Konohagakure merupakan desa tersembunyi yang di kelilingi hutan belantara. Desa ini adalah desa terkuat dari lima desa yang ada. Desa yang merupakan tempat para shinobi hebat berkumpul. Desa yang dipimpin oleh seorang Hokage. Dimulai dari Senju Hashirama sampai yang sekarang, Namikaze Minato.

Di salah satu patung paling pojok sebelah barat,tampak seorang anak berambut pirang sedang duduk termenung sambil menekuk kedua kakinya. Anak itu menatap kosong pemandangan yang tergambar sempurna di hadapannya. Menghela nafas, anak itu bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu, menyisakan kekosongan yang terjadi setelahnya.

Namikaze Naruto, anak dari Namikaze Minato, Konoha No Kiroi Senko atau lebih dikenal dengan Yondaime Hokage dan Uzumaki Kushina The Red Death Habanero. Naruto adalah anak kedua dari pasangan tersebut. Naruto mempunyai kembaran bernama Namikaze Menma dan dia adalah kakak Naruto. Menma merupakan jinchuriki kyuubi yang telah menyelamatkan desa ini. Konon, kyuubi adalah salah satu bijuu terkuat dari kesembilan bijuu yang ada. Dan sekarang, bijuu itu berada di dalam tubuh Menma. Naruto kembali menghela nafas mengingat hal itu. Naruto memanglah anak dari pasangan tersebut, tapi seperti ada yang salah dengan hal itu. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah ada untuk Naruto. Bahkan, mereka tidak pernah melihat Naruto. Saat Naruto masih bayi, hanya seorang kakek tua yang menjaganya dan memberikannya kasih sayang. Bahkan, kakek itu menyayangi Naruto seperti anaknya sendiri. Tapi, setelah Naruto mengenal siapa orang yang telah menyayanginya, kakek itu pergi untuk menepati janjinya kepada seseorang. Naruto merasa sedih dengan hal itu dan sekarang orang yang dia sayangi telah pergi menghadap Kami-sama.

Saat itu, Naruto kembali merasa sendirian. Tapi, setelah kedatangan sosok itu, hidupnya kembali berwarna. Hidup Naruto menjadi lebih berwarna dan ceria di banding sebelumnya.

Naruto sudah sampai di depan rumahnya. Tidak bisa di sebut rumah juga sih, karena tidak akan ada yang menyadari kebaradaannya. Naruto berjalan tenang melewati ruang makan yang diisi oleh kedua orang tuanya dan saudara kembarnya. Naruto sempat melirik mereka dan Naruto merasa iri dengan Menma. Semuanya Menma, Menma, Menma. Naruto jadi kesal sendiri dengan Menma. Naruto merebahkan tubuhnya di futon yang sudah dipersiapkan dan memandang langit-langit. Sebentar lagi adalah ulang tahunnya yang ke-5 dan Naruto mengharapkan sebuah kado yang selalu dia impi-impikan. Kado yang datang dari orang tuanya. Naruto tersenyum membayangkan itu semua dan tanpa dia sadari, dia sudah terbuai oleh alam mimpi.

Pagi menjelang begitu cepat, Naruto terbangun akibat suara yang dikenalnya telah membangunkannya.

"hoahm... Uhhh aku masih ngantuk kyuu nii"

Kringggggg kringgggg

"hu,uh.. Iya iya aku bangun,dasal kyuu nii belisik," Naruto bangun dari tempat tidur dan mematikan jam weker kesayangannya. Naruto segera membersihkan diri lalu memakai baju dan becermin. Naruto tersenyum melihat pantulan diriya di cermin. Sekarang, Naruto memakai baju abu-abu dengan lambang klan uzumaki di belakang dan celana hitam selutut juga sepatu ninja berwarna biru. Semua sudah siap. Naruto segera berlari menuju ruang makan dan menyapa kedua orang tuanya.

"pagi tou-san, kaa-san" tapi mereka menghiraukannya. Naruto hanya pasrah dan duduk di kursi makan. Seakan tahu apa yang harus dilakukan, Naruto mengambil sarapannya dan memakannya dengan tenang. Setelah selesai, Naruto mengucapkan terimakasih dan berjalan menuju perpustakaan Namikaze.

Naruto duduk dan mempelajari beberapa buku mengenai sejarah dunia ninja, doujutsu, element, senjata dan buku-buku lainnya. Naruto memandang jendela, sepertinya sudah siang. Naruto menaruh buku yang baru setengah dibaca dan keluar dari rumah Namikaze itu. Naruto berlari menuju kedai ramen langganannya. Sesampai disana, Naruto duduk dan memesan satu mangkok ramen ukuran jumbo.

"Pesanan datang," matanya langsung berbinar memandang semangkuk ramen dengan kepulan asap di atasnya. Dengan semangat, Naruto langsung mengambil sumpit.

"Itadakimasuu," Naruto memakan ramen itu dengan cepat.

"Pelan-pelan naruto..." kata paman Teuchi, pemilik kedai ramen ini.

"Naulu ceudaang lapall puamuann (nalu sedang lapal paman)." Paman Teuchi hanya menggelengkan kepala dan di balas dengan senyum lebar dari Naruto.

"huahh... Kenyang..." kata naruto sambil memegang perutnya.

"Kamu ini, dasar monster ramen kata Ayame," putri dari paman Teuchi sambil mencubit pipi naruto.

"i,ittai Ayame nee..." dan berakhirlah acara pencubitan dari Ayame ke Naruto. Naruto mengusap pipinya yang memerah dan mendelik ke arah Ayame.

"hihihi.. Habisnya pipi kamu tembem banget naru chan..." Ayame kembali mencubit pipi naruto dan membuat naruto sedikit menitikkan air mata.

"hiks, Ayame nee... Pipi nalu sakit... jangan di,dicubit lagi..." seketika Ayame langsung memeluk naruto dan meminta maaf.

"hiks,paman telima kasih atas makanannya,ini uangnya nalu taluh di atas meja" naruto keluar dari kedai paman Teuchi lalu berjalan ke arah danau tempat biasa naruto merenung.

Seorang anak berambut nanas tertidur di salah satu pohon di dekat danau. Anak itu tidak menyadari kedatangan anak berambut pirang yang sekarang memeluk lututnya dan menangis sesenggukan. Merasa terganggu, anak itu akhirnya bangun dan menatap sekeliling. Anak itu menemukan seorang anak berambut pirang yang diketahui adalah Naruto. Anak itu pun bangkit hendak meninggalkan sosok berambut pirang itu. Tapi, entah mengapa anak itu berbalik dan mendekat ke anak berambut pirang.

"hiks.. Kenapa tou san dan kaa san tidak pelnah menanyakan keadaan nalu? Pa,padahal nalu sudah ada di dekat tou san dan kaa san hiks.." anak berambut nanas itu berhenti tepat disamping anak berambut pirang.

"hoahm... Merepotkan. Kalau menangis jangan disini... Hoahm.." ucap anak berambut nanas kepada anak berambut pirang atau naruto. Naruto mendongak menatap anak tersebut dan seketika anak berambut nanas terpaku dengan kemilau biru naruto.

"hiks... Kamu siapa?" anak berambut nanas itu duduk di samping naruto dan menghapus air mata naruto.

"jangan menangis..." Naruto hanya diam dan kembali menunduk.

"namaku Shikamaru. Nara Shikamaru."

"Namikaze Naluto"

"naluto?"

"bukan... Tapi nal..l..r..uto"

"oh... Naruto," naruto hanya mengangguk lalu menatap danau.

"kenapa shikamalu ada disini?"

"hoahm... Aku hanya mencari tempat untuk tidur," Naruto kembali mengangguk dan kemudian kembali menangis. Shikamaru, anak berambut nanas itu bingung kenapa Naruto menangis lagi. Akhirnya, Shikamaru hanya diam dan mendengarkan apa yang diucapkan Naruto.

"Hiks,hiks, Kaa-san... Tou-san.. Nalu pengen Kaa-san sama Tou-san meluk Nalu.. Te,telus... senyum sama Nalu.. Te.."

"hah... Sudahlah Naruto, jangan menangis lagi. Itu merepotkan." bukannya tangisan Naruto mereda, malah semakin menjadi dan menyebabkan pipi naruto memerah pekat. Shikamaru semakin bingung dan mengingat Tou-sannya pernah memeluk Kaa-sannya saat menangis, Shikamaru memeluk naruto dan mengatakan jangan menangis di telinga naruto. Naruto sempat memberontak dan mendorong Shikamaru tapi lama kelamaan Naruto diam dan menangis sambil meracau tidak jelas. Beberapa menit kemudian, Naruto berhenti menangis.

"Naruto, kita pulang yuk tak ada jawaban."

"Naru..." Shikamaru melihat Naruto dan menghela nafas. Naruto tertidur.

"hah... Bagaimana caranya aku pulang?aku tak tega membangunkannya. Belum lagi aku tidak tahu rumahnya di mana," Shikamaru tampak bimbang dan akhirnya memilih menggendong Naruto dan membawanya pulang kerumah. Di perjalanan, Shikamaru tampak tidak kesulitan menggendong Naruto karena badan Naruto terbilang kecil daripada dirinya. Sesampainya dirumah, Shikamaru memanggil Tou-san dan Kaa-sannya.

"Tou-san, Kaa-san, tadaima..."

"Okaerinasai.."

"Tou-san, Kaa-san, boleh minta tolong?" Shikaku (ayah Shikamaru),dan Yoshino (ibu Shikamaru) menoleh kearah Shikamaru dan terkejut melihat anak berambut pirang digendongan anak mereka. Setelah selesai menaruh anak berambut pirang itu di tempat tidur Shikamaru, Shikaku bertanya.

"Siapa nama anak ini Shika?"

"Namikaze Naruto" Shikaku dan Yoshino berpandangan sejenak lalu kembali menatap kearah Shikamaru.

"Kenapa dia bisa bersama denganmu Shika?"

"hoahm... Tadi kami sempat bertemu lalu dia menangis dan tertidur." Shikaku dan Yoshino hanya mengangguk. Lalu mereka berpandangan.

"Bukakankah Minato hanya mempunyai satu anak Anata?" tanya Yoshino kepada Shikaku.

"Ya, setahuku begitu. Tapi, masih ada kemungkinan anak ini adalah anak Minato," Yoshino mengangguk dan beralih ke Shikamaru.

"Lebih baik kamu bangunkan Naruto, Nak. Suruh dia mandi dan ajak makan malam," Shikamaru hanya mengiyakan dan langsung berjalan ke arah Naruto sedangkan yoshino dan shikaku berjalan ke ruang makan.

"Naruto... bangun," Shikamaru menggoyang-goyangkan tubuh anak berambut pirang di depannya.

"engh... Nalu dimana?"

"Di rumahku," Naruto menoleh ke arah Shikamaru dan berteriak.

"HWAAA.. NGAPAIN KAMU DI KAMAL NALU!" Shikamaru menutup telinganya dan menatap Naruto sengit.

"Ini kamarku Naruto..." Naruto menatap sekeliling dan menghela nafas.

"Kok Nalu di kamalnya Shika?"

"Tadi kamu tertidur lalu kubawa kerumah,"

"oh..."

"Kaa-san bilang kamu harus mandi,"

"ehhh? Tapi nalu ga bawa baju.."

"Nanti pake bajuku saja," naruto mengangguk,

"Kamal mandinya dimana?" Shikamaru menunjuk pintu coklat di pojok sebelah kanan kamar. Naruto berjalan kearah yang ditunjuk dan masuk ke dalamnya. Beberapa menit kemudian, tampaklah Naruto yang sedang merengut kesal.

"Shika... Ga ada baju yang lain lagi? Baju ini kebesalan sama Nalu.."

"hm..."

"Shikaa?"

"Pakai aja baju itu,"

"hah..." penampilan naruto sekarang tidak bisa dikatakan baik, dengan baju abu-abu polos yang panjangnya mencapai lutut dan celana pendek yang tertutupi baju itu. Shikamaru hanya menguap dan berjalan beriringan dengan Naruto. Sesampainya di ruang makan, Naruto bukannya duduk tapi berdiri di dekat pintu.

"err... Shika, tidak adakah baju yang lebih baik lagi?" tanya Shikaku.

"hoahm...aku malas Tou-san.."

"Yoshino, tolong ganti baju Naruto." Yoshino yang sedang memasak menoleh kearah Naruto dan terkejut melihat keadaan Naruto yang bisa dibilang seperti gelandangan. Yoshino pun menatap tajam Shikamaru dan menyuruh Shikaku melihat masakannya. Yoshino menarik Naruto dan membongkar lemari Shikamaru. Berkali-kali baju di cocokkan kearah Naruto dan sang objek pun hanya memiringkan kepalanya. Yoshino pun akhirnya menemukan baju yang pas dan memakaikannya ke Naruto. Setelahnya, Naruto dibawa oleh Yoshino ke ruang makan dan menyuruh Naruto duduk. Naruto hanya diam dan memandang keluarga di hadapannya. Sesekali memandang makanan dan kembali melihat keluarga di hadapannya.

"kenapa Naruto? kamu tidak suka?" Naruto menunduk dan memainkan jari-jarinya.

"tidak apa-apa, kamu boleh memakannya kok,"

"hiks..hiks.."

"eeh?ke-kenapa Naru?" Naruto mengusap arti matanya cepat dan tersenyum lebar.

"Nalu tidak apa-apa kok,"

"ya sudah,bibi ambilkan ya?"

"um! Naruto mengangguk semangat."

Keluarga Nara dan Naruto pun menikmati makan malam dengan tenang disertai canda tawa yang menyelingi beberapa waktu.

Pagi menjelang dengan indahnya. Berkas- berkas cahaya menyelimuti dengan lembutnya. Membangunkan orang- orang yang tertidur pulas dengan kehangatannya. Di sebuah kamar, dua orang anak kecil tertidur dengan nyaman, meringkuk dan menggelung mencari sesuatu untuk menutupi sinar yang mulai menghiasi ruangan mereka.

"Shikaaa, Naruu bangunnn," Yoshino membuka jendela, membiarkan sinar mentari pagi masuk lebih dalam untuk membangunkan dua makhluk kecil yang imut itu.

"hmmm/lima menit lagi kyuuuu," ucap kedua anak berambut kuning dan coklat bersamaan.

"hey, bangun atau Kaa- san akan mengurungmu bersama Akina, Shika." Ucap Yoshino sambil menarik anaknya dari kasur.

"ehmm Kyuu- nii… / uhbaik Kaa- sann," secara bersamaan kembali, kedua anak itu menjawab ajakan Yoshino untuk segera beranjak dari kasur. Anak berambut coklat terlihat duduk dengan kepala tertunduk menahan kantuk sedangkan anak berambut pirang masih terlentang di kasur dengan mulut menganga.

"Naru bangun, ini sudah pagi.." Yoshino berjalan ke sisi kasur di samping anaknya, ia memandang anak berambut pirang dengan bingung, menggelengkan kepalanya sebentar, Yoshino mengusap kepala Naruto dan memperbaiki posisi mulut anak tersebut.

"ehm.." Naruto membuka matanya dan menemukan sosok wanita tengah membangunkannya. Dengan perasaan terkejut dan gembira, Naruto segera memeluk wanita itu.

"Kaa- san!?" teriak Naruto sambil memeluk wanita itu erat. Senyuman menghiasi wajah Naruto, ia bahagia akhirnya orangtuanya peduli dengan dirinya. Disusul kemudian dengan air mata yang datang tak diundang, Naruto sangat bersyukur bahwa ia masih dipedulikan oleh kedua orang yang telah menghadirkannya ke dunia ini.

"A-ah, Naruto." Yoshino tergagap dengan situasi mendadak ini, naluri seorang ibu membuatnya membalas pelukan tersebut.

"hmm.. Naru bisa memanggil bibi dengan sebutan Kaa- san dan Paman Shikaku dengan sebutan Tou- san," ucap Yoshino sambil mengurai pelukan itu. Diusapnya pipi Naruto dan memandang teduh anak manis di depannya.

"Bibi?eeehhh. maafkan Nalu bibi, Nalu tidak sengaja memeluk bibi!" Naruto menundukkan kepalanya merasa bersalah.

"Tidak apa-apa Naru," Yoshino mengusap rambut Naruto kemudian membangunkan anaknya yang sudah terbaring kembali di tempat tidur.

"Shikamaru!Kaa- san akan benar- benar mengurungmu bersama Akina!" dengan sigap Shikamaru langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi.

"huft ayo Naru, kamu ikut mandi bersama Shikamaru."

"uumm. baik,Bi-"

"Kaa-san. Kamu bisa memanggil Bibi, Kaa- san." mata Naruto langsung berbinar penuh kebahagiaan.

"Arigatou, Bibi." Naruto memeluk Yoshino erat.

"Kaa- san." Kata Yoshino. Naruto mengangguk membenarkan ucapan tersebut.

TBC

Mencoba menulis setelah sekian lama..

Dan muncul dengan genre adventure.

Semoga readers suka. Pair belum ditentukan karena lebih fokus ke perkembangan Naruto.