Eiji Notes : Aloha minna (^o^) Karena Ei, lagi suka banget ama orang pengidap bipolar disorder ( Kepribadian ganda ) jadi kepikiran buat bikin fic ini.. xD. Yah.. ini bukan fic pertama Ei tentang orang pengidap Bipolar Disorder, karena sebelumnya Ei udah pernah bikin fic yang temanya kaya gini. Ituloh yang 'Overdose' (7.7) #lirik judul. Oke langsung baca aja yah... (^o^)
Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)
Rate : M
Pairing : SasuFemNaru
Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima, alur kecepetan. Cerita aneh bin Gaje. Yang gak suka tinggal click back.
.
.
Gak suka ! Gak usah baca !
.
.
Summary : Cintanya begitu tulus untuk pria itu. Namun, pria itu justru menyakitinya. Hatinya yang dulu selalu memancarkan kebahagiaan kini dipenuhi oleh rasa sakit dan kebencian.
.
.
Happy Reading Minna... (^o^)
.
.
Scar
By.
Namikaze Eiji
.
.
Malam ini langit kota Konoha tampak gelap, bulan bahkan tak menampakan sinarnya. Didalam sebuah mansion mewah, terdapat kedua insan yang tengah memadu kasih dengan sedemikian rupa dan berharap bahwa usaha mereka kali ini akan membuahkan hasil.
Tak ada desahan disela-sela kegiatan bercinta mereka, membuat kesan aneh jika seseorang mengalami keadaan yang sama dengan adegan yang sedang mereka mainkan. Tapi cukup wajar bagi sang pria jika 'wanitanya' tak pernah melakukan yang menurut sebagian besar kau adam sangat menggairahkan jika didengar.
Karena...wanitanya punya luka.
Yang mungkin, tidak pernah ada obatnya.
Bahkan, dengan kehadirannya sekalipun.
Tubuh keduanya menegang saat pelepasan itu datang. Melepas apa yang mereka ingin lepaskan dari tadi. Kenikmatan yang begitu berarti untuk sang pria. Sedangkan, sang wanita hanya memejamkan matanya erat saat pelepasan itu datang seakan meresapi apa yang baru saja mereka dapatkan. Tapi, sang pria cukup tau jika gadisnya bukan menikmatinya.
Dan, itu cukup menambah lukanya setiap hari.
"Ambilkan obat pencegah kehamilanku." nada datar dan dingin itu keluar dari mulut wanitanya dan dengan bodohnya ia justru menuruti perintah itu. Rasa sakit mulai menggerogoti hatinya. Ucapan wanitanya barusan seolah menegaskan betapa ia menyesal memiliki suami sepertinya. Dan betapa dia tidak menginginkan anak dari benih yang ia tanam, seakan hal itu begitu menjijikan.
Sasuke terus memperhatikan kegiatan rutin istrinya sehabis bercinta dengannya dalam diam. Naruto mengambil beberapa butir obat pencegah kehamilan itu lalu meneguknya dalam satu sentakan penuh. Didepan pria yang berstatus suaminya.
Seakan hal itu tidak berarti apa-apa.
Sasuke. Uchiha Sasuke. Nama suaminya terdengar begitu familiar jika terus ditelusuri. Seorang pengusaha muda yang sangat sukses membawa perusahaannya ke kancah international dalam usianya yang baru menginjak 25 tahun. Seorang pria yang dikaruniai wajah yang begitu rupawan. Pria yang menjadi idaman bagi setiap wanita. Termasuk Naruto sendiri.
Tapi...itu dulu, sebelum luka itu tertancap kokoh, bersama sungai derita yang dialaminya.
"Apa sebegitu menjijikannya mengandung anakku?" Naruto tersenyum meremehkan mendengar pertanyaan Sasuke. Dia tak berniat menjawab pertanyaan itu, karena jawaban yang akan ia berikan akan sama seperti jawabannya sebelumnya. Dan itu cukup untuk terus melukai hati seorang Sasuke.
Namikaze Naruto, ah salah.. Uchiha Naruto wanita yang berumur 23 tahun yang kini berstatus sebagai istrinya merubah tatapannya menjadi tatapan yang sangat datar dan dingin. Mata safir indah itu bahkan mampu membunuh Sasuke secara perlahan. "Kau bisa meminta 'wanitamu' itu untuk mengandung anakmu." ucapnya tajam.
"Ah, aku lupa. Bukankah kau akan menjadi seorang ayah jika saja 'wanitamu' itu tidak mati?" lanjutnya. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan terluka. Tidak berniat membalas ucapan Naruto dengan kata halus miliknya. Setetes air mata bahkan telah meluncur bebas dari mata oniksnya. Membuat Naruto memandang lebih dingin suaminya.
"Kau terlihat sangat menyedihkan jika menangis, Uchiha-san." Naruto menarik cepat selimut tebal dengan kakinya. Menyampirkan selimut itu pada tubuh polosnya lalu meringsek tidur dengan posisi membelakangi Sasuke. Sedangkan Sasuke ia masih duduk mematung meresapi ucapan-ucapan merdu namun begitu menyayat hati yang dilontarkan sang istri.
Sasuke mengadahkan kepalanya, lalu mengikuti kegiatan istrinya. Tangannya melingkari pinggang ramping Naruto memeluknya dari belakang dengan posesif.
Ia memaafkannya.
Yang ia ucap dulu bahkan lebih kejam dari ucapan istrinya.
Detik berikutnya Naruto berbalik. Menahan rahang tegas milik Sasuke, dan meraup bibir pria itu melumatnya dalam dan memagutnya mesra. Ciuman Naruto begitu menuntut dan terkesan egois. Sasuke memejamkan matanya, menikmati setiap lumatan dalam yang Naruto berikan padanya. Hingga saat pasokan oksigen mereka mulai menipis Naruto memutuskan ciuman itu, ia peluk leher Sasuke lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher pria itu. Sasuke sedikit melenguh saat bibir basah itu mengecup dan memberikan hisapan kuat pada lehernya, menimbulkan sebuah bercak kemerahan dileher pria itu. Naruto memang seperti mengidap bipolar disorder ( kepribadian ganda ). Terkadang dia akan menjadi gadis yang sangat periang dan penyayang, dan terkadang dia akan berubah menjadi gadis berhati dingin dan kejam.
Dan itu...mungkin karenanya.
Naruto menaiki tubuh Sasuke, mencoba menyatukan tubuh mereka kembali. Desahan Sasuke terdengar saat milik mereka telah bersatu, sedangkan Naruto hanya menghela nafasnya lirih. Sasuke mendongakkan kepalanya, tangannya merambat naik dan berhenti tepat di kedua payudara Naruto. Tangan itu meremasnya dengan kuat, memilin kedua putinya. Namun, Naruto tak mendesah hanya helaan nafasnya yang tidak beraturan seakan tengah menahan sesuatu.
Naruto mulai menggerakan tubuhnya, bergerak dengan lembut. Sasuke menggeram saat puncak itu mulai datang menghampirinya. Kenikmatan itu terasa sangat kentara saat kewanitaan Naruto meremas miliknya dengan kuat. Bibir Sasuke menggapai bibir Naruto, mengajaknya untuk berciuman kembali. Lidahnya membelit bibir Naruto, ia dapat merasakan salivanya yang tercampur didalam mulut Naruto. Sasuke menghentakkan tubuhnya keras bersamaan dengan cairannya yang menyembur memasuki rahim Naruto. Sasuke memejamkan matanya. Menanti kalimat yang paling menyakitkan yang akan keluar dari mulut Naruto. Yang dia yakin akan terdengar sebentar lagi. "Aku membencimu Uchiha Sasuke dalam setiap hembusan nafasku. Aku akan selalu membencimu."
"Aku sangat mencintaimu." balas Sasuke lirih. Seakan membalas air tuba dengan air susu. Seakan dia pria gila yang masih mempertahankan cintanya pada wanita yang begitu membencinya, mempertahankan wanita itu untuk selalu berada disampingnya.
Seakan dia pria paling baik. Paling sempurna.
Tapi, prediksi itu sangat keliru.
Wanita itulah wanita terbaik di dunia. Wanita paling tegar dan paling kuat didunia. Wanita yang telah Sasuke sakiti hingga kedasar hatinya. Hingga tak ada kata 'maaf' dalam kamus wanita itu untuk Sasuke. Hingga penyesalan itu terus menghujam hati Sasuke terus menerus.
Naruto seharusnya mendapat penghargaan atas kekuatannya menghadapi cobaan hidup ditengah memilukannya kisah cinta dan takdir hidupnya. Naruto juga bahkan layak mendapat predikat bodoh, karena dengan bodohnya ia masih bertahan hingga detik ini.
Bertahan dengan pria yang hanya bisa memberinya luka.
Tanpa bahagia.
.
.
Tbc
.
.
Eiji Note : Gimana minna menurut kalian tentang fic ini? Anehkah? Gajekah? Hadeehhh... (-.-) Tolong dimaklumi ini fic kilat yang Ei iseng tulis dan dengan beraninya Ei publis... :3. Fic ini bukan fic panjang paling 3 atau 5 chapter juga tamat. Makasih yang udah meluangkan waktunya untuk baca fic ini... (^o^)
.
.
Boleh minta ripiw? ^o^
