Vocaloid bukan milik Mikan

Vocaloid punya YAMAHA semakin didepan :v #ditabok

Pokoknya Vocaloid punya Yamaha

Suka, silahkan baca, gak suka, simpel, injek tombol Back, karena tekan sudah terlalu mainstream

Oke, hepi riding (R.I.P ENGLISH)

Maafkan kenistaan saya :'v


Chapter 1

"Anak baru yang satu ini... Gak banget deh!"


Di seluruh SMA Vo-CALOID, hanya kelas 2-B yang memiliki jumlah murid 21 anak. Mereka semua duduk berpasang-pasangan. Berdua-dua...

Sedangkan aku,

Duduk sendirian ditengah-tengah mereka.

Benar-benar ditengah. Dibagian kiri, ada 5 meja panjang yang setiap meja diduduki oleh dua orang siswa, dibagian kanan, juga sama.

Dan ditengah,

... Itu mejaku.

Aku duduk sendirian.

Satu-satunya pandangan yang sangat sering kulihat adalah...

Papan tulis yang tepat 6 meter didepanku, dan...

... Kursi kosong yang terletak didepan mejaku.


[Normal POV]

Kagene Rin, seorang perempuan yang pendiam dan super misterius. Biar wajahnya cukup menarik, tetapi dia terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dia mengenakan bando pita yang cukup besar dikepalanya, dan 4 jepitan putih. Warna bola mata kanannya biru azure, sedangkan mata kirinya ditutupi oleh penutup mata berwarna putih(Note : Pasti tau Takanashi Rikka di Chuunibyou, kan? Penutupnya seperti itu). Gambarannya bagaimana, silahkan bayangkan sendiri...

BRUKK! Seseorang menabrak Rin.

"A-aah! Maaf, Kagene-san!" kata orang itu. Seorang perempuan yang rambutnya twintail panjang berwarna teal, Hatsune Miku. Tanpa mengucapkan apa-apa, Rin mengangguk dan berlalu.

"Apa dia selalu begitu, ya?" gumam Miku pada dirinya sendiri. Miku adalah teman satu kelas Rin. Dia adalah ketua kelas di kelas 2-B.

Masuk kelas, Rin langsung duduk ditempatnya. Tempat duduknya terletak ditengah-tengah ruang. Dia duduk sendirian, sedangkan teman-temannya duduk berpasangan dengan kata lain dua orang.

Rin duduk dan membaca novel tebalnya.

"Hei, lihat, si penyihir sedang membaca buku." celetuk salah satu anak dikelas 2-B. Rin tidak menggubris omongan anak itu.

"Haha, iya, kira-kira buku apa yang dia baca?" tanya teman bicaranya.

"Buku sihir?"

"HAHAHAHAHAHA!"

Rin menatap tajam kearah kedua anak tersebut. Anak-anak yang tadi meledek Rin bergidik dan langsung kabur. Rin menghela nafas.

"Ngg... Ano.. Kagene-san... Jika kau berkenan, kau bisa menggabung mejamu dengan meja kami..." tawar Megurine Luka diikuti anggukan teman sebangkunya, Gumi.

Rin hanya melirik Luka dan Gumi sekilas lalu beralih kembali kearah novelnya.

"Maaf, aku tidak bisa..." jawab Rin dengan suara yang pelan.

"A-ah! Begitu, ya? Ka-kalau begitu, kau boleh bergabung denga kami kapan saja kau mau..." seru Gumi. Rin tidak merespon. Luka dan Gumi menjauhi meja Rin.

"Tuh kan, apa kubilang, dia gak bakal mau diajakkin!" gerutu Gumi.

"Cih! Aku kan cuma ngelakuin apa yang disuruh Meiko-sensei!" jawab Luka.

"Apa sih, yang ada dibalik penutup matanya itu?"

"Mana kutahu!"

"Aku penasaran. Apa mungkin dia itu katarak?"

"Kurasa sih, bola matanya gak ada!"

"Ma-masa, sihh?"

"Kan kurasa... Aku gak bilang kalo bola matanya gak ada!"

"Kata-katamu frontal banget, Luka!"

"HAHAHAHAHAHA!" Luka dan Gumi malah tertawa-tawa. Sejujurnya, Rin amat-amat-sangat tersinggung. Ingin rasanya dia menggebrak meja. Tapi demi menjaga image-nya selama ini, dia mengurungkan niatnya.

"Nah-nah-nah, kalian semua, ayo cepat duduk!" Meiko-sensei sudah ada didepan pintu kelas. Semuanya langsung duduk ditempatnya masing-masing.

"Ayo, Kagami-kun." Meiko-sensei berbicara pada seorang anak dibelakangnya.

"Ngg, apa tak bisa kau melepas 'itu' saat dikelas?" tanya Meiko-sensei masih diluar kelas atau tepatnya didepan pintu kelas sehingga anak-anak tidak bisa melihat wujud(?) mereka.

"Apa itu menjadi masalah, sensei?" tanya seorang laki-laki.

"Ah, tidak! Ya sudah, tak apa, ayo masuk." Meiko-sensei memasuki ruangan kelas dan seorang laki-laki mengekorinya.

"Silahkan perkenalkan dirimu." Meiko-sensei duduk dimeja guru yang dekat dengan papan tulis.

Rin sedikit tersentak melihat laki-laki itu. Ya, dia baru melihat laki-laki itu saat anak itu sudah didepan papan tulis karena dari tadi dia terfokus pada kertas dikolong mejanya.

[Rin POV]

Aaapa?

Apa mungkin kalau dia po-

"Ohayou gozaimasu, perkenalkan namaku Kagami Len. Panggil Len saja, yoroshiku!" anak itu, Len, membungkukkan badannya sambil tersenyum. Laki-laki berambut honey-blonde yang diikat ponytail tinggi dan beriris azure. Ditambah...

... Dia mengenakan penutup mata sepertiku.

"Nah, Kagami-kun, silahkan duduk dikursi kosong yang ada didepan Kagene-san." Meiko-sensei menunjuk kursi kosong yang ada didepanku.

Kursi yang selama ini kosong akan terisi?

Len melangkahkan kakinya dan duduk dimeja yang ada didepanku. Saat melihatku, dia sedikit tersentak, tapi dia tak melupakan senyumnya. Aku hanya diam.

Istirahat. Len kedatangan banyak teman. Hmm, ya, kuakui dia cukup tampan. Dia juga ramah. Banyak yang membandingkan dia denganku, tapi dia hanya menanggapinya dengan senyum. Dia disukai banyak orang. Mejanya yang terletak didepanku sangat ramai. Berbeda dengan mejaku, yang terletak tepat dibelakang meja Len, sepi. Hanya ada aku yang sibuk mengarahkan mataku ke buku novelku.

Bel masuk berdering. Aku menyimpan novelku kembali kedalam tas.

"Hei."

Aku merasa seseorang memanggilku. Namun, aku tidak mengubrisnya, mungkin hanya anak-anak lain yang sedang berbincang-bincang.

"Tidak perlu bingung, aku memanggilmu, Kagene Rin..." seru suara yang sama. Aku menoleh kedepan. Len.

"Apa?" tanyaku pelan.

"Apa kau jarang sekali mengobrol dengan teman-temanmu dikelas? Kudengar-dengar tadi, banyak yang bilang katanya kau misterius sekali..."

"Lalu?"

"Jawab pertanyaanku."

"Mereka bukan teman-temanku."

"Tapi mereka satu kelas denganmu."

"Mereka jarang menyapaku."

"Apa teman itu harus sering menyapa?"

"Tidak juga."

"Menurutmu apa arti 'teman' itu?"

Aku berfikir sejenak.

"Orang yang tidak membenciku dan mengerti diriku."

"Kenapa kau tidak menganggap mereka teman?"

"Mereka membenciku."

"Apa orang yang tidak membencimu adalah temanmu?"

"Jangan banyak tanya, aku bisa gila mendengarnya."

"Jawab pertanyaanku."

"Ya."

"Berarti, aku temanmu, dong?"

Aku sedikit kaget.

"Aku tidak membencimu! Dan aku sangat mengerti dirimu!" kata Len dengan bangga. Kenapa sih, dia?

"Apa-apaan, sih? Sejak kapan kau menjadi temanku?" bantahku. Anak-anak lain melihat aku dan Len yang mulai sedikit ribut.

"Tadi?"

"Hentikan! Kau mengangguku!"

"Penutup mata itu..." gumam Len. Aku sedikit kaget. Jantungku berdegup kencang―penasaran dengan apa yang akan dikatakan bocah kuning ini selanjutnya.

"...kau membelinya dimana? Bagus, lho! Klasik! Aku suka!" kata Len akhirnya. Aku menghela nafas sedikit lega.

"Ibuku yang memberikannya padaku." Aku menjawab pelan.

"Kenapa kau memakai penutup mata?" tanya Len.

"Ngg... Aku punya penyakit mata yang cukup serius sejak kecil."

"Oooh.. Begitu.."

"Kau sendiri?"

"Ya, aku juga. Mataku aneh. Mungkin sama sepertimu!"

Matanya aneh?

"Kau membeli penutup mata itu dimana?" tanyaku pada Len.

Len tersenyum. Seperti senyum lega.

"Aku diberi oleh ayahku sebagai oleh-oleh dari Amerika. Sekalian untuk mengganti penutup mata milikku yang lama."

"Oh, begitu..."

Len terkikik.

"Ke-kenapa?" tanyaku agak aneh. Len masih sedikit terkikik.

"Haha, lihat! Kau sangat menikmati obrolan kita! Lihat, kelihatannya kau sangat menyukainya! Hahaha!" Len melanjutkan tawanya. Pipiku memanas.

"Haha, apa-apaan tuh? Pipimu kenapa merah begitu? Kelihatannya aku benar, ya?" Len berkata keras-keras. Satu kelas memperhatikan kami berdua.

"Jangan berkata terlalu keras, dasar bodoh!" seruku.

"Iya-iya, maafkan aku..." Len meminta maaf.

Aku menghela nafas lega dan duduk dengan tenang lagi. Len menggenggam tanganku.

"A-apa yang kau lakukan, BAKA?" tanyaku.

"Nah, aku sangat mengerti dirimu. Apa aku tema-AH! Tidak! Apa aku sudah bisa jadi 'sahabat'mu?" tanya Len menatap dalam mataku.

Kalau kupikir, mungkin Len orang yang baik. Tapi, bagaimana jika dia malah tersakiti olehku? Aku tidak mau membuat orang lain terluka. Apalagi aku memiliki mat-

"Bagaimana?" tanya Len masih belum melepas genggaman tangannya.

"Mmm.. Ya, boleh saja..." kataku sedikit malu-malu. Len tersenyum.

"Kalau begitu, besok kutunggu kau ke atap, ya?" kata Len.

"Untuk apa?"

"Kita makan bento bersama!" Len nyengir. Aku tersenyum.

"Ayo..."

Lagi-lagi Len tersenyum.

"Tuh kan, sudah kuduga, kau pasti lebih manis kalau tersenyum!"

Wajahku memanas.

"Ja-jangan ngomong seperti itu, Len Baka!"

"Wah, wah! Tsundere, ya?"

"A-aku tidak tsundere!"

"Kalau kau tersenyum lagi, akan kufoto dan kujadikan wallpaper dihp-ku!"

"GAH! Ku-ku-bi...!"

"Apa? Kukub*ma Energi?" :v

"Kubilang jangan berkata begitu dasar bodoh!"

"Tsundere~~"

"Terserah kau saja!"

Satu kelas hanya menatap kami berdua dengan heran.

[? POV]

Aku menemukannya...

...Negatif!


Follow Favorite, terserah kalian, yah, kalau iya, Mikan seneng! #PLAK :P

Review-nya ditunggu, please~


PREVIEW

Chapter 2. "Len"

"Bisa kau jelaskan padaku, apa maksud dari perkataanmu kemarin..."

"Perlihatkan milikmu, maka aku juga akan memperlihatkan milikku."

"Kenapa aku harus dilahirkan?"