Part 1. My little Angel
Seperti biasa, pada malam ini, Engkau menghabiskan waktumu dengan online, mencari foto dan informasi sebuah band yang sedang naik daun, EXO. Sesaat Engkau memandang jam,waktu menunjukkan pukul 10 malam, sudah waktunya tidur, tapi tidak untuk hari ini.
Engkau berjalan ke arah jendela kamarmu, membuka jendela kamar, membiarkan udara malam menerpa wajahmu. Begitu sejuk dan menyenangkan, pikirmu. Malam ini Begitu tenang, hanya beberapa orang yang kelihatan berjalan hilir mudik di depan jalan. Di atas sana, sang Rembulan sedang bersinar terang, ditemani para bintang yang bermain-main di sekitarnya, menerpakan sinar lembut ke bumi. Kau biarkan cahaya rembulan menerangi wajahmu. Terdengar suara nyanyian jangkrik, saling bersahutan, entah untuk mencari pasangan atau untuk menandakkan kekuasaannya, menghiasi indahnya malam ini. Sesaat setelah memanjakkan dirimu dengan indahnya malam ini, engkau membuka kembali handphone-mu. Kau pilih sebuah lagu EXO, kau putar dengan volume rendah. Sebuah lagu yang begitu bermakna bagimu. Sebuah lagu yang menjadi dasar impianmu. Terdengar bait yang indah dari lagu itu
"Akulah Peterpanmu
Pria yang terbelenggu dalam kenangan masa itu
Aku mungkin bodoh. Namun aku sangat mencintaimu
dan Aku akan berlari ke arahmu"
Engkau resapi tiap kata yang mengalir dari lagu ini, Kau biarkan lagu ini memenuhi pikiranmu, membiarkan lagu ini menguasai emosimu. Kau biarkan semua pikiranmu berkelana pergi jauh. Kau buka semua kenangan indah yang engkau alami. Semua kenangan indah yang diberikan seseorang.
Seseorang yang sangat engkau rindukan malam ini. Kau biarkan semua impian dan khayalmu tentangnya memenuhi dirimu, sampai pada akhirnya air matamu mengalir jatuh.
Menghela nafas, kau hapuskan air mata yang membasahi pipimu. Engkau membuka handphone-mu kembali. Kau buka folder foto, dan kau temukan wajah itu, sesosok wajah yang engkau rindukan. Seorang lelaki yang telah memenuhi kehidupanmu selama 2 tahun belakangan ini. Lelaki yang telah memenuhi hari-harimu dengan impian, canda, tawa, hingga tangisan air mata.
Kau pandang lekat-lekat sesosok wajah tampan itu. Kau mulai menelusuri wajah itu secara keseluruhan dari matanya. Mata bulat, sedikit belo, terbentuk indah dengan lautan putih susu yang mendominasi mata itu, bagian hitam mata itu, selayaknya sebuah mutiara hitam berpendar di antara lautan susu putih, kecil, hitam pekat, jernih, tampak berkaca-kaca. Memancarkan keagungan dari sang pemilik. Hidung mancung, sedikit berongga, menimbulkan kesan manis pada dirinya, pipi tembem bagaikan pipi hamster, begitu bulat, manis, terlihat bagaikan bantal yang begitu empuk, ingin sekali kau menyentuhnya. Apakah pipi itu bisa menyimpan makanan layaknya seekor hamster? Pikirmu.
Dan terakhir, bagian yang paling menawan dari wajah tampan kecil mungil berbentuk hati, terlihat begitu lembut, begitu kenyal, seumpama jeli stroberi yang siap untuk digigit. Semua keindahan ini saling berkaitan, membentuk sebuah wajah tampan.
Wajah tampan yang tiap harinya menghiasi hatimu.
Dialah D.O Kyungsoo.
Tak terasa waktu telah berputar begitu cepat, waktu di handphone-mu menunjukkan pukul 12 malam, dan jelas ini waktunya untuk tidur, jikalau tidak ingin terlambat kuliah besok. Jadi kamu bergegas menutup jendela, berbaring di ranjang, serta memberi kecupan lembut kepada wajah tampan itu.
Part 2. Tears
Terdengar suara alarm berbunyi. Semakin lama semakin nyaring. Dengan malas, Engkau membuka matamu. Jam menujukkan pukul 6 pagi. Dengan mata masih mengantuk, kau buka jendela kamarmu, cahaya mentari menyilaukan Surya kiranya telah terbit, menunjukkan keagungannya, memancarkan cahaya keemasan yang indah, ke seluruh penjuru kota Seoul di pagi itu. Terdengar sayup-sayup candaan warga sekitar, bunyi kendaraan, serta kicauan burung kecil yang bernyanyi riang, menandakkan aktivitas pagi telah dimulai. Dengan malas, kamu bergerak ke kamar mandi, memulai kisah baru, di lembaran baru.
"Kim Joon Myeon." terdengar suara memanggil, memenuhi seluruh ruang kelas.
Kamu,yang sedang asyik memainkan handphone, tidak mendengarkan sama sekali.
"Kim Joon Myun!" mulai meraung, sekali lagi, namamu bergema di seluruh kelas.
Mr Chai yang tidak mendapatkan reaksi dari teriakkannya itu, segera naik pitam. Perlahan-lahan, tubuh besar itu bergerak dari kursi dosennya. Kepalanya mulai berputar ke seluruh penjuru kelas, matanya mulai disipitkan mencari-cari mangsa yang diincar, kumisnya bergerak-gerak gusar, mulutnya menggumamkan segala caci maki yang dapat ia pikirkan saat itu.
Semua Mahasiswa tahu, ketika Kumis telah bergerak-gerak, berarti waktunya untuk menundukkan kepala, Mengheningkan cipta.
"Joon Myun." bisik Nei, teman baikmu, yang duduk sebangku denganmu, berusaha menendang kakimu sekeras yang ia mampu.
"Ouch, sakit tahu!" dengan sebal dan ringisan menahan sakit, kau mengalihkan pandangan dari video "MAMA" EXO, dan memandang temanmu.
" memanggilmu," cicit temanmu,berusaha memberikan isyarat.
"Apa ?" bisikmu, berusaha mendekati temanmu untuk mengetahui apa yang dikatakannya.
"Aku bilang"
"Kim Joon Myeon, MAJU KE DEPAN SEKARANG!" suara menggele gar bagaikan halilitar, diikuti hantaman tinju di meja guru, yang membuat semua mahasiswa-mahasiswi di kelas meringis ketakutan.
"Mati Aku…." pikirmu, dengan perlahan-lahan kamu maju menemui .
"Ini dia, primadona kelas kita," tersenyum bengis, kamu segera berusaha menyimpan handphone-mu, yang kamu pegang di tangan kirimu. Namun terlambat, telah menangkap gerak tanganmu.
Kena kau, Young Man, Pikir
"Ya tentu, …"
Mati aku, pikirmu dalam hati.
"Wah wah wah… kalau begitu, mari jelaskan kepada teman-temanmu materi yang baru saya sampaikan," tersenyum licik, kumisnya bergerak-gerak, dan matanya berkilat penuh kemenangan.
"Saya tidak bisa, ." jawabmu perlahan.
"Apa? Saya tidak bisa mendengarkan anda" berpura-pura untuk mendekatkan telinganya yang besar berbulu mendekatimu, terlihat jelas telinga itu telah berwana kemerahan, menujukkan betapa bahagianya dia ,bisa mempermalukkan dirimu.
Tanpa pikir panjang, kau segera menarik telinga besar itu, dan berteriak sekeras-keras nya
"SAYA TIDAK MENGERTI MATERI HARI INI!" pekikmu di telinga bapak bertubuh tambun itu, yang seketika itu juga membuat bapak itu bergerak sempoyongan, berusaha menahan sakit pada telinganya.
Seketika seluruh kelas menjadi ricuh, sorak-sorai gempita bergema di seluruh kelas, terdengar teriakan "HEBAT! BRAVO!" berkumandang di seluruh penjuru kelas.
"DIAM!" teriak sambil meninju meja lagi, yang sontak membuat seluruh kelas menjadi sunyi.
"KENAPA ANDA MELAKUKAN ITU!" teriak dosen bertubuh tambun itu kepadamu.
"SAYA HANYA MEMBANTU PENDENGARAN BAPAK!" bantahmu dengan berani menantang dosen itu, wajah Kalian berdekatan hanya berjarak beberapa senti, dan sekarang bahkan kau bisa mencium bau rokok dari nafas pria itu.
"KAU BERANI KEPADA SAYA?" teriak . mukanya memerah, bukan karena senang, melainkan karena amarah yang begitu besar. Bahkan kepalanya yang botak, yang biasanya mengkilat, kini bersemu merah.
"Joon Myeon!" pekik Nei temanmu, yang mengembalikkan kesadaranmu.
"Maaf. Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud…." kamu begitu gugup, baru menyadari apa yang telah kamu lakukan.
"HAH, KAMU ITU ANAK BELAGU SUDAH MERASA PINTAR!" teriak , yang kembali duduk di atas meja dosen, dengan jelas. Kamu menangkap senyum kemenangan kembali muncul di mukanya.
"Aku percaya, kamu pasti sedang menonton mereka, para banci itu. Jangan-jangan, kamu juga banci seperti mereka? Atau bahkan… GAY?" ejek . Segera seluruh Mahasiswa tertawa terpingkal-pingkal, semua begitu senang atas cemooh yang dilontarkan kepadamu, sementara, , duduk di atas meja dosen, selayaknya seorang detektif yang siap menginterogasi penjahat, memandangmu dengan ekspresi penuh kemenangan, sambil menikmati sensasi yang ditimbulkan dari kata-katanya itu, menikmati sensasi dari mempermalukanmu di depan kelas.
"HENTIKAN!" gerammu. Kamu tidak bisa tahan lagi. Emosimu tak dapat dibendung lagi, matamu mulai berair, telapak tanganmu telah terkepal membentuk tinju yang siap dilayangkan kepada pria itu kapan saja.
Tega sekali pria tua itu berbicara seburuk itu kepada EXO. Kepada D.O, kepada satu-satunya lelaki yang Engkau cintai.
"LALU KAU SEBUT APA MEREKA ITU? PARA LELAKI DENGAN MAKE-UP TEBAL, DENGAN BAJU FASHION, CIH, BETAPA MENJIJIKKAN MEREKA, MEREKA ITU BANCI, SUNGGUH MEREKA ITU SAMPAH, MEMALUKAN NEGARA INI" teriak , terlihat jelas, Betapa Dia menikmati pengucapan kata-kata itu, selayaknya menjilati es krim di musim panas. Semua tahu bahwa sangat membenci boybands, betapa seringnya menceritakan kerasnya kehidupan lelaki Korea di masa lalu, saat Korea Selatan masih miskin, dan betapa jijiknya dia melihat para boybands, dia selalu mengangap boyband itu banci, mereka aib Korea, dan ini juga sebabnya, dia sangat membenci dirimu.
Satu-satunya mahasiswa yang pernah dia temui, yang menyukai boyband.
"DIAM! DIAM!" air matamu tak dapat dibendung lagi, kamu berlutut menangis di depan kelas. Semua mahasiswa tertawa terbahak-bahak, sementara para mahasiswi mulai memandangmu dengan pandangan iba, kamu tahu, lebih baik menangis, daripada menghajar pria gila ini. Dalam hiruk pikuk kelas, dalam cercaan tiada henti dari , tersirat bayangan Kyungsoo, Wajah tampan berbentuk bulat yang selalu menghiasi harimu, tawanya yang bagaikan tawa bayi kecil, bibirnya yang berbentuk hati merah menggoda, dancenya yang agresif, matanya yang bulat bagaikan bola mungil… semua itu bergerak cepat, membuatmu begitu terpuruk. "Maaf… Maafkan…. Maafkan aku, aku tak bisa melindungimu…. Jagiya" bisikmu dalam tangisan.
Sebelum mampu untuk melanjutkan "siksaan" yang ingin sekali dia berikan kepadamu, bel tanda pelajaran selesai berdering nyaring, menutupi tawa dari para mahasiswa.
"Ok, karena Mr. Kim tidak Mampu menjawab kuis yang saya berikan, maka anda harus mengerjakan tugas hal. 364. Oke, terima kasih, , Anda boleh kembali ke tempat duduk.
Part 3. Four Seasons in My Heart
Suasana di kantin begitu ramai siang itu, suara ricuh dari berbagai arah. Ada yang makan, ada yang asyik bercakap-cakap dengan temannya, ada yang berusaha belajar bersama, dan sebagainya. Dan kamu sedang bersama Nei berada di pojok kantin, dibawah pohon rindang. Kamu masih tidak dapat melupakan kata-kata yang dilontarkan , sedangkan Nei tetap sabar untuk menenangkan dirimu.
Nei: "Joon Myeon, jebal, jangan menangis lagi, ne?"
Joon Myeon: "Aku benci sekali dia. Kenapa aku tidak menonjok saja dirinya, aku benci… diriku…"
Nei: "Joonmyeon-ah. Apa yang terjadi pada dirimu hari ini? Kenapa kau menjadi seperti ini? Hari ini engkau tidak belajar sama sekali, bukankah engkau yang paling cerdas di antara satu angkatan kita? Kenapa engkau menjadi cengeng ketika mencacimu di depan kelas? Bukankah engaku yang selalu menasehati untuk tegar dalam keadaan apapun? Kamu kenapa sih?"
Joonmyeon: "Nei… maaf… aku tidak bisa…"
Nei: "Kamu selalu begitu. Kamu sama seperti lelaki yang lain, selalu berusaha menyimpan rahasia, kalian semua lelaki sama saja, selalu berusaha menyimpan kesedihan dan masalah kalian sendiri. Aku ini siapamu, Joonmyeon?"
Tiada angin, tiada hujan Nei mulai menangis, tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tak heran, seluruh penghuni kantin memandang kami seakan-akan telah terjadi perselisihan antara sepasang kekasih. Kamu yang merasa bersalah, berusaha menenangkan Nei.
"Nei, tolong, kamu jangan menangis lagi, ne? Please, nanti wajah cantikmu hilang."
"HUEEE… JOONMYEON JAHAT. Baru tahu kalau aku cantik?" jawab Nei dibalik isak tangisnya,
"Iya. Aku baru tahu," jawabmu sedikit kebingungan, dan sedetik berikutnya, engkau benar-benar menyesali jawaban yang telah engaku berikan.
"HUEEEE… JOONMYEON, KAU JAHAT! KAU MELUKAI PERASAAN KU." Nei semakin menjadi-jadi, tangisnya semakin kencang, semua kegaduhan di kantin mulai berangsur menghilang, digantikan bisik-bisik dari seluruh penghuni kantin yang tak berhenti mencuri pandang serta menunjuk ke arah kami.
"Jebal, Apa Yang harus aku lakukan untuk berhenti Membuatmu menangis, ayolah, seluruh orang sudah memandangi kita," bisikmu kepada Nei.
"BIAR SAJA. BIAR MEREKA MENGETAHUI BETAPA KEJAMNYA SEORANG KIM JOONMYEON!" raung Nei.
"Ayolah, Nei, jangan sampai aku menggendongmu dan membawamu pergi dari sini." ancammu gusar.
Sesaat Nei mulai diam, sepertinya dia takut dengan ancaman itu, "Baiklah…. aku akan berhenti menangis… asal kamu memenuhi apa yang aku minta." jawab Nei perlahan-lahan.
"Baiklah apapun, asal kamu berhenti menangis," jawabmu pasrah.
"Baik. Pertama kamu harus menjawab pertanyaanku yang pertama," wajah Nei muncul dari kedua tangannya, memancarkan keseriusan.
"Pertanyaan yang mana?" tanyamu bingung.
"HUEEE… JOONMYEON, KAMU MENJENGKELKAN!" raung Nei lagi. Tapi kali ini kamu segera menyumpal mulutnya dengan sandwich yang telah Kamu pesan. Bye bye lunch, pikirmu murung.
"Enak!" Nei berkata sambil mengunyah sandwich isi tuna, makanan favorit kalian. "Sudah tidak menangis?" tanyamu menahan dongkol. Terkadang kamu merasa teman baikmu ini menjengkelkan.
"Kamu yang bodoh, Kim Joon Myeon! Jelas-jelas aku tadi bertanya mengapa kamu aneh sekali, tidak memperhatikan pelajaran, menantang dosen, apalagi menangis di depan kelas?" Nei berkata-kata sambil menyeruput es jeruk milikmu.
"Hei, itu es jerukku!" kamu berusaha mengambil, tapi…
"Aku akan menangis lagi!" Nei mengancam sambil terus meminum es jeruk itu sampai tandas. Kamu hanya bisa pasrah melihat makan siang seharga 2000 won-mu tandas.
"Baiklah, aku akan menjelaskan, apa yang sesungguhnya terjadi…" jawabmu. Kamu mulai menarik nafas dalam.
Aku ini lelaki, dan Lelaki pantang berbohong kepada temannya, pikirmu.
Sesaat kamu menutup matamu, menarik nafas dalam-dalam, membiarkan angin siang menerpa wajahmu. Perlahan kau ungkapkan rahasia yang engkau simpan. Rahasia yang membuat mereka pergi selamanya…
"Nei, kita telah lama menjadi teman, dan sejak kecil yang kamu tahu, aku telah yatim piatu. Aku tak pernah menceritakan sesunggunhnya kepadamu mengenai keluargaku, sesungguhnya…. keluargaku membuangku ke panti asuhan pada usiaku yang ke 12 tahun, karena mereka merasa aku adalah aib keluarga.. aku mengidap penyakit … aku…. aku seorang gay…"
"Joon…" Nei memandangmu dengan pandangan tak percaya.
"Aku tak pernah tahu mengapa ini terjadi, mengapa aku terlahir seperti ini. Ketika keluargaku tahu bahwa aku gay, mereka menitipkan aku di panti asuhan supaya aib keluarga sepertiku bisa disingkirkan sebelum nama besar keluargaku tercoreng. Awalnya aku merasa bahwa hidup di panti asuhan akan membuatku lebih baik. Namun, Sebaliknya. Di panti asuhan itu, aku begitu menderita. Orangtuaku, kenyataannya, tidak ingin aku , aib keluarga, dapat hidup bahagia. Mereka membayar penjaga panti asuhan supaya memperlakukan aku sebagai itu usiaku barulah 12 tahun. Kehidupanku berubah total, dari kemewahan berlimpah di Seoul, menjadi kemiskinan dan kekurangan di kota Busan. Selain penderitaan menjadi babu, aku masih harus mengalami penderitaan batin lainnya. Dengan kejam penjaga panti asuhan memberitahukan kepada anak-anak panti bahwa aku gay. Anak panti sering sekali menghina, mencaci-maki, serta tak segan-segan untuk menyakitiku. Mereka menganggap aku ini tidak berguna, aku ini orang 'sakit'".
"Orangtuaku tetap mengirimkan uang, dan mengatur supaya aku tetap bersekolah. Ketika usiaku 17 tahun, aku kabur dari panti asuhan itu. Dan berpindah dari Busan kembali ke Seoul. Aku berusaha mati-matian untuk hidup, sampai ahkirnya aku dapat beasiswa dari pemerintah, dan dapat kuliah di Seoul National University ini."
"Aku tahu, kamu pasti sangat terkejut mendengar kenyataan ini. Aku tak pernah menceritakan ini kepadamu, sebab aku tak ingin, kau pergi dari hidupku, aku sungguh kesepian selama ini, tak pernah ada yang mau menjadi teman dari pemuda miskin sepertiku ini."
Nei hanya bisa memandangmu, air mata membasahi kedua pipinya. Kamu mengusap air mata itu dengan sapu tanganmu.
"Aku tahu ini menyakitkan, tapi aku telah berjanji kepadamu, menyatakan segalanya kepadamu. Ingatkah engkau, 2 tahun yang lalu, di ulang tahunku, kau menghadiahkan kaset EXO-MAMA? Pada awalnya , sesungguhnya, aku tidak menyukai hadiah , seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan aku mulai menyukai album itu. Dan Kemudian, tanpa aku sadari, aku jatuh cinta kepada D.O Kyungsoo.
Seiring Berjalannya waktu, semakin aku mengenal sosok D.O Kyungsoo. Setiap kali aku memandangnya, mendengarkan Suaranya, melihat keindahannya, aku menyadari telah tertanam suatu bibit. Bibit cinta di dalam hatiku. Aku tidak tahu apakah bibit cinta yang akan membawa kebaikan dan cinta kasih dalam hidupku, ataukah bibit yang hanya akan membawa cinta yang pahit? Aku tidak kurawat bibit yang telah tertanam itu, biarlah waktu yang menjawab segalanya."
"Benih itu akhirnya tumbuh. Semakin besar, dan semakin dalam. Aku menyadari cinta ini adalah cinta yang akan membawa kebahagian di dalam hidupku. Maka tak ada sesal bagiku telah merawat bibit itu. Cinta ini kuibaratkan sebagai pohon bunga sakura. Tumbuh dengan kokoh dan tegar. Dengan berjalannya waktu, tiba saatnya musim semi di hatiku, pohon sakuraku mulai memekarkan bunganya. Berwana jingga, cantik, dan manis. Jikalau aku pohon sakura, maka dirinya adalah bunga sakura. Apalah arti pohon tanpa bunga? Jelas pohon hanyalah seongok kayu yang tak berarti tanpa adanya bunga yang menghiasi. Sehingga jelas, betapa aku membutuhkan dirinya, bunga sakuraku."
"Namun dalam perjalanan cinta, tak mungkin semua berjalan mulus. Ada saat nya, rasa cemburu, sedih, marah, gundah meliputi kalbu. Tak terhitung banyak kali aku berusaha melupakannya, membuang semua barang yang berhubungan dengan dirinya. Berusaha menghapus dirinya dari hatiku. Saat itu lah, bunga sakura di hatiku akan gugur. Bunga-bunga itu terbang bersama angin musim semi, terbang dan menghilang ke angkasa, membawa semua kenangan indah tentangnya pergi dari benakku."
"Di saat itu, aku berusaha menghabiskan hari-hariku dengan kesenangan. Mencari hiburan, menikmati indahnya kebebasan yang ditimbulkan dari kepergian perasaanku kepadanya. Aku merasa begitu bebas, tidak harus cemburu ketika dia bersama member lain, merasa gembira ketika menikmati melihat lelaki yang lain tanpa harus merasa bersalah. Saat itu lah musim panas tiba di hatiku. Kubiarkan keindahan dan kesenangan musim panas menghiasi hari-hariku."
"Tanpa kusadari, Kesenangan di musim panas telah berlalu, musim gugur datang. Aku merasa bingung, apakah yang terjadi? Ahkirnya kusadari, kesenangan musim panas telah berlalu, kini kuhadapi musim gugur. Semua kesenangan sesaat yang ku lalui, lambat laun berlalu, menghilang dan pergi. Aku merasa semua keindahan dalam hidupku pergi, berlalu. Pernahkah engkau melihat daun yang berguguran di musim gugur? Berwarna kuning dan merah, indah, tapi tak berarti lagi, sebab daun-daun itu telah . Selayaknya Semua keindahan di musim panas itu, berlalu, ditelan musim gugur."
"Musim dingin datang, hatiku terasa beku. Tidak ada sinar mentari yang menyinari kalbuku. Semua terasa begitu dingin, gelap. Betapa aku merindukan bunga sakuraku. Kusadari Betapa bodohnya aku, melupakan dirinya, sosok yang kucintai. Semuanya terasa dingin, beku, sebeku es di hatiku. Kini kusadari, dirinya lah yang memberikan kebahagian sesungguhnya, dan betapa aku merindukkan dirinya."
"Kulupakan semua cemburu, iri, dan kesedihanku. Kutanam kembali pohon sakura yang telah mati. Pada ahkirnya, musim semi datang, pohon sakura kembali tumbuh di hatiku. Kusadari betapa indahnya dirinya, cintaku, bunga sakuraku di musim semi."
"Nei, kamu bisa lihat, betapa aku mencintai D.O, aku tahu bahwa hal yang kulakukan ini bodoh, tapi aku tidak mungkin bisa membuang perasaan ini, cinta ini. Sudah berulang kali aku berusaha melupakan dirinya, dan kehampaan yang kurasa. Aku mencintainya, dan tidak mampu aku melupakannya."
"Dan hari Ini, telah mengina dia, menghina D.O, bunga sakuraku. Lelaki yang kucintai dihina, dicaci-maki, kamu pasti mengerti, bagaimana sakitnya hatiku? Sejujurnya, aku tidak bisa menerima caci-maki itu, ingin sekali aku menghajar ahjussi itu, tapi aku tahu, itu hanya akan memperburuk keadaanku. Pada akhirnya, aku hanya bisa meneteskan air mata, menahan sakit."
Setelah kamu menceritakan semuanya, terjadi kebisuan di antara kalian berdua. Nei tertegun, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir tebalnya. Kamu hanya menunduk, menyiapakan diri untuk semua resiko terburuk yang mungkin terjadi. Lima menit berlalu dengan kebisuan di antara kalian, hanya ada goyangan dahan pohon tempat kalian berteduh. Sesaat kemudian, Nei beranjak dari tempat duduknya,"Nei…" bisikmu lemah, berusaha menahan dirinya.
"Lepaskan aku, Joonmyeon…" Nei melepaskan tanganmu, dan beranjak pergi.
Kamu hanya bisa tertunduk lemah, sekarang teman terbaikmu telah pergi. Seperti yang dilakukan semua orang ketika mereka mengetahui "penyakit" yang engkau derita. Kamu hanya bisa memandang Nei yang pergi semakin jauh, hingga hilang tertelan kerumunan orang. Segalanya terasa begitu sunyi, seakan waktu telah berhenti berputar. "Farewall, my dear friend"
