa-apaan sih aku kan kakakmu. Kenapa malah memukulku?" katanya ke gadis itu yang ternyata adalah adiknya.

"Terserah aku! Habis, Minato-nii jahat!" kata Minako. "Kau janji mau mengajariku matematika buat kuis besok, tapi malah pergi keluar. Kakak pasti pergi ke Escapade kan?" katanya.

"Kok tahu..?" kata Minato yang mulai ketakutan karena dia tidak bilang ke siapa-siapa.

Minako menyilangkan kedua tangannya, "Hmph...aku ini kan kembaranmu jadi sudah pasti aku tahu apa yang kau lakukan!" katanya tegas.

Emangnya kamu punya sixth sense apa...sampai tahu apa yang kupikirkan...padahal kemarin saja nilai ujian kita beda...pikir Minato.

Minato lalu menghela napas, dia memang tidak bisa menang dari adik kembarnya itu. Dia bukan seorang pengidap sis-con tapi, karena Minako adalah keluarganya satu-satunya dia sangat menyayanginya dan tidak ingin menyakitinya. "Oke..oke...aku salah...aku bakal bilang-bilang deh kalau mau pergi..." katanya sambil mengangkat kedua tangannya.

Minako cemberut, "Tidak bisa semudah itu, Minato-nii harus diberi hukuman." Dia mengacungkan telunjuknya ke arah Minato.

"A..Apa itu?"

"Traktir aku pas ada matsuri nanti bulan Oktober." Katanya dengan menunjukkan senyuman penuh kemenangan.

Minato cukup terkejut dan kemudian dia tersenyum, "Baiklah...tuan puteri..."

Minako hanya tersenyum dan menepuk-nepuk kepala kakaknya. "Oke kalau begitu, sekarang Minato-nii tidur kita tidak boleh telat. Minako lalu segera menuju ke kamarnya di lantai tiga.

"Oi, Minako..maaf ya...aku..." kata Minato.

Minako berhenti dan bingung, "Loh tadi kan udah minta maaf..." katanya.

"Iya tapi...ngomong-ngomong kamu tadi jadinya belajar dengan siapa?" tanya Minato penasaran.

Minako tertawa kecil, "hehe..tentu saja dengan Sanada-senpai! Dia berbaik hati mengajariku malah berkat dia aku jadi mengerti." Katanya bangga dan segera berlari kecil ke kamarnya meninggalkan Minato seorang diri.

Sanada-senpai...tapi..bukannya Minako...pikir Minato. "Hhh.." dia lalu menghela napasnya. "Sudahlah...aku tidur saja..." katanya sambil berjalan menuju ke kamarnya.


5th September 2009
Paulownia Mall

Malam ini, beda dengan biasanya. Malam ini adalah malam bulan purnama pertama pada bulan September dan tentu saja Minato datang lagi ke Paulownia Mall tapi ada yang berbeda. Dia datang ke tempat itu bersama teman-temannya. Mereka semua masih memakai seragam sekolah mereka, hanya saja yang berbeda adalah, mereka mengenakan armband bertuliskan SEES dan membawa senjata.

Mungkin orang-orang sekitar akan mengira mereka semua gila. Karena mereka masih berseragam, tapi malah membawa senjata di malam hari. Tapi, hal itu sudah menjadi rutinitas mereka. Apathy Syndrome yang menjadi bahan pembicaraanlah yang menjadi alasannya, tapi alasan sebenarnya bukanlah itu.

Dark Hour dan shadow lah alasan utama mereka tetap bangun di malam hari tepatnya pada tengah malam. Apathy Syndrome hanyalah suatu kondisi yang dialami orang-orang yang terjebak di dalam waktu bernama Dark Hour. Dark hour atau yang dikenal dengan waktu yang bersembunyi, adalah saat dimana shadow yang merupakan mahluk misterius yang mengincar nyawa atau hati manusia muncul, dan akibat dari serangan shadow tersebut adalah Apathy Syndrome. Hanya orang-orang yang memiliki 'potential' lah yang bisa melawan shadow dan SEES adalah salah satu organisasi yang bergerak untuk melawan para shadow tersebut

Minato hanya berdiam diri, menunggu teman-temannya siap. Dia tampak cukup mengantuk dan bosan. Akibat dari Dark Hour cukup fatal. Tidak ada peralatan elektronik yang berfungsi sehingga dia tidak bisa mendengarkan lagu dari MP3 miliknya..

"Kemana si bodoh itu?" tanya salah satu teman perempuan Minato yang mengenakan cardigan berwarna pink, "Arisato-kun...tadi si Stupei pulang denganmu kan? Sudah terlalu lama nih! Si Junpei kemana sih? Merepotkan saja..." tanya perempuan itu yang tampak sangat sebal sekali karena orang yang dia panggil Stupei itu tidak muncul juga.

Minato hanya menggeleng kecil dan gadis itu hanya menghela napas panjang dan kembali mengata-ngatai orang bernama Junpei itu.

"Yu-Yukari-chan..tenanglah..."kata gadis berambut biru kehijauan.

"Hhh...Fuuka kamu cariin deh si Stupei itu..." kata gadis bernama Yukari itu sebal.

"Psst...gadis yang kau suka ternyata lebih perhatian sama Junpei-kun.." bisik Minako pada Minato yang dibalas dengan tatapan datar.

Gadis yang ternyata bernama Fuuka itu lalu memanggil Persona miliknya. Sesosok mahluk berwujud wanita pun muncul dan membungkus Fuuka ke dalam bola kaca raksasa. "Bagaimana Yamagishi?" Tanya seorang pemuda berambut putih keabu-abuan yang tampak sangat tenang.

"Aura disini sangat susah untuk ditebak, aku merasakan banyak..banyak sekali, bukan hanya shadow tapi...orang juga, awalnya aku rasa ada dua, tapi sekarang hanya satu...maaf. Aku, aku akan coba lagi." kata Fuuka yang tampak sangat resah.

"Tenang saja Yamagishi. Kamu tidak perlu minta maaf. Kau sudah berusaha keras." Kata seorang perempuan berambut merah gelap. "Akihiko, kau, Aragaki, Aigis, Koromaru dan Amada, cobalah untuk berkeliling." Kata wanita itu ke pemuda berambut putih keabu-abuan itu sambil menunjuk kepada pemuda yang memakai topi cape, anak sd yang membawa tombak serta wanita android dan anjing shiba yang ada di sebelah gadis android itu.

"Arisato, Minako-san dan Takeba, kalian coba cari Iori." Dia memerintah Yukari Minako dan Minato yang dibalas dengan anggukan sekaligus helaan napas.

"Lalu, Mitsuru..." kata Akihiko.

"Aku akan berkeliling sekitar sini, sambil menjaga Yamagishi." Kata gadis yang ternyata bernama Mitsuru itu. Akihiko lalu mengangguk dan segera pergi bersama yang lainnya.

Setelah beberapa saat, suasana pun menjadi hening tapi, suasana tegang masih memenuhi tempat itu. "AKU MENEMUKANNYA!" Fuuka berseru. "Shadow ada di dekat sumber listrik Mall, dan dan...dan itu dekat Escapade Club!" lanjutnya.

"Cih, Yamagishi...siapa yang ada di dekat tempat itu!" Aragaki Shinjiro, pemuda yang memakai topi cape itu bertanya dengan suara lantang.

"AMADA! AMADA-KUN!" Fuuka menjawab dengan cukup keras sehingga yang lain bisa mendengar. Semua segera berlari menuju tempat itu.

"Yamagishi, suruh Amada menunggu!" perintah Akihiko. Amada Ken baru saja bergabung dengan SEES dan dia masih sangat hijau, belum berpengalaman sama sekali dalam bertempur ditambah lagi, dia itu masih SD jadi wajar apabila anggota yang lain panik ketika tahu Amada ada di tempat Shadow tersebut.

Tapi, Amada yang sudah dari awal memiliki agenda sendiri, malah memilih untuk maju sendirian. Dia menganggap dirinya bukanlah anak kecil seperti yang dikira orang-orang. Dia bisa mengurusi dirinya sendiri, tidak butuh orang lain. "Amada-kun! Apa yang kau lakukan!" seru Yamagishi yang membuat semua menjadi semakin panik, terutama Shinjiro dan Akihiko. "Semuanya, cepat tolong Amada! Dia tidak bisa menghadapi Shadow itu sendirian!"

"Cih! Dasar bocah!" Shinjiro sudah tidak lagi dapat menahan kekesalannya dia segera berlari ke dalam Escapade. Dilihatnya Amada yang terlilit oleh kabel-kabel dan ia lalu segera memanggil Persona miliknya, Castor.

"SUDAH DIBILANG UNTUK TUNGGU KAN!" Shinjiro membentak Ken, "MEMANGNYA KAU INI TULI APA!" dia lalu menyerang Shadow tersebut dengan Persona nya dan tidak berlangsung lama, Shadow tersebut lalu tewas di tangan Shinjiro seorang diri.

"Shinji! Amada!" terdengar suara Akihiko yang berlari menghampiri mereka berdua yang terdiam. "Hei, kalian tak apa-apa?" Tanyanya.

"Syukurlah kalian baik-baik saja.." kata Mitsuru yang menyusul di belakang bersama yang lainnya. "Aku dapat kabar dari Yamagishi, Arisato dan Takeba berhasil menemukan Iori dan juga salah satu anggota Strega jadi, ayo kita segera kembali." Ajaknya yang hanya mendapat balasan anggukan dari Akihiko.

"TUNGGU!" seru Fuuka, "Aku merasakan...ada seseorang disini..dan dia sangat lemah..." semua tampak bingung dan mulai melihat keadaan sekitar.

"Orang..?"

"Dimana?"

TRAK

Semua langsung membalik ke arah stage begitu mendengar suara tersebut, dan semua tampak terkejut. Dari balik stage, muncul sosok seorang wanita yang wajahnya sangat pucat sekali. Suara itu berasal dari hentakan sepatu high heels yang dikenakannya. Wanita itu lalu melihat ke arah Shinjiro, "...Shinji..." dan belum sempat ia melangkahkan kakinya dia pun pingsan. Shinjiro dengan cepat segera menangkap tubuh wanita itu.

Semua segera mendekati Shinjiro, termasuk Ken. Mereka semua tampak terkejut dan bingung, "Shinji..kau kenal wanita ini?" kata Akihiko yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Shinjiro.

"Sudahlah, kita harus segera menyusul Takeba dan Arisato. Ditambah lagi Dark Hour sebentar lagi akan selesai." Kata Mitsuru cepat, "Aragaki, bawa juga wanita ini, kita akan membawanya ke rumah sakit secepat mungkin."

Yukari, Minako dan Minato menunggu di depan gerbang asrama bersama Junpei yang tampak lemah dan Chidori yang pingsan. "Itu mereka..." kata Yukari yang tampak senang karena akhirnya teman-temannya kembali dari Paulownia Mall.

Minato tersenyum, "syukurlah...sepertinya mereka semua baik-baik saja..." sebagai Leader, dia sebenarnya merasa sangat bersalah, karena harus meninggalkan tim nya dan malah ditugaskan untuk mencari Junpei.

Bukan berarti dia takut dengan Mitsuru, tapi mau bagaimana lagi yang namanya teman sudah seharusnya saling membantu satu sama lain. Lagipula dia juga percaya dengan timnya kalau mereka pasti bisa menangani shadow tersebut walau tanpa bantuan dirinya.

Yukari tersenyum ke arah Minato, "Apa yang kau khawatirkan ternyata tidak jadi kenyataan kan?" katanya. Karena selama menunggu yang lain, Minato tampak tidak terlalu tenang dan Yukari yakin itu pasti karena Minato merasa telah melalaikan tugasnya sebagi Leader. Minato hanya mengangguk, sebuah anggukan yang bagi Yukari sangatlah berarti besar.

Tapi, kemudian Minato terlihat terkejut. Dia melihat sesosok wanita yang digendong oleh salah satu senpai nya, Shinjiro. "Senpai!" dia menghampiri Shinjiro dan melihat wajah wanita itu. Minako dan Yukari bingung dengan perubahan sikap Minato.

"Ada apa?" tanya Shinji, "Apa kau kenal...dengan Sara?" katanya sambil mendongakkan kepalanya.

"Ah tidak..hanya saja..." kata Minato pelan.

"Memangnya kau kenal dengannya Shinji?" Akihiko bertanya kembali karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh sahabatnya itu.

"Cih...sekarang lebih baik kita segera ke rumah sakit. Kalau tidak cepat-cepat bisa berbahaya..." kata Shinjiro yang lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Akihiko dan mempercepat langkahnya. "Heh, goatie bawa juga gadis itu.." perintah Shinjiro kepada Junpei untuk membawa Chidori yang terbaring pingsan disebelahnya.

"Ah baik..." jawab Junpei yang kaget, dia segera menggendong Chidori dan mengejar Shinjiro dan yang lain pun mengikuti. Kecuali Minato, dia terdiam beberapa saat di depan dorm. Sara..the songstress...tapi apakah mungkin dia salah satu bagian dari Social Link..kalau iya..kenapa...pikirnya.

Yukari sadar kalau Minato tidak mengikuti mereka, lalu ia berteriak, "Arisato! Apa yang kau lakukan! Ayo cepat!" dia lalu mengibas-ngibaskan tangannya di udara, "Kalau tidak ditinggal loh!"

Seruan Yukari, memecah lamunan pemuda berambut biru gelap itu. "Ah iya..." Dia lalu segera berlari meyusul teman-temannya. Lebih baik nanti kutanyakan saja pada Igor dan Elizabeth...pikirnya lagi.


Yap..ini akhir dari chapter 1.

Tolong direview ya...terima kasih... :D

Aku sengaja memunculkan FeMC dengan nama Minako Arisato di FF ini, karena jujur saja FeMC itu seperti penyeimbang MaleMC. Karakternya yang ceria seimbang dengan karakter MaleMC yang cukup pendiam.

Regards,

Fuyu Aki