~ PENCURI ~
Aku memang miskin,
Aku bau, kumel, dan menyedihkan.
Tapi meski semiskin apapun aku, paling tidak
Hidupku lurus dan jujur ...
Yah. Sampai saat
itu ..
.
.
.
.
Disclaimer: Tite Kubo
AU
Semoga ini ganre romance * loh
Catatan : INI DI INDONESIA
.
.
.
Braakkk!
Gadis itu mendorong pemuda yang jauh lebih tinggi darinya ke tembok.
"Gue enggak akan ngelaporin lo kepolisi.." Perempuan itu mendesis, " JADI, BERI GUE SELEMBAR DUIT SOEKARNO HATTA, buruan!"
Laki-laki itu keringet dingin. Perempuan yang mencekik kerah baju nya benar-benar mengerikan. Ia bergidik. Lalu dengan sigap mengeluarkan uang berwarna merah, dan menyondorkannya kepada si gadis, "Janji?"
Dan dengan sekali anggukan. Gadis itu berlari meninggalkannya menuju toko baju di seberang jalan.
Dengan seyum merekah, Rukia—nama gadis itu—tak memerlukan waktu lama untuk membeli sepasang baju.
Yah. Dia memang miskin.
Tapi paling tidak, hidupnya lurus dan jujur..
.. Sampai dia bertemu dengan pria itu.
.
SATU JAM YANG LALU
"Ruk, denger-denger lo jomblo dari lahir yah?"
Rukia tidak menjawab. Mereka sudah tau jawabanya, terus kenapa masih bertanya? Sengaja yah?! SENGAJA YAH!
"Yah.. gimana ga jomblo" Laki-laki yang duduk dimeja paling belakang di barisan Rukia nyeletuk. "Udah judes, dada rata, kumel lagi"
JLEB.
Rukia tetap diem. Mukanya udah menunjukkan bahwa dia tidak suka kalimat orang itu.
"Hush.. Ulqiorra, lo gak boleh nghina orang kayak gitu!" Si cewek-penyebab-biang-segalanya memperingati.
Cih.. padahal dia yang mulai pertama kali
Rukia mengibaskan rambutnya. Gaya angkuh .. gaya angkuh. Menaikkan dagunya sedikit, seraya berkata "Aku. Hanya. Tidak. Ingin. Kau. Jatuh. Cinta. Padaku." Jawabnya dengan penuh penekanan. Nyambung enggak sih?
Krikk..
Krikk..
Dan, "HAHAHAHA.." Satu kelas tertawa. Menyebalkan. Dan yang lebih menyebalkan lagi orang yang dia suka. Toushiro Hitsugaya. Tertawa paling keras.
.
Sialan. Dia merutuki diri sepanjang perjalanan pulang. Apakah dia semenyedihkan itu? Sampai-sampai si Hitsugaya tertawa seolah itu adalah hari terakhirnya membuka mulut (?)
Okeh..
Dia memang miskin, tapi paling tidak hidupnya lurus dan jujur. Dia menasehati dirinya. Dan dimenit berikutnya dia berteriak.
"MANA ADA HIDUP LURUS DAN JUJUR. BODOOH!"
Bughk!
Tubuhnya bertabrakan dengan pemuda jangkung, yang berambut warna oren, oreye, oranye. Bitch, nulis orange dimana sih?
Pemuda itu dengan sigap memunguti kertas-kertas berwarna merah yang berterbangan, tanpa mempedulikan Rukia yang jatuh terdud—tunggu, apa tadi 'kertas warna merah'? Rukia mendongak. Mukanya menatap tak percaya. U-uang. Mulutnya terbuka. Kepalanya pusing. Hidungnya kembang-kempis—eh, ini syok ngeliat duit beda tipis ye sama ngisep aibon.
'Pemuda ini membawa banyak uang. Ta.. tapi dia tadi, bukannya.. dia keluar mengendap-endap dari, JENDELA RUMAH ITU!'
Dan otak Rukia secara cepat menyimpukan situasi yang ada,
...Pencuri.
Dan begitulah mula awalnya cerita ini
Senyum Rukia masih belum pudar. Sesekali ia bersenandung sambil menggoyang-goyangkan katong plastik berisi baju yang dapat diskon 30%. Hari baik.. hari baik.
"Lo.. ngebelanjain duitnya yah"
Rukia tersentak, dia mematung. Suara itu.. persis suara pemuda yang bertanya 'Janji?' tadi.
Dan tanpa aba-aba dia membalik tubuh kaku Rukia. Dia berujar sambil menyeringai, "Bagus.. berati elo udah jadi sekutu gue. Ah, kebetulan gue udah bosen nyuri sendirian"
... dan saat itu Rukia sadar, dia telah melakukan sesuatu yang bodoh.
"Besok kita beroprasi.."
Rukia langsung geleng-geleng. Dia belum siap jadi penjahat. Nodong semut aja dia enggak tega.
"Nama.." Pemuda itu menyusuri seragam Rukia, dan berhenti dibagian dadanya. Uh.. gak besar sih, tapi lumayan—eh, tunggu. Bukan itu. Dia melihat sederet alpabet disana "Rukia K? nama di seragam lo hemat banget"
Rukia memerah. Bukan hurufnya yang hemat, tapi duitnya gak cukup waktu mesen pake nama panjang!
"Gue Ichigo. Panggil aja si tamvan"
"What? Apa.. apa?" Rukia menahan diri untuk tidak menggorek kupingnya.
Ichigo mengabaikannya. "Besok. Temui gue depan pasar tanah abang, kita bakal nyopet ibu-ibu disana" Dia melirik Rukia yang panik, "Kalau lo enggak dateng. Bakal gue laporin polisi, sebagai sekutu."
Terkutuk, pria itu. Terkutuk!
.
[[Besok hari. Lokasi : DEPAN PASAR TANAH ABANG]]
Rukia berhenti. Kakinya terasa lunglai. Nafasnya memburu di terik yang mencengkam. Dia memegangi lututnya yang terasa keram setelah berlari sekencang-kencangnya dari sekolah menuju pasar.
Dia terengah-engah. Dia sebenarnya bukan tipe wanita yang buru-buru, hanya saja kali ini seolah waktu berkata 'Berlarilah jika tidak ingin melihat keluargamu menangisimu yang ada dibalik jeruji besi'
Berlebihan memang. Tapi jika kalian berada di posisinya, mungkin fikiran kalian juga akan seperti itu.
Rukia menelan ludah. Seharusnya hidupnya di sudah jadikan sinetron di Ind*siar sejak kemarin.
"Oii.. udah dateng" Ichigo melambai dari depan grobak cendol.
Ah, cendol... Rukia ngiler. Kapan yah terakhir kali dia minum cendol? Oh ia, dua bulan yang lalu. Saat itu dia nemu duit 5ribu rupiah di deket kamar mandi sekolahan.
Ichigo melongo. Rukia ilernya kenapa mendadak netes-netes? Jangan-jangan tuh anak terinfeksi virus-virus ileran yang terhirup bersama debu-debu yang bertebaran(?)
"Lo kenapa?"
Rukia sadar. Dia langsung mendongak. Geleng-geleng, nelen ludah lalu bilang "Gapapa"
"Oh."
Poor Ichigo, taukah jika 'Gapapa' dala bahasa perempuan berati 'apa-apa' atau 'gua-mau-bilang-Cuma-gue-malu'
Dan karena Ichigo termasuk pria peka(k) dia nawarin, "Mau es?"
Rukia diem. Dia mau bilang mau, tapi dia malu. Gimana kalau laki-laki di depannya cuma bercanda? Tapi kalau tawaran cendol enggak diambil, entar dia nyesel. Duh.. gimana nih.
"Gak mau yah. Yaudah"
Glek..
"Tu.. tungg—"
"Ayok.. kita cari ibu-ibu yang dompetnya tebel.." Dan belum sempat Rukia membalas, Ichigo telah menarik bajunya menuju pasar.
Gadis itu belum siap untuk apapun. Dia lari di tengah hari menuju pasar. Capek, letih, lemas, lesu, mana enggak jadi di kasih cendol lagi. Dan sekarang—dia meneguk ludah—dia harus nyopeeett?
Astaga demi Jashin! Dia belum siap!
Dia menelan ludah lagi, Setelah sadar dia telah banyak menelan ludah hari ini.
.
.
TBC
.
NB : HORAAAYY... akhirnya kesampaian nulis di fandom Bleach. Aneh sih, tapi, yaudahlahyah~#plakk
Cerita ini terinspirasi dari komik 'YUKICHI BIYORI' silahkan lihat komiknya jika kalian tidak mengerti maksud dari terispirasi. BEDA LOH DARI NYONTEK, BEDA ! :3
Dan akhir kalimat..
Repiuwnya dong kakah~
