Disclaimer : Death Note © Takeshi Obata & Tsugumi Ohba, Another Note © Nishio Ishin. Karya mereka memang t.o.p! dό_όb
Waning : Shou-ai, EYD sangat parah! GAJE.. (pasrah), penggunaan tanggal seenaknya!
Pairing: LightxL=79% BxLight=20% LightxMisa=1%saja..
Rated: T (mungkin)
Genre: Romance, Drama, Family, Mystery, etc. (bisa berubah kapan-kapan(?))
Summary: Ketika Light jenuh dengan kekasihnya, ketika Beyond harus kehilangan, ketika L menemukan cahayanya dan harus menerima kebenaran.
A/N: Pesan pertamaku, "DON'T LIKE? DON'T READ! PLEASE NO FLAME!"
Retatsu Namikaze present..
.
.
FUYU no AI
.
o0o
Chapter 1: Pertemuan Singkat
o0o
"Kau.. memecahkannya.." Seorang pemuda berambut hitam, menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Maaf.. aku, tidak sengaja," tambah seorang lagi, "biar kubereskan."
'BRUK!' Dengan gerakan cepat si pemuda berambut hitam itu mendorong temannya hingga membentur tembok, dicengkramnya kerah kemeja itu dengan kuat, dan berhasil membuat napas temannya tersenggal.
"A.. apa.. yang.. kau laku.. kan?"
"Kau memecahkannya. KAU MEMECAHKANNYAA!"
"Le.. paskan..! aku.. ti.. dak sengaja..."
"Sengaja ataupun tidak, bukankah kau sudah tau kalau aku tidak suka! Hah?" Pemuda berambut hitam itu mengendurkan cengkramannya.
"Aku akan menggantikannya jika kau mau," bicaranya lancar sekarang sesudah berhasil menghirup kembali udara segar.
"Huh.. pokoknya, Light, aku ingin kau membayar selaiku yang sudah kau tumpahkan!"
"Ya, besok aku akan membelikannya untukmu," ucap pemuda yang bernama Light. Tangannya masih sibuk melonggarkan kerah kemeja. Tampaknya, meskipun cengkraman itu sudah terlepas tapi dia masih merasakan sesak.
'Benar-benar kejam, hanya sebotol selai, dia hampir membunuhku,' batin Light.
"Bukan besok, tapi sekarang."
"Yang benar saja, sekarang sudah pukul 11 malam! Lagipula di sekitar sini tidak ada toko 24 jam! Aku juga tidak mau repot-repot menembus salju hanya demi membeli sebotol selai. Akan kubeli besok, lagipula kau masih punya banyak selai di lemari!"
"Baiklah, besok.. tapi, malam ini juga kau harus membayarnya," seringaian muncul di wajah si pemuda.
"Apa?" Light merinding melihat seringaian kejam temannya.
'BRUK!' Sekali lagi pemuda berambut hitam itu menghantamkan tubuh Light hingga membentur tembok, tapi kali ini kedua tangannya yang dicengkram, bukan lehernya.
"Mau apa kau Beyond?" Teriak Light kepada Beyond, pemuda berambut hitam tadi.
"Kau.. harus mengantikan selaiku sekarang.." Seringaian itu muncul kembali di wajahnya. Diacungkannya pecahan kaca botol yang tertutupi warna merah selai ke hadapan Light. "Oke, Light?"
"Apa? TIDAAK!"
-lightloveLlovelight-
Narita Airport, 11 Desember, 05:15 p.m.
"Silakan.." Seorang pria tua berpakaian serba hitam membukakan pintu mobil Roll's Royce yang juga berwarna legam seraya membungkuk rendah.
"Terima kasih, Watari." Seorang pemuda kemudian masuk ke dalam mobil. Pemuda itu, berambut hitam dan memiliki pendar mata gelap yang senada dengan warna rambutnya. Warna yang benar-benar pekat, bahkan lebih pekat dari kegelapan warna malam. (A/N: kenapa semua jadi serba hitam ya? =.='a tau ah, gelap..).
-lightloveLlovelight-
Lembayung di ufuk barat semakin memerah. Sinar senja memantul dari butiran putih salju, ditambah lagi dengan cahaya lampu kota yang bewarna-warni, menampakkan keindahan yang menakjubkan di minggu kedua musim salju ini. Meskipun hari sudah beranjak gelap (A/N: tuh kan gelap lagi.. −_−), masih banyak anak-anak yang bermain di taman. Tampaknya mereka terlalu gembira bermain di salju.
"Jepang indah bukan?" ucap pria tua bernama Watari, dia melihat keadaan pemuda di kursi belakang lewat spion di dashboard mobil. Tampak pemuda yang dengan seriusnya memandang keadaan di luar jendela.
"L?" Merasa ucapannya diabaikan, Watari memanggil nama pemuda yang terduduk di jok belakang itu (A/N: sebenernya sih bukan duduk, lebih tepatnya jongkok, readers juga udah pada tau kan? ^^ tapi saya akan tetap menyebutnya duduk).
Alhasil, merasa namanya disebut, pemuda itu menoleh, "ya,Watari.. saya juga tidak menyangka salju akan turun secepat ini di Jepang." Suara baritone terdengar oleh Watari, dan tanpa perlu melihat lewat kaca spion lagi, ia sudah bisa memastikan itu adalah L, anak asuh, sekaligus partnernya. Maka dijawabnya pernyataan itu, "tapi tidak perlu khawatir, intensitas salju di Tokyo tidak besar, hanya saja angin musim gugur masih terasa sangat dingin."
"Saya tau," masih dengan suara baritone-nya. Ryuzaki kemudian mengambil sepotong kue di atas piring yang ada di dekatnya dan langsung melahapnya bulat-bulat.
"Ya.. kau sudah tau."
Hening.
"Watari."
Watari kembali melihat L lewat spion.
"Mulai sekarang, bisakah kau panggil saya Ryuzaki?"
"Kalau itu kemauanmu, baiklah."
"Terima kasih."
Hening lagi. Yang terdengar hanya suara deru mesin mobil yang halus dan hembusan AC. Ryuzaki kembali memandang ke luar jendela, dengan lollipop yang kini bertengger di dalam mulutnya.
"Apa kau keberatan kalau kita mampir di sebuah tempat makan dulu? Sekarang sudah waktunya makan malam, Ryuzaki."
"Terserah kau, Watari."
-lightloveLlovelight-
Mobil Roll's Royce diparkirkan di tempat parkir sebuah kafe. Setelah mesin dimatikan, Watari segera keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk Ryuzaki.
"Ryuzaki, pakailah ini."
Ryuzaki melihat kain hitam yang disangkutkan Watari pada lengan kirinya.
"Apa itu?"
"Mantel. Udara begitu dingin, dan kaus putihmu itu tidak akan cukup untuk melindungimu, pakailah."
"Terserah kau, Watari."
Ryuzaki masuk ke dalam kafe itu disusul Watari dibelakangnya. Beberapa pengunjung melihat dengan heran gaya jalan yang agak bungkuk milik seorang pemuda berambut hitam yang terlihat melawan gravitasi, memiliki warna pendar mata onyx dengan kantung tebal di bawahnya, dan kulit yang seputih susu yang kontras dengan warna rambutnya.
Ryuzaki sendiri sadar bahwa ia sedang diperhatikan, hanya tidak tahu harus berbuat apa. Harus tersenyum kah? Tapi mereka kan tidak membuat dirinya merasa ingin tersenyum. Atau harus marah? Tapi mereka juga tidak membuat kesalahan. Jadi, Ryuzaki memilih untuk acuh dan terus melanjutkan langkahnya menuju sebuah meja yang kosong dan duduk di kursi di samping jendela. Beberapa saat kemudian, akhirnya mata para pengunjung kembali teralih darinya setelah sebelumnya mereka sempat ternganga melihat cara unik duduk si Ryuzaki.
Watari kemudian datang menghampiri Ryuzaki.
"Apa masalah jika saya meninggalkan kau sendiri?"
"Tidak. Saya bukan anak kecil Watari, saya bisa menjaga diri."
Watari percaya, karena dia tahu, meskipun tubuh Ryuzaki terbilang kecil dan kurus, tapi dia punya tendangan yang sangat kuat layaknya kangguru. Tidak akan ada yang berani mengganggunya.
"Saya ada di restoran di sebelah kafe ini, kalau kau membutuhkan saya, hubungi saja. Saya tidak akan lama."
"Ya."
"Pesananmu akan sampai sebentar lagi, Ryuzaki."
"Ya. Terima kasih, Watari."
Tak lama setelah Watari pergi, seorang pelayan wanita berambut kuning datang menghampiri Ryuzaki sambil mendorong sebuah trolli yang berisi penuh makanan manis.
"Meja 31, makanan manis aneka jenis?" Tanya pelayan itu lembut.
Ryuzaki terdiam, matanya yang sudah besar semakin membulat sempurna melihat semua makanan itu. "Itu punya saya, kan?"
'Kok tanya balik?' Batin pelayan cantik yang bernama Misa Amane itu. "Sepertinya makanan ini memang pesanan anda ya tuan?"
Misa kemudian meletakkan semua makanan itu di atas meja. Sementara Ryuzaki terus menatap setiap makanan yang dipindahkan oleh Misa. Dan Misa menyadari hal itu.
"Ah! Misa baru ingat! Kau Beyond, kan?" Kini mata Ryuzaki melihat ke arah Misa.
"Sudah lama tidak bertemu! Hahaha.. tatapan matamu itu kalau melihat makanan tidak pernah berubah ya? Benar-benar terobsesi. Tapi Misa baru tau, ternyata kau tidak hanya menyukai stoberi.."
"..." Ryuzaki masih melihat Misa dengan bingung.
"Oh.. Beyond, apa cara dudukmu itu berubah karena terlalu lama duduk di kursi untuk menulis?"
"Ng.." Ryuzaki belum pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya.
"Aah.. kau jadi makin dingin saja. Baiklah, kalau begitu selamat menikmati! Misa juga harus kembali bekerja. Jaa!" Misa berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan, sepertinya itu dapur, dilihat dari bentuk pintu yang berbeda dengan pintu ruangan lain. Tapi Ryuzaki lebih mementingkan kue daripada hal itu. Maka dengan cepatnya dia mengambil sepotong cake cokelat penuh krim lalu memakannya.
-lightloveLlovelight-
'Apa-apaan dia itu? Seenaknya saja melakukan hal 'itu' padaku! Aku tau kita ini sepasang kekasih, tapi... Ah tidak! Bukan kekasih namanya jika dia kasar padaku!' Pemuda itu bersandar pada tiang lampu taman hitam yang menerangi trotoar dengan cahaya keemasan dari lampu di ujungnya. 'Aku juga bingung, sebenarnya bagaimana perasaanku ini padanya.. hh..' Ditatapnya langit, butiran salju terjatuh dengan lembutnya dari balik awan yang tertutup warna gelap malam, dan terkadang salju itu mengenai rambut coklat milik pemuda tegap tersebut. 'Yang lebih menyebalkan, dia.. dia.. selalu memperlakukanku seperti uke. UKE! Aah! Kurang ajar! Awas saja jika aku bertemu denganmu, Beyond!'
Light, nama pemuda itu. Setelah sibuk dengan pemikirannya, dia kemudian masuk ke dalam sebuah kafe dan kedatangannya disambut oleh teriakan seorang gadis yang tak lain bernama Misa.
"Light! Selamat datang! Hari ini pun kau mampir ya? Tapi sayang, tidak ada meja yang kosong.."
"Tidak apa, aku bisa datang beberapa menit lagi nanti." Light tersenyum dan berhasil membuat Misa terpana karena ketampanannya. "Aku pesan meja seperti biasa."
"Bahkan, tempat yang biasa kau pesan pun penuh. Oh iya, apa kau sudah bertemu dengan Beyond?"
"Beyond?"
"Iya, sepertinya dia sudah pulang dari Amerika. Dan yang menempati tempat favorit Light itu Beyond!" Misa menceritakan hal itu dengan sangat semangat seakan-akan ingin membuat Light terus bicara dengannya, terus membuat pria idamannya itu tetap di dekatnya.
"Apa?"
Sementara Misa yang terkejut dengan teriakan Light, Light langsung saja berjalan dengan cepat menuju meja yang dimaksud Misa tanpa menghiraukannya, dan dia mendapati seorang pemuda sedang menyeruput minuman dengan tenang. Ditariknya kerah mantel pemuda itu, dan dia berteriak tepat di depan mukanya.
"Ku peringatkan kau, Beyond! Kalau kau berani menyentuhku lagi sedikit saja! Apalagi bersikap keras padaku, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu! Dan meninggalkanmu!"
"Eh, Light! Hentikan Light!" Teriak Misa berusaha melerai mereka. Misa panik karena pengunjung di sana mulai memperhatikan mereka. Sementara yang diteriaki justru tenang-tenang saja.
"Kau menumpahkan tehku.." Ryuzaki menatap sendu cangkirnya yang sudah kosong.
"Biarkan!" Light menatap mata Ryuzaki lekat-lekat dengan amarah yang tersirat disana. "Tunggu, ...teh?" Light kemudian melihat sekeliling meja, ada beberapa makanan manis di sana, kemudian pandangannya kembali pada pemuda berambut hitam di depannya.
"Lepaskan!" Watari menarik tangan Light. Light mengalah. Dia melepas cengkramannya.
Light masih melihat Ryuzaki. Memang berbeda, kemarahannya membuat dia tidak melihat perbedaan itu. Kulit orang ini lebih putih sedikit dari Beyond, rambutnya meskipun sama-sama gelap, tapi milik orang ini terlihat lebih berantakan (A/N: Lebih melawan gavitasi maksudnya..), matanya juga, mata orang ini sangat gelap. Berbeda dengan Beyond, kalau terkena cahaya, matanya terlihat kemerahan, tapi orang ini tidak, dia memiliki mata hitam onyx. Sikapnya juga tidak sama. Light baru menyadari kalau orang ini benar-benar berbeda dari Beyond, meski sekilas memang serupa. Jadi, siapa orang ini? Siapa dia?
"Saya Ryuzaki." Ucap Ryuzaki singkat.
Light sempat terkejut karena orang ini bisa membaca pikirannya. "Maaf, sepertinya aku salah orang."
"Eh, salah? Jadi dia bukan Beyond?" Tanya Misa.
"Bukan," Watari menggeleng pelan.
"Tapi Misa pikir dia ini mirip sekali dengan Beyond."
"Sekali lagi maaf karena aku membuat keributan disini," Light membungkuk dan mohon pamit. Lalu, dia pun keluar dari kafe itu.
"Kau tidak apa-apa Ryuzaki?" Tanya Watari.
"Ya," mata Ryuzaki masih menatap punggung Light yang berjalan menjauh lewat jendela di sampingnya, sampai akhirnya Light menghilang setelah berbelok. Bahkan dia pergi tanpa menyebutkan namanya. Walaupun, Ryuzaki sudah tahu namanya Light.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami akan menggantikan minuman anda," Misa membungkuk, kemudian berjalan ke arah dapur.
Suasana akhirnya kembali normal. Malam yang melelahkan.
-lightloveLlovelight-
Tokyo, 11 Desember, 10:45 p.m.
Gerbang hitam yang berdiri dengan angkuhnya terbuka setelah beberapa saat terdengar suara dengungan kecil. Mobil pun masuk dan menuju tempat parkir di basementgedung berlantai 23 itu. Ryuzaki dan Watari masuk ke dalam gedung setelah memasukkan beberapa kode khusus dan menjalani beberapa pemeriksaan pada sidik jari dan lensa mata.
"Ryuzaki, kamarmu ada di lantai sebelas. Semoga rumah yang saya sediakan ini bisa membantumu memecahkan kasus yang sedang kau dihadapi."
"Terima kasih Watari."
"Tentang kerjasamamu dengan Kepolisian Jepang akan saya urus lebih lanjut besok."
"Kau benar-benar membantu."
"Ini tanggung jawab saya. Baiklah, Ryuzaki, selamat malam."
"Selamat malam." Ryuzaki masuk ke dalam elevator. Setelah tiba di lantai sebelas, dia melangkah menuju sebuah ruangan dengan pintu putih. Sebelum berangkat ke Jepang, Watari pernah membicarakan tentang rumah sekaligus markas yang akan ditinggalinya selama musim ini, berikut dengan kode dan rahasianya, jadi Ryuzaki bisa langsung mengenali yang mana kamarnya.
-lightloveLlovelight-
Sinar rembulan musim dingin menerobos masuk lewat jendela yang tidak bergorden. Ryuzaki menyentuh kaca jendela yang terlihat sedikit mengembun. Dia bisa melihat suasana malam Tokyo yang meriah dari atas sana. Berbeda dengan keadaan di Inggris, di sana kediamannya jauh dari pemukiman penduduk. Dari jendela mana pun dia melihat, yang ada hanya hamparan kebun dan hutan.
Setelah merasa bosan, Ryuzaki berjalan menuju sebuah kasur besar. Dia duduk bersandar pada sebuah bantal, kakinya dipeluk erat dengan tangan kirinya, sementara ibu jari tangan kanannya didekatkan kedepan bibir tipisnya.
Mata hitam itu meredup. Tak lama kemudian Ryuzaki terlelap masih dalam posisi tersebut.
-lightloveLlovelight-
Kediaman Ryuzaki, Tokyo, 12 Desember, 10:18 a.m.
"Jadi begitulah, Kepolisian Jepang memohon kerja samanya agar kau mau menangani kasus ini Ryuzaki."
Ryuzaki memasukkan beberapa balok gula ke dalam tehnya, "saya hanya bisa bekerja sama dengan 6 orang, jadi cukup perwakilan Kepolisian Jepang saja."
"Saya sudah beritaukan hal itu, dan mereka menyetujuinya. Kita akan bertemu mereka besok malam."
"Hng. Watari," Ryuzaki mengaduk teh tadi dengan sendok yang di capitnya dengan kedua jari, sehingga menimbulkan suara dentingan kecil. "...Kau tau sesuatu tentang Beyond, bukan?"
"Maaf, Ryuzaki?"
"Kau tau alasan saya ke Jepang bukan karena kasus itu saja. Apakah Beyond yang menurut 2 orang kemarin mirip dengan saya adalah saudara kandung saya yang kau ceritakan itu?"
"Benar Ryuzaki. Sore ini kita akan mengunjunginya."
"Oh, seperti apa rupanya? Pasti kami memiliki perbedaan meskipun terlahir kembar."
-lightloveLlovelight-
Kediaman Light, 12 Desember, 04:10 p.m.
Light menutup pintu rumah perlahan.
"Lho, nii-san mau kemana?"
Light berbalik dan didapatinya Sayu dengan kantong coklat berisi penuh belanjaan dalam pelukannya.
"Rumah Beyond."
"Oh, teman nii-san yang sedikit horror itu ya? Sebaiknya nii-san jangan berlama-lama di sana, aku merasa dia agak sedikit menyeramkan.." Sayu mengangkat kedua pundaknya.
"Aku juga tidak berniat lama. Sudah cepat masuk! Kaa-san menunggumu dari tadi."
"Baik. Hati-hati ya nii-san!"
-lightloveLlovelight-
Watari menekan tombol bell di dekat pintu, tak lama kemudian terdengar suara dari kotak interkom.
"Maaf, tolong sebutkan nama dan keperluan anda?"
Watari menekan sebuah tombol pada interkom, "Watari. Saya ada perlu dengan Beyond."
"Oh, Watari-san. Silakan masuk!" Pintu terbuka. Watari, disusul Ryuzaki, kemudian masuk ke dalam apartemen mewah itu dan duduk di sebuah sofa merah.
"Selamat datang Watari, dan.." Beyond terpaku melihat Ryuzaki yang juga menatapnya. Mereka terdiam untuk beberapa saat, saling mengamati satu sama lain.
"Ekhm," Watari terbatuk kecil untuk menyadarkan keduanya. Beyond lalu duduk di hadapan mereka.
"Selamat datang, L Lawliet," Beyond tersenyum ramah.
"Bahkan saya belum lama tau tentangnya, dan juga namanya darimu," Ryuzaki melirik Watari di sampingnya.
"Maaf, ada beberapa alasan yang menyulitkan saya."
"Hey sudahlah. Ngomong-ngomong, ternyata suaraku lebih indah darimu. Dan kau ini terlihat sangat kaku, adikku."
Ryuzaki kembali melihat Beyond.
"Cara dudukmu juga lucu ya? Berapa lama kau akan tinggal di Jepang?"
"Hanya selama musim dingin ini," Watari angkat bicara (A/N: Haduuh.. L ini super ngirit ya? ==').
"Kalau begitu, selamat memecahkan kasus, detektif nomor satu. Aku tidak bisa banyak membantumu karena aku juga punya kesibukan sendiri."
"Saya juga tidak mau merepotkanmu, penulis nomor satu." Mungkin Ryuzaki bermaksud membalas perkataan Beyond, hanya saja dengan suara baritone-nya itu justru malah terdengar menggelikan.
"Hahahaha.. apa ini yang dimaksud pertengkaran saudara? Lucu juga."
-lightloveLlovelight-
Light memeriksa kantung coklat yang dibawanya, memastikan isinya tidak hilang, dan tentu saja memang benda itu tetap ada di dalam, tidak berpindah kemana pun.
"Sedang ada tamu rupanya," Light melihat mobil mewah yang terparkir di depan apartemen Beyond selagi menunggu pintu dibukakan. 'Apa Wedy, editor Beyond yang sombong itu? Hm..'
Light masuk, dan melihat ada 2 pasang sepatu tertata di genkan, yang satu terlihat sangat terawat dan bisa ditaksir harganya mahal. 'Pasti pemilik mobil itu'. Dan satunya lagi terlihat kurang layak pakai. 'Rupanya ada 2 tamu dari 2 latar belakang berbeda datang kemari.'
Light melepas sepatunya dan berjalan menuju ruang tamu. Ketika melihat Beyond yang sedang duduk di sofa, tanpa basa-basi lagi Light melempar bungkus coklat itu, dan tepat mengenai mukanya. Rupanya Light masih marah karena kejadian beberapa hari lalu yang dia alami.
"Hey! Apa-apaan ini?" Beyond meraih bungkusan itu dan melihat ke arah Light yang berjalan mendekat.
"Selaimu, bodoh." (A/N: kebayang ga sih sakitnya dilempar botol selai ke muka? ckckck..)
"Apa kau tidak bisa lebih sopan di depan tamuku?"
Watari tersenyum dengan berwibawa ketika Light melihat kearahnya, sementara Ryuzaki masih sibuk dengan teh super manisnya.
"Kalian yang.. kemarin?"
"Ya, anak muda."
"Eh, kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?"
Ryuzaki akhirnya menoleh dan ketika itu matanya langsung bertemu dengan mata madu milik Light.
"Konbanwa." Sapa Ryuzaki yang baru bangun kembali dari dunianya.
"Baiklah, perkenalkan, ini Light Yagami, temanku.. yaah singkatnya begitu." Light menatap Beyond jengkel. "Dan Light, ini Watari, juga adikku, La-"
"Cukup panggil saya Ryuzaki."
Beyond terkesiap, namun sejurus kemudian mukanya kembali tenang. "Ya.. Ryuzaki. Terserah padamu!"
Watari menyadari perubahan ekspresi Beyond tapi segera mengalihkan pandangan melihat Ryuzaki.
"Salam kenal." Light tersenyum tipis pada Ryuzaki, tapi dia justru hanya diam. "Mungkin kau masih marah karena kejadian semalam, maaf. Aku juga tidak sempat memperkenalkan diri waktu itu, maaf lagi."
"Tidak masalah Light-kun."
"Wah.. adikku juga ternyata kurang sopan, panggil dia Yagami-san, kau mengerti?"
"Saya akan membiasakan diri dengan menyebutnya Light-kun, kau keberatan?"
"Boleh saja," Light merasa orang ini agak sedikit aneh, apalagi dengan cara duduknya.
"Kuharap kalian bisa akrab. Light, Ryuzaki akan tinggal di sini beberapa lama, dan aku tidak mau kau merepotkannya!"
"Siapa kau, memerintahkanku seenaknya?"
Beyond tersenyum, "oh, begitu Light?"
Bagi Light, seperti apapun senyum Beyond, dia tetap terlihat menyeramkan. Karena itu, dia juga heran, bagaimana bisa menerima pemuda psikopat ini sebagai kekasihnya.
"Maaf, aku tidak bisa lama di sini. Aku mohon pamit," Light membungkuk.
"Ya, pulanglah sana!"
"Hati-hati, Yagami-kun."
Tapi Ryuzaki tidak berkata apapun dan hanya tersenyum pada Light. Senyum yang manis. Senyum yang tulus dan terasa hangat. Light terdiam sesaat melihat Ryuzaki.
(Author: L, senyum ke aku juga duoong..!
L: .. #asyik ngemut gula
Author: huh.. pelit! ¯3¯
L: ya, saya pelit, #(ga sengaja) senyum ke author
Author: KYAAA! foto L, foto!
L: .. #pergi
Author: T.T ...nyebelin! sayangnya, saya sendiri ga tega ngapus namamu dari fic ini!)
Light pun pulang ke rumahnya, sesuai janji, tidak lama. Agak melenceng sedikit memang, tadinya Light mau memarahi Beyond habis-habisan, kalau saja tidak ada tamu. Tapi Light juga tidak menyesal sudah bertemu Ryuzaki. Pemuda unik dengan senyuman hangatnya.
Ujung bibir tipis Light tertarik membentuk senyuman kecil ketika mengingat lagi kejadian tadi. Pemuda yang menarik. Ryuzaki.
o0o
|Tsuzuku|
o0o
Parodi:
.
Narator: Hening lagi. Yang terdengar hanya suara deru mesin mobil yang halus dan hembusan AC. Ryuzaki kembali memandang ke luar jendela, dengan lollipop yang kini bertengger di dalam mulutnya.
"Apa kau keberatan kalau kita berbelok ke kanan dulu, Ryuzaki..?"
"Terserah kau, Watari."
Narator: Mobil Roll's Royce berhenti di dekat sebuah pagar kayu. Pintu belakang dibukakan Watari, dan keluarlah Ryuzaki yang mengenakan kaus putih polos dan celana jeans yang longgar.
"Ryuzaki, pakailah ini."
Narator: Ryuzaki melihat kain hitam yang disangkutkan Watari pada lengan kirinya.
"Apa itu?"
"Baju kedap air dan udara. Kaus putihmu itu tidak akan cukup untuk melindungimu, pakailah."
"Terserah kau, Watari."
Narator: Ryuzaki mengenakan pakaian itu yang... wah! sangat ketat! Bahkan lekukan tubuh ramping Ryuzaki terlihat jelas dengan baju itu! #narator nosebleed.
"Sebenarnya ini untuk apa, Watari?"
"Saya ingin anda berjalan ke ujung pagar itu Ryuzaki, dan kau akan segera tau alasannya."
"Ya.. terserah kau saja, Watari."
Narator: Ryuzaki mengikuti perintah Watari #repot nyumbat hidung.
"Lalu saya harus apa?"
"Apa kau masih belum mengerti?"
Narator: #masih sibuk nutupin hidung. Suara Watari terdengar begitu tenang, tapi seketika berubah menyeramkan ketika berteriak,
"Kau Terjun Ke Danau Itu Bodoooh! Aku Sudah Muak Melihatmu!"
Narator: #ngelempar tissue ke muka Watari. Bukannya terkejut, tapi Ryuzaki justru dengan sikap datarnya berkata,
"Terserah kau, Watari."
Narator: Dan..
'BYUUR!'
Narator: EHH? Ryuzaki menjatuhkan diri dan menghilang dalam danau! Beneran nih?
"HAHAHAHA! Baka! Ga ada pinternya sama sekali detektif yang katanya nomer satu ini!"
Narator: Watari berteriak dengan nistanya! ...Tapi memang ada benarnya juga ucapan tua-bangka-yang-ga-inget-umur-yang-seenak-jidat-nyemplungin-anak-orang ini..
"APA? Hey, kau juga! Sana Nyemplung!"
Narator: 'O.O||| Watari menunjuk diriku yang juga berkata dengan pasrah, "Terserah kau, Watari.." Dan aku pun menyusul Ryuzaki yang malang itu.
"UWAHAHAHAHA!"
Author: #Baru datang. Detik 1: ..hng? Detik 2-5: #bengong Detik 6-10: #garuk kepala Detik 11-27: EH? Naratorku! Aktor tercintaku! tidaaAAAKK! Detik 28-30:#baru ikut nyebur. *Author lemooot..
"Dasar! Kalian semua memang selalu menyusahkanku! Kenapa peranku selalu jadi pembantu? Rasakan!"
Watari: #gantiin Narator. Lalu saya masuk ke dalam mobil daan meninggalkan TKP.
"Berakhir sudah."
Watari: ucap diriku.
.
Parodi End.
o0o
A/N (1):
*Alasan Watari dan L berbeda tempat makan karena selera mereka yang juga berbeda. Menu Watari sama seperti menu makanan orang normal, tapi L punya selera makan yang kesemuanya termasuk menu dessert atau camilan. Jadi baiknya, L memang ditempatkan di kafe yang menunya ga berat-berat.
*Di fic ini saya sendiri ngerasa L itu keliatan kayak orang yang bener-bener pasrah sama nasib, sebenarnya agak gimanaa gitu.. jadi sekalian aja buat parodinya dengan tema 'disuruh mati pun L nurut'. Tambah lagi, entah kenapa saya ngeliat ada sifat jahat dalam diri Watari yang tersembunyi. Tapi diliat dari perspektif manapun memang ga keliatan. Ya, mungkin hanya firasat Nami.
*Dalam fic, saya akan membuat Beyond dan L sedikit berbeda. Yah, meskipun mereka kembar identik, Beyond itu tetep jalan tegak, suaranya ga baritone, duduknya pun normal, dibuat beda sama L.
*Daan, yaah.. saya lupa belum ngenalin diri! Ω_Ωa
Perkenalkan, saya Retatsu Namikaze, author gaje teranyar di dunia fanfic ini!
Ini fic pertama saya, jadi maklum kalau masih kaku dan pakai banyak pengulangan kata..
Parahnya, saya langsung nekat buat fic sambungan, karna itu, para senpai.. ibarat tumbuhan lah, yang lain udah setinggi pohon kelapa, saya masih setinggi pohon toge.. jadi tolong bantu saya..! ya?
Oke deh, segitu aja perkenalannya..
A/N (2): Pesan terakhirku, "JANGAN LUPA REVIEW!" Biar saya tau siapa aja yang baca fic ini, mau dibuat garfik soalnya(?), jangan lupa juga masukannya. Ga papa kalo mau kasih kritik pedas yang membangun.. Tapi pedesnya level 3 cukup deh..(?) #kaya kripik aja..
Oke?
Salam sobat dari Nami! b
