It's Hard, It's Love
Part 1
Main Cast : Exo DO Kyungsoo
Shin Ha Ri (OC)
Other Cast : Exo Park Chanyeol
So Jin Girls Day
Lee Ji Eun (IU)
Shin Ha Ri POV
"Hosh.. hosh.. hosh..", kuusap peluh di dahiku, kuatur detak jantungku, kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan.
"Aishh.. Shin Haa Ri pabo, kau terlambat lagi kan", rutukku.
"Anneyong haseyo", ucapku sambil membungkukkan badanku 90 derajat, berharap Park saem tidak menyemburku dengan siraman rohani di pagi hari. Sudah cukup eomma melantunkan omelan 3 oktavnya sepanjang pagi, sampai telingaku pengang. Aku berjinjit pelan melangkah ke tempat dudukku, kulihat Lee Ji Eun tersenyum getir melihat nasibku, sepertinya dia tau akhirnya akan seperti apa.
"Yaaaakkk! Shin Haa Ri!", pekik Park saem.
"Omo! Mati aku!", rutukku.
"Kau terlambat lagi? Keluar sekarang juga!".
Seketika wajah Park saem berbubah seperti serigala, dengan taring-taring panjang (imajinasi lebayku kumat). Aku berusaha mengeluarkan tampang aegy tanpa dosa di depan Park saem.
"Tapi saem..", aku memelas. Namun nampaknya Park saem terlanjur mmenjelma menjadi serigala tua yang kelaparan.
"Tidak ada tapi-tapian! Kelas sudah mulai sejak 40 menit yang lalu, dan ini sudah kali ke-3 kau terlambat Shin Haa Ri! Geunyang kka!".
Aku masih terpaku dengan wajah setengah memelas, berharap ada semacam hidayah yang merasuki Park saem, sehingga ia bisa berubah menjadi sosok malaikat berhati lembut dengan sayap-sayap putih.
"Yaaaakkkkk! Shin Haa Ri !", pekik Park saem sekali lagi. Ya Tuhan kurasa kali ini gendang telingaku benar-benar pecah. Suara Park saem menggema di ruangan ini.
"Kkaragu", pekiknya semakin menjadi.
Dan kurasa sepertinya aku harus membawa payung ke sekolah mulai sekarang, walaupun sekarang masih musim semi. Bagaimana tidak, aku merasa dihujani suatu zat basah yang menyembur dari mulut Park saem. Kulihat wajah teman-teman sekelasku bergidik. "Ah menjijikkan", gumamku dalam hati. Well, akhirnya aku berjalan gontai keluar kelas. Yah mau diapakan lagi, mau tidak mau aku memang harus menerima nasibku diusir keluar dari kelas Park saem untuk ke tiga kalinya.
Di taman belakang sekolah, aku duduk termenung. Memandang sebuah kolam ikan yang dihiasi ikan-ikan cantik berwarna-warni, sungguh indah. Namun sesuatu yang lebih indah hadir di kolam itu. Bayangan DO oppa, namja yang kucintai sejak aku berumur 11 tahun. Ironis memang, disaat anak-anak seumuranku dengan asyiknya bermain dan menikmati masa kanak-kanak mereka. Aku malah merasakan perasaan aneh yang aku sendiri sebenarnya belum mengerti itu apa. Berdasarkan drama-drama yang sering kutonton mungkin ini yang disebut cinta, aku simpulkan saja ini cinta. (#plakk!Korban drama ,).
Mulai saat itupun aku selalu mengikuti DO oppa. Sampai-sampai orang-orang menyebut aku bayangan DO. Di mana ada DO oppa, disitu pasti ada aku. Aku tau banyak sekali yeoja yang iri denganku, dan banyak juga dari mereka yang mencibirku, karena DO oppa terkesan mengabaikanku. Namun walaupun begitu, perasaanku tak pernah berubah, aku masih saja mencintai DO oppa, dan masih saja mengikutinya. Lagipula DO oppa tidak pernah melarangku secara langsung untuk mengikutinya, walaupun DO oppa kadang menunjukkan sikap kesalnya padaku. Aku yakin suatu saat DO oppa pasti akan mencintaiku.
"Huah, oppa, neo jinja saengyotta", ucapku.
"Nugu?".
Suara berat seorang namja mengagetkanku. Namja tampan yang selama ini selalu bersikap baik dan perhatian terhadapku. Park Chanyeol, namja yang juga merupakan teman sekelasku, digilai banyak yeoja di sekolah ini, apalagi dia berprestasi dibidang akademik dan olahraga, anehnya dia masih mau saja berteman denganku, walau aku bukan yeoja populer disekolah. Yah itu juga menjadi sebab kenapa aku tidak punya teman yeoja selain Lee Ji Eun. Banyak yeoja-yeoja di sekolah ini yang terang-terangan menunjjukkan rasa tidak sukanya kepadaku. Karena selain aku bisa dekat dengan Park Chanyeol aku juga satu-satunya yeoja di sekolah ini yang bisa dekat dengan DO Kyungsoo, namja es yang menjadi pujaan semua yeoja di sekolahku. Ehem…! Ralat buaknnya bisa dekat, lebih tepatnya selalu menempel.
Ah aku sampai lupa memperknalkan diri. Namaku Shin Haa Ri. Aku siswi tingkat 2 di Seoul International High School. Aku bukan yeoja popular, aku hanya seorang yeoja biasa dan tidak pintar, tidak cantik apalagi seksi. Aku juga bukan siswa yang berprestasi dibidang akademik maupun olahraga, aku hanya siswa biasa yang meraih rangking ke 20 dari 25 siswa di kelasku (miris'-_-).
"Ah.. ania..", tepisku.
"Nuguya? Nega?", tanyanya manja.
Aku menatapnya bingung, "seorang Park Chanyeol beraegyo di hadapanku, wah pemandangan langka", batinku.
"Hah sudah kuduga, kau diam-diam mengagumiku kan?", godanya.
"Ania!", bantahku gugup.
"Yak! Kau masih saja menyembunyikannya, aku tau kau selalu curi pandang padaku saat di kelas kan?", godanya lagi.
"Yak! Geumanhe!", aku mempoutkan bibirku.
"Hahaha! Aku hanya bercanda, nona kecil", ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
"Geunde, eotteo?", Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku terpaku dan... Glek! Aku meneguk salivaku. "Jangan tergoda Haa Ri aah", batinku. Malaikat seakan berbisik menyadarkanku. "Ania… Aku takkan tergoda", aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Menyadarkan diriku sendiri yang hampir saja tergoda ketampanan Chanyeol.
"Mm..mw..mwoo?", tanyaku gugup.
"Hehehe, kau ini pelupa sekali,aku bertanya bagaimana rasanya dihujani oleh Park Saem?", tanyanya setengah terkekeh.
"Aa…Aahh Park Saem.. Tentu saja", jawabku masih setengah gugup. Bagaimana tidak Chanyeol masih pada posisinya, dan jarak kami begitu dekat.
"Tentu saja apa?", tanyanya bingung dan semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Demi Tuhan, tanganku mulai berkeringat.
"Yaa! Tentu saja menjijikkan", pekikku sambil mendorongnya. Aku berusaha menetralkan kegugupanku, sambil sesekali berdehem.
"Hahahah. Omo, kyeopta", lagi-lagi ia mengacak-acak rambutku.
DO Pov
Siapa namja itu ? Sepertinya dia benar-benar dekat dengan Haa Ri. Aku tak pernah tau kalau ada namja yang dekat dengan Haa Ri selain aku, setahuku Haa Ri tak pernah punya teman, kecuali Lee Ji Eun. Kulihat sepertinya mereka sedang asyik bercanda tawa. "Omo! Dia mengelus pucuk kepala Haa Ri. Apa mereka sedekat itu? Bagaimana jika.. Ah ani, Haa Ri hanya menyukaiku, aku tahu itu. Dia selalu bilang seperti itu. Tapi kelihatannya namja itu menyukai Haa Ri", batinku. "Ah, menjijikkan sekali tingkah mereka", batinku. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.
Bel pulang sekolah berbunyi, kuperlambat langkah kakiku. Biasanya Haa Ri sudah menungguku di depan pintu kelas. Tapi kemana dia ? Tak biasanya.. Apa mungkin.., ? Haa Ri bersama…. Namja tadi…", batinku. Berbagai pertanyaan berkecamuk d benakku. "Mengapa aku seperti ini? Apa aku khawatir? Maldo andwe". Seketika ponselku bordering. Satu pesan dari yeoja yang sejak tadi kutunggu.
From : Yeoja Aneh.
Oppa, mianhe. Aku tak bisa pulang bersamamu. Hari ada kelas tambahan, jadi mungkin aku akan pulang agak sore. Oppa, jangan menungguku. Pulanglah dan berhati-hatilah di jalan. Oh ya! Oppa jangan melamun saat di jalan ne? .
Kubalas pesannya….
To : Yeoja Aneh.
Memangnya siapa yang menunggumu?
Aku tersenyum, ada perasaan sedikit lega menyelimutiku, aku pun melangkah perlahan menyusuri tiap sudut jalan. Aneh rasanya pulang sendirian seperti ini. Tak ada yeoja aneh dan cerewet yang terus mengoceh di sampingku menceritakan hari-harinya yag buruk karena menghadapi fansku, tak ada celotehan lucu, tak ada omelan jangan makan ini-itu dari dia. Jujur kuakui, Haa Ri benar-benar lucu. Dia paham betul segala sesuatu tentangku, walaupun aku selalu mengabaikannya, nampaknya dia benar-benar menyukaiku. Aku suka setiap perhatian darinya. Tapi apa aku juga menyukainya? Mollayo.
Shin Haa Ri Pov
Aku tersenyum kegirangan melihat satu balasan pesan dari namja yang kusukai, DO oppa. Belum lagi kubuka pesan dari namja pujaanku, Jieun menyikutku.
"Ya! Mwohanengoya? Neo micheoseo? Kenapa kau senyum-senyum sendiri dari tadi?".
Bisikan Lee Jieun membuyarkan lamunan indahku. Aku menatapnya garang. Rasanya aku ingin merontokkan giginya sekarang juga.
"Heish.. Pasti namja owl eyes itu lagi".
"Ne", aku tersenyum dan mengangguk pasti.
"Hah, membosankan. Kau masih saja mengikutinya, sudah jelas-jelas kau bertepuk sebelah tangan", ucapnya enteng.
"Yak! Sahabat macam apa kau ini? Bukannya mendukungku, eiish jinja..", ucapku.
"Aku selalu mendukungmu, tapi aku benar –benar bosan melihatmu selalu diabaikan", ucap Jieun frustasi.
"Aku yakin suatu saat DO Oppa akan menatap ke arahku", ucapku lesu.
"Jelas-jelas Chanyeol menyukaimu. Lihatlah sana, sedari tadi dia terus memperhatikanmu", ucap Ji Eun lagi.
Kutatap Chanyeol, benar saja dia sedang menatapku sekarang, lebih tepatnya tersenyum ke arahku. Kubalas senyumnya dan kulanjutkan aktivitas membaca pesanku yang sempat terganggu oleh Ji Eun.
From : My Prince.
Memangnya siapa yang menunggumu?
"Mwoya? Geunyang ige..?", rutukku. Seketika moodku berubah. Aku mendengus kasar. "Oppa, sampai kapan kau akan seperti ini? Bisakah sedikit saja, kau menghargai ketulusanku?", batinku.
DO Pov
Sore hari aku menikmati angin musim semi dari balkon kamarku.
"DO-yaa..", kulihat kepala eomma menyumbul dari pintu kamarku.
"Ne, eomma. Waegurae?".
"Chagi-aah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu", ucap eomma.
"Eoh, siapa eomma? Apa itu Haa Ri? Biasanya dia langsung masuk saja di kamarku", ucapku cuek lalu kembali melanjutkan aktivitasku.
"Ania. Dia seorang yeoja cantik", ucap eomma sambil tersenyum. "Turunlah, dia menunggumu".
Aku pun bangkit, dan bergegas keluar kamar. Kususuri tiap anak tangga, kutatap punggung seorang yeoja yang nampak akrab bercengkrama dengan Eomma dan Appa. "Suaranya sepertinya tak asing", batinku.
"Anneyong DO-yaa", sapanya. "Omo! Sojin Noona", ucapku terkejut.
TBC
Mian kalu FF-nya rada gaje. Maklum baru belajar buat FF.
