Land Of Miracle
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair: you-know-who? I guess, you have known.
Rate: T, T+ and M
Genre: Adventure and Romance
Warning: OOC, YAOI, AU, Magical world, typos, and many more.
Land Of Miracle
'Para Guard tengah mencarinya. Mencari tahu keberadaan Sang Pangeran yang melarikan diri. Entah apapun itu alasannya. Yang pasti, tak ada Guard yang boleh kembali sebelum menemukan Sang Pangeran. Hukuman mati menanti di tiang gantung maupun pancung bagi mereka yang pulang tanpa memborgol tangan Sang Pangeran. Tak ada alasan untuk menolak bagi mereka yang mengaku sebagai pelayan istana. Bahkan, Sang pengasuh Pangeranpun tak tahu kemana perginya pewaris tahta kerajaan sihir itu. Mereka mencari, tanpa tahu kemana tujuan mereka.
Dan Sang Pangeran menyeringai di tengah-tengah hiruk pikuk pedesaan yang kusam.'
Blak...!
" Huh, ada apa Kiba? Kenapa menutup buku yang sedang ku baca? Aku bahkan belum menandai halamannya." Gerutu seorang pemuda yang saat ini tengah memajukan bibirnya. Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan penuh kekesalan.
" Kau tahu, ini pelajaran Asuma-sensei, kau bisa mati jika ia tahu kau membaca buku di jam pelajarannya, bodoh." Ucap pemuda yang dipanggil Kiba itu pelan, nyaris berbisik.
Si lawan bicara menggerakkan tangannya di udara. " Seperti kau tak tahu saja, aku sudah berkali-kali dibunuh Asuma-sensei. Aku tak takut, hanya berdiri di depan kelas, aku sudah biasa, Kiba."
" Ya, aku harap kali ini Asuma-sensei benar-benar membunuhmu. Biar kau kapok, Naruto."
Pemuda bernama Naruto itu terkikik kecil. Ia meraih pulpennya yang tergeletak di atas meja dan mulai menulis apa yang ada di papan tulis seperti apa yang dilakukan teman sebangkunya.
" Naruto punya banyak nyawa."
Kiba menghentikan gerakan tangannya. " Lagipula, aku lihat kau selalu membaca buku itu. Kuhitung sudah kelima kalinya bahkan mungkin lebih. Apa tidak bosan?"
" Aku menyukai buku ini Kiba." Ucap Naruto tanpa menghentikan gerakannya.
" Apanya yang bagus dari buku fantasy itu? Mana ada dunia sihir? Mana ada Pangeran sihir dan blablabla.." ejek Kiba sarkastik.
" Kau tidak tahu bagaimana sempurnanya dunia dalam buku ini. Aku benar-benar memimpikan bisa hidup di dunia seperti itu." Ucap Naruto sembari tersenyum. Ia mengalihkan tatapannya kembali pada papan tulis.
" Yah, mungkin lebih baik kau menjadi kutu buku dadakan dari pada orang itu." Kiba menunjuk seorang pemuda yang tengah menenggelamkan kepalanya di permukaan meja dengan dagunya. " Tukang tidur."
" Aku memang suka tidur, tapi aku tidak tuli." Pemuda berkuncir yang ditunjuk Kiba mendengus sedikit mengangkat wajahnya. Seketika wajah Kiba berubah ekspresi.
" Maaf, Shikamaru. Ku kira kau tertidur."
" Merepotkan." Ucap Shikamaru pelan kemudian kembali menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangan yang dilipat di atas meja.
Naruto tertawa kecil. " Pacarmu itu..."
" Dia bukan pacarku tahu." Kiba nyaris saja berteriak jika tak segera mendapat tatapan tajam dari Naruto. wajahnya memerah.
" Kau pikir aku tak tahu? Aku kenal kau sudah dari bayi, Kiba. Semuanya, aku tahu tentangmu. Termasuk dia." Naruto menunjuk Shikamaru.
Kiba tak menjawab. Ia hanya menggerakkan tangannya kemudian menjitak kepala pemuda blonde itu cukup keras. Membuat Sang empu meringis memegangi puncak kepalanya yang berdenyut. Pemuda itu manis itu merengut.
" Naruto, Kiba. Apa kalian sudah selesai? Jika sudah silahkan berdiri di depan kelas." Terdengar suara tegas penuh intimidasi dari Asuma-sensei yang tengah berdiri di depan kelas.
Kiba menatap Naruto penuh tuding. " Awas kau!"
Naruto hanya terkikik kecil sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal kemudian beranjak mengikuti Kiba menuju tempat hukuman.
Ini kali kedua dalam minggu ini. Cukup memalukan, terlebih bagi Kiba di hadapan Shikamaru.
. – .
Naruto membanting tubuhnya di atas kasur. Membiarkan seragamnya yang lusuh semakin koyak. Hari ini ia cukup lelah karena insiden jam pelajaran Asuma-sensei tadi pagi dan aksi petak umpet bersama Kiba. Seharian ini ia harus menahan dirinya agar tak membunuh sahabatnya itu karena dengan berani menyembunyikan buku berjudul ' Land Of Miracle' miliknya. Buku karangan seorang penulis bernama Rikudou. Itupun nama belakangnya telah terkelupas saat pertama kali Naruto meraihnya dalam dekapannya.
Naruto mendesah pelan. Menatap langit-langit kamarnya yang gelap karena lampu remang di atas meja kecil di sisi tempat tidurnya. Tangannya bergerak menggores udara di atasnya. Menggambar pola-pola abstrak yang ia sendiri tak tahu apa maknanya.
Mengusir lelah mungkin?
Itu hipotesisnya sendiri.
Pemuda pirang berwajah manis itu tersenyum tipis. Membayangkan sahabat baiknya menjalin hubungan dengan pemuda nanas itu. Mungkin akan terlihat aneh. Tapi itulah seninya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?
Tak ada kekasih. Tak ada yang lain. Naruto masih cukup bahagia hidup sebagai remaja kelas dua sekolah menengah tanpa seorang kekasih di sisinya—
Karena buku inilah yang menemaninya. Buku yang ia dapat dari penjual buku bekas di sudut pasar yang kumuh. Buku ini membuatnya memimpikan dunia yang ideal. Melahirkan ideologi yang idealis dengan kesempurnaan tata aturan yang mengagumkan. Negeri penuh dengan keajaiban sihir yang tak pernah dibayangkan oleh manusia modern saat ini.
Tangan Naruto telah beralih memeluk buku tebal itu. Buku dengan sampul coklat gelap dan kusam – ingat berapa kali Naruto harus datang ke tempat penjilidan untuk memperbaiki buku itu. Hampir koyak karena Kiba menjatuhkannya – membuat Naruto lebih memiliki semangat untuk tersenyum.
Ayah dan ibunya lebih memilih mengurusi pekerjaannya yang menumpuk dari pada mendengar putra semata wayangnya bercerita tentang buku yang ia baca.
" Pangeran Sasuke, bagaimana wujudnya? Lalu seberapa cantiknya Putri Sakura itu? Sampai-sampai Pangeran Sasuke melarikan diri dari istana untuk dapat bersamanya." ucap Naruto mengeratkan pelukannya pada buku itu.
Matanya menerawang membayangkan dunia penuh keajaiban terbentang di hadapannya. Dunia tanpa rasa terabaikan. Semua bisa terjadi hanya dengan mengatakan mantra sihirnya. Ajaib.
Naruto tersenyum sebelum kemudian memejamkan matanya. Membiarkan dirinya terseret dalam arus mimpi-mimpi tentang dunia ideal dalam buku itu. Melahirkan pemahaman tentang dunia impiannya.
Mengabaikan sinar biru yang berpendar di kegelapan malam dari sampul buku itu.
Sayangnya, semua tak semudah ketika ia membaca bagian awalnya. Ia tentu tahu apa saja yang terjadi dalam kisah yang tertulis di setiap lembar kusam itu. Karena klimaksnya baru akan dimulai. Dan ia yang menentukan jalan ceritanya. Nanti.
Tunggu, ketika keajaiban itu menghampirimu, Naruto.
" Engh..." Naruto melenguh panjang saat merasa hangat mentari pagi menyapa tubuhnya. Ia menggeliat.
Mencoba kembali terlelap – karena menurutnya ini adalah hari minggu – dan kembali menemui mimpinya, Naruto kembali terpejam. Tapi kantuk tak jua kembali sekalipun ia telah merapatkan kelopaknya untuk tetap terkatup. Sinar matahari terlalu hangat.
Tak lama, mata bermanik safir itu terbuka. Beberapa kali mengerjab membiasakan cahaya matahari yang menerobos sel-sel kerucut matanya.
Tunggu!
Kenapa ada matahari di kamarnya? Kenapa tempat tidurnya keras?
Naruto bergegas bangkit. Ia mendudukkan diri dan menatap nanar sekelilingnya. Mata safir itu membulat tak percaya.
Hutan?
Seingatnya tadi malam ia tertidur di tempat tidurnya yang empuk. Seingatnya kamarnya bukan hutan belantara seperti ini. Dan seingatnya buku itu ada dalam dekapannya. Tapi dimana?
Menghilang!
" Eh, ini tempat apa? Aku dimana? Bukunya mana?" Naruto mengedarkan pandangan ke sekeliling sembari merapal kata-kata itu berulang. Seolah hanya itu yang ia tahu.
Pemuda itu mencubit lengannya berharap apa yang terjadi hanya mimpi. Nyatanya, ia merasakan sakit. Itu artinya nyata, kan?
Naruto meremas daun-daun kering di bawahnya. Ia menggigit bibirnya cukup keras hingga bibir merah muda itu memerah. Tak terasa air mata telah terkumpul di pelupuk matanya.
Napasnya tercekat, ia tak dapat mengeluarkan kata-kata. Angin dingin membawa suara yang sayup-sayup mencekam. Terdengar berat dan menggaung. Seperti lolongan serigala lapar yang berebut mangsa.
Naruto menjambak rambutnya kasar. Tak peduli rasa sakit yang tercipta. Pandangannya kembali mengedar. Mencoba menebak tempat apa ini. Nihil. Perlahan namun pasti, Naruto mulai berkeringat dingin. Tubuhnya menggigil. Ketakutan mulai mencekiknya. Ia meraih lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Tubuhnya bergetar.
" Tempat apa ini. Kumohon, siapapun tolong aku..." Lirihnya pada udara yang kosong dan tetes demi tetes air mata yang mulai jatuh.
Dan Naruto merasa sendiri. Benar-benar sendiri.
Karena sebuah perjalanan dan keajaiban telah dimulai. Dengan dirinya sebagai penentu jalan cerita. Ia tak akan bisa kembali jika tak menyelesaikannya hingga akhir.
Semua berada di tangannya, ketika ia memilih untuk merubah jalan ceritanya, kenyataanpun akan berubah. Ia harus mencari jalan kembali tanpa menodai kisah yang sudah ada. Terdengar sulit. Karena kenyatannya memang sulit.
Land Of Miracle, bukan suatu hal yang mustahil untuk dapat kau rasakan, Naruto.
To be continue
A/N:
Fuuh...nggak tahu apa yang saya pikirkan. Pokoknya jari-jari saya menari di atas keyboard yang membuatnya kapalan. Sakit. Berharap fic yang baru prolog ini mendapat respon baik dari para penikmat fanfiksi, saya menulisnya dengan hati-hati.
Ini yaoi. Ingat, yaoi. Meskipun belum terlalu terasa. Yaiyalah, ini baru prolog gitu. Oh iya, chap satu sampe tiga – mungkin – masih rate T, dan akan naik. Mungkin.
Semoga saja, para readers bersedia review. Yah, review apapun gitu. Mau flame, terserah. Mau memuji, terserah. Gak review terserah. Mau review, silahkan. Mau sepuluh tusuk sate, tuh di pinggir jalan ujung komplek. Beli sendiri.
Yaudahlah. Sampai sini saja. Tunggu chap lanjutannya. Jaa~~~
