SEXY NAUGHTY BITCHY Luhannie

.

.

Author : Xi Alexandrite

Cast : Luhan, Sehun, Kris and Baekyeol

Length : 1/7

Genre : Romance, Fluff,

Rating : M-M MESYUM Maksyimal

Disclaimer : I don't own anything but this FanFict. Luhan is mine, tbh. :P

.

.

Summary : Luhan bersemangat melanjutkan kuliahnya ke Korea karena ia akan tinggal dengan sepupunya yan to the M A X!

.

.

.

.

.

.

Sexy Naughty Bitchy Luhannie

.

HunHan

Special for -HunHan Bubble Tea Couple- event.

HUNHAN IS REAAAAAAAAAAAL.

If you don't believe it, just set yourself on fire.

Yaay!

.

.

.

.

.

Excited!

Luhan begitu excited menjalani hari – harinya di Seoul. Bukan hanya karena ia diterima di perguruan tinggi yang selama ini diidam – idamkannya, tapi juga karena ia akan tinggal dengan Kris dan Sehun! oh Tuhan. Dua orang sepupunya itu sekarang sudah berubah jadi pria – pria sexy yang tidak kalah dengan yang ia lihat di majalah dewasa yang selama ini ia koleksi. Seingatnya dulu Sehun itu sering sekali menangis, manja dan cengeng, tapi sekarang... wuih~ jauh berbeda. Terakhir kali mereka bertemu saat Luhan berusia sepuluh tahun, dan sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu, mereka akan berkali bertatap muka secara langsung. Tidak lagi sekedar chatting lewat dunia maya.

Setelah melalui perjalanan panjang dari Beijing ke Seoul, akhirnya Luhan sampai juga. Namun kepenatannya menguar seketika saat ia melihat langsung Kris dan Sehun yang menjemputnya di bandara. Soooo sexy! Luhan menjerit dalam hati. Luhan kesulitan bernafas saat Sehun memeluknya.

"Wow, tidak kusangka aku lebih tinggi darimu, hyung."

Luhan memanyunkan bibirnya, pura – pura kesal. Padahal dalam hati ia malah senang kalau Sehun lebih tinggi darinya. Aura semenya lebih berrrasssaaaa.

Luhan kemudian gantian memeluk Kris dan ia kembali merasa seperti manusia kerdil karena Kris justru lebih besar dari Sehun. "Selamat datang di Seoul, Luhan," ujar Kris sambil menepuk – nepuk pundak sepupunya. Luhan cuma mengangguk – angguk. Lalu kedua orang itu pun membawakan barangnya hingga ia merasa seperti putri cantik yang memiliki pengawal yang siap sedia melayaninya.

Hohohohohohohooooo…

Sebisa mungkin Luhan menahan smirk dengan menggigiti bibir bawahnya. Mereka bertiga sudah naik ke dalam mobil Kris, pria itu yang mengemudi sedangkan Sehun dan Luhan duduk manis di belakang.

"Apa kau capek, Lu?" tanya Kris sambil mengintip Luhan dari kaca spion.

"Ne, tapi hanya sedikit," rasa capekku hilang karena sudah melihat kalian berdua. Sisanya ia lanjutkan di dalam hati.

"Kuliahmu kapan dimulai?"

"Tiga hari lagi. Jadi aku masih bisa istirahat," Luhan tersenyum manis dan Kris membalasnya. Ia melirik ke samping kanannya dan menemukan Sehun yang duduk melihat keluar. Pemandangan tengkuk mulus Sehun memanjakan matanya. Luhan menelan ludah paksa, betapa inginnya ia menggigit tengkuk itu dan meninggalkan bekas kepemilikannya disana. Betapa oh betapa….

Sebisa mungkin Luhan tidak ingin menunjukkan sisi gelapnya pada kedua orang sepupunya ini. Dilihat dari luar, Luhan adalah seorang pemuda yang manis, wajahnya yang jauh dari kata macho(?) membuatnya terlihat unyu dan imut. Ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti gadis yang malu – malu ketika bertemu dengan orang yang disukainya. Hal itu akan membuat orang lain tidak percaya betapa nakalnya seorang Luhan. Luhan pertama kali mengenal kata tiga huruf berawalan 's' dan berakhir 'x' saat masih berusia empat belas tahun. Ia hanya penasaran kenapa tema ini sering sekali menjadi topik dimana – mana. Ia pun membeli dvd diam- diam, maksudnya ia tidak berteriak pada penjual. Cukup tunjuk videonya si penjual langsung membungkusnya diam – diam juga.

Sesampainya di rumah, Luhan langsung masuk kamar menghidupkan dvd dan tv besar miliknya. Ia memastikan kalau pintu dan jendelanya sudah dikunci. Ia pun memutar kaset barunya dan.. WOW WOW WOW! Luhan kepanasan! Padahal seingatnya ia menyetel AC dengan kencang. Tubuhnya gelisah dan hari itu Luhan berakhir dengan bermain solo di kamar mandi.

Sejak saat itu Luhan jadi haus sentuhan. Rasanya tidak puas kalau menyentuh diri sendiri. Memang ada banyak pemuda yang ingin menjadi pacarnya, tapi Luhan pilih – pilih. Ia tidak ingin citra bagusnya jadi rusak karena begitu ganas di ranjang. Pilihannya jatuh pada Henry si murid teladan yang punya –ahem- tonjolan perfect di selangkangannya. Henry yang mengucapkan kata cinta dengan wajah memerah merasa bahagia karena diterima oleh Luhan si primadona para seme. Baru tiga hari pacaran Luhan sudah mengajak untuk bergumul di ranjang. Henry kaget sampai matanya membulat dan hampir saja liurnya menetes. Mimpi apa dia semalam sampai diajak anuan sama Luhan? Padahal baru tiga hari. Bodoh sekali kalau ia menolak. Dan seperti yang sudah bisa diduga, sekalipun Luhan yang berada di bawah, ia bisa menguasai permainan dan terus meminta lebih.

Mereka terus pacaran dan tidak pernah putus sampai kuliah. Tidak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Di sekolah, di taman, di rumah Henry atau rumah Luhan dan dimana saja selagi ada tempat untuk melakukannya. Luhan masih tahu diri untuk tidak melakukannya dengan banyak pria sekalipun ia tetap haus sentuhan. Luhan takut terkena penyakit menakutkan jika ia melakukannya dengan siapa saja. Lagipula Henry tidak mengecewakan. Semakin hari ia semakin bisa menguasai permainan dan Luhan menggelepar ibarat ikan kekeringan.

Masalah cinta, Luhan tahu kalau Henry cinta mati padanya. Tapi Luhan tidak terlalu peduli cinta selagi tubuhnya terpuaskan. Cinta menyusul belakangan, itulah yang selalu ia pikirkan. Belakangan Luhan punya obsesi baru. Ia terpesona pada sepupunya! Tidak jarang Luhan merasa seperti mau gila setiap kali selesai chatting dengan dua orang sepupunya yang HOT nya maksimal sekali. Super sekali. Mantap sekali. Pokoknya menurut Luhan mereka HOT. Namun sayangnya ia tidak bisa menyentuh mereka mengingat jarak yang memisahkan daratan China dan Seoul. Setelah meminta persetujuan papa dan mamanya, ia pun diizinkan untuk tinggal di Seoul. Luhan pun memutuskan Henry seenak jidatnya.

"Kenapa?" Henry bertanya dengan wajah memerah menahan tangis. Kalau putus sekarang, sia – sia sudah semua rajutan kisah cinta mereka selama ini. Henry sudah sering berkhayal ia dan Luhan akan berakhir di pelaminan.

"Ma'af Henry, aku harus belajar ke Korea. Kau tahu betapa jauhnya tempat itu."

"Tapi Luhan, kita masih bisa berhubungan."

Luhan menggeleng. "Tidak. Kau sendiri tahu betapa besarnya kebutuhan tubuhku,"

"Kau.. akan menjalin hubungan dengan pria Korea?" suara Henry bergetar.

"Hum. Tapi aku akan pilih – pilih. Aku mau pria yang bersih."

Henry mendesah pasrah. Ia tahu tidak akan bisa menolak keinginan Luhan. Cinta terlalu membutakannya. "Baiklah, tapi aku akan tetap menunggumu disini. Kembalilah padaku, Luhan. Aku sangat mencintaimu."

Luhan mengangkat sebelah alisnya. Maksudnya si Henry ini setuju ia menjalin hubungan dengan pria Korea sana dan tetap menunggunya? Setia sekali. Henry sekali. Daripada bertengkar tidak jelas, Luhan mengiyakan saja hingga Henry memeluknya erat dan mereka berakhir dengan tidak berpakaian.

Henry menangis sejadi – jadinya saat Luhan berangkat. papa dan mama Luhan sampai menahan tawa melihat tingkahnya. Tapi Luhan tidak ambil pusing. Ia hanya begitu penasaran bagaimana hari – harinya di Korea nanti!

.

.

.

.

.

.

.

Hayalan Luhan pudar saat ia mendengar Kris menggerutu dari depan. "Ada apa?" tanyanya.

"Macet, Luhan. Padahal ini hari minggu. Kenapa sih?" Kris tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya. Ia sudah tidak sabar untuk membawa Luhan ke rumah dan beristirahat. Luhan yang sekarang terlihat jauh lebih mempesona daripada Luhan yang ia lihat di layar gadgetnya. Diam – diam Kris sering memiliki pikiran kotor tentang pemuda bertubuh kecil yang sedang memandanginya ini. Tapi Kris bukanlah binatang buas yang langsung main sergap begitu saja. Kris akan melakukan pendekatan hingga Luhan akan terpesona padanya. Namun macet sialan ini benar – benar menyebalkan.

Kris melihat seorang polisi lalu lintas lewat dan ia pun memanggilnya dan bertanya apa yang tengah terjadi. Ia hanya mengangguk – angguk saat polisi itu menjelaskan.

"Apa yang terjadi?" Luhan bertanya karena ia penasaran. Kris dan polisi itu bicara di luar jadi ia tidak bisa mendengar.

"Di depan sana ada kecelakaan beruntun. Tiga buah truk kontainer berbalik dan sebuah mobil sedang hancur. Pokoknya kacau. Karena itu untuk sementara kita tidak bisa bergerak. Ma'af, baru saja tiba di Seoul tapi kau sudah mengalami ini. Bukannya bisa istirahat malah terjebak disini."

"Tidak apa –apa." Luhan tersenyum manis. Ia tidak keberatan terjebak disini jika bersama dengan pria – pria tampan.

Suasana kembali tenang karena mereka bertiga sama – sama terdiam setelah sebelumnya mereka mengobrol. Luhan pura – pura menguap dan tidur. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Sehun dan sengaja menghembuskan nafasnya pada perpotongan lehernya. Sehun berjengit. Sedari tadi ia menahan hasrat untuk tidak memeluk pemuda ini, tapi sekarang, Oh Tuhan, sekarang kepala Luhan sudah terjatuh di pahanya! Kepala Luhan menghadap pada selangkangannya. Sehun memasang poker face nya walau ia sudah hampir meledak karena Luhan bergerak – gerak. Ujung hidungnya menyentuh tonjolan Sehun. mungkin Luhan tidak bisa nyenyak karena posisi yang tidak nyaman. Tapi hal ini malah membuat Sehun lebih tidak nyaman.

Hihihihihihii…

Luhan terkikik geli dalam hati. Ia sangat beruntung karena belum berapa lama bertemu ia sudah bisa berada dalam posisi seintim ini. Ia langsung berhadapan dengan senjata Sehun dan hanya terhalang oleh kain. Luhan bisa saja menggigitnya pura – pura sedang bermimpi. Tapi sepertinya itu keterlaluan. Entah karena terlalu bahagia atau kecapekan, Luhan pun jatuh terlelap betulan.

.

.

.

.

.

.

.

"..hyung… han hyung…"

Luhan membuka matanya saat merasa pipinya ditepuk – tepuk.

"Bangun, hyung. Kita sudah sampai." Sehun membantu Luhan untuk duduk lalu keluar duluan dan membukakan pintu mobil untuknya. Perlakuan yang sangat gentleman. Luhan memperhatikan sekelilingnya. Mereka sudah tiba di kediaman keluarga Oh yang sangat WOW. Rumahnya besar dan megah dengan pekarangan yang asri. Tidak jauh berbeda dengan rumah keluarga Luhan di Beijing karena orang tua mereka sama – sama pengusaha.

Luhan berjalan dengan pelan. Setiap langkah serasa mengingatkannya pada masa kecilnya saat dulu ia sering bermain disini. Hanya saja sekarang terasa lebih sepi karena kedua orang tua Sehun sudah meninggal karena kecelakaan. Karena itulah sekarang Kris yang mengambil alih perusahaan appanya. Sehun masih bersekolah dan menurut papa dan mamanya, Kris dan Sehun sangat akrab.

"Nah, ini kamarmu Luhan…" Kris membukakan pintu dan Luhan terbelalak mendapati ruangan yang akan menjadi kamarnya. Ruangan itu terlihat sangat girly karena dipenuhi oleh benda – benda pink dan hello kitty. Diatas tempat tidurnya terdapat banyak bantal berbagai bentuk dan ada beberapa boneka hello kitty berukuran besar.

"Ahjumma memotret kamarmu yang di Beijing dan mengirimkan fotonya. Jadi aku dan Sehun mendekorasi ruangan ini agar kau merasa nyaman tinggal disini."

"Terima kasiiiiih!" Luhan memeluk Kris sambil meloncat – loncat gembira. Lalu ia menghamburkan dirinya dan tengkurap di tempat tidur sambil menggerak – gerakkan kakinya. Jujur saja, Luhan sedikit malu kalau dua pemuda ini tahu sisi girly-nya. Tapi ia sangat berterima kasih karena ia akan bisa tidur nyenyak. Luhan sama sekali tidak menyadari kalau tingkahnya itu membuat dua singa kelaparan di belakangnya hampir saja kehilangan kendali diri.

"Ahem," Kris berusaha menormalkan tenggorokannya yang terasa kering. "Kami keluar dulu. Kalau ada perlu katakan saja. Silakan istirahat."

"O… " Belum sempat menjawab Kris dan Sehun sudah keluar. "…ke,,"

Luhan heran melihat mereka berdua. Tapi ia abaikan saja karena sekarang Luhan terlalu senaaaang. Dari tingkah laku mereka, Luhan yakin ia bisa menaklukkan Kris dan Sehun. Hanya masalah waktu!

.

.

.

.

.

.

.

Te Be Ce / End / Delete

.

.

.

.

Hi, I'm back. I don't know what am I doing anymore. /flip universe/