Erelra present

KagaAka Fanfiction

"Standing in The Flames"

Summary: Reaksi Ayah Akashi setelah kekalahan putranya, sebuah ancaman tentang masa depan. Akashi membutuhkan bantuan. Lalu kenapa yang terpikirkan olehnya justru Kagami Taiga? Pemuda yang mengalahkannya.

Rate: T (untuk sementara)*ketawa laknat*

Warning: Spoiler buat yang belum baca Manga..*bungkuk-bungkuk*

Part 1


Akashi Seijurou, tidakkah itu nama yang menggelikan untuk saat ini?

"Tuan Muda, Selamat Datang.."Seorang wanita tua menyapa pemuda itu dengan tingkah yang terlalu memuakan untuk ia perhatikan.

Wanita itu mengambil jinjingan tas berisi perlengkapan basket pemuda itu. "Ayah?"

Wanita tua itu tetap dalam ketertundukannya, menjawab perlahan. "Tuan besar berangkat ke Amerika besok pagi. Sekarang beliau sedang beristirahat di kamar."

"Oh." Akashi mendiamkan terlebih dahulu beberapa saat informasi itu dicerna kepalanya. Setelah ini bagaimana? Basket bukan sesuatu yang membanggakan lagi untuk ayahnya. Bahkan ia sendiri pun tidak yakin apa ia sudah kembali seperti dulu?

Menikmati basket. Sesuatu yang ia rasakan dulu ketika ibunya hidup.

"Jika Tuan Muda ingin makan malam, kami sudah menyiapkannya." suara wanita tua itu menginterupsi kesadaran Akashi.

"Ya, terima kasih." lalu pemuda itu berjalan perlahan memasuki rumahnya. Meninggalkan wanita tua itu berdiri keheranan dengan pendengaranya, barusan saja.. Tuan Mudanya berterima kasih padanya?

Rasanya sepertinya besok pagi ia akan menemukan berita di televisi tentang sebuah topan besar di Amerika Selatan yang disebabkan oleh kepakan sayap seekor kupu-kupu di rusia.

Terlalu ajaib untuk terasa nyata.


"melamunkan apa?" kuroko mengalikan pandangannya dari hotplate berisi steak di hadapannya. Ia belum menyentuhnya sama sekali.

"Seorang teman lama."

"Akashi?" Sementara pemuda berambut merah darah di depannya menelan potongan pertama dari steak keduanya.

"Ya. Akashi yang lama."

Kagami berhenti menyuap. Untuk beberapa saat keduanya bertatapan dalam kegelisahan yang tak terkatakan. "Setelah ini, apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Kuroko dengan wajah flatnya,"Dia tidak pernah kalah sebelumnya."

"Tidak perlu mengaskan itu berulang-ulang." kagami sepertinya terganggu dengan urusan Akashi ini. Bukannya dia tidak menyadari perubahan pemuda 'gila' itu. Tapi ia sedang berada dalam mood untuk merayakan kemenangannya atas sebuah tim besar macam Rakuzan.

Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan bagaimana perasaan lawan yang baru saja kamu kalahkan.

Kuroko dan kekhawatirannya yang terbaca dengan jelas, bagi Kagami adalah sebuah kebodohan.

"Dengar.. Aku megerti jika kalian sahabat atau setidaknya menurutmu 'saha—"

"Kami sahabat. Kami bersahabat atas nama basket. Dan itu penghargaan tertinggiku pada siapapun."

Kagami mendiamkan kalimat itu untuk beberapa saat. "Apa aku juga ada di tingkat yang sama?"

Entah kenapa Kagami terlanjur kesal dengan hal ini. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan pamit pada yang lain. Meninggalkan wajah flat Kuroko disana.


"Ayah."Akashi menemukan pria itu tengah bangkit dari tempat duduknya di meja makan. Ini konfrontasi pertama mereka setelah kekalahannya kemarin. Sarapan macam begini bukan sebuah permulaan hari yang diharapkan Akashi.

Akashi yakin ayahnya sudah tahu soal kekalahan itu. Karena Ayahnya punya telinga dimanapun ia membutuhkannya. Hidup yang dijalani Akashi adalah hidup yang ditentukan ayahnya dari jauh. Segalanya sudah ditentukan bahkan sebelum ia sempat berfikir untuk memprotesnya.

"Kau."lelaki itu tidak memandangnya balik. Detik-detik berlalu dalam diam yang menyesakan bagi Akashi, untuk sekedar bertahan berdiri. Untuk bertahan sedikit lagi saja.

Mungkin kali ini tidak akan seburuk sebelum-sebelumnya. Mungkin ayahnya akan mengerti. Mungkin ayahnya akan menjadi sosok ayah sekali ini saja.

Sosok ayah yang memberinya perhatian dan kasih sayang. Bukan siluet punggung seorang pria yang berdiri tegap di atas segala kesempurnaan. Atas nama baik keluarga Akashi.

Atas nama kebanggaan.

Atas nama keangkuhan yang harus dipertahankan.

"Kuberi waktu untuk memberi salam perpisahan pada teman-temanmu."

"Maksud Ayah?"Akashi menyesal bertanya. Ia menahan nafas untuk tetap bertahan berdiri.

Permainan kemarin sudah cukup menguras tenaganya, baik fisik atau psikis. Ia tidak butuh berita buruk macam apapun lagi. Ia- untuk sekali ini saja- membutuhkan pemakluman. Meskipun ia mengakui, pemakluman hanya ada bagi mereka yang terlalu lemah untuk membuktikan diri.

Akashi tidak terlalu lemah untuk membuktikan diri. Ia hanya butuh waktu.

Dan sebuah kesempatan,"Kau sudah cukup mendapatkan kesempatan untuk bermain-main. Basket? Hal tidak berguna itu hanya mengganggu fokusmu pada akademis."

Terburu-buru Akashi maju beberapa langkah. Gerakan kilat itu berhasil menahan langkah ayahnya. Membuat lelaki itu menunggu apa yang akan dikatakan sang pewaris padanya,"Aku hanya kalah sekali." Ada penekanan pada pengakuan itu. "Dan tidak akan ada yang kedua kali."

"Apa yang bisa menjaminnya?"

"Apa yang bisa menjamin harga saham perusahaan kita tetap stabil dalam dua jam ke depan?"

Lelaki di hadapan Akashi mengeraskan wajahnya. Kali ini ia menatap remaja itu dengan fokus penuh. "Tidak ada."

"Kalau begitu sama seperti perusahaan kita yang Ayah pertahankan. Aku ingin bertahan. Dan aku akan bertahan. Karena Aku mau bertahan."

Ada kerutan tak suka di kening Sang Ayah,"Pertama, biar kuluruskan sesuatu. PerusahaanKu, bukan perusahaanmu. Tidak pernah ada yang namanya perusahaan kita. Sampai kau mewarisinya secara sah itu masih perusahaanku. Dan jika kau tidak layak mewarisinya, aku bisa menunjuk orang lain untuk melakukan itu. Jangan pernah berfikir karena darah yang mengalir di dalam darahmu adalah darahku Kau punya hak istimewa."

Akashi termundur. Sekali lagi harapannya mengabur. Kabut penolakan tegas menyesatkannya, meninggalkan kesesakan besar di dadanya.

"Dan Kedua, Kata-kataku adalah hukum saat ini. Aku yang memberimu kehidupan. Aku ayahmu, karena itu jadilah berguna untukku." Sang Ayah berbalik.

Ada sepenggal kata protes yang Akashi telan kembali ke tenggorokannya. "Ayah akan urus ke pindahanmu ke Inggris. Kau akan belajar di sebuah sekolah khusus. Beajar tata krama dan belajar menghadapi dunia internasional yang akan kau hadapi di masa depan."

"Itu jika kau tertarik untuk tetap diakui sebagai anakku." lalu sekali lagi yang Akashi saksikan adalah siluet sebuah punggung yang menjauh. Sebuah punggung yang dulu pernah menggendongnya. Tempat ia tertawa bersama ibunya, Akashi pernah punya kenangan indah itu.

Akashi yakin ia memilikinya. Atau setidaknya ia berhasil meyakinkan dirinya selama ini bahwa ia memiliki kenangan semacam itu. Fufufu.. kau punya imajinasi yang bagus ya?

Ada kekosongan besar di hadapan Akashi saat ini. Jika kau tak sanggup, aku bisa mengambil alih sekarang? Hmm?

Sesosok Akashi lain, berdiri di hadapannya dengan senyum merendahkan yang mengancam.

Remaja itu menarik nafas. Cahaya kembali bisa ia tangkap. Ia kembali pada realita. "Baik. Ayah."

Kau yakin? Suara itu sayup-sayup menganggu.

"Aku punya rencana sendiri."sekali ini Akashi tersenyum. Tersenyum untuk segala kesakitan yang ia tahan sendiri di dalam dadanya.


"Kurokocchi! Kurokocchi! Kurokocchiiiii!" Kagami yang sedang tertidur lelap pun bahkan sampai terbangun.

Kise memasuki kelas itu dan langsung memeluk kuroko yang tengah menyapu bagian depan kelas. Seorang anak perempuan yang sedari tadi mengumpat karena ditinggal memebersihkan kelas sendiri jadi menyadari keberadaan kuroko yang ternyata membantunya sedari tadi. Sementara segerombolan anak perempuan langsung berkumpul di depan kelas itu, memperhatikan dengan terpukau model majalah remaja terkenal yang kini ada di hadapannya, Kise Ryouta.

Kagami menguap lebar dan menghampiri kedua orang itu,"ada apa Kau kemari?"

"Akashi hilang!" Kise mengatakan itu dengan wajah dan nada dramatis luar biasa.

"Dasar Pangeran Opera Sabun.." Kagami dengan cuek melewati keduanya tidak perduli. Kuroko nampak ingin memprotes ketidakpedulian Kagami.

Lorong Seirin sudah tak seramai tadi ketika bel pulang berbunyi. Meskipun tadi ia tertidur di jam pelajaran terakhir. Ia sempat mendengar bel pulang yang memekakan telinga itu. Memekakan telinga tapi membahagiakan. Seperti Akashi saja, pikir Kagami. Tidak tepat membahagiakan juga.

Sejak pertandingan Seirin Vs Rakuzan, Kuroko masih sering membicarakan Akashi. Aneh sekali ketika diawal Kagami sama sekali tidak suka mendengar pembicaraan itu. Tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa, dan cerita-cerita tentang pemuda itu yang terpotong-potong membuat Kagami penasaran.

Ditambah Kuroko bukan tipe pendongeng yang baik. Makinlah Kagami ingin tahu tentang Kapten Generation of Miracle itu lebih mendetail. Entah kenapa begitu?

Kagami baru akan melewati gerbang sekolah saat ia mendengar ada yang menyapanya,

"Hei"

Kagami cukup familiar dengan suara itu.

Dan juga wajah datar yang kini dihiasi senyum tipis di hadapannya."Kau?!"

"Menunggu di depan gerbang sekolah siang bolong begini tidak begitu menyenangkan, asal Kau tahu saja.."

"Sedang apa kau disini?"

"menemuimu tentu saja.."

"Untuk?"

Pemuda itu menghilangkan senyumnya untuk sesaat,"entahlah, mungkin berbincang dengan orang pertama yang mengalahkanku akan memberiku sedikit kekuatan untuk bertahan."

"Hah?!" Kagami tidak siap ketika Akashi menarik tangannya. Mendorongnya untuk memasuki taksi yang entah sejak kapan tiba-tiba saja siap sedia mengantar mereka.

Entah kemana?

Dan entah untuk apa?


TBC

A/N:Bagaimana? Saya juga sebenernya belum baca .. Kebetulan temen saya pecinta akashi, di suatu siang yang membosankan sambil menunggu jadwal latihan futsal, karna ga ada kerjaan saya menawarkan diri untuk membuatkan ff sesuai pesanan dia. Maka.. Voilaaaa.. Jadilah ff Kuroko no basuke pertama saya dan pairing yang sebelumnya tidak terlalu menarik buat saya..XD

Jadi sekali lagi.. gimana? Kalau ada yang berminat dilanjut mohon reviewnya ya..:)

FF ini dipersembahkan atas ide dari teman bernama :Sumeragiyuki..:)