Hallo, saya newbie disini hehe. Nama jepang saya sebenarnya Anicchi Kurosawa tapi panggil aja kuro atau sacchi (banyak maunya) saya masih berumur 14 tahun. Ohya, saya akan berusaha keras saat membuat cerita disini. Tapi kalo kenyataannya kurang memuaskan, maaf sekali yaaaaa hehe. Trus kalo ada yang kurang apaaa, silahkan diberitahu hehe.
Mohon bantuannya! ^^
Disclaimer : Natsume
Character : Semua karakter yang ada di mineral town, hehe
Claire, seorang gadis dari kota Crystal yang sebenarnya sempat kehilangan ingatannya. Termasuk ingatannya di Kota Mineral 12 tahun yang lalu. Saat ia kembali dari kota, ia mendapatkan 2 pilihan tentang orang yang ia cintai. Siapakah yang akan ia pilih?
`Chapter 1`
-Claire (POV)-
Aku berjalan dengan langkah gontai menjauhi pelabuhan, masih sambil membawa koper dan tas kecilku yang berwarna peach. Perasaanku setelah turun dari kapal belum kunjung membaik. Aku memang benci naik kapal atau sesuatu yang melewati laut yang luas dan memakan waktu berhari-hari untuk sampai ke tujuan. Itu selalu membuatku merasa mual dan pusing walaupun aku sudah menginjakkan kaki di tanah.
Aku memutuskan untuk duduk sambil bersantai di atas pasir pantai yang berwarna putih. Eh, tapi ngomong-ngomong ini musim panas, kan? Mengapa pantai ini sangat sepi? Beda sekali dengan keadaan di kota Crystal. Ramainya bukan main. Dimana-mana hanya ada pemandangan perempuan yang memakai bikini bersama laki-laki setengah telanjang, atau keluarga yang sedang bersantai dengan suka cita.
Setelah puas beristirahat, aku berencana untuk langsung ke rumah walikota disini, kalau tidak salah namanya Thomas. Tapi aku tidak tahu dimana letaknya. Aku harus bertanya kemana, ya?
Aku celingak-celinguk untuk melihat keadaan sekitarku. "Ah, disana ada sebuah restaurant kecil. Aku akan masuk dan bertanya kepada pemiliknya," gumam Claire.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat menuju arah restaurant tersebut.
-Kai (POV)-
"Huh, si tua Bangka itu sangat menyebalkan! Cerewet! Padahal aku sudah bekerja keras untuk membuat kalung itu tapi tetap saja ia mengoceh. Dia tidak tahu betapa merananya aku yang tidak memiliki jam waktu tidur yang banyak selama 5 hari berturut-turut hanya untuk pesanan kalung brengsek itu!" oceh Gray tanpa henti. Lalu ia meminum sake yang berada di tangannya.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kau ke Inn saja, istirahat yang cukup. Dan jangan minum-minum lagi," kataku sambil mengambil botol sake dari tangannya.
"Hei! Itu milikkuuu!" protes Gray.
"Ha! Enak saja, sudah 3 botol kau habiskan persediaan sake milikku untuk musim ini. Kau juga sebenarnya tidak kuat minum kan?" Aku duduk di depan Gray.
"Tidak, aku kuat minum kok! Cepat berikan—"
KLANG !
Suara kaleng yang menandakan ada pelanggan datang berbunyi. Diikuti suara seorang gadis yang terdengar riang dan semangat.
"Selamat siang," sapa seorang gadis berambut pirang lurus sepinggang sambil membungkukkan kepalanya. "Selamat siang," kataku.
"Kau benar, Kai. Sebaiknya aku pulang saja. Bayar ganti (hik) rugi sake-mu nanti saja ya? (hik)" Gray berkata dengan nada yang berantakan karena cegukan. Aku menoleh ke arahnya. Lalu mengangguk cepat. "Oh, oke! Hati-hati bro," kataku sambil memerhatikan Gray yang sedang berjalan dengan langkah yang...seperti zombie. Haha, itu menurutku.
Gadis pirang itu masih di depan pintu saat Gray berjalan mendekatinya. Dia mengernyitkan dahinya sekilas. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tapi tiba-tiba tangan kiri Gray memegang bahu gadis itu. Refleks gadis itu memundurkan langkahnya dengan cepat sebagai respon kaget. Sayangnya, kaki indah milik gadis itu tersangkut pada salah satu kursi sehingga ia jatuh ke belakang dan membuka pintu restaurantku.
Dan Gray, yang menopang tubuhnya lewat tangan yang berada di bahu si pirang juga ikut terjatuh. Parahnya lagi, ia terjatuh tepat diatas gadis itu.
-Claire (POV)-
Aku terjatuh ke belakang sehingga pintu restaurant ini terbuka lebar. Beberapa detik sebelum aku sempat bangun, Laki-laki yang terlihat mabuk ini jatuh tepat di atasku dan kepalanya terkulai lemas di sekitar leherku.
Rasanya sekarang wajahku memerah.
Kedua tanganku memegang bahunya, bersiap-siap untuk mendorongnya ke tempat lain. Tapi kenyataannya aku tidak bisa, dia terlalu berat untukku.
"To-tolong bantu aku mengangkatnya," pintaku lirih sambil bergerak-gerak dengan gelisah.
Tiba-tiba seorang berjubah putih bersama wanita berbaju biru dengan rambut pendeknya membantuku menyingkirkan laki-laki ini saat orang yang ada di restaurant tadi sedang berlari ke arahku.
"Dokter Trent! Elli!" seru Kai. Wanita berambut coklat yang ternyata bernama Elli itu tersenyum karena mendengar namanya dipanggil. Sementara Dokter Trent mengamati si pemabuk ini.
"Ia terlihat kurang sehat, wajahnya pucat sekali. Kai, bantu aku membawanya ke klinik!" ujar Dokter Trent cepat.
"Tapi—aku harus menjaga restaurantku. Kalau ada yang—"
"Ternyata kau lebih memilih restaurantmu ya, daripada sahabatmu?" tanya Elli
"Eehh, bukan begitu.. uh baiklah"
Akhirnya Kai mengalah dan segera membopong Gray dari sebelah kanan, dan Dokter Trent di sebelah kiri. Aku memutuskan untuk membuntuti mereka dari belakang. Karena mereka adalah sumber informasiku tentang dimana letak rumah walikota di kota ini.
Chapter 1 selesaaaaiii ehehe, maaf ya kalo masih pendek banget. ehehe mohon di review yah :D
