a/n: Assalamu'alaykum, vea dateng lagi dengan- #digebuk masa karena multichap yang lain terbengkalai# DX Maafkan daku, u/ fanfic Sacrificium Amoris Anemone, udah terjamin sampai end chapter! Terus, Because You're My Love, udah siap sampai chapter 10. Lalu, Amoris Abecedarium udah vea siapkan sampai chapter 11. Jadi, jadi, boleh kan vea publish fanfic multichap baru ? #puppy eyes# #Geplak#
Insya allah, vea akan berusaha menyelesaikan multichap-multichap yang lain DX Do'akan saja ya. Oh ya, alasan vea telat update bukan karena masalah banyak/sedikit review ya, tapi vea pertimbangkan juga waktu yang tepat dan WB yang melanda T_T Hiksu, penyakit yang sangat vea takuti DX
Oh ya, chapter 1 ini masih prolog, tapi pengenalan konfliknya udah muncul. Chapter ini sebanyak 6 lembar Ms. Word, 1418 words (tanpa a/n serta bagian TBC/minta review), cukup panjang ngga untuk sebuah chapter? Kritik dan saran, vea tunggu di review^^
POLIGAMI
Kamichama Karin ; Kamichama Karin chu © Koge Sensei
POLIGAMI © Invea
Warning : GaJe! OOC! Aneh! Ngga Rame! OC! De eL eL
.
.
Kazusa tengah mencuci beberapa wajan yang baru saja ia gunakan untuk memasak. Ia baru saja selesai membuat makan malam dan ia kini tengah membersihkan sisa-sisa kotoran di dapurnya.
Kazusa tersenyum senang. Ia melakukan semua ini tanpa ada rasa beban sekali pun. Sudah hampir 2 tahun ia menikah dengan Jin Kuga, salah seorang artis terkenal. Saat ini keluarga kecilnya telah memiliki sebuah malaikat kecil yang bernama Kuzuka Kuga.
Selesai mencuci, gadis yang selalu memakai hiasan kepala telinga kelinci itu langsung berhias menanti kepulangan sang suami tercinta. Ia merasa sangat bahagia. Seorang suami dan malaikat kecilnya itu adalah pelengkap terindah dalam hidupnya.
"Tadaima," seru seseorang yang datang. Kazusa langsung menuju pintu untuk menyambut suaminya yang baru datang tersebut.
"Okaeri," sambut Kazusa. Wanita itu kemudian tersenyum menatap suaminya yang kini tengah berpeluh. Pria itu menatap Kazusa dengan sebuah senyuman yang sedikit hambar. Raut wajah Kazusa berubah menjadi heran.
"Ada apa, sayang?" tanya Kazusa bingung. Mungkinkah ada sesuatu yang salah dari dirinya?
"Tak apa. Aku mau mandi dulu," Dengan dingin, pria itu langsung menuju kamar mandi. Kazusa hanya bisa melongo heran. Mata biru safirnya menatap punggung suaminya. Ia bertanya-tanya ada apa dengan suaminya itu?
Sudah 2 tahun mereka menjalin hubungan, membina sebuah rumah tangga yang dilandasi oleh pernikahan. Selama 2 tahun itu pula, suaminya selalu memperlakukannya dengan baik. Memang sesekali jika kesal masing-masing pihak memakai panggilan yang mengejek. Namun, tak pernah rasanya sampai sedingin tadi.
Wanita itu terdiam di depan meja makan. Ia melamun memikirkan suaminya. Sesekali dia berusaha mencoba untuk positive thinking. Menyemangati dirinya sendiri.
Mungkin suaminya sedang ada masalah dalam pekerjaannya.
Cklek! Terdengar suara pintu kamar mandi yang baru dibuka. Pria itu keluar dengan sebuah handuk terlilit di lehernya.
"Makan dulu," ujar Kazusa pada Jin. Pria itu hanya menggeleng.
"Aku sudah kenyang," jawabnya. Pria itu langsung pergi ke kamar tanpa sedikitpun menoleh ke arah makanan yang sudah tertata rapi di meja makan. Kazusa menghela nafas. Ia lalu menyusul suaminya.
"Yang, apa kau sedang ada masalah?" tanya Kazusa khawatir. Tingkah laku suaminya saat ini benar-benar berbeda dari biasanya.
"Aku lelah. Biarkan aku tidur," Jin langsung berbalik membelakangi Kazusa. Ia kemudian menyeret selimutnya sampai sebatas dagunya. Kazusa hanya menghela nafas pelan. Ia kemudian mematikan lampu kamar itu. Setelah itu, ia lalu menatap Kuzuka yang telah terlelap tidur sebelum ayahnya pulang. Dielusnya perlahan pipi dari anaknya itu.
Ia kembali menghela nafas. Biasanya Jin selalu menanyakan perkembangan dan kabar anak mereka sembari makan malam. Namun, tidak untuk kali ini. Kuzuka terlelap dalam buaian sang malam. Wajahnya terlihat begitu damai membuat sebuah senyuman terukir di balik wajahnya Kazusa.
'Dia begitu mirip dengan ayahnya, kecuali di bagian hidung, mata dan bibirnya. Di ketiga bagian itu, dia sangat mirip denganku,' gumam Kazusa dalam hati. Ia kemudian mengecup pelan kening bayi kecilnya itu. Setelah itu, ia langsung berbaring di samping suaminya dan terhanyut ke dalam dunia mimpi.
.
.
Kazusa membuka kedua kelopak matanya. Sudah pagi rupanya. Ia bergegas mengganti pakaian dan menyiapkan sarapan untuk suaminya tercinta. Setelah semua makanan tertata dengan rapi di meja makan, Kazusa bergegas membangunkan suaminya.
"Jin, saatnya sarapan," seru Kazusa. Jin lantas membuka kedua kelopak matanya yang masih terlihat berat. Ia kemudian pergi ke kamar mandi, mencuci muka, menggosok gigi dan kemudian mengganti pakaiannya. Setelah itu, ia menatap meja makan yang kini sudah terhidang dengan berbagai macam makanan.
"Ah, kau terlihat tampan. Akan ku siapkan nasinya,"
"Tidak perlu. Aku mau berangkat sekarang," Jin langsung berjalan meninggalkan Kazusa yang hendak menyendokkan nasi ke sebuah mangkuk. Sejujurnya, Kazusa merasa sedikit kesal. Makanan buatannya ditolak lagi―setelah kejadian kemarin malam. Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya?
Kazusa menghela nafas pelan. Ia kemudian berjalan menuju pintu depan―mengantarkan suaminya.
"Kau tidak mau membawa bento?" tanya Kazusa agak khawatir mengingat suaminya belum makan―di rumah―sejak kemarin malam.
"Tidak," jawabnya dingin.
"Baiklah, hati-hati di jalan," seru Kazusa seraya melambaikan salah satu tangannya.
"Ya," Jin langsung pergi tanpa menghiraukan istrinya tersebut. Kazusa menghela nafas. Mungkin, Karin-nee-chan bisa membantu.
.
.
Kazusa terlihat anggun dengan mantel cokelat panjangnya. Ia kemudian menggendong malaikat kecilnya dan menuju ke rumah kakak kembarnya, Kazune Kujo. Sepatu haknya berbunyi pelan ketika ia melangkah keluar dari rumah mungilnya. Cuaca hari itu tak terlalu panas dan juga tak terlalu dingin. Ia pun memutuskan untuk berjalan kaki. Sebelumnya, ia sudah janjian akan datang ke rumah Kazune pukul 12.30.
Sepanjang perjalanan, ditatapnya malaikat kecilnya yang kini tengah terlelap dalam pangkauan kehangatannya. Kazusa tersenyum lembut menatap buah hatinya itu. Tak lama kemudian, ia pun tiba di kediaman Kujo. Karin dengan ramah menyambutnya dan mempersilahkan mereka masuk.
Kazusa kemudian menceritakan sikap aneh Jin semalam. Karin hanya bisa memberikan beberapa nasihat kecil dan membesarkan hatinya. Sesaat kemudian, mereka pun terlihat tertawa bersama dan mulai memperbincangkan hal yang lain.
"Kazune-nii-chan, ke mana?" tanya Kazusa seraya celingukan.
"Biasa. Jam seorang dokter memang benar-benar sibuk," seru Karin seraya mengembungkan pipinya tanda kesal.
"Oh, ayolah, onee-chan! Walaupun begitu, dia bekerja keras untuk hidupmu dan Suzune. Dan bukankah he will always love you? Because you're only one girl in his heart," goda Kazusa. Pipi Karin terlihat bersemu merah karenanya. Kazusa hanya tersenyum lembut. Betapa ia sangat merindukan Karin, kakak perempuan terbaik untuknya.
"Tadaima," Terdengar teriakan nyaring anak laki-laki dari halaman.
"Okaeri," seru Karin. Ia kemudian meninggalkan Kazusa dan berlari ke pintu depan untuk menyambut buah hatinya yang baru pulang dari playgroup, Suzune Kujo.
"Suzune, ayo, kita makan! Ada tante Kazusa juga," ujar Karin. Suzune mengangguk senang. "Tapi, kau ganti pakaian dulu ya! Jangan lupa cuci tangan!" lanjut Karin.
"Baik, kaa-san," Suzune kemudian berlari menghampiri Kazusa. Dengan senyuman lembut, Kazusa pun langsung menyambut keponakannya tersebut.
"Baru pulang, Suzune? Bagaimana harimu di sekolah?" tanya Kazusa. Suzune langsung menaiki sofa, berdiri di sana dan menatap Kuzuka.
"Iya, tante. Hariku sangat menyenangkan! Kuzuka masih tertidur ya? Dia sangat imut," seru Suzune dengan suara yang sedikit pelan. Ia tak ingin membangunkan sepupunya itu.
"Hayoh, jagoan! Cepat ganti bajumu! Kau tak ingin Kuzuka mencium bau keringatmu bukan?" seru Karin seraya menggendong buah hatinya. Suzune hanya mesam-mesem mendengar perkataan ibunya. Setelah turun dari gendongan ibunya, ia kemudian berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
"Kazusa, ayo, kita makan dulu," ajak Karin. Kazusa mengangguk. Ia kemudian menidurkan Kuzuka di kamar Suzune. Mereka bertiga―Karin, Kazusa dan Suzune―kemudian menghabiskan santap siang itu bersama. Penuh dengan kehangatan sebuah keluarga.
.
.
Malam itu, Kazusa kembali menyiapkan makan malam yang spesial. Ia sengaja membuat makanan yang sangat disukai suaminya. Tak lama setelah makanan tertata rapi di meja makan, terdengar suara pintu dibuka. Kazusa bergegas pergi menyambut suaminya.
"Selamat datang, sayang," sambut Kazusa. Jin menoleh hambar pada istrinya. Ia kemudian mengacuhkan Kazusa dan lantas pergi ke kamar. Kazusa hanya menghela nafas. Namun, ia berusaha untuk sabar.
"Air hangatnya, sudah ku siapkan," seru Kazusa. Jin kemudian mengambil handuk. "Terima kasih," ujarnya pelan ketika melewati istrinya. Kazusa hanya tersenyum tipis. Sebuah kata yang tak buruk setelah suaminya memperlakukannya dengan begitu dingin hampir seharian.
.
.
Kazusa duduk termenung di depan meja makan. Ia membayangkan saat-saat dulu menjalin hubungan dengan Jin. Mereka bisa dibilang jarang akur dan sering bertengkar. Namun, semua itu terasa hangat. Ia merindukan kehangatan dari suaminya. Ia merindukan cinta suaminya. Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Ia kemudian menghapus air matanya. Tak lama kemudian, Jin pun datang. Harum sabun menyeruak dari tubuhnya. Wangi maskulin yang khas.
Jin kemudian duduk. Mereka kemudian menyantap makan malam bersama. Namun, suasana di antara mereka begitu hening. Berbeda dengan makan malam yang biasa―yang terasa hangat, penuh canda tawa.
Setelah selesai, Kazusa hendak membereskan bekas makan malam. Namun, Jin menghentikannya.
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, serius," ujar Jin dengan sorot mata yang serius. Kazusa kemudian kembali duduk. Ia menatap suaminya itu.
"Ada apa, yang?"
"Aku sudah memikirkannya sejak kemarin malam. Silahkan kau pilih, kau mau ku ceraikan atau ku madu?" tanya Jin memberi pilihan. Deg! Kazusa tersentak kaget. Wajahnya kini tertunduk. Kedua tangannya memainkan ujung pakaiannya. Ia berusaha tegar. Ia menahan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya untuk tidak mengalir.
"A―Aku―" Tubuhnya kini bergetar. Ia masih shock dengan pilihan yang diberikan suaminya itu.
"Pertimbangkanlah itu. Ku harap besok malam kau sudah memberi tahu jawabannya," sahut Jin kemudian. Ia lantas meninggalkan Kazusa yang masih tertunduk sendirian. Tak lama, terdengar suara pria itu menutup pintu kamar dan berbaring di kasur.
Akhirnya, air mata Kazusa pun tumpah juga. Ia sudah tak sanggup lagi menahannya. Ketegarannya telah roboh. Inikah alasan selama ini suaminya bersikap dingin padanya? Rupanya ada wanita lain yang dicintai suaminya. Oh, betapa ini begitu menyakiti hati wanita berambut pirang tersebut!
.
.
To Be Continued
.
.
Keep or Delete?
.
.
Review Please?
