Prologue

Aku sedang melihat cahaya bulan, begitu indah seterang lampu-lampu di kota. Kuamati orang-orang berlarian mencari tempat berteduh karena saat itu salju turun semakin tebal. Aku duduk berjongkok dipinggir toko kosong sendirian sambil sesekali mengusap kedua telapak tanganku. Bulan mulai menghilang, dan udara dingin bersiap-siap menembus kulitku.

Itukah Ibu? Aku melihat seorang anak laki-laki bersandar manja di bahu wanita yang sangat cantik. Dan aku merasa dadaku terasa sakit, air matakupun tiba-tiba meleleh. Dinginya salju membuat hatiku semakin sakit dan beku.

"Nak warna rambutmu sekelam kabut tapi wajahmu seindah cahaya."

Suara itu tiba-tiba datang mengagetkanku. Pria Inggris separuh baya yang tampak kaya dengan mobil aneh berwarna hitam dibelakangnya, "Apa yang dinginkan pria ini terhadapku?"

Aku melihat matanya berkilauan serupa cahaya bintang, aku merasa dia akan menolongku. Aku tahu jika dewa kematian secepatnya ingin membawaku pergi. Namun Tuhan memberikan jalan lain padaku, mungkin dia menginginkan aku hidup untuk melakukan hal lain nantinya.

"Siapa namamu Nak."

"Lucious," jawabku menggigil.

"Kau sendirian disini tapi aku tidak akan bertanya mengapa kau bisa berada sendirian disini, Namun maukah kau ikut denganku!"

"Apakah menyenangkan berada di tempatmu?"

"Sangat menyenangkan, banyak sekali cokelat dan permen yang bisa kau makan."

Aku tak dapat menganalisa kebohongannya, aku terpana olehnya. Situasi aneh seperti ini tak pernah kurasakan sebelumnya. Spontan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, aku langsung menghampiri genggaman tangannya yang besar dan berkerut. Aku mengikutinya, mengikuti seorang pria Inggris separuh baya bernama Roger.

Suara mesin sangat halus, aku mendengarnya samar seperti suara angin yang pernah kudengar di hutan. Mobil ini sangat enak untuk dinaiki, kursinya juga empuk walaupun aku hanya merasakan dengan telapak kakiku. Kulihat salju juga semakin tebal dan menumpuk yang menghalangi pandanganku untuk melihat ke luar. Tapi supir yang sangat pendiam masih dengan lihainya mengendarai mobil meski terkadang selip karena jalan yang licin.

"Duduklah Lucious! Mengapa dari tadi kau hanya berjongkok?" Suara Roger tiba-tiba mengagetkanku.

"Mengapa kau bertanya karena aku duduk berjongkok, sedangkan tadi kau tidak bertanya alasanku berada sendirian di kota yang dingin, apakah hal yang kulakukan ini membuatmu tertarik Roger?"

Dengan sedikit tersenyum Roger menjawab, "Ya aku tertarik dengan apa yang kaulakukan namun aku tidak tertarik dengan masa lalumu."

"Mengapa?"

"Kau cerewet juga Lucious, yeah,, alasannya adalah aku tak ingin mengetahui kesedihan seseorang, tapi aku hanya tertarik memberikan kebahagiaan bagi orang yang telah merasakan kesedihan, apalagi terhadap anak yang bercahaya sepertimu."

"Kau telalu percaya diri dan naïf Roger, Darimana kau tahu jika aku sedang merasakan kesedihan."

aku tahu karena tanpa berbicara apaun kau langsung menggegam tanganku. Manusia adalah makhluk rapuh, mereka membutuhkan orang lain ketika menderita. Mungkin kau telah mengalami penderitaan yang hebat dalam hidupmu sehingga tanpa sadar langsung menggegam tangan orang yang baru saja kau kenal, aku tahu dari matamu bahwa kau sedang membutuhkan seseorang".

"Yah..Kau menang Roger, alasanku duduk berjongkok adalah karena aku merasa nyaman."

"Ha..ha kau juga menang, baiklah untuk selanjutnya aku tak akan bertanya apa-apa padamu."

Mobil tiba-tiba saja berhenti, Roger membisikkanku jika kita telah sampai. Tanpa sadar percakapanku dengan Roger membuatku melewatkan jalan-jalan yang indah di Winchester. Aku melihat pintu gerbang yang kokoh dengan bangunan besar tua dibelakangnya.

"Wammy House", samar-samar kubaca tulisan di atas bangunan itu. Bangunan berwarna putih yang cukup memikatku. "Masuklah!" kata Roger sambil menepuk pelan bahuku.

Selama ini aku tidak pernah terbangun dari mimpi karena aku jarang sekali tidur. Mereka menyebutnya imsonia akut. Tetapi jika ini semua ini adalah mimpi, aku tidak ingin terbangun darinya. Saat ini aku merasa telah pulang di suatu tempat. Tempat yang membuatku merasa aman.

"Kemarilah Lucious!" suara Roger membangunkan lamunanku. Kuhampiri Roger berdiri bersama dengan seorang pria seumurannya, wajahnya sama lembutnya dengan Roger. Dia menatapku sambil tersenyum, aku merasa nyaman dengan itu.

"Berapa umurmu nak?" Pertanyaannya tidak sama dengan ketika pertama kali aku bertemu Roger, dia mungkin sudah tahu namaku.

"Sembilan tahun," jawabku pelan.

"Oh,,kau masih muda namun matamu mengatakan bahwa kau telah siap dengan jalan hidupmu."

Aku berpikir apakah terdapat suatu hal spesial di mataku. Mengapa Roger dan pria ini selalu menilaiku melalui mata. Aku tak ingin mereka mengetahuinya, aku tak ingin mereka tahu tentangku. Jika mereka tahu mengenai diriku, aku akan menjadi merasa tidak aman.

"Lucious dia adalah Watari, orang ini nantinya akan menjagamu." Begitulah Roger akhirnya memberitahuku tentang pria ini. Aku sedikit terkejut tapi aku tahu jika Watari adalah orang baik. Aku tidak ingin orang lain tahu tentang diriku tapi hal ini terasa berbeda untuk Watari, aku merasa senang jika berada disampingnya. Mungkin aku akan cocok denganya.

"Lucious Lawliet itulah nama panjangku, terima kasih Watari kau mau menerima anak sepertiku". Kulirik Watari hanya tersenyum saja mendengar perkataanku.

"Well L ayo sekarang kutunjukan kamarmu dan terima kasih juga kau telah menerimaku."

Kutelusuri lorong di banguan Wammy House, bangunanya seungguh besar dan Megah. Si Monalisa menyambutku di lorong pertama dan disusul dengan "Jamuan Terakhir" di sampingnya. Apakah Roger menyukai Da vinci pikirku karena banyak sekali kulihat karya-karyanya banyak menghiasi setiap lorong bangunan.

"Berapa anak tinggal di tempat ini Watari?"

"Mengapa kau bertanya seperti itu?"

"Ehm..karena dekorasi bangunan ini terlalu suram untuk anak kecil."

"Beberapa ada yang sebaya denganmu." Watari menjawab dengan senyum simpulnya.

Kuhentikan percakapan ini, aku tidak ingin melewatkan semua dekorasi indah di Wammy House. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya sampai juga di depan pintu kamarku. Aku sedikit penasaran dengan ruangan dibalik pintu tersebut.

Dengan cekatan Watari membuka pintu kamar tersebut, sekilas kulihat ruangan gelap dan besar. Ada sedikit cahaya bulan di dekat jendela namun segera menghilang karena Watari menyalakan lampu kamar ini.

Ruangan itu sangat luas dengan dua kamar tidur besar pula. Sebenarnya aku tak memerlukan tempat tidur besar karena aku dapat tidur dimanapun, namun setelah kupikir-pikir aku akan sulit memperdebatkan masalah seperti ini dengan Roger. Aku tahu Roger berusaha memberikan yang terbaik bagi semua orang.

"Istirahatlah dulu Lucious!"

Dengan lembut Watari menutup pintu kamar. Badanku memang sangatlah letih, aku memang harus beristirahat. Kudengar dari jauh suara gonggongan Anjing. Apakah itu suara anak Srigala yang ditinggalkan oleh induknya atau kelompokya?, kasihan sekali anak serigala tersebut. Mugkin esok aku akan menolongnya karena sangat menyakitkan jika harus terpisah dari keluarga. Dan aku mengerti itu.

Selamat datang di keluarga barumu Lucious.